February 25, 2020

KARIKATUR-KARIKTUR 1970 – 1981



Karikatur merupakan unsur yang tak terpisahkan dalam penyajian surat kabar. Peranan karikatur sangat penting, manakala bentuk sudah tidak bisa lagi digambarkan dengan tulisan, hingga memerlukan sentuhan “seni” yang menyangkut berbagai unsur.

Dalam dunia surat kabar, ada dua unsur utama, yaitu penyajian berita dan pendapat, unsur pendapat inilah karikatur mengisi ruang lingkupnya di samping tajuk rencana, pojok dan lain-lain. Tetapi karikatur bukan sekedar pendapat, melainkan harus memenuhi syarat-syarat lain, diantaranya harus cepat dimengerti pembaca, ada unsur humor, penggambaran manusianya yang bersifat komik dan sebagainya.

Diperlukan sentuhan-sentuhan tertentu, yang merupakan perpaduan antara pengamatan seorang wartawan  dan seni seorang kartunis. Pramono, salah seorang karikaturis mampu menerjemahkan suatu peristiwa tertentu ke dalam karya karikatur secara mengena. Coretan-coretan mengenai tokoh-tokoh yang digambarkan menujukkan sifat komis, dengan menonjolkan fisik khas seseorang yang diterima dengan “good humor”.

Karya-karya karikatur Pramono yang berkali-kali mengadakan pameran, dan mendapat penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Karyanya tersebar di halaman-halaman surat kabar Sinar Harapan, mengomentari peristiwa-peristiwa tertentu, mengikuti tulisan-tulisan atau menggambarkan kejadian-kejadian menonjol selama sepekan seperti masalah lalu lintas, pembangunan, pers sampai masalah korupsi dan penyelewengan sehingga perlu menyajikannya dalam bentuk buku.


Habibie, Menteri Riset dan Teknologi (Ristek)

Buku karikatur-karikatur 1970 – 1981 diterbitkan oleh Sinar Harapan pada  Tahun 1981. Buku ini berisikan sketsa masyarakat Indonesia yang berkaitan dengan,
  1. Hari besar : Petasan Lebaran; Hari Pahlawan; Idul Fitri; Menyambut Tahun Baru 1974; Hari Pahlawan; Sumpah Pemuda; Angkutan Lebaran; Lembaran Baru; dan Selamat Tahun Baru.
  2. Lalu Lintas : Dimana-mana Macet; Wajib Pakai Helm; dan Tilang.
  3. Undang-Undang & Hukum: RUU Pemberantasan Korupsi; RUU Perkawinan; Menuju Peradilan Bebas; Rule of Low; KUHP; dan The Three Musketteers.
  4. Pemilu : Menjelang Pemilu; Minggu tenang dan Pemilu.
  5. Olah Raga: Satu-satunya di dunia; Goool!; Kala terus dan Suap dan Invisible Hand?.
  6. Karupsi & Penyelewengan dan Opstib: Pemerantasan korupsi; Pemberantasan; Kekebalan diplomatic; “x” Service; Pola hidup sederhana; Bantuan untuk Korban Bencana Alam; Suap palapa; Teladan; Operasi Tertib; Bantuan Pangan; Gulung Pungli; Fase Kedua Opstib; Mafia Kedokteran; Bukti-bukti Belum Komplit; Team Khusus Kehutanan; Rentenir & Guru Inpres Klaten; Hutan untuk Rakyat; dan ABRI Masuk Desa (AMD).
  7. Pembangunan & Kritik : Progress Report; Demokrasi; Demokrasi Pancasila; Pembangunan vs Morfin; Menuju Tahun I Pelita ke II; Larangan Judi; Instansi-instansi Anti Rambut Gondrong; Film-film Latah; Demokrasi yang Mana?; Pola Pemimpin Baru; Mahasiswa Menggugat; Banjir Metropolitan; Asal Bapak Senang; Program Pembangunan Gubernur Baru; Menteri Baru, Kebijaksanaan Baru; Pohon Kemerdekaan; “Penyesuaian” Tarif Listrik; dan Selamat Datang Semen Luar Negeri.
  8. Pers : Awal Perpecahan PWI; Pers Bandel; Kasus Harian Nusantara; Yang Salah Pers!; Kritik Satu Porsi!; Pers dan Larangan; Angin Berbalik; dan Bung Hatta.
  9.  Dewan Perwakilan Rakyat : Dewan Perwakilan Rakyat Tempat Penampungan; Kleptomania?; dan Tentang Petisi 50.
  10.  Ekonomi : Persaingan; Krisis Moneter Internasional; Kenaikan Harga Emas; Harga2 Naik; Krisis Moneter dunia; Penyesuaian Harga; Komoditi Penyerahan Kemudian; Welcome Mr. Pronk!; Demonstrasi Mahasiswa; Welcome Mr & Mrs. MEE!; dan Gaji Naek, Harga Naek.
  11.  Luar Negeri : Kamboja; Afrika; RMS di Nederland; Perjalanan Perdamaian; Perdamaian Semu?; Perang Vietnam; Bom Nuklir Perancis; Perang Timur Tengah; Kanselir Willy Brandt; Minyak Arab; Di mana lagi?; Skandal Watergate; Timor Potugis; Teori Yo-Yo; Pendekatan; Siapa Kuat?; “Pelajaran” RRC; KTT Non Blok, Havana Kuba; Intervensi Soviat; Energy; Burungku, Burungmu; Perang Iran-Irak; Sandera Iran-Irak; dan Bebas!.
  12. Potrek Kita : Daryatmo, Ketua DPR RI; Daoed Joesoef, Menteri P dan K; M. Yusuf, Menpangab; Awaloedin Djamin, Kapolri; Ali Wardhana, Menteri Keuangan; dan Habibie, Menteri Riset dan Teknologi (Ristek).
Satu-satunya di dunia!
Dalam Final Kejuaraan PSSI tahun '73-'75. Persija Lawan PSM akhirnya menjadi juara bersama berdasarkan
"surat keputusan" Ketua Umum PSSI Barsono. SN. November 1975



PASOMPE, Pengembaraan Orang Bugis




Buku : Pasompe, Pengembaraan Orang Bugis
Penulis : Prof. Dr. H. Abu Hamid
Penerbit : Pustaka Refleksi, Makassar, 2004
Jumlah Halaman  : viii + 95
ISBN : 979-3570-04-0

Pasompe adalah sosok manusia yang melakukan perantauan ke negeri seberang, demikian kata pengantar buku ini. Menjadi Pasompe adalah kebanggaan manusia Bugis dan Makassr sejak zaman dahulu kala. Kepiawaian manusia Bugis dan Makassar mengarungi samudra luas, berniaga dengan para penduduk negeri seberang, menginpor dan mengekspor barang barang komoditas dan aspek aspek maritime lainnya, Inilah inti pambahasan buku ini. 

Bagian awal dari buku ini membahas tentang “Orang Bugis dan Makassar Menentang Badai”. Pada bagian ini banyak dibahas tentang kejayaan Orang Bugis dan Makassar dimasa lalu dalam dunia maritime, palayaran dan pengembaraan. Terdapat kutipan dari banyak pakar misalnya Gervaise (1988), CH. Pelras (!973), catatan Lontara Bilang Gowa dan Tallo, ada tulisan L.J.J. Caron dan  Noorduyn. Disebutkan bahwa pada 21 April 1659,  Raja Gowa menuju Mandar dengan diiringi sebanyak 1183 Kapal dalam rombongannya. Bisa dibayangkan betapa besar dan jayanya kekuatan armada yang dimiliki pada masa itu. 

Hubungan kerja didalam sebuah kapal / perahu dagang juga dibahas pada bagian ini. Ada organisasi dalam pelayaran itu. Ada Ponggawa, Nakhoda, Juragam, Jurumudi, Sawi, Jurubatu, Jurutulis, Juru masak, awak kapal dan lain lain. 

Pengetahuan Astronomi dan Oceanologi juga dijelaskan pada bagian ini. Sejak zaman dulu, orang Bugis sudah mengenal rasi bintang sebagai petunjuk pelayaran, arah angin, cuaca dan musim. Ada bintang Sulo BawiE, Wara-waraE, TanraE, ManuE, WorongporongE, LumbaruE,  dan Tellu-telluE. 

Bagian kedua adalah “Sawerigading Terdampar Desa Ara”. Pada bagian ini dikisahkan tentang pelayaran Sawerigading yang merupakan salah satu penggalan kisah legenda I La Galigo. Kemudian ada mantra mantra magis dan religious dalam pembuatan perahu phinisi, misalnya ada mantra khusus ketika menebang pohon yang akan dijadikan perahu phinisi, ada mantra ketika memotong motongnya, ketika meluncurkannya kelaut dan lain lain. Dibahas pula tentang banyak persyaratan teknis ketika membuat perahu phinisi, serta perang para pembuat perahu juga bahkan kebutuhan dan harga bahan dan peralatan juga ada dalam buku ini. Nama nama teknis bagian perahu juga dijelaskan satu persatu.

Bagian ketiga, “Pasompe Bagi Orang Bugis”.  Pada bagian ini dijelaskan tentang arti dan makna kata “Pasompe”, juga dikisahkan kembali kehebatan para pasompe Bugis yang bahkan keturunannya banyak yang menjadi penguasa dan raja di negeri seberang. Juga dibahas buku karya Prof. Ph. O. L. Tobing tentang “Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa” pada tahun 1961. Dalam buku tersebut dijelaskan tentang jalur jalur pelayaran orang Bugis, Makassar dan Mandar sesuai dengan musimnya. 

Pada bagian ketiga ini pula dijelaskan tentang aturan aturan tradisional dalam suatu pelayaran. Ada aturan kerja antara Ponggawa (pemilik kapal), nakhoda, jurumudi, jurutulis, sawi, penumpang, dan lain lain. Begitu pula ada aturan tentang bagis hasil setelah pulang dari berlayar dan berniaga. Yang menarik disini, ada kepercayaan para pasompe itu tentang eksistensi atau keberadaan sang penguasa laut yaitu Nabi Khedere (nabi Khaidir) dan juga adanya Hantu Laut yang bisa menimbulkan masalah dalam pelayaran. 

Terakhir adalah pesan pesan para Panrita Lopi (pakar pembuat perahu). Salah satu pesannya antara lain: piring dan gelas suami yang dipakai makan selama dalam lingkungan keluarganya, harus diamankan. Gelas diisi dengan air, maksudnya agar kesehatan suami selama dalam pelayaran senantiasa terjamin. 

Salah satu buku terbaik tentang dunia maritime orang Bugis yang pernah saya baca. Koleksi Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 



February 24, 2020

SUKU KAJANG

Rumah Pertemuan Adat Ammatowa

Suku Kajang identik dengan ketulusan, kemandirian dan kebersahajaan. Suku yang secara administratif berada di dalam Kabupaten Bulukumba, unik ditengah-tengah masyarakat sekitarnya. Wilayah utama diapit oleh dua desa administratif, yaitu Desa Tambangan dan Desa Tana Toa. Kedua pejabat desa ini dalam tatanan adat suku Kajang, berperan sebagai Menteri Dalam Negeri (Kades Tana Toa) dan Menteri Luar Negeri (Kades Tambangan).

Dalam kehidupan sehari-hari suku kajang memproduksi seluruh kebutuhan hidupnya. Selain bahan pokok seperti beras, gula, dan garam. Peralatan rumah tangga pun di produksi sendiri. Seluruh keluarga suku kajang, termasuk Amma Toa, harus bekerja sendiri dan tidak boleh menggantungkan hidupnya pada orang lain. Bila terjadi hal-hal yang luar biasa dan memerlukan bantuan, semua itu diatur oleh tatanan adat.

Luas wilayah utama suku Kajang sekitar 1.000 hektar. Secara konseptual-tradisional wilayahnya dibagi dalam tiga lapis lingkar. Lingkar pertama, dianggap sebagai lingkar gerbang, adalah lapis lingkar yang dapat bersentuhan dengan dunia luar. Lingkar kedua adalah lingkar daerah adat utama, tempat bermukim Kepala Adat Tertinggi yang disebut Amma Toa. Sampai dengan akhir tahun delapan puluhan, ketika Amma Toa Puto Cacong masih hidup, segala macam pengaruh luar dan buatan luar tidak mungkin menyentuh daerah lingkar kedua atau lingkar dalam. Adapun lingkar ketiga adalah lingkar yang sangat sacral, yang hanya bisa didatangi pada saat tertentu olah pemuka adat tertinggi serta harus diantar langsung oleh Amma Toa sendiri. Tidak seorangpun diperbolehkan menceritakan tempat paling sakral itu.

Seluruh anggota suku Kajang memakai pakaian warna hitam. Orang luar yang ingin memasuki lingkar pertama suku ini pun wajib memakai warna hitam. Hitam bagi suku Kajang merupakan simbol dunia. “Dunia kita ini sudah dipenuhi dengan kebejatan, kejabatan, kemunafikan, dan sebagainya". Dunia nyata adalah hitam” ungkap Amma Toa Puto Cacong. Maka suku Kajang memakai warna hitam itu. Pakaian hitam untuk terus mawas diri terhadap dunia yang sudah hitam itu. Pakaian hitam merupakan lambang dari keharusan untuk senantiasa waspada dan ingat pada To Riayak Ri Arakna (Allah Yang Maha Kuasa).  Adapun pemahaman dan penghayatan mereka tentang Agama Islam yang dianut dan diakui oleh orang Kajang juga ditemukan bersamaan pada komunitas suku Toani Tolotang, di Kabupaten.

Suku Kajang, merupakan salah satu isi buku Sulawesi Selatan yang dapat di baca di layanan perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang. Buku ini sebuah esai fotografi, dengan oyek-obyek "Alam, Manusia dan Budaya" sebagai upaya untuk turut serta mengisi literatur dunia tentang keberadaan daerah Provinsi Sulawesi Selatan di sebuah negeri katulistiwa: Indonesia.


Galla Puto, "menteri penerangan" suku kajang di depan memhir yang
bergambar garis simbol manusia

Dapur keluarga suku Kajang letaknya di ruang depan rumah dekat tanggal.
Bila ada tamu yang datang, mereka tahu dan melihat situasi dapur, sedang berasap atau tidak 

MADDENGNGENG, KOBOI BONE

Kelompok Maddengngeng menggunakan Tadoq (lasso)

Maddengngeng, kaboi Bone. Seperti koboi, mereka menunggang kuda pilihan, dan dengan tali lasso mereka menangkap rusa hutan. Perburuan rusa massal ini dilakukan di sekitar bulan Agustus-September begitu selesai panen. Acara ini diawali dengan pembuatan Mapparung, yaitu kemah-kemah dari ilalang. Sebelum perburuan dimulai, para pemburu tidak makan daging. Mereka hanya boleh makan nasi putih, garam dan kelapa parut.

Para pemburu dibagi menjadi tiga kelompok; Passok, pencari jejak rusa dengan bantuan anjing pelacak, kelompok Mabbassing, pelacak yang diperkenalkan menangkap rusa dengan tombak, dan kelompok Maddengngeng adalah golongan bangsawan (Topuang). Pada saat perburuan, mereka tidak diperkenalkan membawa uang dan ikan.

Bila rusa sudah ditangkap, pembagian dagingnya pun berdasarkan strata sosial tersebut. Passosok hanya mendapatkan kaki rusa, Mabbassing mendapatkan punggung, sedangkan tulang rusuk ketiga sampai kepala untuk Madengngeng.

Maddengngeng, Koboi Bone, merupaka salah satu isi dalam buku Sulawesi Selatan yang dapat di baca di layanan perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang. Buku ini sebuah esai fotografi, dengan obyek-obyek “Alam, Manusia dan Budaya” sebagai upaya untuk turut serta mengisi literature dunia tentang keberadaan daerah Provinsi Sulawesi Selatan di sebuah negeri katulistiwa: Indonesia.

IRIGASI SADDANG DAN PLTA BAKARU


Irigasi Saddang Pinrang

Pengairan Saddang dibangun pada tahun 1939. Awal adanya sebuah survey pada induk Bendungan Benteng pada tahun 1927 oleh Ir. H. M. Verwey dan dilanjutkan oleh Ir. WS Eys Fogel hingga selesai tiga tahun kemudian.

Pada era Pelita I, Proyek irigasi Saddang diperluas. Proyek irigasi yang waktu itu menampung aliran Sungai Kalampiri di Kabupaten Enrekang, Sungai Saddang Rantepao dan Sungai Baruppu dari Kabupaten Tana Toraja, ditambahfungsikan menjadi Proyek Irigasi Saddang dan Maroso yang dapat membangkitkan tenaga listrik hingga mencapai 33 MVA, dan dapat mengairi tanah seluas 63.000 hektar.

Kini, pengairan Saddang telah didampingi oleh PLTA Bakaru yang dibangun di atas hulu induk Bendungan Benteng. Kapasitas tenaga yang dimiliki pada mulanya adalah 3.000 MV. PLTA Bakaru dibangun untuk mendukung pertumbuhan industri di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

IRIGASI SADDANG DAN PLTA BAKARU , merupaka salah satu isi dalam buku Sulawesi Selatan yang dapat di baca di layanan perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang. Buku ini sebuah esai fotografi, dengan obyek-obyek “Alam, Manusia dan Budaya” sebagai upaya untuk turut serta mengisi literature dunia tentang keberadaan daerah Provinsi Sulawesi Selatan di sebuah negeri katulistiwa: Indonesia.
Menuai padi, jangan lupa menghibur diri, Pinrang