November 5, 2021

SEJARAH BONE DAN KERAJAAN-KERAJAAN LAIN

Beberapa naskah kuno yang tersimpan di Perpustakaan Nasional menggunakan aksara lontaraq, dalam bahasa Bugis dan Makassar. Buku ALIH BAHASA SEJARAH BONE DAN KERAJAAN-KERAJAAN LAIN DI SULAWESI SELATAN SERTA HUKUM-HUKUMNYA menyajikan hasil alih bahasa dua naskah kuno koleksi Perpustakaan Nasional RI yang beraksara lontaraq dan berbahasa Bugis. Yang pertama berjudul "Sejarah Bone dan Hukum-hukum" sedangkan yang kedua berjudul "Lontaraq Soppeng". Naskah pertama dialih aksara dan alih bahasakan sebanyak 46 halaman naskah karena halaman 47 dan seterusnya berbahasa Makassar. Naskah kedua sebanyak 59 halaman naskah, karena jumlah halamannya cukup banyak. 

Judul naskah Sejarah Bone dan Hukum-hukum berisikan tentang Bone serta raja-raja yang memerintah di Bone yang bersumber dari cerita orang terdahulu, juga dijelaskan setelah mas Galigo tak ada raja, sehingga orang-orang bagaikan ikan yang saling memangsa. Hal tersebut berlangsung selama tujuh turunan. Selama itu pulalah orang-orang tak saling mengenal, tak beradab dan tak mengenal hukum.

Pada suatu hari, petir, menggelegar, kilat saling menyambar dan tanah bergetar. Lalu terlihat sosok laki-laki yang memakai pakaian serba putih. Orang-orang pun sepakat menyebutnya To Manurung (orang yang turun dari langit). Setlah terjadi dialog antara orang banyak dan orang yang disebut To Manurung itu, mereka sepakat untuk menemui To Manurung yang sebenarnya di daerah Matajang. 

To Manurung di Matajang tersebut berpakaian serba kuning sedang duduk di sebuah pondok dengan empat orang dayang-dayangnya. Setelah itu, terjadilah tanya jawab antara warga dan To Manurung yang berpakaian serba kuning. Warga meminta agar To Manurung menyetujuinya, ia pun dibawa ke istana.

To Manurung inilah yang menjadi cikal bakal Kerajaan Bone, dia menjadi raja pertama di Bone yang bergelar Mata Selompoge. Dalam naskah ini diceritakan tentang raja-raja Bone berikutnya beserta kebiasaan-kebiasaan sang raja, sifat-sifatnya, kelebihan dan kekurangannya, silsilah keluarganya, hingga peristiwa yang terjadi selama masa pemerintahannya. Salah satu peristiwa besar yang diceritakan dalam naskah ini adalah perjanjian Tellumpoccoe antara Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng. Raja Bone yang diceritakan dalam naskah ini hanya sampai pada Lamaddaremmeng Matinroe ri Bukaka.

Pada halaman-halaman berikutnya berpindah ke permasalahan hukum, diantaranya pesan seorang hakim tentang bagaimana memutuskan suatu perkara, jenis-jenis perkara dan cara menyelesaikannya.

Judul naskah Lontaraq Soppeng. Naskah diawali dengen keterangan bahwa naskah berisi sejarah wilayah Soppeng saat masih terbagi dua, yakni Soppeng Riyaja dan Soppeng Rilau. Pada halaman-halaman awal, naskah berisi pesan Puang Rimaggalatung tentang hukum; bagaimana hakikat hukum dan penyelesaian terhadap masalah-masalah yang ada dalam masyarakat. Hukum tentang hewan peliharaan yang juga diuraikan pada naskah ini.

Selain itu, terdapat dialog antara Kajao Laliddo dan Arumpone tentang banyak hal dalam kehidupan termasuk diantaranya bagaimana membangun sebuah kerjaan yang besar. Terdapat pula pesan-pesan cendikiawan Bugis lainnya seperti Puang Rimaggalatung. Pada tersebut terdapat peristiwa perjanjian Tellumpoccoe, pada naskah ini ada Perjanjian Tanete antara Bone dan Soppeng.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan dilakukan untuk menjaga kelestarian naskah dengan proses pemindahan informasi dari suatu bahasa atau versi bahasa ke bahasa atau variasi bahasa lain. Tujuan utama aliah bahasa adalah agar teks suntingan dapat dibaca, dipahami dan dinikmati oleh pembaca yang bukan berasal dari daerah tradisi teks atau naskah.


ALIH BAHASA SEJARAH BONE DAN KERAJAAN-KERAJAAN LAIN
DI SULAWESI SELATAN SERTA HUKUM-HUKUMNYA

Penyusun: Syamsinar, Munasriana
Penerbit: Perpusnas Press, Anggota Ikapi
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2020
ISBN: 978-623-313-068-4


November 4, 2021

GOWA BERGOLAK : GERAKAN RAKYAT MENENTANG PENJAJAH


Pada awal dicetuskannya kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 yang menandai penggabungan seluruh daerah nusantara ke dalam negara kesatuan, rakyat Gowa tampil berjuang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda yang ingin kembali menjajah. Daerah Gowa merupakan basis utama gerakan pejuang kemerdekaan seperti Lipang Bajeng, Macan Putih (Macan Keboka), Harimau Indonesia serta pimpinan pejuang lainnya telah gugur di medan laga dalam mempertahankan tanah air dari cengkeraman Belanda. 

Peristiwa tragis terjadi ketika pasukan Westerling melakukan penyisiran di seluruh pelosok Sulawesi Selatan dan peristiwa itu lebih dikenal dengan nama Korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan pada bulan Desember 1946.

Gerakan rakyat Gowa menentang penjajahan, tidak hanya terjadi di daratan rendah, juga bergema sampai pelosok desa di Kabupaten Gowa merasakan akibat perang revolusi di masa silang. 

Beberapa tempat bersejarah yang merupakan daerah pergolakan di Gowa, seperti serangan umum di Malino pada Desember 1946, peristiwa pembunuhan Tuan Petoro Mr. Westhoff (Aspirant Controleur Gowa Timur di Malino), penembakan dan pembakaran rumah di Bungaya, pembantaian di Bontonompo, Bajeng, Pallangga dan Somba Opu serta daerah lainnya.

Buku GOWA BERGOLAK : GERAKAN RAKYAT MENENTANG PENJAJAH merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar dalam upaya menggali fakta sejarah perjuangan bangsa di 16 kecamatan di Kabupaten Gowa. Fakta-fakta tersebut di antaranya:

Kecamatan Sombaopu. 

  • Merah putih pertama kali berkibar di Kota Sungguminasa
  • Pertempuran di Samata
  • Cungkil mata Kepala Kampung Katangka
  • Tentatara DI/TII culik kepala kampung
Kecamatan Pallangga

  • KRAP, benteng pertahanan Gowa
  • Khasan Dg. Bombong, pemberani dari Jenetallasa
  • PMP miliki kekuatan 400 orang
Kecamatan Barombong

  • Menghadang KNIL di Bilaji
  • Tacciri, markas pejuang merah putih
  • Dg. Nappa, pembuat senjata dari Tangngalla
  • Baso Lappa tertembak di atas pohon enau
  • OPR patahkan pertahanan pasukan momok
  • Gerakan 1 Tolo' Daeng Magassing
Kecamatan Bajeng

  • Bungung Barania, simbol kejantanan Laskar Lipang Bajeng
  • Nuhung Dg. Bani tertangkap
  • Baharuddin Sarro, dari Zeinendan ke Lipang Bajeng
Kecamatan Bajeng Barat
  • Baso Barumbung pimpinan pasukang Pa'lapak Barambang
Kecamatan Bontonompo
  • Bontonompo bergolak
  • Bebaskan tahanan ala Rambo
  • Kende Dg Sutte, larang nyanyikan lagu Wilhelmus
  • Dg. Nassa lolos dari kepungan tentara Belanda
Kecamatan Bontonompo Selatan

  • Tanrara lautan api
  • M. Yasin Limpo, diselamatkan perempuan
  • Perkuat barisam pasukan Sambaloge
Kecamatan Bontomarannu

  • PPNI kacaukan pertahanan Belanda
  • Pasukan merah putih lakukan serangan balasan
Kecamatan Pattalassang
  • Pasukan merah putih bergerilya di Bollangi
Kecamatan Parangloe
  • Menghadang tentara Belanda di jembatan Lebong
Kecamatan Tinggimocong
  • Serangan umum Kota Malino
Kecamatan Tombolopao
  • Tuan Petoro terbunuh
  • Karaeng Tea dikhianati
Kecamatan Parigi
  • Colleng Dg. Ngalle, pejuang dari Longka
Kecamatan Mamuju
  • Selamat dari kekejaman Westerling
Kecamatan Bungaya
  • Bugaya membara
Kecamatan Bontolempangan
  • Pasukan merah putih potong tangan Belanda
Kecamatan Biringbulu
  • Menghadang Belanda di Esere
Kecamatan Tompobulu
  • Perjuangan rakyat Tompobulu


GOWA BERGOLAK : GERAKAN RAKYAT MENENTANG PENJAJAH
Penulis: Syarifuddin Kulle, Zainuddin Tika, Najamuddin
Editor: Syamsuddin Dg. Ngalli
Penerbit: Yayasan Butta Gowa dengan Lembaga Kajian &
Penulisan Sejarah Budaya Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2007



November 3, 2021

Datuk ri Tiro: Penyiar Islam di Bulukumba

Datuk ri Tiro: santri, mubalig dan "pemberi berkah" bagi peziarah dan sering disebut "pelindung" (Al maulana). Bermula dari pribadi Minangkabau yang masih misterius asal keluarganya, bahkan sampai akhir hayatnya juga tidak meninggalkan keturunan. Ia menuntut ilmu di zawiah Aceh yang demi tegaknya agama Islam menerima tugas Sultan Aceh untuk berdakwah di komunitas Bugis dan Makassar.

Perjalanan hidup dari pendidikan di zawiah Aceh hingga berlayar mengarungi keganasan laut bersama Datuk Sulaiman dan Datuk ri Bandang mencerminkan sikap pribadi yang ikhlas serta cinta pada Allah, ciptaan-Nya dan agama-Nya. Dalam dakwah beliau memiliki sikap jujur/amanah, tegas, berintegritas dan yakin pada ilmunya sehingga perbedaan dengan Datuk ri Bandang terus didialogkan hingga menemukan solusi yang sangat baik bagi perkembangan Islam sampai sekarang.

Datu ri Tiro menemukan dan memilih negeri Tiro sebagai tempatnya mengabdikan segenap hidupnya sampai wafat tentu bukan secara kebetulan. Negeri Tiro berdasarkan fragmen artefak keramik asing telah ikut andil sebagai pelabuhan transit sejak abad XIV yang sangat terbuka dengan raja yang arif dan berpengetahuan tinggi. Pribadinya yang hormat, santun dan adaptif menjadikan Datu ri Tiro mudah diterima dan beradaptasi dengan komunitas adat yang telah memiliki kepercayaan lokal. Selain itu, sebagai pribadi yang percaya diri, kreatif dan pekerja keras, penempatan Datu ri Tiro berdakwah sangat tepat di Negeri Tiro. Datu ri Tiro terbukti mampu mengatasi tantangan "komunitas" yang senang dengan ilmu-ilmu kebatinan (klenik dan sihir) karena memiliki wawasan dan ilmu kebatinan Islam yang baik.

Dengan kemampuan ilmunya yang tinggi, Datu ri Tiro mampu menundukkan Raja Tiro dalam adu kesaktian. Kemenangannya disikapi dengan hormat, santun dan rendah hati menjadikan Raja Tiro yang diteladani bersedia menjadi muslim diikuti oleh masyarakatnya. Tasawuf yang dipihnya sebagai pendekatan dakwah telah mempermudah penyiaran ajaran agama Islam dengan pendekatan pribadi yang toleran, suka kedamaian dan persatuan.

Kehadiran Datu ri Tiro di Bulukumba tampak telah mewariskan ajaran dan pembelajaran dakwah serta sebagai pilar karakter. Selain itu, Datu ri Tiro juga mewariskan legenda dan artefak yang memiliki bobot nilai ajaran berupa naskah klasik, makam atau relik-relik ulama dan raja berkarisma. Pada nisan-nisan juga terabadikan konsep berpikir tasawuf yang diajarkannya. Beberapa artefak peninggalan zaman Datuk ri Tiro telah tumbuh menjadi objek ziarah di beberapa titik di kawasan Kecamatan Bonto Tiro yang tentunya harus dipelihara dan terus dikembangkan untuk kepentingan agama Ideologi), sosial (pendidikan) dan ekonomi (pariwisata).

Buku Datuk ri Tiro: Penyiar Islam di Bulukumba membahas lima hal yang difokuskan pada satu sosok tokoh ulama yang berasal dari Minangkabau yakni Datuk Tiro. Pertama-tama akan digambarkan kepercayaan pra-Datuk ri Tiro. Pertama-tama akan digambarkan kepercayaan pra-Datuk ri Tiro. Selanjutnya secara berturut-turut dibahas sejarah kehadiran Datu Tallua sebagai bagian tak terpisahkan dari proses Islamisasi di Negeri Tiro: asal-usul Datu ri Tiro; ajaran yang dikembangkan Datu ri Tiro; gagasan-gagasan yang mungkin menjadikan Negeri Tiro pilihan lokasi dakwah di Sulawesi Selatan; serta tradisi ziarah yang terkait dengan karisma Datu ri Tiro. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Datuk ri Tiro: Penyiar Islam di Bulukumba 
Misi, Ajaran dan Jati Diri
Penulis: M. Irfan Mahmud
Penerbit: Ombak
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-602-7544-73-4


KAPTEN HARIMAU INDONESIA: ANDI MAPPE

Andi Mappe adalah sosok pejuang yang memang dibutuhkan oleh masanya. Sebagai seorang bangsawan tinggi yang berlimpah dengan warisan kekayaan, setumpuk jabatan dan penghormatan kekaraengan tidak lantas membuatnya  terlena dan berpangku tangan melihat rakyat dan daerahnya ingin kembali dijajah oleh Belanda. Beliau turun langsung ditengah-tengah rakyat, keluar masuk hutan, dari kampung ke kampung melakukan perlawanan sekuat tenaga dengan segala sumber daya yang dimiliki.

Sejarah perjuangan kemerdekaan angkatan '45 di Pangkep yang dipelopori oleh Andi Mappe, dalam riwayat perjuangannya adalah Kapten Harimau Indonesia (HI), yaitu laskar perjuangan yang didirikan oleh anak-anak muda yang gesit dan terampil dalam perjuangan gerilya. Gerakan perjuangannya sulit ditebak oleh musuh, karena basis pertahanan dan penyerangannya berpindah-pindah.

Andi Mappe bukan hanya tokoh pergerakan  perjuangan kemerdekaan di Pangkep pada masa revolusi fisik, tetapi juga kepeloporannya dalam perjuangan kemerdekaan menjadi ikon perjuangan gerilya di Pangkep, bahkan bukan cuma di Pangkep, daerah perjuangannya sampai juga di Maros, Tanete dan Bulu Dua Soppeng. Berikut sepak terjang Andi Mappe dan pasukannya: tiada hari tanpa perang gerilya, seperti:

  • Pertempuran di Mangilu 
  • Perjalanan gerilya: menangkap mata-mata dan mencari dukungan
  • Pertempuran di Manggalung
  • Perjalanan ke Balocci
  • Membuat markas pertahanan dan penyerangan dari Pettung (Tanete)
  • Gerilya dan pertempuran di Kampung Lisu dan Kota Barru
  • Pasukan gerilya menuju Labakkang
  • Pasukan gerilya di Bungoro dan Tondong
  • Tercium mata-mata Belanda
  • Pertempuran di Salo' Tallang
  • Pasukan Menuju Maros
Pasukan HI di Pangkep selama berada dibawah pimpinan Andi Mappe cukup gesit mengadakan pengacauan, perlawanan bersenjata di wilayah Pangkajene, Tanete (Barru), Mallawa, Camba dan Maros. Oleh militer Polisi (MP) Belanda yang berkekuatan sebanyak 2 peleton yang mementahkan perlawanan tokoh HI Andi Mappe selama tiga hari tiga malam pertempuran di LoangngE, Distrik Balocci menunjukkan sikap beringas, kejam dan tidak berperikemanusiaannya dengan memenggal leher Andi Mappe. 

Saat kepala beliau berpisah dari batang lehernya, MP Belanda kemudian mengarak kemana-mana kepala tersebut, diperlihatkan pada khalayak penduduk di Pangkajene, di Bungoro, Maros dan terakhir di Labakkang. Mungkin hal ini dimaksudkan Belanda agar tidak ada lagi orang seberani Andi Mappe, agar tidak lagi ada orang yang berani menentang kekuasaan penjajahan Belanda, agar tidak ada lagi yang berani berperang melawan Belanda. Jika penyerangan masih dilakukan oleh pasukan HI dan mendapat dukungan dari penduduk maka akan bernasib sama dengan Andi Mappe.

Kepala almarhum Andi Mappe tersebut kemudian di bawa ke Maccini Baji/Labakkang. Ratusan masyarakat yang merasa ditinggal dan berhutang jasa atas perjuangan Andi Mappe turut mengantarnya. Oleh MP Belanda, hal tersebut dibiarkannya agar masyarakat menjadi saksi sejarah atas perjuangannya. Dengan iringan serdadu Belanda, kepala almarhum Andi Mappe tersebut selanjutnya diseberangkan ke sebuah pulau yang bernama Cambang-cambang (Liukang Tupabbiring), sebuah pulau yang tidak berpenghuni ketika itu, tidak didiami oleh manusia, dekat dari Maccini Baji.

Buku KAPTEN HARIMAU INDONESIA: ANDI MAPPE PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN membahas riwayat hidup dan perjuangan tentang Andi Mappe-Kapten Harimau Indonesia (HI) di Pangkep pada masa revolusi fisik, dan gugur ditengah muntahan peluruh pada tanggal 25 Maret 1947 oleh Militer Polisi (MP) Belanda di Balloci. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KAPTEN HARIMAU INDONESIA: ANDI MAPPE
PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN 
Penulis: M. Farid W Makkulau
Penyunting: Bundu Makkulau
Penerbit: Pemerintah Kabupaten Pangkep
Tempat Terbit: Pangkep
Tahun Terbit: 2007





TARI PA'GELLU': MAKNA DAN KESEIMBANGAN HIDUP

Pa' gellu' berasal dari bahasa Toraja, dapat diartikan sebagai menari-menari dengan riang gembira sambil menggerakkan tangan dan badan bergoyang dengan gemulai. Konsep dasar tari Pa'gellu adalah hiburan dan bersifat rekreatif, biasanya dilakukan untuk menyambut tamu terhormat. Rasanya kurang lengkap sebuah pesta keramaian tanpa menyaksikan tari Pa'gellu'.

Orang Toraja yang sangat dominan dengan upacara Rambu Solo, sebuah upacara kematian dengan mengorbankan kerbau dan babi dengan jumlah yang besar. Bagi orang Toraja, terdapat keseimbangan hidup antara suka dan duka di mana keduanya bagian integral dari proses kehidupan. Ungkapan rasa duka dimanifestasikan dalam bentuk nyanyian ratapan atau ma'badong dan saat senang, gembira  ma'gellu, ma' boneballa, dan mallambu pare. Tariataran ini tidak boleh dilakukan pada saat upacara kematian. Oleh karena itu, kehadiran tari pa'gellu adalah sebuah manifestasi kegembiraan yang diekspresikan dalam bentuk gerak yang lembut dengan alunan musik tradisional.

Tari pa'gellu' digelar di halaman rumah atau di depan tamu agung. Orang menari kapan saja diminta oleh yang punya hajatan, baik pada siang hari maupun pada malam hari. Dibandingkan dengan tarian Toraja lainnya, tari pa'gellu' banyak mempunyai ruang dan waktu dipertontonkan. Tari pa'gellu' dilakukan oleh lima atau tiga orang gadis. Akan tetapi jika seorang penari memiliki anggota keluarga yang meninggal dan belum dimakamkan, maka ia tidak diperbolehkan menari karena dianggap masih berduka. Konsep ini memperlihatkan bahwa orang Toraja memiliki cara pandang hidup ini yang memiliki sisinya tersendiri. Suka dan duka, di dalamnya terdapat apresiasi penuh dan harus didedikasikan pada tempatnya masing-masing.

Tari pa'gellu' dilakukan oleh wanita dengan memakai pakaian khas Toraja dan aksesoris juga khas Toraja. Gerakan-gerakan mengikuti irama gendang yang ditabuh oleh beberapa pria. Tari ini merupakan satu tarian tradisional Toraja yang berkembang sejalan perkembangan zaman. 

Tari ini termasuk kelompok tari pujaan yang merupakan ungkapan syukur. Terdapat 12 (dua belas) gerakan utama sebagai filosofi hidup dan etos kerja orang Toraja. Gerakan-gerakan dalam tarian ini mengandung makna yang demikian mendalam, seperti 

Ma'tabe': Geran ini mengandung nilai kesopanan, nilai luhur keimanan, nilai kesalehan dan nilai kesadaran sosial.

Pa'dena'-dena': Gerakan ini memberi makna hidup yang perlunya mengedepankan kerja sama dan saling memberi jalan dan ruang. Kebersamaan dan kesatuan adalah segalanya.

Pa'gellu' tua: Gerakan ini memberikan makna tidak boleh melupakan jasa-jasa baik orang telah membesarkan, menumbuhkembangkan hidup, menolong dan menopang hidup, menolong dan menopang hidup kita saat masih lemah dan tak berdaya.

Pa'kaa-kaa bale: Gerakan ini memberikan makna bertindak bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Jangan ada yang tergusur dan terlanggar haknya karena tindakan kita dan menghindar dari potensi terjadinya konflik dengan menghindar.

Pa'tulekken: Gerakan ini memberikan makna hidup dijalani dengan kesadaran dan keserasian.

Pa'langkan-langkan: Gerakan ini memberikan makna masalah tidak boleh dihindari tetapi diambil manfaat dari tantangan hidup dan keluar dari masalah hidup yang dihadapi.

Passiri: Gerakan ini memberi makna wanita tetap pada kodratnya yakni menikah, mengandung dan melahirkan serta membesarkan anaknya.

Pangallo: Gerakan ini memberi makna manusia dalam bertingkah laku harus terbuka dan transparan dalam hidup sehingga menjadi orang yang bertanggung jawab.

Panggirikan tang tarru: Gerakan ini memberi makna manusia harus punya batas dan pengendalian diri, ada aturan yang harus ditegakkan yang membatasi kesewenang-wenangan.

Pa'lalok pao: Gerakan ini memberi makna dalam bergaul tidak boleh kaku dan berat karena hanya dengan bergaul dapat mengembangkan diri dengan baik.

Pangrapanan atau pelepasan: Gerakan ini memberi makna manusia senantiasa sadar akan kekurangan dan kelebihannya.

Buku TARI PA'GELLU: MAKNA DAN KESEIMBANGAN HIDUP merupakan tari tradisional yang tidak hanya sekedar kumpulan gerakan, tetapi didalamnya mengandung nilai-nilai tinggi yang menggambarkan dinamika kebudayaan masyarakat Toraja. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


TARI PA'GELLU: MAKNA DAN KESEIMBANGAN HIDUP
Penulis: Simon Petrus
Penerbit: Balai Pelesatrian Nilai Budaya Makassar.
Tempat Terbit: Makassar