May 6, 2025

Buku Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu Karya A.S. Laksana

Buku Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu Karya A.S. Laksana


Oleh: Nabila Wulandani


Buku Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu Karya A.S. Laksana


Pendahuluan

Buku Murjangkung: cinta yang dungu dan hantu-hantu karya A.S. Laksana menyajikan kumpulan cerpen yang berani memadukan komedi absur dan kisah gaib. Terbit pada 2013 oleh Gagas Media, buku ini membawa pembaca menelusuri sudut-sudut kehidupan yang tampak biasa tetapi menyimpan keanehan. Setiap cerita diawali dengan situasi sehari‑hari yang perlahan berubah menjadi pengalaman mistis. Gaya bahasa penulis ringan dan menggelitik, sehingga pembaca merasa terhibur sekaligus penasaran. Sinopsis ini akan mengupas struktur narasi, keunikan tematik, dan daya tarik emosi yang ditawarkan buku ini.

Dari kisah pematung pemabuk hingga hantu Jawa yang nyeleneh, Murjangkung memancing tawa dan ketegangan secara bergantian. Suasana desa dan kota dijalin dengan elemen folklor lokal yang otentik. Dialog sederhana sering tiba‑tiba menukik ke dalam absurditas penuh kejutan. Unsur cinta yang dungu muncul lewat pilihan tokoh yang lucu sekaligus mengundang simpati. Pembaca diajak mempertanyakan batas kenyataan saat senyum berubah cemas dalam sekejap.


Isi

Tema sentral buku ini adalah relasi manusia dengan takdir dan kenangan masa lalu yang tak pernah benar‑benar hilang. Dalam cerpen “Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut” penulis menggabungkan legenda pendirian kota dengan humor slapstick. Sementara “Perempuan dari Masa Lalu” menampilkan romansa sendu yang diselingi penampakan bayangan hantu. Alur setiap cerita berlangsung cepat, berpindah dari adegan humor ke kilasan misteri tanpa jeda panjang. Pergeseran mood tersebut menjaga ketertarikan pembaca.

Struktur episodik Murjangkung membuat tiap cerita berdiri sendiri tetapi tetap terhubung lewat simbol kunci seperti kentongan, patung setengah jadi, dan bekas jejak kaki di tanah lembap. Gaya realism magic dipakai secara halus sehingga elemen gaib terasa wajar. Transisi antara dunia nyata dan dunia hantu membentuk koherensi tema. Penulis juga menebar petunjuk kecil dalam dialog yang kemudian terjawab di akhir cerpen. Pengulangan tokoh sampingan menambah rasa kedekatan dalam keseluruhan kumpulan.

Keunikan Murjangkung terletak pada keberanian menyatukan kritik sosial, komedi nyleneh, dan horor ringan dalam satu napas cerita. A.S. Laksana menghindari horor murahan dengan menitikberatkan pada kejutan psikologis dan humor gelap. Elemen budaya Jawa dan peristiwa kontemporer dipadu tanpa terkesan dibuat‑buat. Dialog tokoh terdengar sangat alami meski membahas hal‑hal absurd. Pilihan judul setiap cerpen kerap bersifat provokatif sehingga memancing interpretasi ganda.


Penutup

Secara keseluruhan Murjangkung: cinta yang dungu dan hantu-hantu menghadirkan pengalaman baca yang segar, mengundang tawa sekaligus ketegangan. Kumpulan cerpen ini cocok bagi pembaca yang menggemari cerita pendek penuh kejutan dan nuansa folklor modern. Setiap lembar menawarkan detail kecil yang menumbuhkan rasa ingin tahu hingga halaman terakhir. Sinopsis ini diharapkan menggugah keinginan untuk menyelami lapis‑lapis makna dan keunikan narasi A.S. Laksana. Buka buku ini dan biarkan Murjangkung membawa Anda menyusuri jalan cerita penuh warna.


Buku ini dapat pembaca temukan pada koleksi deposit yang berada di lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di Jalan Alauddin Kota Makassar. 


Informasi Buku

Judul Buku: Murjangkung: cinta yang dungu dan hantu-hantu
Karya: AS Laksana
Penerbit: Gagas Media
Tahun: 2013


Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran Karya Badaruddin Amir

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran Karya Badaruddin Amir 


Oleh: Nabila Wulandani

Sampul Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran


Pendahuluan

Buku Latopajoko dan Anjing Kasmaran karya Badaruddin Amir memadukan tradisi Bugis dengan imajinasi puitis dalam bentuk kumpulan cerpen. Terbit pada tahun 2007 oleh AKAR Indonesia kumpulan ini menghadirkan suasana pedesaan Sulawesi Selatan yang hidup melalui deskripsi alam dan kebiasaan masyarakat setempat. Setiap judul cerita mewakili sisi berbeda dari relasi manusia dengan lingkungan dan makhluk lain. Gaya bahasa penulis lugas namun kaya metafora sehingga mudah dinikmati oleh pembaca umum. 

Pada awal halaman pembaca disuguhi adegan sungai yang tenang namun menyimpan rahasia dan konflik. Suara gemericik air dan aroma lumpur menciptakan suasana magis yang sederhana namun kuat. Tokoh utama dalam judul “Latopajoko” membuka kisah dengan ujian kesetiaan yang dramatis. Kalimat pembuka cerpen-cerpen berikutnya dirancang untuk memancing rasa penasaran dan empati.

 

Isi

Alur cerita dalam buku ini episodik tetapi tetap menjaga kesinambungan tema kesetiaan keberanian dan kerinduan. Dalam “Latopajoko” sang towarani diuji dalam duel batin menghadapi Lataddangpali sambil mempertahankan sumpah setia kepada raja. Adegan pertarungan digambarkan sinematik dengan detail gerak tubuh suara keris dan hingar alam malam. Kehadiran anjing kasmaran sebagai teman setia menjadi metafora kesetiaan tanpa syarat. Pergulatan tokoh-tokoh sederhana seperti petani dan nelayan menambah kedekatan emosional dengan pembaca.

Selain kisah kepahlawanan cerpen-cerpen lain menyuguhkan warna berbeda seperti romansa sederhana dan kilasan realisme magis. Pada “Pipit Kecil Bermata Sayu” dan “Tahi Lalat Suster Ezra” pembaca menemukan kegelisahan cinta yang lembut namun menggugah. Elemen gaib muncul tanpa penjelasan berlebihan sehingga suasana misteri tetap terjaga alami. Deskripsi alam pedesaan tidak hanya latar tetapi ikut berbicara melalui simbol jejak kaki embun pagi atau bisikan angin. Transisi antara tawa ringan dan ketegangan mistis membuat pembacaan selalu segar.

Keunikan utama buku ini terletak pada perpaduan cerita folklor lokal dengan bahasa yang ringkas dan kuat. Metafora alam berperan ganda sebagai penanda suasana hati tokoh dan sebagai jembatan makna budaya. Penulis mampu menerjemahkan nilai tradisi Bugis menjadi narasi universal tanpa kehilangan keotentikan. Setiap cerpen menampilkan dialog sederhana yang padat makna dan menimbulkan resonansi emosional panjang. Penyusunan bab dan judul cerpen yang simbolis memancing interpretasi berlapis bagi pembaca.


Penutup

Latopajoko dan Anjing Kasmaran menegaskan bahwa sastra lokal dapat tampil memikat lintas generasi dan latar belakang. Kumpulan cerpen ini layak dibaca siapa saja yang tertarik pada kisah persahabatan keberanian dan nuansa mistis. Gaya penceritaan Badaruddin Amir memastikan pembaca tidak sekadar terhibur tetapi juga diajak merenung tentang makna kesetiaan dan takdir. Sinopsis ini diharapkan menjadi pintu gerbang yang memancing keingintahuan untuk menelusuri tiap cerita lebih jauh. Saat lembar pertama dibuka pembaca akan menemukan kedalaman makna yang terus berkembang hingga halaman terakhir.


Bagi pembaca yang ingin menjelajahi keajaiban kisah Latopajoko dan Anjing Kasmaran, buku ini dapat dijumpai di koleksi deposit lantai dua Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan yang terletak di Jalan Alauddin, Kota Makassar. 

Informasi Buku

Judul Buku: Latopajoko dan Anjing Kasmaran  
Karya: Badaruddin Amir  
Penerbit: AKAR Indonesia  
Tahun: 2007

Iwan Tompo: Maestro Lagu Makassar

 Oleh Abdul Wahab Nur

    
    Buku Iwan Tompo: Maestro Lagu Makassar adalah suatu karya biografi yang ditulis oleh Wandi Daeng Kulle dan Rusdin Tompo untuk mengenang Iwan Tompo sebagai salah satu maestro terbaik yang dimiliki Sulawesi Selatan dalam hal penciptaan dan menyanyikan lagu berbahasa Makassar. Pada buku ini terbahas mengenai perjalanan Iwan Tompo dari mulai meniti karir hingga kematiannya. 
     Buku ini terdiri dari lima bagian, di mana setiap bagian dibahas secara kompleks, sistematis dan terstruktur. Pada bagian pertama dibahas mengenai masa kecil Iwan Tompo, mulai dari ketika beliau menjadi penjual Jalangkote, asal mula nama "Iwan", kegemaran dalam dirinya untuk bernyanyi, hingga kisah cinta dan kehidupan keluarga-nya. Kemudian pada bagian kedua dibahas mengenai perspektif penulis dalam memberikan pandangannya seputar ragam lagu daerah, dan perkembangan industri musik di Makassar. Selain itu, dibahas juga mengenai pencapaian karier Sang Maestro, termasuk upayanya menaklukkan ibukota, dan keprihatinannya terhadap perkembangan lagu-lagu Makassar. Kemudian pada bagian ketiga, dipaparkan mengenai karya-karya Iwan Tompo dan beberapa kisah di balik layar dalam proses penciptaan lagu-lagunya. Dibahas juga mengenai konser tunggalnya yang diselenggarakan oleh Celebes TV, lika-liku kehidupannya sebagai artis dan praktik pembajakan yang dilakukan sejumlah pihak terhadap lagu-lagunya. Pada bagian keempat, dibahas mengenai kabar kematiannya yang sempat beredar, namun ternyata itu hanya berita palsu atau hoax. Kemudian upaya para sahabat dan fansnya dalam melakukan penggalangan dana melalui acara Tribute to Iwan Tompo untuk membantu biaya pengobatannya, kisah Iwan Tompo yang keluar masuk rumah sakit, dan saat-saat beliau menghembuskan napas terakhirnya. Dan pada bagian terakhir atau bagian kelima, berisi kesan dan kenangan dari para sahabatnya. Dari berbagai testimoni yang disampaikan sejumlah orang, tampak bahwa Iwan Tompo merupakan pribadi yang rendah hati, santun dan mudah bergaul (sombere). Adapun, mereka yang memberikan komentar pada bagian terakhir ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari penyanyi seangkatannya, penyanyi muda jebolan KDI, politisi, akademisa, wartawan, aktivis, seniman dan budayawan, hingga pejabat.

    Secara keseluruhan, buku ini diharapkan menjadi inspirasi dan motivasi bagi para generasi muda, sekaligus menambah literatur dan referensi terkait sejarah kontemporer Sulawesi Selatan. Kehadiran buku ini juga bertujuan guna mendorong pengembangan industri kreatif, khususnya di bidang musik Pop Daerah sebagai bagian dari seni budaya Sulawesi Selatan.

     Buku ini dapat ditemukan pada koleksi Layanan Deposit bagian biografi yang berada di lantai dua Perpustakaan Umum Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.


Penulis: Wandi Daeng Kulle dan Rusdin Tompo

Editor: Rusdin Tompo

Penerbit: Pustaka Sawerigading

Tempat Penerbitan: Makassar

Tahun Terbit: 2016

ISBN: - 

 

 



Sulawesi Selatan Dari A. Achmad Rifai ke Achmad Lamo 1960-1970

Oleh Abdul Wahab Nur


    

   Buku Sulawesi Selatan dari A. Achmad Rifai ke Achmad Lamo 1960-1970 adalah suatu karya yang memaparkan mengenai sejarah di Sulawesi Selatan pada tahun 1960-1970an, terutama pada masa kepemimpinan A. Achmad Rifai dan Achmad Lamo. Buku ini ditulis oleh Prof. DR. Zainuddin Taha. Adapun buku ini berusaha menyajikan peristiwa yang terjadi di Sulawesi Selatan yang hampir terlupakan dan belum dibahas pada buku mengenai Sulawesi Selatan yang terbit terlebih dahulu.

    Buku ini ditulis menggunakan metode kualitatif, di mana penulis memperoleh data menggunakan studi pustaka atau literatur, seperti arsip berupa buku Memori Serah Terima Gubernur A. Achmad Rifai pada Mei 1966 dan juga melalui wawancara serta dokumen dan ingatan pribadi penulis. Selain itu, penulis juga memperoleh data melalui buku mengenai Catatan Kehidupan dan Perjuangan A. Achmad Rifai.

    Isi dari buku ini cukup terstruktur, di mana terdiri dari 10 Bab. Pada bagian pertama dibahas mengenai pembentukan Provinsi di Sulawesi, dari yang masih berupa Daerah Besar atau Provinsi Administratif Sulawesi pada tahun 1945, kemudian terbagi menjadi dua bagian yakni Provinsi Administratif Sulawesi Utara/Tengah dan Provinsi Administratif Sulawesi Selatan/Tenggara pada tahun 1960 dan berubah lagi menjadi Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1964 melalui PP Nomor 2 tahun 1964. Kemudian pada bagian kedua dibahas mengenai Provinsi Sulawesi Selatan secara umum mulai dari geografi, iklim, penduduk, agama hingga budaya-nya. Kemudian pada bagian ketiga dibahas mengenai perkembangan politik dan pemerintahan di Sulawesi Selatan pada tahun 1960-an. Pada bagian keempat dibahas mengenai Achmad Rifai sebagai Gubernur Pertama Sulawesi Selatan. Pada bagian kelima dibahas mengenai Achmad Lamo sebagai Gubernur yang menggantikan Achmad Rifai sekaligus menjadi Gubernur terlama Sulawesi Selatan, yakni dari tahun 1966 hingga 1978. Kemudian pada bagian kelima dan keenam dibahas mengenai dinamika politik di Sulawesi Selatan pasca peristiwa G-30-S pada tahun 1965. Kemudian pada bagian ketujuh dan kedelapan kembali dibahas mengenai gaya kepemimpinan dan perubahan yang terjadi di Sulawesi Selatan selama Achmad Rifai dan Achmad Lamo menjabat sebagai Gubernur. Kemudian pada bagian kesembilan dibahas mengenai generasi pada tahun 1966 yang ikut andil dalam penumpasan dan penghapusan PKI setelah peristiwa pada tahun 1965. Dan pada bagian kesepuluh atau bagian terakhir dibahas mengenai dinamika politik yang terjadi pada tahun 1970 di Sulawesi Selatan, khususnya dalam memudarnya cita-cita Orde Baru. Selain itu, dalam buku ini juga terdapat dokumentasi yang terjadi di Sulawesi Selatan pada tahun 1960-1970an. 

    Secara keseluruhan, buku ini cukup baik untuk dibaca, terutama jika ingin mengetahui peristiwa yang terjadi di Sulawesi Selatan pada tahun 1960-1970an terutama ketika A. Achmad Rifai dan Achmad Lamo menjadi Gubernur Sulawesi Selatan serta dinamika politik yang terjadi selama mereka menjabat sebagai Gubernur. Dan buku ini juga menjadi satu-satunya yang membahas mengenai Sulawesi Selatan pada tahun 1960-1970an
    Buku ini dapat ditemukan pada koleksi Layanan Deposit bagian biografi yang berada di lantai dua Perpustakaan Umum Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang, Makassar.

Penulis: Prof. DR. Zainuddin Taha
Penerbit: Badan Penerbit UNM
Tempat Penerbitan: Makassar
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-6883-21-6

April 27, 2025

Peran Pustakawan dalam Peningkatan Literasi Masyarakat

 

Oleh : Suharman, S.S., MIM.


Pendahuluan

Literasi sangat penting untuk membangun masyarakat yang cerdas, kritis, dan kompetitif di era globalisasi. Pustakawan memegang peran yang sangat strategis sebagai pengelola perpustakaan dan menjadi garda terdepan dalam membangun budaya literasi dalam konteks ini. Pustakawan sekarang menjadi aktor perubahan sosial yang aktif mendorong kemajuan literasi masyarakat dan tidak lagi terbatas pada mengelola koleksi buku. Konsep literasi berkembang dan mencakup tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga literasi informasi, digital, media, dan literasi budaya, menurut transformasi ini.

Pustakawan membantu masyarakat mengakses, memahami, dan memanfaatkan data dari berbagai sumber. Agar mampu membimbing masyarakat menjadi pembelajar sepanjang hayat, pustakawan harus memiliki kemampuan yang tidak hanya teknis tetapi juga pedagogis dan sosial untuk peran barunya. Pustakawan memiliki kemampuan untuk menghidupkan semangat membaca dan menulis di masyarakat yang dinamis dan majemuk melalui inovasi program literasi, pendekatan komunitas, dan pemanfaatan teknologi.

Isi

Perpustakaan memiliki banyak kegiatan literasi di mana pustakawan berperan sebagai penggeraknya. Program, kelas menulis kreatif, pelatihan penggunaan informasi digital, dan kegiatan bercerita untuk anak-anak semua bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan kecintaan terhadap pengetahuan. Pustakawan sangat penting dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut dan membantu orang lain. Mereka membuat kurikulum kegiatan, memilih bahan bacaan yang memenuhi kebutuhan audiens, dan membuat lingkungan belajar yang menyenangkan dan inklusif.

Banyak pustakawan yang secara proaktif bekerja sama dengan sekolah, komunitas literasi, dan organisasi sosial di berbagai tempat untuk memperluas jangkauan kegiatan literasi. Bahkan, pustakawan di perpustakaan desa dan Taman Baca Masyarakat (TBM) seringkali berkunjung ke rumah warga atau membuka layanan keliling untuk memastikan bahwa literasi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Layanan literasi yang fleksibel dan berdampak luas didasarkan pada kreativitas dan dedikasi pustakawan.

Lebih dari itu, pustakawan juga bertugas sebagai pendidik informasi, atau Information Educator, yang mengajarkan masyarakat bagaimana menggunakan informasi. Di era kelimpahan informasi saat ini, menyaring informasi yang benar, akurat, dan relevan sangat penting. Pustakawan mengajarkan cara mencari, menilai, dan menggunakan data secara etis. Hal ini sangat penting untuk guru, siswa, dan masyarakat umum yang sering menghadapi masalah dalam memilih informasi di media sosial, internet, dan sumber digital lainnya. Literasi digital yang digunakan oleh pustakawan membantu masyarakat menghindari hoaks, ujaran kebencian, dan disinformasi. Selain itu, pustakawan mendidik masyarakat tentang hak cipta, plagiarisme, dan penggunaan sumber referensi yang tepat. Pustakawan secara tidak langsung membantu menciptakan ekosistem informasi yang sehat dan masyarakat yang kritis dan bertanggung jawab dalam mengonsumsi dan menyebarkan informasi melalui peran mereka.

Dalam perspektif pembangunan masyarakat, pustakawan juga berfungsi sebagai agen pemberdayaan sosial melalui literasi fungsional. Kemampuan seseorang untuk menggunakan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung secara efektif dalam kehidupan sehari-hari dikenal sebagai literasi fungsional. Pustakawan dapat mengembangkan program pelatihan kewirausahaan, pengelolaan keuangan, keterampilan kerja, hingga peningkatan kualitas hidup berbasis informasi. Misalnya, pustakawan pedesaan dapat memberikan informasi tentang pertanian, peternakan, atau usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang terkait dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Perpustakaan bukan hanya tempat untuk membaca buku, tetapi juga sumber informasi yang membantu kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat. Pustakawan harus dapat mengidentifikasi kebutuhan informasi lokal, mendorong pemangku kebijakan, dan terlibat secara aktif dengan komunitas dalam pembuatan program yang kontekstual dan berkelanjutan. Pustakawan sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor, dukungan teknologi, dan kemampuan komunikasi yang efektif untuk menjalankan peran pemberdayaan ini.

Penutup

Terakhir, untuk menjadi pustakawan yang mampu memainkan peran strategis dalam meningkatkan literasi masyarakat, diperlukan dukungan kebijakan yang berpihak kepada  peningkatan keterampilan pustakawan secara berkelanjutan, dan penguatan ekosistem perpustakaan yang partisipatif. Melalui pelatihan, sertifikasi, dan insentif yang layak, pemerintah dan lembaga terkait harus memprioritaskan pengembangan profesi pustakawan.

Selain itu, institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan calon pustakawan harus menyesuaikan kurikulum mereka untuk menyesuaikannya dengan tantangan zaman. Sebaliknya, pustakawan harus proaktif meningkatkan kemampuan mereka sendiri, berhubungan dengan sesama pustakawan dan komunitas, dan tetap kreatif untuk menyediakan layanan yang fleksibel. Untuk membentuk ekosistem literasi yang saling menguatkan, masyarakat juga harus diajak menjadi mitra aktif perpustakaan. Literasi dapat menjadi kekuatan kolektif yang membantu membangun peradaban bangsa yang maju, berbudaya, dan berdaya saing tinggi jika pustakawan, perpustakaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya bekerja sama dengan baik.