Showing posts with label Lontara Luwu. Show all posts
Showing posts with label Lontara Luwu. Show all posts

August 3, 2022

LONTARA LUWU DAERAH SULAWESI SELATAN

Salah satu wilayah yang banyak memiliki naskah-naskah kuno lontara di daerah Sulawesi Selatan ialah Luwu. Luwu merupakan daerah bekas kerajaan yang cukup tua jika dibandingkan dengan kerajaan lainnya di kawasan ini.

Menurut lontara pemimpin pertama di kalangan umat manusia di daerah Luwu, ialah Sang To Manurung yang disebut Batara Guru. Kepemimpinannya kemudian dilanjutkan oleh putranya yang bernama Batara Lattu, sebagai Maharaja di Kerajaan Luwu. Baginda Maharaja Luwu itulah yang melahirkan Sawerigading, sebagai putra pangeran mahkota pewaris Kerajaan Luwu.

Putera Pangeran Kerajaan Luwu, Sawerigading lalu berlayar ke negeri Cina di tanah Bugis dan menikah dengan putri raja setempat yaitu I Wecudai Daeng Risompa Punna Bolae Ri Latanete, putri mahkota pewaris takhta kerajaan Cina. Dari perkawinan ini lahirlah putranya yang bernama I Lagaligo. Menurut kisah "'Pau-Paunna Sawerigading", I Lagaligo-lah yang melahirkan La Tenritatta yang kemudian menjadi raja di Kerajaan Luwu. Sekali waktu Sawerigading sekeluarga, mengantarkan cucunya, yaitu Latenritatta Raja Luwu menuju ke negeri kerajaan leluhurnya, Tanah Luwu. Tiada berapa lama sesudah itu, maka Sawerigading bersama seluruh sanak keluarga dan kerajaannya karam atau gaib, tanpa ada tanda-tanda apa pun yang tertinggal (Pananrangi Hamid, 1989 : 249-253).

Pemberitaan-pemberitaan dalam lontara kemudian menyebutkan, bahwa selama tujuh turunan sesudah gaibnya Sawerigading, barulah berdiri kerajaan-kerajaan lokal di berbagai tempat di Sulawesi Selatan. Salah satu di antaranya, ialah Kerajaan Bone di bawah pimpinan Raja Bone-I Mata Silompok e yang "bertahta selama kira-kira 32 tahun, yaitu kira-kira dalam tahun 1326 s/d 1358" (A. Muh. Ali, 1969: 6).

Uraian tersebut di atas menggambarkan, bahwa Tanah Luwu memang sudah lama berdiri sebagai satu wilayah pemerintahan kerajaan, sehingga wajar kalau di daerah ini terdapat naskah kuno lontara dalam jumlah yang cukup banyak. Salah satu dari sekian banyak lontara yang dapat ditemukan dalam rangka penelitian ini ialah Lontara Luwu yang memuat catatan tentang perantauan salah seorang Raja Luwu yang memuat catatan tentang peraturan salah seorang raja Luwu bernama Setia Raja Matinroe Ri Tompo Tikka, ke berbagai negeri seperti Bone, Wajo, Sidenreng dan sekitarnya. Selain itu ditemukan dalam lontara tersebut tata persyaratan bagi abdi, sistem pengetahuan tradisional, berbagai perjanjian perkerabatan dan perdamaian antar kerajaan lokal. Semua itu memuat aneka ragam nilai-nilai luhur, gagasan vital, ide-ide serta pengetahuan tradisional yang cukup potensial bagi upaya melestarikan nilai-nilai di daerah Sulawesi Selatan.

Buku LONTARA LUWU DAERAH SULAWESI SELATAN memuat 21 nilai budaya yang pada dasarnya adalah nilai-nilai yang menyangkut pesan agar manusia harus dapat menjaga hubungannya:

  1. dengan alam semesta
  2. dengan sesama manusia
  3. dengan Tuhannya dan agama (Islam)

Lontara Luwu penuh berisi petuah-petuah dari raja-raja, para ulama yang arif bijaksana dan silsilah keturunan Raja Tomanunungingiri Luwu, Raja Manurungngi ri Pet tung dll. dan juga berisi pengetahuan tentang diri manusia serta alam semesta. Lontara Luwu juga membuka rahasia manusia dan rahasia alam dan menjadi pedoman bagi masyarakat Luwu sampai sekarang, di samping berisi sejarah kehidupan suku-suku bangsa di daerah Sulawesi Selatan yang diungkap melalui adanya perjanjian antara Raja Iqatiuroe ri Tompo Tikka serta daerah kekuasaan kerajaan Luwu.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang memberikan gambaran bagaimana pentingnya peranan naskah kuno lontara bagi pengungkapan nilai-nilai sosial budaya sebagai sumber kekayaan budaya bangsa, maka dengan sendirinya penerjemahan dan pengkajian naskah kuno lontara dimaksud, mutlak diperlukan untuk mengangkat nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. 


LONTARA LUWU DAERAH SULAWESI SELATAN
Penulis: H. Ahmad Yunus, Pananrangi Hamid, Tatiek Kartikasari, et.al.
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1991