June 10, 2025

I Tolok Dg. Magassing, Si Pitung dari Makassar

 


Judul:                           I Tolok Daeng Magassing, Si Pitung dari Tanah Mangkasara

Penulis:                        Zainuddin Tika, Adi Suryadi Culla, Hamzah Daeng Temba

Editor:                          Dr. H. Abd. Rahim, S.E., M.Pd. & H. Abd. Haris Daeng Ngasa

Penerbit:                     Dinas Perpustakaan Kota Makassar

Tahun Terbit:             2018

Jumlah Halaman:    148

ISBN:                            -

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Nama tokoh ini, I Tolok Daeng Magassing mungkin tidak banyak dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan. Kemungkinan hanya dikenal disekitar kota Makassar dan Gowa. Itupun hanya orang orang tua zaman dulu saja. Inilah yang menjadi alasan utama dari penulis (3 orang) untuk mendokumentasikan tokoh ini dalam bentuk buku. Diharapkan agar generasi muda akan lebih banyak mengenal tokoh tokoh bersejarah, pahlawan, maupun tokoh yang kontroversi di masa lalu.

Ada 2 bagian buku ini, bagian pertama adalah kisah hidup I Tolok Dg. Magassing dan bagian kedua adalah kisah I Maddi Dg. Rimakka. Buku ini tanpa ada pendahuluan maupun kata pengantar. Hanya ada Sekapur Sirih sebagai pengantar. Kisah pertama tentang I Tolok Dg. Magassing. Tokoh ini hidup pada berjuang pada awal abad ke-20 dan dianggap sebagai pejuang, berasal dari kampung Parapa, yang berjuang melawan penjajahan. Caranya berjuang termasuk unik, karena secara gerilya masuk hutan, dan menghadang pasukan Belanda dan menyerangnya, atau bersama kelompoknya yang berjumlah 40 orang merampok orang Belanda atau pribumi yang pro-Belanda, dan kemudian hasil rampokannya dibagikan kepada rakyat miskin. Orang Belanda menyebutnya Pagorra Patampuloa (perampok yang beranggotakan 40 orang).

I Tolok ini mirip dengan si Pitung dari Betawi yang terkenal, sama dengan Robinhood yang juga berjuang dengan cara merampok dan kemudian membagi hasil rampokannya kepada rakyat miskin. I Tolok menguasai seni beladiri pencak silat. Perjuangannya didukung oleh raja Gowa ke-34 yaitu I Makkulau Dg. Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Muhammad Hussein.

Setelah kelompok I Tolok Dg. Magassing meledakkan dan merampok kereta api dari Takalar ke Makassar, Belanda semakin gusar dan membuat sayembara penangkapan I Tolok. Meskipun rakyat lebih banyak yang membela I Tolok, namun pengkhianatan anak buah I Tolok yang menyebabkan dia akhirnya ditangkap oleh pasukan Belanda. I Tolok dan kedua teman seperjuangannya yaitu I Basareng dan I Rajamang dihukum tembak mati oleh pasukan Belanda. Jenazah ketiga pejuang tersebut kemudian diarak keliling kampung oleh Belanda untuk menakuti para pejuang lainnya. I Tolok kemudian di makamkan di kampungnya sendiri yaitu kampung Parapa.

Kisah kedua dalam buku ini adalah I Maddi Dg. Ri Makka seorang pejuang juga. I Maddi juga berjuang sezaman dengan I Tolok yaitu pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. I Maddi memiliki ilmu kekebalan tubuh dan menguasai seni beladiri pencak silat, sehingga dia dengan mudah masuk menjadi anggota Prajurit Kerajaan Gowa pada posisi Pengawal Pribadi Raja Gowa atau dikenal dengan istilah Paklapak Barambangna Sombayya ri Gowa. Sebagai pengawal pribadi, I Maddi sering konflik dengan pasukan Belanda yang selalu ingin turut campur urusan kerajaan, sehingga I Maddi bersama para pengikutnya memberontak terhadap penjajah Belanda.

Pasukan Belanda yang semua dilengkapi dengan senjata akhirnya dapat menangkap I Maddi, dan memenjarakannya selama beberapa tahun. Selama I Maddi dipenjara, Belanda semakin leluasa mencapuri urusan kerajaan Gowa, karena tidak ada lagi penghalangnya.

I Maddi menjalani hukum penjara selama beberapa tahun, lalu kemudian dilepaskan. Bebas dari penjaara, Raja Gowa kemudian mengembalikan I Maddi ke kampung halamannya yaitu Binamu. Di kerajaan Binamu, I Maddi juga bertugas sebagai pengawal pribadi Karaeng  Binamu yang juga merupakan paman I Maddi yang bernama Karaeng Bonto Tangnga. Namun kemudian terjadi konflik antara I Maddi dengan pamannya, Karaeng Binamu. I Maddi kemudian meninggalkan Binamu dan diangkat menjadi Raja Turatea.

Kerajaan Binamu dan Turatea pada awalnya bersahabat, namun karena politik Belanda yang suka memecah belah, akhirnya terjadi konflik diantara kedua kerajaan. Puncaknya adalah terbunuhnya I Maddi oleh serangan tombak sekutu Karaeng Bonto Tangnga. I Maddi kemudian dimakamkan di Tonro Kassi, Kecamatan Tamalate.

Buku ini memuat kisah dua pejuang yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat Sulawesi Selatan yaitu I Tolok Dg. Magassing dan I Maddi Dg. Ri Makka. Kedua kisah ini dapat menambah pengetahuan para generasi muda tentang kisah hidup dan perjuangan tokoh zaman dahulu.  Sayangnya, buku ini banyak sekali typo atau salah ketik. Illustrasi gambarnya banyak yang tidak sesuai topik yang ditampilkan.

Buku koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




June 4, 2025

Lontara Matutu: Tradisi Nyanyian Berkabung atas Kematian pada Masyarakat Pinrang


Dalam khazanah budaya Bugis, terdapat sebuah tradisi lisan yang sarat makna spiritual dan historis, dikenal dengan nama Lontara Matutu. Istilah ini berasal dari akar kata tuttung dalam bahasa Bugis, yang berarti “membaca”, sebagaimana dalam ungkapan narituttunngi surekna, yang berarti "dibacakan suratnya." Maka, Matutu secara harfiah dapat dimaknai sebagai tindakan membaca lontara, yakni manuskrip beraksara Bugis yang memuat pelbagai nilai, termasuk ajaran tentang kematian.

Tradisi Matutu dahulu sangat lekat dalam kehidupan masyarakat Pinrang, Sulawesi Selatan, terutama dalam konteks menghadapi duka. Ketika seseorang wafat, keluarga dan masyarakat akan melantunkan teks-teks Matutu sebagai bagian dari prosesi perpisahan. Namun seiring waktu, tradisi ini perlahan memudar dan kini hanya bertahan di lingkungan terbatas, seperti komunitas pesantren di Kaballangan.

Informasi mengenai tradisi ini dapat ditemukan dalam sebuah flyer berjudul Lontara Matutu: Tradisi Nyanyian Berkabung atas Kematian pada Masyarakat Pinrang, yang merupakan salah satu koleksi dari Layanan BI Corner Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam flyer tersebut dijelaskan bahwa Matutu bukan sekadar pembacaan teks, melainkan dilantunkan dalam bentuk nyanyian kelompok, di mana para lelaki dan perempuan bergantian menyanyikan syair yang mengandung petuah spiritual. Biasanya, nyanyian ini dimulai pada malam pertama setelah penguburan, seusai ceramah takziah, dan berlangsung hingga larut malam—bahkan hingga fajar menyingsing.

Tidak ada kewajiban untuk menuntaskan seluruh teks dalam satu malam; yang utama adalah proses perenungan yang disampaikan dengan kelembutan dan ketenangan hati. Menurut kesaksian salah seorang pembaca Matutu, yang mengenang pengalaman masa kecilnya, nyanyian ini dahulu dilangsungkan selama tiga malam, tujuh malam, bahkan sampai empat belas malam, tergantung pada tradisi keluarga dan semangat pelantunnya.

Teks Matutu berisi nasihat-nasihat mendalam mengenai kematian dan kehidupan setelahnya. Ia mengajak para pendengarnya untuk menyadari kefanaan dunia, dan menyiapkan diri menghadapi hari akhir. Diceritakan pula tentang detik-detik perpisahan antara roh dan jasad—momen yang senantiasa mengejutkan meskipun telah berkali-kali terjadi. Dalam syair-syair ini termuat pula ungkapan-ungkapan bernuansa sufistik, yang mencerminkan pemahaman tarekat yang berkembang secara turun-temurun dalam masyarakat Bugis.

Yang menarik, ajaran tarekat dalam tradisi ini tidak disampaikan secara elitis atau eksklusif. Sebaliknya, ia ditawarkan secara terbuka melalui simbol-simbol budaya, seperti nyanyian Matutu itu sendiri. Inilah bentuk dakwah yang halus namun mendalam: mengajak masyarakat mengenal kematian, bukan dengan ratapan, melainkan dengan perenungan. Matutu menolak ekspresi duka yang berlebihan. Sebagai gantinya, ia menawarkan jalan untuk mengendalikan kesedihan dengan mengenali makna kematian lewat syair-syair yang menguatkan jiwa.

Fenomena serupa dapat ditemukan dalam berbagai tradisi daerah lain di Indonesia. Misalnya, Male-Male di Ciacia, Andung pada masyarakat Batak Toba, Munaba di Waropen, Papua, Katoneng-Katoneng dalam upacara adat Karo, hingga Hau dalam ritual kematian di lingkungan Buddhis Go Hock Keng. Bahkan, dalam tradisi Kristen Aluk Todolo di Toraja, nyanyian kematian juga memegang peran sentral. Semua ini menunjukkan bahwa nyanyian kematian adalah warisan budaya lintas etnik yang berakar pada spiritualitas dan kemanusiaan.

Dalam konteks keagamaan, nyanyian ini merupakan ekspresi iman dan bentuk penghormatan terhadap takdir kehidupan. Di sisi lain, secara kemanusiaan, ia menjadi sarana solidaritas, empati, dan pengingat akan kefanaan. Maka tak heran jika nyanyian-nyanyian ini menciptakan ruang untuk refleksi spiritual, sekaligus mempererat ikatan sosial. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, Matutu dan tradisi serupa menjadi jangkar yang meneguhkan nilai-nilai etika dan spiritual, sekaligus menandai kesinambungan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.


Lontara Matutu: Tradisi Nyanyian Berkabung atas Kematian pada Masyarakat Pinrang
Penyusun: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIX
Tahun Terbit: 2024

Ramang Legenda Sepakbola Nasional asal Makassar

 


Judul:                           Ramang, Macan Bola

Penulis:                        M. Dahlan Abubakar

Editor:                         -

Penerbit:                     Identitas, Universitas Hasanuddin Makassar

Tahun Terbit:             2011

Jumlah Halaman:    cix + 523

ISBN:                            9789790431843

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Nama ”Ramang” sudah sangat populer dan melegenda di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar dan sekitarnya. Bahkan di Indonesia, karena pernah menjadi anggota tim Sepakbola Olimpade Indonesia yang berlaga di Olimpiade Melbourne, Australia 1956. Tim Indonesia waktu itu mengguncang dunia persepakbolaan dunia, karena berhasil menahan tim Uni Soviet dengan 0 – 0 pada perempat final Sepakbola Olimpiade XVI di Melbourne.   

Mungkin tidak ada yang tidak kenal namanya sebagai anggota tim sepakbola PSM (Persatuan Sepak Bola Makassar). Bahkan namanya menjadi sebuah frasa atau istilah yang biasa merujuk ke seseorang yang sudah mulai berkurang kekuatan atau prestasinya karena usia yang menua. Orang orang akan menyebutnya ‘toa mi Ramang’ (‘Ramang sudah tua’), meskipun faktanya beliau telah wafat sejak 1987, namun istilah itu masih digunakan sampai sekarang.  

Buku ini cukup tebal, halaman pendahualuannya (preliminer) saja ada 109 halaman, ditambah halaman utamanya 523 halaman. Bagian awal diisi dengan sambutan sambutan, mulai dari sambutan penulis, M. Dahlan Abubakar, Penyair Toha Muhtar, Jusuf Kalla, Andi Alfian Mallarangeng (Menteri Pemuda & Olahraga, waktu diterbitkan buku ini), dan Walikota Makassar yang sekaligus Ketua Umum PSM Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Bagaimana penulis memburu para narasumber penulisan, juga diuraikan pada bagian awal.   

Pembahasan utama terdiri dari 4 bagian, dimana bagian pertama adalah Rekam Jejak. Diuraikan pada bagian ini masa kecil Ramang di Sumpang BinangaE Barru, kelahirannya tanggal 24 April 1928, tentang keluarganya, kebiasannya main bola dengan menggunakan jeruk, bola gulungan kain karung, dan bola rotan, dan awal masuknya ke klub Sepakbola di Barru.

Atas ajakan Mayjen H. A. Mattalatta, Ramang kemudian pindah ke Makassar dan pada 1947 mulai bergabung dengan PSM yang pada masa itu namanya MVB (Makassar Voetbal Bond). 1952 Ramang ke Jakarta untuk berlatih karena menggantikan pemain lain yang sakit, dan akhirnya masuk tim inti PSSI. 1954 PSSI melawat ke berbagai negara Asia yaitu Filipina, Hongkong, Muangthai dan Malaysia, dimana PSSI memenangkan seluruh pertandingan tersebut. Dari keempat laga tersebut tim PSSI berhasil menciptakan 25 gol, dan 19 diantaranya lewat kaki Ramang.

Karir Ramang sebagai Pelatih juga dibahas. Ramang pernah menjadi pelatih PSM Makassar, PSBI Blitar dan PersiPal Palu. Disebutkan juga, Ramang pernah melatih di Bau Bau Buton Sulawesi Tenggara.

Ramang wafat di rumahnya yang sederhana di Jalan Andi Mappanyukki Makassar pada 26 September 1987 akibat penyakit paru paru yang dideritanya, dan dimakamkan di TPU Panaikang Makassar. Untuk mengabadikan namanya, patung Ramang pernah menghiasi salah satu pintu gerbang lapangan Karebosi, namun diruntuhkan pada saat program Revitalisasi Karebosi. Rencananya Pemda Kota Makassar akan membangun penggantinya di Stadion Barombong.

Bagian kedua adalah Kisah (tentang) Mereka, mengulas pengalaman para mantan pemain PSM yang pernah dilatih oleh Ramang, dan yang pernah bermain bersama Ramang di klub PSM. Mereka yang berkisah antara lain Baco Ahmad, Dony Pattinasarani, Harry Tjong, Keng Wie, Kusnadi Kamaluddin, Machful Umar, Maulwi Saelan, M. Basri, Najib Latandang, Piet Tio, Syamsuddin Umar dan lain lain.

Pada bagian ketiga yang diberi judul ‘Dokumen Terlacak’ berisi pengalaman pengalaman Ramang sebagai pemain bola baik di PSM maupun di PSSI, pelatih, kepala keluarga, prestasi PSM dan berbagai topik lainnya. Bagian terakhir adalah Testimoni dari orang orang yang pernah berinteraksi dengan Ramang, ada pemain PSM, wasit sepakbola, dan lain lain.

Buku ini sangat lengkap membahas tentang pesepakbola legend asal Makassar, Ramang. Mulai dari riwayat hidupnya, permainannya, debutnya di kancah Nasional, prestasinya, kepelatihannya bahkan testimoni dari orang yang pernah bersama beliau. Namun karena ditulis oleh seorang jurnalis, bahasanya lebih informatif daripada literer. Dokumentasi fotonya juga kurang sehingga pembaca yang lebih suka visual mungkin merasa terlalu datar. Dinamika persepakbolaan nasional pada masa itu juga tidak terlalu banyak dibahas.  

Buku ini Koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




Tionghoa Makassar Pasca Reformasi

 


Judul:                           Berubah, Metamorfosis Warga Tionghoa Makassar dalam 10 Tahun Reformasi

Penulis:                        Shaifuddin Bahrum

Editor:                           Dafirah & A. Ahmad Saransi

Penerbit:                     Yayasan Baruga Nusantara

Tahun Terbit:               2008

Jumlah Halaman:     xv + 165

ISBN:                             9789799796950

Penulis Resensi:         Suharman, S.S., MIM.

Orang orang Tionghoa sudah berimigrasi ke kawasan Nusantara sejak ratusan tahun silam. Mereka telah hidup dan menetap Indonesia sebagian besar telah menyatu dengan masyarakat lokal. Bahkan sebagian budaya Tionghoa yang ada juga telah menyesuaikan dengan budaya lokal yang ada.

Namun demikian, terkadang ada juga riak riak kecil dan bahkan besar yang terjadi dengan orang orang Tionghoa selama perjalanan bangsa Indonesia sejak dulu kala. Sebagian besar konflik yang terjadi masih bisa diatasi, namun ada juga konflik dan kerusuhan yang dampaknya sangat besar bagi masyarakat Tionghoa.

Masyarakat Tionghoa sebagai warga negara Indonesia juga tentu mendambakan kehidupan yang lebih baik dan lebih kondusif. Era reformasi menandai berakhirnya era Orde Baru. Banyak peraturan pemerintah yang tidak berpihak ke suku Tionghoa dihilangkan dan diganti dengan yang lebih baik yang bisa menciptakan kehidupan antara suku bangsa yang lebih harmonis. Salah satunya adalah disahkannya Undang Undang Kewarganegaraan tahun 2006 lalu.

Terbagi menjadi 4 bagian, diawali dengan sambutan dari Walikota Makassar Ilham Arif Sirajuddin, kata pengantar dari penerbit dan penulis. Pada bagian pertama diuraikan tentang arti reformasi bagi masyarakat Tionghoa. Berbagai peristiwa pasca reformasi disambut gembira oleh para warga Tionghoa, misalnya mereka sudah bisa merayakan lagi perayaan Tahun Baru IMLEK yang selama masa Order Baru dilarang. Terbitnya Undang Undang Kewarganegaraan yang baru juga disambut gembira oleh suku Tionghoa, karena pada Undang Undang ini, mereka sudah dianggap warga asli Indonesia karena lahir di Indonesia. Agama Kong Hu Cu yang banyak dianut oleh warga Tionghoa juga sudah diakui oleh negara dan mereka dapat merayakan hari hari besar agama mereka.

Sebelum reformasi, kebanyakan warga Tionghoa di Makassar selalu berkumpul sesama warga Tionghoa dalam satu pemukiman, namun setelah reformasi sudah semakin banyak dari mereka yang hidup berbaur dengan warga lokal Makassar. Kalau dulu warga Tionghoa Makassar kebanyak bermukim di sekitar Jalan Sombaopu, Jalan Gunung Merapi, Jalan Andalas, Jalan Bulusaraung dan lain lainnya, maka sekarang ini, mereka menyebar tinggal di berbagai perumahan yang penghuninya dari berbagai etnis atau suku yang ada di Indonesia. Bahkan warga Tionghoa Makassar juga sudah bisa membentuk Paguyuban yaitu Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) dan membentuk Organisasi sendiri yang bernama INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa) dan organisasi Tionghoa lainnya. Hal ini adalah sesuatu yang terlarang di masa Orde Baru lalu.

Undang Undang Kewarganegaraan yang baru juga disambut gembira oleh warga Tionghoa seluruh Indonesia, termasuk yang ada di Makassar. Tidak ada lagi istilah ‘pribumi’ dan ‘non-pribumi’. Semua warga negara Indonesia termasuk suku Tionghoa dapat menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara), TNI, maupun Polisi. Bahkan dapat maju sebagai anggota Legislatif maupun Kepala Daerah.

Bagian terakhir menguraikan tentang bagaimana warga Tionghoa berpartisipasi dalam Pemilihan Umum (PEMILU). Disebutkan bahwa pasca Reformasi, ada beberapa Partai Politik yang anggotanya banyak orang Tionghoa.

Bagian akhir buku ini dicantumkan Undang Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Undang Undang Kewarganegaaan Republik Indonesia. Pada sampul dalam ada biografi ringkas penulis buku yaitu : Shaifuddin Bahrum.

Buku ini dapat dijadikan bahan rujukan yang cukup lengkap tentang perubahan warga Tionghoa pasca Reformasi, baik dari segi sosial, budaya, ekonomi, hukum dan politik di Indonesia, khususnya warga Tionghoa di Makassar.

Namun demikian, fokus buku hanya pada masyarakat Tionghoa di Makassar, yang meskipun mendalam, membuat pembaca kurang mendapatkan gambaran yang lebih luas mengenai dinamika masyarakat Tionghoa di kota-kota lain di Indonesia setelah Reformasi. Pembaca yang mengharapkan perbandingan antar wilayah mungkin akan merasa ruang lingkupnya terlalu sempit.

Meskipun fokus buku adalah 10 tahun pasca Reformasi, beberapa pembaca mungkin mengharapkan lebih banyak kilas balik historis yang lebih jauh, untuk memberi konteks yang lebih kuat tentang perubahan identitas dan posisi sosial masyarakat Tionghoa sebelum era Reformasi.

Buku ini menampilkan kecenderungan analisis makro, namun akan lebih kuat secara emosional dan humanistik bila penulis menyertakan lebih banyak kisah hidup tokoh-tokoh masyarakat Tionghoa Makassar, sehingga pembaca bisa lebih terhubung secara pribadi dengan pengalaman mereka.

Buku ini koleksi Deposit. Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.




June 3, 2025

Permainan Rakyat Suku Bugis dan Makassar

 


Judul:                           Permainan Rakyat Suku Bugis Makassar di Sulawesi Selatan

Penulis:                        Dra. Ny. Aminah Hamzah & Dra. Ny. Rukmini, A. K.

Editor:                         -

Penerbit:                     Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan RI

Tahun Terbit:               1979/1980

Jumlah Halaman:        viii + 162

ISBN:                            -

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku ini diterbitkan dalam rangka program penelitian, inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan yang tumbuh dan berkembang diseluruh wilayah Indonesia. Proyek ini dilaksanakan oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun 1976.

Dengan adanya inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah diharapkan para generasi muda dapat lebih mengenal budaya daerah ditengah serbuan budaya asing. Hasil penelitian dan inventarisasi ini juga akan menambah wawasan masyarakat akan budaya budaya lokal yang begitu banyak tersebar diseluruh daerah di Indonesia.

Sebagaimana biasanya buku buku terbitan pemerintah, buku ini diawali dengan beberapakata pengantar kemudian pendahuluan yang menguraikan tujuan inventarisasi, permasalahan dan ruang lingkup pembahasan, serta pertanggung jawaban dan prosedur invetarisasi.

Bagian kedua adalah inti atau pokok pembahasan buku ini. Ada 24 permainan rakyat suku Bugis dan Makassar yang dibahas dengan judul atau nama permainan dalam bahasa Bugis dan bahasa Makassar. Sebagian besar permainan rakyat itu mungkin sudah tidak lagi dikenali atau dimainkan oleh anak anak atau generasi muda saat ini. Apalagi era digital yang melanda dunia 3 dekade terakhir ini, dimana anak anak lebih banyak main game digital daripada main game atau permainan tradisional.

Setiap permainan rakyat yang dibahas, disertai dengan bagaimana penamaannya, peristiwa atau suasana dan waktu permainan, latar belakang sosial budaya, sejarah perkembangan, jumlah peserta atau pemain, peralatan dan perlengkapan permainan, iringan musik yang menyertainya (kalau ada), jalannya permainan, peranannya di masa sekarang dan tanggapan masyarakat terhadap permainan tersebut. Di awal permainan juga dilengkapi dengan foto foto hitam putih (monokrom) yang sudah mulai buram.

Adapun permainan rakyat suku Bugis dan Makassar yang dibahas disini adalah : marraga (akraga), maggasing (akgasing), maccukke (accangke), maggaleceng (aggalaceng), massaung manu (assaung jangang), maggale (aggale), mallogo (allogo), massalo (assalo), mabbangngak (attaruk), mallongngak (allongngak), majjeka (makkaddaro), mappasajang (aklayang-layang), maggeccik (addattek-dattek), mappolo beceng (akkattik-katinting), massantok (assantok), rengngeng (ajjonga), mattojang (attoweng), mappadendang (appaddekko), makkurung manu (songko-songkokang jangang), maggunreco (agganreco), massempek (assempek), mallanca (aklanca), mammencak (akmanca), dan terakhir maccubbu (accokko-cokkoang).

Buku ini cukup lengkap membahas setiap permainan tradisional suku Bugis dan Makassar, sehingga dapat dijadikan bahan rujukan bagi yang ingin meneliti tentang permainan rakyat suku Bugis dan Makassar. Jika ada sumber informasi lainnya tentang permainan rakyat yang belum ada dalam buku ini, maka dapat digabungkan dengan yang ada dalam buku ini.

Sayangnya, ada dua lembar atau 4 halaman yang hilang dalam buku ini, sepertinya sudah disobek. Foto yang menjadi illustrasi dalam buku ini juga hanya foto hitam putih yang sudah buram, dan banyak yang tidak bisa ditebak, foto apa itu.

Buku semacam ini, yang merupakan dokumentasi dan inventarisasi budaya suku Bugis dan Makassar, akan lebih lengkap lagi jika buku ini diterbitkan ulang dan disertai dengan video bagaimana permainan tersebut dimainkan. Diera digital sekarang ini, buku buku akan lebih mudah diakses dan dibaca pemustaka jika disertai dengan media audio-visual (media pandang-dengar).

Buku ini koleksi Deposit, Bidang Pembinaan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.