September 30, 2021

SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2

 

Sejarah Sulawesi Selatan menempatkan batasan temporal dari periode sejak Pemerintahan Hindia Belanda melancarkan ekspedisi militer 1905 (Zuid Celebes Expeditie 1905) hingga pembentukan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1960 itu meliputi wilayah yang pada periode kolonial Belanda disebut Provinsi Sulawesi dan Daerah Bawahannya (Gouvernement van Celebes en Onderhoorigheden). Dalam pengembangan selanjutnya wilayah provinsi ini dimekarkan menjadi dua provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ekspedisi militer itu dicanangkan untuk menduduki dan menguasai secara keseluruhan wilayah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan yang disebut Pemerintahan Sulawesi Selatan dan Daerah Bawahannya (Gouvernement van Celebes en Onderhoorigheden). Periode kolonial Belanda ini ditandai dengan gerakan-gerakan perlawanan rakyat yang terus menerus. Perlawanan yang terus berlangsung itu menyebabkan daerah ini dijuluki “pulau keonaran” (de onrust eiland). Dalam kondisi yang demikian, pemerintah mencoba bergiat meredakan dengan kebijaksanaan dengan otonomi daerah, memulihkan kembali kedudukan beberapa kerajaan. Status “swapraja” (zelfbestuur landschap) yang pertama diberikan pada Kerajaan Bone pada tahun 1931 dan berikutnya adalah Kerajaan Gowa pada tahun 1938. Sementara kerajaan-kerajaan lain tetap dalam pemerintahan langsung pejabat Hindia Belanda.

Tokoh-tokoh politik Sulawesi turut mendukung proklamasi dan ikut dalam rapat pertama Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) pada tanggal 18 Agustus hingga 22 Agustus 1945. Dalam rapat tanggal 19 Agustus dicapai kesepakatan Sulawesi menjadi satu provinsi dan Dr. Ratulangi dilantik menjadi gubernur. Proklamasi dan pembentukan negara dan pemerintahannya itu tidak segera mendapat pengakuan Sekutu mengingat tokoh-tokoh nasional yang tampil memproklamasikan kemerdekaan itu, Soekarno dan Moh. Hatta adalah pihak yang berkolaborasi dengan Jepang. Akibatnya Sekutu menerima Netherlands Indie Civil Administration (NICA) menjadi bagian yang integral dari pasukan Sekutu dalam menyelesaikan tahanan perang di Indonesia.

Berdasarkan pada pengakuan kedaulatan itu, tokoh-tokoh politik dan pemuda pejuang di Sulawesi Selatan mengorganisasikan demonstrasi massal untuk menuntut dibubarkan NIT dan RIS dan kembali ke negara kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan mereka berhasil direalisasikan. Dalam pidato kenegaraan Presiden Soekarno pada tanggal 16 Agustus 1950, ia menyatakan pembubaran RIS dan kembali ke negara kesatuan RI.

Di Sulawesi Selatan berkobar peristiwa KNIL pada tahun 1950 kemudian diikuti dengan gerakan DI/TII pimpinan Abdul Qahar Muzakkar dan gerakan Permesta. Pergolakan yang terus terjadi itu mendorong pemerintah memikirkan cara untuk mengefektifkan pelayanan dan pembangunan. Untuk itu ditetapkan strategi memilah wilayah Sulawesi yang dipandang sangat luas atas dua wilayah provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 1964.

Berdasarkan penelusuran dan pengungkapan kesejarahan itu jelas tampak bahwa rakyat Sulawesi Selatan adalah rakyat yang sangat menentang pemerintahan kolonial. Penjajahan dipandang sebagai upaya mengeksploitasi dan memudarkan hak kemerdekaan dan kedaulatan setiap orang dan bangsa. Oleh karena itu, mereka terus berjuang menghapuskan penjajahan karena bertentangan dengan peri kemanusiaan. Selain itu juga menunjukkan bahwa penduduk Sulawesi Selatan mendambakan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan kenegaraan Indonesia.

Buku SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2 membahas masa lalu Sulawesi Selatan, khususnya periode kolonial sampai kemerdekaan (1905-1960), yang masih berisi sejarah Provinsi Sulawesi Barat. Meskipun pada akhir tahun 2004 Provinsi Sulawesi Barat sudah berdiri. Buku ini merupakan koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2
Tim Peneliti: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara, Anwar Thosibo et.al
Editor: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara
Penerbit: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda)
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-3633-09-3

September 29, 2021

SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA


Tokoh yang populer dalam sure' Galigo, adalah PatotoE, Batara Guru, Batara Luwu', Sawerigading We Nyili Timo dan We Datu Senggeng, namun yang paling populer adalah Sawerigading ia generasi ketiga dalam "Penciptaan" manusia dan alam.

Naskah La Galigo dan lebih khusus naskah episode Sawerigading, ditinjau dari segi pencerminan masyarakat dan budaya masyarakat Bugis, skenario cerita memang tergambar sifat-sifat asli orang Bugis, sistem kekerabatan, sistem perkawinan, lapisan sosial dan pandangan kosmogonynya. Sistem kepercayaan yang terlukis dalam cerita, berada pada Stadia berpikir kedewaan, tanpa adanya tanda-tanda pengaruh agama-agama prophetis.

Peranan skenario cerita dari keseluruhan tokoh-tokoh naskah La Galigo, Sawerigading diangkat sebagai pusat tempat berbesarnya sebuah cerita yang menampilkan wujud kebudayaan dan isi (struktur) kebudayaan masyarakat Bugis. Karakter dan watak seorang pri, terutama di kalangan elit sosial, tergambar pada perilaku dan kepribadian Sawerigading, sebagai seorang raja muda dan duta keliling serta seorang pengembara di lautan. Ia berupaya bermitra dengan kerajaan tetangganya sebagai usaha konsolidasi yang bertujuan membesarkan kerajaan LUWU. 

Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat, dengan terbitan khusus SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA berisi kumpulan tujuh artikel, kesemuanya merupakan makalah yang dibawakan pada Seminar Internasional La Galigo di Masamba. Ketujuh artikel tersebut adalah:

  1. Sebuah Tinjaun Reflektif terhadap Epos Lagaligo dan Tantangan Nilai Budaya Masa Depan, oleh: Ishak Ngeljaratan
  2. Sawerigading dan La Galigo dalam Perspektif Kontemporer, oleh: Nurdin Yatim
  3. Kedatuan Cina Menurut I Lagaligo, Lontarak dan Hasil Penelitian Oxia, oleh Prof. Andi Zainal Abidin
  4. Sawerigading sebagai Pahlawan Budaya: Simbol Maritim di Sulawesi Selatan, oleh Abu Hamid
  5. Refleksi Wanita dalam Sastra Bugis (Mitos Galigo dan Lagenda Pau-pau), oleh Muhammad Rapi Tang
  6. Sawerigading dan Masyarakat Cina - Makassar, oleh Shaifuddin Bahrum
  7. La Galigo: Milik Siapa? (Analisis atas Keterkaitannya dengan Saujana Budaya), oleh: Widya Nayati.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang-Makassar untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dalam bentuk karya ilmiah.


SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA
Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat
Penerbit: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISSN: 1907-3038


September 27, 2021

PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI SELATAN


Dalam tubuh manusia menurut lontarak, terlukis adanya 4 (empat) macam cairan tubuh, ialah cairan darah, bolok=lendir, balakunnyi= empedu kuning dan essung= empedu hitam. Darah mempunyai hawa panas dan lebab, bolok mempunyai hawa panas dan kering, balakunnyi berhawa dingin-kering dan essung mempunyai hawa dingin lembab. Dalam lontarak, misalnya menyebutkan pengaruh substansi cairan tubuh terhadap timbulnya penyakit. Dikatakan "narekko pasauk-i assikorena balakonnyi-e poleni semmeng mapparelle-e", artinya kalau terlalu kuat pengaruh percampuran empedu-kuning, maka datanglah demam-panas yang berantara.

Dikatakan pula, bahwa perut itu adalah kolamnya tubuh. Apabila sehat yang muncul dari perut (usus), maka sehatlah pula tubuh dan sebaliknya, jika sakit muncul dari perut, maka sakit pulalah tubuh. Jika perut sakit, maka berpokoklah segala penyakit yang akan dialami.

Klasifikasi watak dan sifat manusia, sering kali bertolak dari sifat cairan tubuh dan disesuaikan dengan tingkat usia dan disesuaikan dengan tingkat usia dan kondisi tubuh. Kelebihan dan kekurangan cairan tubuh tersebut dalam tubuh akan tampak warna pada wajah, seperti kemerah-merahan, pucat, masam, murung dan tenang. Semua itu sebagai alamat kelebihan atau kekurangan cairan salah satu dan empat jenis tersebut. Usaha-usaha untuk mencapai harmonisasi dalam pengobatan, selain ramuan obat dan doa, dilakukan pula tindakan-tindakan, seperti pengaturan waktu makan dan jenis-jenis masakan, mappanyolong (minum obat pencahar perut), malluwah (tindakan muntah) dari kekenyangan, mappasuk dara (tidakan mendekam) dan lain-lain tindakan yang mengarah kepada harmonisasi.

Apabila perut dianggap sebagai kolam dan sebagai pangkal menjalarnya penyakit yang disebabkan oleh makanan dan minuman, disebabkan oleh pengaruh kualitas alam, menjadi gejolak pada cairan tubuh, maka segala gejala-gejala dis-harmonis dalam perut akan menyebabkan terjadinya penyakit. Hal ini berarti bahwa perut merupakan pangkal dari makna sakit dan tidak sehat.

Dengan demikian dapat dipahami, bahwa tindakan-tindakan pencegahan sebelum menderita sakit, adalah pertama sekali, menjaga kuantitas dan kualitas makanan dan segala yang akan terkandung dalam perut. Kedua, adalah menjaga tingkah laku dan kebiasaan yang tidak menciptakan harmonisasi menurut usia dan kondisi tubuh. Semua kebiasaan yang dilakukan yang berlebihan atau kekurangan, akan menimbulkan dis-harmonis. Ketiga, adalah memperhatikan pamali-pamali menurut adat dan kepercayaan, kemudian melakukan interpretasi berdasarkan harmonisasi.

Buku PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI SELATAN merupakan sistem medis orang Bugis yang diangkat dari lontara, yang berdasarkan prinsip harmonisasi tellu sulapa eppa, dengan sumber bahan-bahan ramuan yang digunakan dalam pengobatan juga berasal dari prinsip ini, yang didahului oleh suatu sistem pengetahuan tentang komposisi yang terkandung pada sistem bahan ramuan berdasarkan lontara Wajo dan Bone.

Klasifikasi penyakit dan ramuan penyembuhan menurut lontara Wajo

  • Ramuan obat tentang penyakit mata
  • Ramuan obat tentang penyakit hidung dan tenggorokan
  • Ramuan obat tentang penyakit gigi, gusi, lidah dan mulut
  • Ramuan obat tentang penyakit batuk, asma dan kemuntahan (muntah darah)
  • Ramuan obat tentang penyakit bengkak
  • Ramuan obat tentang penyakit luka dan selalu keluar darah
  • Ramuan obat tentang penyakit perut
  • Ramuan obat tentang penyakit berak-berak (darah)
  • Ramuan obat tentang penyakit kencing
  • Ramuan obat untuk menambah dan mengurangi syahwat
  • Ramuan obat tentang kehamilan dan persalinan
  • Ramuan obat tentang penyakit peluh
  • Ramuan obat tentang penyakit pinggang
  • Ramuan obat tentang penyakit bawasir (ambeien)
  • Ramuan obat tentang penyakit campak-gabak
  • Ramuan obat tentang penyakit kuning: muka, mata dan kuku
  • Ramuan obat tentang penyakit demam-panas

Klasifikasi penyakit dan ramuan penyembuhan menurut lontara Bone

  • Ramuan obat penyakit kepala
  • Ramuan obat penyakit mata
  • Ramuan obat penyakit hidung
  • Ramuan obat penyakit-dalam
  • Ramuan obat penyakit luar/kulit
  • Ramuan obat penyakit panas
  • Ramuan obat penyakit luka-luka
  • Ramuan obat penyakit-penyakit lainnya

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar yang membahas persoalan yang menyangkut kausalitas penyakit dan penyembuhan serta praktek penyembuhan menurut kepercayaannya. Berikut prinsip harmonisasi tellu sulapa dalam sistem medis orang Bugis.

Unsur dasar kejadian manusia

  • Tanah
  • Air
  • Api
  • Angin

Kwalitas alam sekitar

  • Panas
  • Dingin
  • Kering
  • Lembab

Subtansi Cairan Tubuh

  • Darah
  • Empedu kuning
  • Lendir (flegma)
  • Empedu hitam


PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS LONTARA DI SULAWESI SELATAN
Penyusun: H. Abu Hamid
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008

WARISAN BUDAYA SULAWESI SELATAN

 

Pada awal bulan Juli 1848 Benjamin Frederik Matthes, anak dari Drs. Hendrik Justus Matthes, pendeta besar dari Gereja Injil Luther di Amsterdam, dan Wilhelmina Elisabeth Hover, bertolak ke Hindia Belanda. Setelah berlayar selama kurang lebih 112 hari, ia tiba di Batavia. Setelah tinggal beberapa hari di Batavia, ia melanjutkan perjalanannya ke Makassar. Pada tanggal 20 Desember tahun yang sama ia tiba di Makassar. Selama berada di Sulawesi Selatan, Matthes telah memberi begitu banyak sumbangan, terutama tulisan-tulisan beliau tentang daerah Sulawesi Selatan di masa lalu. Dalam bidang budaya misalnya, dia menghimpun naskah La Galigo dengan bantuan penuh dari Collig Pujie, penulisan beberapa naskah yang mengandung nilai sejarah dan budaya merupakan warisan yang sangat berharga, setidaknya memberi gambaran potrek dimasa lalu.

Buku WARISAN BUDAYA SULAWESI SELATAN berasal dari foto-foto hasil lukisan yang dilakukan oleh dua orang Belanda yang ditugaskan khusus untuk mendukung secara visual kamus yang disusun oleh Matthes (Kamus Bahasa-Makassar-Belanda dan Bahasa Bugis-Belanda) yang diterbitkan pada abad XVII. Foto-foto yang termuat dalam bundel yang terdiri atas 20 lembar kertas besar yang berisi kurang lebih 300 lukisan, lengkap dengan nama benda yang dilukis dan untuk beberapa bagian diberi penjelasan singkat. Bundel ini diberi judul “Ethnographische Atlas” yang diterbitkan pada tahun 1885. Dalam bundel itu memuat lukisan benda-benda yang berhubungan dengan pertanian, perladangan, perikanan, alat-alat perang, kesenian, musik, rumah tangga, jenis-jenis pakaian, alat-alat yang digunakan oleh bissu dalam melakukan upacara, tips rumah bangsawan dan jenis-jenis kapal yang digunakan ketika itu di daerah Sulawesi Selatan. Alat-alat itu sebagian masih digunakan oleh masyarakat luas di pedesaan, dan juga masih tersimpan di Museum Balla Lompoa di Kabupaten Gowa dan juga pada Museum La Galigo di Kota Makassar.

Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar, memuat 48 lukisan inventarisasi warisan budaya daerah Sulawesi Selatan, seperti:

  • Birowang: Kapal layar yang digunakan untuk jarak pendek. Kapal ini mengandalkan layar, kemudi hanya satu dan memiliki satu tiang.
  • Bilolang: Kapal layar dengan satu tiang dan digunakan sebagai alat transportasi jarak pendek
  • Pajala: Kapal layar khusus digunakan untuk menangkap ikan, memiliki pendayung dan memilik satu layar
  • Rumah Bangsawan: Memiliki 42 tiang untuk rumah induk, ada 16 tiang untuk rumahj budak. Rumah ini juga dihubungkan dengan tangga yang dikenal dengan nama walasuji.
  • Uring: Alat untuk memasak atau mengukus nasi, yang terbuat dari tanah liat.
  • Dapo: Tempat memasak menggunakan kayu bakar atau serbuk gergaji. Bahannya terbuat dari tanah liat.
  • Pamuttu: Tempat untuk menggoreng dan terbuat dari besi serta memiliki dua daun teliga.
  • Lobo: Tempat tutup makanan yang akan disajikan dan terbuat dari bambu atau rotan.
  • Baki: Talang atau baki yang terbuat dari kuningan berbentuk bundar, digunakan sebagai alat untuk mengangkat gelas atau cangkir.
  • Cerek: Terbuat dari kuningan dan digunakan untuk menyimpan air minum.
  • Timpo: Tempat air atau tuak yang akan dibuat gula merah dan terbuat dari bambu.
  • Patti Limbang: Peti pakaian yang digunakan waktu berpergian dan terbuat dari pelepah sagu, rotan, bambu dan ijuk.
  • Lamena: Pakaian perang orang Bugis-Makassar, terbuat dari tembaga atau kuningan, biasa digunakan oleh panglima perang.
  • Kalewang: Senjata jenis pedang, terbuat dari besi yang ditempa, gagangnya dan tempatnya terbuat dari besi.
  • Lengo (Lengo Labu dan Lengo Bodong): Perisai terbuat dari kayu keras dan rotan, digunakan waktu perang sebagai perisai.
  • Baju Rante: Pakaian perang orang Bugis Makassar, terbuat dari besi yang dianyam dan biasanya digunakan oleh penglima perang.
  • Sele Sapukala: Keris yang tidak memiliki lekukan dan terbuat dari besi tempa. Gagang terbuat dari kayu dengan lengkungan.
  • Sura: Keris dengan sembilang lekukandan hiasan benang pada sarung keris.
  • Lalau: Keris dengan tujuh lekukan, dibuat dari besi yang ditempa, hiasan pada leher keris yang menjorok ke dalam.
  • Kawali: Senjata khas orang Bugis-Makassar. Gagangnya terbuat dari kayu agak melengkung dan sarungnya terbuat dari kayu.
  • Talakko: Pakaian sembahyang wanita. Terbuat dari kain. Bagian atasnya diberi lubang untuk kepala, dan bagian kepala ditutup dengan menggunakan Cipo-cipo.
  • Ganrang: Gendang terbuat darin kayu, bagian kepala ditutup dengan kulit kerbau atau kambing. Untuk menghasilkan bunyi dipukul boleh dengan tangan atau pemukulnya. Pemukul gendang terbuat dari kayu yang ujungnya dibalut dengan kain.

 

WARISAN BUDAYA SULAWESI SELATAN
Penyusun: Suriadi Mappangara Nuraeda
Penerbit: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan

September 23, 2021

SASTRA LISAN MASSENREMPULU

 


Sastra lisan Massenrempulu adalah sastra yang lahir dan hidup di tengah-tengah masyarakat Massenrempulu, diwariskan turun-temurun dari mulut ke mulut dengan menggunakan tiga macam dialek, yaitu

  1.  Dialek Enrekang
  2. Dialek Duri dan
  3. Dialek Maiwa

Perbedaan ketiga dialek tersebut tampak pada penggunaan beberpa kata dan pengucapan fonem-fonem tertentu. Oleh karena perbedaan kosakata cukup banyak, maka masing-masing pemakai dialek kadang-kadang terganggu dalam hubungan pengertian ketiga dialek bahasa tersebut.

Cerita yang berhasil dikumpulkan diklasifikasi dalam beberapa jenis, yaitu mite, legenda, sage, fabel, cerita humor dan cerita dramatis. Berikut sastra lisan Massenrempulu yang berasal dari tiga macam dialek yaitu: 

  • Cerita Rakyat Daerah Enrekang 
  1. Kakaq Sammaraq
  2. Ariq Angin
  3. Janji
  4. Anangq Datu
  5. Bunnawasaq na Datu
  6. Asunna Bunnawasaq
  7. Anangq Pangaji
  8. Lera
  9. Onde-onden Kaccangq
  10. I Pagale
  11. Pulandoq na Buaja
  12. Sari Dukung
  • Cerita Rakyat Daerah Duri
  1. Bunga Mendoe
  2. Puang Buttu Marajo
  3. Londong di Rura sole Saqpang Digaletto
  4. Tattadu
  5. Pea Macca
  6. Tamasseung
  7. Caredukun
  8. Cadoqdong
  9. Indan Dibajaq Kada
  10. Tedong Simpo
  • Cerita Rakyat Daerah Maiwa
  1. Tomalando Badinna
  2.  La Geppo
  3. Laceppaga di Lembuang
  4. Buqtuq I Tallang
  5. Loqkoq Puq Salloq
  6. Tobaraninna Maiwang
  7. Toassa
  8. Passalang Ikkoq Bale

Buku SASTRA LISAN MASSENREMPULU untuk menginventarisasi sastra lisan Masserempulu, khususnya yang berbentuk cerita rakyat dalam bentuk mite, legenda, sage, fabel, cerita humor dan cerita dramatis. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

SASTRA LISAN MASSENREMPULU
Penyusun: Muhammad Sikki, Abdul Rasjid Nusu, J.S. Sande, Zainuddin Hakim, Mahmud
Penerbit: Balai Penelitian Bahasa
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1986