May 31, 2021

AWAL KEBANGKITAN & KERUNTUHAN: PELABUHAN PALLIME DI BONE

 

Pelabuhan Pallime pada awalnya hanya berupa kawasan tepian. Pelabuhan ini berada di perairan Sungai Cenrana yang berhulu di Danau Tempe dan bermuara di Teluk Bone. Pelabuhan ini berada di perairan Sungai Cenrana yang berhulu di Danau Tempe dan bermuara di Teluk Bone. Sejak abad ke 16 Masehi, Sungai Cenrana telah menjadi jalur lalu lintas air yang menghubungkan antara daerah-daerah sekitar muara Teluk Bone dengan daerah-daerah sekitar Danau Tempe dan Danau Sidenreng.

Jalur tradisional ini merupakan cikal bakal terbentuknya Pelabuhan Pallime sebagai pintu masuk angkut dan muat hasil-hasil bumi di daerah-daerah Bugis. Pelabuhan ini mengalami perkembangan pesat setelah dikuasai oleh pemerintahan kolonial Belanda 1905. Perkembangan pelabuhan Pallime dapat dilihat dari segi perkembangan infrastruktur pelabuhan dan semakin meningkatnya komuditas yang diperdagangkan. Pada periode ini, Sungai Cenrana menjadi sarana infrastruktur yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Hasil-hasil bumi dari Soppeng, Wajo dan daerah sekitar Danau Tempe diangkut melalui Sungai Cenrana menuju Pelabuhan Pallime.

Kemunduran Pelabuhan Pallime disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain, penguasaan pemerintah Jepan tidak lebih menekankan politik beras daripada pembangunan pelabuhan. Di samping itu, situasi keamanan regional pasca proklamasi kemerdekaan dengan adanya pergolakan daerah, seperti DI/TII dan Permesta menjadi daerah-daerah perdagangan laut dikuasai oleh DI/TII dan penyeludupan kopra, beras oleh militer sehingga pelabuhan rakyat mengalami kemunduran. Kemudian penurunan produksi pertanian pada tahun 1950an-60an juga ikut menyumang terjadinya kemunduran Pelabuhan Pallime.

Selain faktor makro ekonomi tersebut, persoalan geografis seperti pendangkalan Sungai Cenrana di Pallime kemudian perkembangan Pelabuhan BajoE yang beriring dengan perkembangan transportasi darat. Akibatnya jalur sungai tidak menjadi penting sehingga Pelabuhan Pallime lambat laun menjadi redup.

Buku AWAL KEBANGKITAN & KERUNTUHAN: PELABUHAN PALLIME DI BONE mengupas awal kebangkitan dan keruntuhan Pelabuhan Pallime dan pengaruh sosio-ekonomi, serta geo-politik masyarakat disekitarnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

AWAL KEBANGKITAN & KERUNTUHAN: PELABUHAN PALLIME DI BONE
Penulis: Taufik Ahmad, Syahrir Kila
Editor: Anwar Nasyaruddin
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 978-979-3570-90-7

May 25, 2021

KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI

Karampuang adalah nama sebuah kampung yang terletak sekitar 31 km arah barat Ibu Kota Kabupaten Sinjai yang memiliki sejarah panjang serta beberapa keunikan yang disandangnya. Kehadiran Karampuang berawal dari adanya suatu peristiwa besar yakni dengan munculnya seseorang yang tak dikenal, dan dikenal sebagai To Manurung.

To Manurung ini muncul di atas sebuah bukit yang saat ini dikenal dengan nama Batu Lappa. Dalam Lontara Karampuang dikisahkan bahwa asal mula adanya daratan di Sinjai, berawal di Karampuang. Dahulu daerah ini adalah merupakan wilayah lautan sehingga yang muncul tempurung yang tersembul di atas permukaan air. Di puncak Cimbolo inilah muncul To Manurung yang akhirnya digelar Manurung KrampuluE (seseorang yang karena kehadirannya menjadi bulu kuduk warga berdiri). Kata KrampuluE tadi akhirnya berubah menjadi Kampuang.

Penamaan selanjutnya adalah perpaduan antara karaeng dan puang akibat dijadikannya lokasi itu sebagai pertemuan antara orang-orang Gowa yang bergelar karaeng dan orang-orang Bone yang bergelar puang. Setelah Manurung KarampuluE diangkat oleh warga untuk menjadi raja, maka dia memimpin warga untuk membuka lahan-lahan baru. Tak lama kemudian dia mengumpulkan warganya dan berpesan, eloka tua, tea mate, eloka madeceng, tea maja: ungkapan ini adalah suatu pesan yang mengisyaratkan kepada warga pendukungnya untuk tetap melestarikan segala tradisinya.

Setelah berpesan maka tiba-tiba lenyap. Tak lama kemudian terjadi lagi peristiwa yang besar yakni dengan hadirnya tujuh to manurung baru yang awalnya muncul cahaya terang  di atas busa-busa air. Setelah warga mendatangi busa-busa itu, maka telah muncul tujuh to manurung tadi dan diangkat sebagai pemimpin baru. Pemimpin yang diangkat adalah seorang perempuan sedangkan saudara laki-lakinya diperintahkan untuk menjadi raja di tempat lain dan menjadi to manurung-to manurung baru. Dalam lontara dikatakan, "laocimbolona, monrocapengna". Pada saat melepaskan saudara-saudaranya, di berpesan, "nonnono makkale lembang, numaloppo kuallinrungi, numatanre kuaccinaungi, makkelo kuakkelori, ualai lisu". (Turunlah kedaratan, namun kebesaranmu kelak harus mampu melindungi Karampuang, raihlah kehormatan namun kehormatan itu kelak turut menaungi leluhurmu. Meskipun demikian segala kehendakmu atas kehendakku juga, kalau tidak, maka kebesaranmmu akan aku ambil kembali).

Akhirnya mereka menjadi raja di Ellung Mangenre, Bonglangi, Bontona Barua, Carimba, Lante Amuru dan Tassese. Dalam perjalanan masing-masing diamanahkan untuk membentuk dua gella. Dengan demikian maka terciptalah 12 gella baru, yaitu Bulu Biccu, Salohe, Tanete, Maroanging, Anakarung, Munte, Siung, Sulewatang Bulo, Sulewatang Salohe, Satengnga, Pangepena Satengna. Setelah saudaranya telah menjadi raja, saudara tertuanya yang tinggal di Karampuang pun lenyap dan meninggalkan sebuah benda. Kelak benda inilah yang dijadikan sebagai arajang dan sampai saat ini disimpan di rumah adat. Sedangkan untuk menghormati to manurung tertua ini, maka rumah adatnya, semua dilambangkan dengan simbol perempaun.

Buku KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI membahas tentang kampung tradisional Karampuang yang ditinjau dari pola hidup pendukungnya serta keberadaan lembaga adatnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


KARAMPUANG DAN BUNGA RAMPAI SINJAI
Penulis: Muhannis
Editor: Zainal Abidin Ridwan
Penerbit: Ombak Yogyakarta
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-979-3837-28-4


May 24, 2021

LATOA: LONTARAK TANA BONE


Lontara Latoa berisi ajaran-ajaran moral, sejenis rapang dalam kepustakaan Bugis-Makassar sebagai kumpulan catatan dari ucapan-ucapan dan perbuatan raja-raja dan orang pandai dalam berbagai masalah. Lontara Latoa juga menjadi pedoman pemerintah di seluruh tanah Bugis dan Luwu sebagai pelengkap isi perjanjian antara raja dan rakyat. Terutama di Soppeng, mungkin karena dalam Latoa dituliskan juga ajaran moral pemerintah La Waniaga, Arung Bila, Mangkubumi Soppeng pada abad XVI (sezaman dengan La Mellong Kajao Laliddong, La Paturusi To Maddualeng (Wajo) dan La Pagala Nenek Mallomo (Sirenreng). 

Latoa juga juga dipergunakan di Wajo, sepanjang tidak bertentangan dengan perjanjian-perjanjian orang Wajo dan La Tiringeng To Taba' Arung Saotanre (abad XV) pada tahun 1476. Setelah Batara Wajo ke-3 La Pateddung To Samallangik dipecat, Wajo berbeda dengan kerajaan lain, karena Arung Matoa tidak boleh mewariskan/diwariskan, tetapi harus dipilih.  Lagi pula, Wajo mengenal konsep baru yaitu hak-hak asasi manusia, konsep public servant  (kerajaan adalah abdi rakyat) dan adek-lah yang dipertua. Arung Matoa tidak mempunyai kekuatan besar, juga Wajo tidak mempunyai arajang (yang dianggap sebagai pemilik kerajaan). Orang yang dianggap pemilik kerajaan di Wajo adalah arumpanua (raja dan rakyat semuanya). Pemegang kekuasaan tertinggi adalah Dewan Pemangku Adat yang anggotanya berjumlah empat puluh orang, diantaranya adalah wakil-wakil limpo daerah bagian. 

Buku LATOA: LONTARA TANA BONE membahas Latoa sebagai bahan utama lontarak hukum dan moral  adalah sejenis buku yang ditulis dengan huruf sulapak eppak, isinya meliputi ajaran kesusilaan, pemerintahan, hukum acara, perjanjian antara kerajaan dan petuah-petuah pada abad XV dan XVI yang telah diwariskan pada generasi berikutnya sampai sekarang. Penetapan naskah Latoa sebagai sumber data utama dipandang tepat, karena beberapa alasan:

  1. Karena Latoa sebagai Lontarak yang ditulis dalam bahasa Bugis, yang memuat sistem Pangngaderreng secara lengkap dan mengalami penulisan ulang setelah masuknya Islam.
  2. Karena unsur-unsur Pangngaderreng dalam Latoa lebih banyak mengandung konsep syariat Islam dibandingkan dengan konsep Lantarak Bugis lainnya.
  3. Karena Latoia adalah Lontarak orang Bugis Bone yang justru merupakan Kerajaan Bugis yang paling terkenal pada periode itu.
  4. Karena tokoh sumber yang terlibat dalam Latoa adalah tokoh-tokoh Bugis abad XV dan XVI (kecuali Nabi Muhammad SAW, dan Lukmanul Hakim).
Berdasarkan penetapan naskah Latoa sebagai data utama lontarak hukum dan moral, maka ditarik kesimpulan, bahwa Islam sudah dikenal dalam lapisan masyarakat tertentu di Tana Bone sebelum penerimaan Islam secara resmi oleh Raja Bone. Perhatian besar Raja Bone terhadap Islam tinggi, hingga beliau pegi ke Sidenreng untuk mendalami Islam sampai wafat di sana. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila dalam Lontarak, terdapat subtansi-subtansi Islam yang sedemikian luas mewarnai pandangan-pandangan dalam Latoa. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LATOA: LONTARA TANA BONE
Penulis: Hj. Andi Rasdiyanah
Penerbit: Alauddin University Press
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-328-037-7


May 21, 2021

I TOLOK DAENG MAGASSING SI PITUNG DARI TANAH MAKASSAR

I Tolok Daeng Magassing adalah salah seorang tokoh pejuang legendaris dari Kampung Parapa yang melakukan gerakan perlawanan terhadap tentara Belanda dan orang-orang pribumi yang pro Belanda. I Tolok Daeng Magassing tak sudi melihat rakyat melihat rakyat kecil diombang ambingkan, diperas dan diintimidasi oleh tentara Belanda. Membuat ia bangkit untuk melakukan perlawanan, dengan gaya perlawanan seperti yang dilakukan oleh Robin Hood dari Inggeris atau si Pitung dari Betawi.

I Tolok melakukan perampokan, membuat Belanda pusing, tak heran bila Belanda mencap I Tolok sebagai Pagorra Patampuloa, dengan menggalang kekuatan dengan rekan seperguruan, jumlah anggotanya kurang lebih 40 orang. Dari kekuatan itulah, pasukan I Tolok kemudian bergerilya masuk hutan. I Tolok kemudian bergerilya masuk hutan dan melakukan perampokan terhadap orang-orang Belanda atau orang kaya pro Belanda, lalu hasil rampokannya dibagi ke orang miskin. I Tolok juga banyak melakukan sabotase penghadangan serta merampas senjata dan amnusi orang Belanda.

Gerakan yang dilakukan I Tolok, telah berhasil mengacaukan pemerintahan kolonial Belanda. Selain perampokan, juga sabotase yang paling dahsyat dilakukan adalah dengan meledakkan kereta api dengan dinamit di daerah Kalokko Boka. Kereta yang diledakkan itu, sarat  dengan hasil bumi dan banyak membunuh tentara Belanda.

Bagaimanapun lincahnya seorang tolok, tetapi akhirnya ia takluk. Lewat penghianatan dari rekan seperjuangannya, akhirnya Belanda mengetahui persembunyiannya. Dari situlah I Tolok berhasil ditangkap, kemudian ditembak mati hingga menemui ajalnya dan dimakamkan di kampung halamannya. 

Buku I TOLOK DAENG MAGASSING SI PITUNG DARI TANAH MAKASSAR membahas sepak terjang I Tolok dalam melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda. Selain sepak terjang I Tolok Daeng Magassing buku ini juga membahas I Maddi Daeng Ri Makka Ujung Buntuk Tau Rewa, yang berani tampil di medan perang dan mempertaruhkan nyawanya. Soal mati baginya, itu adalah resiko sebuah perjuangan, karena bila dirinya sudah dipermalukan, jika diinjak-injak siriknya, maka ia akan bangkit melawannya. Buku ini salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


I TOLOK DAENG MAGASSING SI PITUNG DARI TANAH MAKASSAR
Penulis: Zainuddin Tika, Adi Suryadi Culla, Hamzah Daeng Temba
Penerbit: Lembaga Kajian Sejarah Budaya Sulawesi Selatan kerjasama dengan 
Dinas Perpustakaan Kota Makassar
Tahun Terbit: 2018



May 20, 2021

PERMAINAN RAKYAT TRADISIONAL KABUPATEN GOWA


Permainan rakyat merupakan salah satu bentuk tradisi lisan (folklore). Folklore adalah kebudayaan tradisional suatu kelompok masyarakat yang diwariskan secara lisan dan bersifat anonim, dalam artian tidak diketahui siapa penciptanya. Upaya pelestarian permainan rakyat tradisional Kabupaten Gowa sebagai salah satu unsur-unsur seni budaya dan diharapkan dapat menunjang daya tarik wisata ke Kabupaten Gowa. 

Berdasarkan perbedaan sifat permainan maka permainan rakyat tradisional Kabupaten Gowa dapat dibagi atas dua yaitu permainan untuk bermain (play) dan permainan untuk bertanding (game). Berikut identifikasi permainan rakyat di Kabupaten Gowa:

1. Permainan Bermain (Play)
  • Permainan Anak Balita
  • A'Padeko
  • A'Songko-Songko Jangang
  • A'Datte-Datte
  • A'Toweng-Toweng
2. Permainan Bertanding (Game)
    (a) Permainan bertanding yang bersifat kekuatan/keterampilan fisik (game of physical skill)
  • A'Gasing
  • A'Raga
  • A'Bole-Bole/A'Kandasse
  • A'Longga-Longga
  • A'Kaddaro atau A'Gale
  • A'Layang-Layang
  • A'Sempak
  • A'Lanja
  • Bambu Gila dari Jipang
    (b) Permainan bertanding yang bersifat siasat (Game of Strategy)
  • Asing atau A'Salo
  • A'Cokko-Cokkoang
  • A'Galacang/A'Kanraco
  • A'Dende
  • A'Santo
  • A'Cangke
  • A'Taruk
Perbedaan antar keduanya terlihat bahwa permainan untuk bermain (play) lebih bersifat untuk mengisi waktu senggang atau rekreasi, sedangkan permainan untuk bertanding mempunyai sifat khusus antara lain terorganisasi, perlombaan dimainkan dua orang atau lebih. Oleh karena itu perlu adanya penentuan urutan yang jadi. Di antaranya adalah dengan cara lemparan, Hompingpang, Cincinlojo, Cincing Banca, Pus, Sut, dan menunjuk sambil bernyanyi (counting-out time), yang dinyanyikan biasanya syair Cincing Banca. Selain itu pada permainan untuk bertanding ada kreteria menang atau kalah dan punya aturan permainan. Buku PERMAINAN RAKYAT TRADISIONAL KABUPATEN GOWA merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERMAINAN RAKYAT TRADISIONAL KABUPATEN GOWA
Penulis: Syaifuddin Nontji, Syarifuddin Tutu, Hj. Hasriah Hamzah
Editor: Alwi Arifin
Penerbit: Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Gowa bekerjasama dengan Yayasan Bina Amaliyah Kabupaten Gowa
Tempat Terbit: Gowa
Tahun Terbit: 2006