Showing posts with label Sulawesi. Show all posts
Showing posts with label Sulawesi. Show all posts

June 29, 2022

SOUTHEAST SULAWESI : ISLAND OF SURPRISE

Sulawesi Tenggara atau Sultra adalah salah satu provinsi di pulau Sulawesi yang meliputi semenanjung sebelah tenggara pulau Sulawesi yang sebelumnya disebut Celebes. Sulawesi Tenggara memiliki luas 27.686 km2 termasuk pulau utama Buton dan Muna serta pulau kecil lainnya hingga laut Flores. Berada di garis bujur 3o-6o dan garis lintang 120o 45’-124o 06’. Sungai-sungainya termasuk Konaweeha, Lahumbuti, Lalindu, Sompana dan Lasolo. Gunung tertingginya adalah gunung Mengkoka, curah hujan rata-rata 2.000 mm pertahun dengan kelembapan 84%. Pada tahun 1996 populasi Sulawesi Tenggara lebih dari 1 juta penduduk yang mayoritas beragama Islam.

Sultra juga bergerak di berbagai jenis industri seperti kelautan dan perikanan, pertambangan hingga pertanian. Sultra terbagi ke dalam 4 kabupaten dan 1 kota madya di bawah pemerintahan Gubernur yang ditunjuk langsung oleh pemerintah. Wilayah tersebut adalah kota madya Kendari, kabupaten Kendari, kabupaten Muna, kabupaten Buton dan kabupaten Kolaka. Setiap kabupaten dan daerah memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing. Kekayaan budaya tersebut sayangnya masih kurang terekspos, dengan adanya  rangkuman di dalam buku ini menjadi bukti bahwa Sulawesi Tenggara memiliki banyak kejutan karena kekayaan alam dan budayanya.

Judyth Gregory-Smith adalah seorang jurnalis yang suka menulis cerita perjalanannya  di berbagai titik Indonesia, Judyth telah menulis buku seperti Ujung Pandang to Kendari, Southeast Sulawesi : Islands of Surprises dan A guide to Jambi in Sumatra. Dalam bukunya ini, Judyth memaparkan kekayaan alam dan budaya yang ada di Sulawesi Tenggara.

Buku SOUTHEAST SULAWESI : ISLAND OF SURPRISE berisi pengalaman dan tempat apa saja yang dikunjungi oleh Judyth selama berada di Sulawesi Tenggara. Salah satu yang dikunjunginya adalah pameran kerajinan Gembol yang terbuat dari akar atau tunggak kayu Jati serta menikmati restoran terapung di kota Kendari dan masih banyak tempat wisata lainnya. Buku ini menggunakan bahasa Inggris juga sedikit bahasa lokal Sultra dan memiliki 250 halaman. Buku ini dilengkapi dengan map dan foto dukumentasi perjalanan penulis selama di Sultra.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang kota Makassar.

 

SOUTHEAST SULAWESI : ISLAND OF SURPRISE

Penulis : Judyth Gregory-Smith

Penerbit : Balai Pustaka

Kota Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : 2000

ISBN : 979-666-320-1


April 21, 2020

PERLAWANAN SULTAN HASANUDDIN MELAWAN VOC



Kawasan timur kepulauan Nusantara merupakan wilayah terlama yang dikuasai oleh Belanda. Tujuan utama penguasaan VOC di kawasan ini adalah rempah-rempah yang terutama dihasilkan di kepulauan Maluku.

Upaya VOC untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Maluku mendapat tantangan dari Sultan Hasanuddin, penguasa Kesultanan Gowa. Selain itu, satu-satunya kerajaan maritim di bagian timur kepulauan Nusantara yang menjadi saingan VOC juga bersikeras agar kawasan itu memiliki pelayaran yang bebas.

Sejalan dengan sikapnya itu, Sultan Hasanuddin bukan hanya membiarkan wilayahnya menjadi pusat perdagangan rempah-rempah “gelap” di mata VOC, tetapi juga mengizinkan para pedagang Portugis berdagang di wilayahnya. Pada tahun 1636, Belanda melakukan blokade terhadap Makassar. Sultan Hasanuddin melakukan pembalasan dengan merebut Buton karena penduduk pulau itu mengadakan persekutuan dengan VOC. Akibatnya, pecah perang terbuka antara VOC dan Gowa, yang diakhiri dengan kesepakatan bahwa Gowa harus meninggalkan Buton.

Pada tahun 1666, perang antara VOC dan Gowa berkobar lagi setelah dua kapal Belanda yang kadas di perairan Sulawesi dirampas penduduk Gowa dan awaknya dibunuh. Belanda membalas dengan menyerang Makassar. Selama pertempuran sengit melawan pasukan Gowa, VOC mendapatkan bantuan dari Aru Palaka. Bangsawan Bugis ini membantu Belanda dengan tujuan membebaskan Bone yang dikuasai oleh Gowa.

Setelah pertempuran sengit yang menelan korban jiwa yang besar di kedua belah pihak, akhirnya kekuatan gabungan VOC-Bone berhasil mengalahkan Gowa pada tahun 1667. Pada tanggal 18 November 1667, Sultan Hasanuddin terpaksa menandangani Perjanjian Bungaya. Dalam perjanjian itu, Makassar dipaksa mengajui monopoli perdagangan VOC dan mengusir pedagang Eropa lainnya dari wilayahnya, memberikan sejumlah wilayah yang dikuasainya, serta membatasi pelayaran mereka.

Karena ternyata Perjanjian Bugaya sangat merugikan, Sultan Hasanuddin mengangkat senjata lagi melawan VOC pada bulan April 1668. Namun, akhirnya bulan Juni 1669, Gowa dipaksa menyerah. Akibat kekalahan yang lebih menentukan itu, Gowa pun harus benar-benar melaksanakan Perjanjian Bungaya.


Ensiklopedia SEJARAH DAN BUDAYA: Di Bawah Kolonialisme Barat
Pembaca Ahli: Mohammad Iskandar dan Anhar Gonggong
Penerbit: PT. LENTERA ABADI
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-3535-49-4


March 26, 2020

H. ANDI SULTAN DAENG RADJA



H. Andi Sultan Daeng Radja, lahir di Gantarang Sulawesi Selatan tanggal 20 Mei 1894 dan
di beri Gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 3 November 2006 sesuai SK Presiden RI No. 085/TK/2006.

Ia telah dikenal sebagai penentang kehadiran Pemerintah Kolonial Hindia Belanda telah dimulai sejak menjadi siswa di OSVIA (Opielding School Voor Indlandsche Ambtenaren) atau dikenal sebagai Sekolah Pegawai Negeri Bumiputra di Makassar.

Semasa muda Sultan Daeng Radja dikenal saleh dan aktif di Muhammadiyah. Ia merupakan pendiri Masjid Tua di Ponre yang pada zamannya adalah masjid terbesar di Sulawesi Selatan.

Nama Sultan Daeng Radja tercatat sebagai peserta Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 yang dianggap sebagai tonggak penting pembentukan paham kebangsaan Indonesia modern. Sayangnya, namanya tidak ada dalam laporan resmi dari atasannya. Ia juga masuk dalam organisasi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) di wilayah Sulawesi. Bahkan ketika diangkat menjadi Karaeng Gantarang menggantikan ayahnya, Sultan Daeng Radja terus aktif mengikuti perkembangan politik Indonesia di dalam maupun di luar negeri.

Pada akhir Agustus 1945, Sultan Daeng Radja mendirikan PPNI (Persatuan Pergerakan Nasional Indonesia) sebagai wadah bela negara yang baru saja merdeka. PPNI kemudian berubah menjadi Barisan Merah Putih pada bulan November 1945.

Pada bulan Desember 1945 hingga 8 Januari 1950 ia ditangkap dan diasingkan oleh NICA ke Menado, Sulawesi Utara, karena kegiatan perjuangannya. Penangkapan ini memicu perlawanan rakyat Bulukumba, tempatnya mengabdi sebagai kepala adat.

Sekembalinya dari pengasinan, Andi Sultan Daeng Radja tidak berhenti berkarya. Ia tetap dipercaya untuk menjabat berbagai jabatan penting, seperti kepala adat, bupati dari Bantaeng, residen, hingga anggota konstituante. (Mengenal Pahlawan Nasional, 2014: 110 – 111).

Fakta Menarik Andi Sultan Daeng Radja
  • Andi Sultan Daeng Radja bersama Dr. Sam Ratulangi dan Andi Pangerang Pettarani adalah utusan Sulawesi Selatan untuk mengikuti rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di Jakarta.
  • Dikenal sebagai tokoh muslim Sulawesi Selatan, nama Andi Sultan Daeng Radja diabadikan sebagai nama jalan di dekat rumah semasa hidupnya.

Mengenal Pahlawan Nasional, Jilid 2
Penyusun: Dina Alfriyanti
Editor: Nickyta P. dan Yuki Anggia P.
Ilustrator: Haryanto
Penerbit: Erlangga
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 978-602-7596=72-6


March 23, 2020

MASA KEJAYAAN MAKASSAR

Pada awal abad ke-16, seorang pendatang Portugis menyebutkan bahwa “daerah yang khusus memakai nama Makassar sangat kecil”, tetapi pada akhir abad ke-16 Makassar diubah oleh keberhasilan ekonomi dan politik spektakuler dari kerajaan kembar Gowa dan Tallo. Melalui penataan besar-besaran kedua kerajaan yang dikenal orang luar sebagai Makassar menjadi negara terkuat di daerah timur Nusantara sejak akhir abad ke-16  dan hampir sepanjang abad ke-17.

Keterangan Gambar: Kota Makassar ± 638
Makassar membangun tiga benteng kota utama, yang terpenting Sombaopu, hanya berupa kediaman keluarga raja dan para hamba.  Di sebalah kanan kota Bandar Makassar sekitar Benteng Sombaopu adalah muara sungai Jeneberang yang merupakan tempat perahu kerajaan berlabuh. Ke arah kiri terhampar tanah yang dipakai sebagai pasar selatan utama (1), dan Benteng Sombaopu (2), dengan istana kayu yang berada di depannya, ditopang dengan tiang-tiang yang kokoh. Bangunan bundar ditengah, ke arah kanan benteng, adalah Mesjid Agung (3). Sebelah kiri benteng adalah tempat tinggal orang Gojarat dan Portugis, dan kemudian sebuah sungai kecil sengaja di bendung. Letak pasar besar utara berada di agak jauh di sebelah kiri (4), dikelilingi. Dari Valentya ‘Oud en nieuw Oost Indien’ (dterbitkan Dordrecht, 1724-26).















Asal-Usul Makassar
Kerajaan Makassar Gowa dimulai dari masyarakat keci di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini memiliki tumanurung  “keturunan dari surga” yang menjadi dasar garis keturunan raja: gaukang “benda keramat” yang membentuk lambing kerajaan, dan Bate Salapang “Sembilang Lambang-lambang desa asal-usul” inti Dewan Negara.

Sekitar paruh pertama abad ke-16, kerajaan ini mengalami penataan besar-besaran di bawah raja kesembilan. Tumapa “risi” Kallona. Ia merencanakan penyatuan kerajaan Makassar Gowa dan Tallo, menerapkan hukum baru, dan menata pemungutan pajak di bawah badan baru, syahbandar. Tindakan ini pun dilakukan oleh penggantinya, Tunipallangga (1546-1565), yang bukan hanya meneruskan penataan pemerintahan, namun juga merombak perang tradisional. Ia raja pertama yang memperkenalkan meriam di benteng setempat, pembuatan peluru, dan menggunakan temeng lebih kecil dan ringan, serta pembuatan tombak lebih kecil  agar pergerakan lebih lincah dalam perang. Pembaharuannya, dipadu dengan kecerdasan sebagai pengatur siasat perang, menghasilkan kemenangan Gowa menaklukkan Sulawesi, Banggai, Butung, Sula, dan Sumbawa.

Benteng Rotterdam dibangun di Makassar oleh Belanda tahun 1670-an. Litograf ini dibuat oleh Temminck (1839-144).
Perkembangan Kota Bandar
Perahu dagang Gowa mulai hilir mudik di perairan  Maluku, dan merebut sebahagian besar perdagangan cengkeh, pala, dan bunga pala. Bandar Makassar menjadi gudang internasional, menarik pedangan Cina, India, Eropa, Asia Tenggara daratan, dan kerajaan lain Nusantara. Gowa menunjukkan kecanggihan dan gaya internasional yang mengagumkan pengamat Eropa. Seorang Pastor Jesuit Prancis menyebutkan menyebutkan bahwa salah satu penguasa Makassar, Karaeng Pattingalloang, memiliki “keingintahuan sangat besar sehingga ia membaca sejarah raja-raja Eropa… memiliki buku yang kita kuasai, terutama yang menyangkut matematika … (dan) sangat menggemari seluruh cabang pengetahuan ini ditekuninya siang malam”.

Kemunduran Gowa
Kekayaaan Gowa meningkat rempah, VOC memandang perkembangan itu dengan was was. Untuk melindungi monopoli rempah, kompeni merangkul orang Bugis dan memintah bantuan mereka. Sakit hati karena harus tunduk pada Makassar, orang Bugis membantu Belanda menyerang Gowa dan menudukkannya  (1666). Sultan Hasanuddin (1653-69) dan pasukannya melawan dengan gigih, tetapi akhirnya kalah dan dipaksa menandatangani perjanjian menyerah di Bugaya, 18 November 1667.

Gowa tak pernah lagi menguasai daerah dinikmati saat kejayaan abad ke-16 sampai abad ke-17. Meski demikian Bandar Makassar tetap berperan penting sebagai pusat pergudangan internasional untuk penguasa barunya, VOC. (Indonesia Heritage, Sejarah Modern Awal, 2002: 58-59).

INDONESIA HERITAGE: SEJARAH MODERN AWAL
Penyusun: Anthony Reid (Research School of Pacific and Asian Studies, Australia
National University, Cambera)
Penulis: Taufiq Abdullah, Ibrahim Alfian, Hasan M. Ambary, etc.
Tim Penerjemah: Karsono H. Saputra, Susanto Zuhdi, Maya Soerahman
Penerbit: Buku antar Bangsa untuk Grolier Internasional, Inc.
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2002
ISBN: 979-8926-16-1

March 19, 2020

PERANG BONE

Arung Palakka, Pendiri persekutuan Bone -Belanda. Keturunannya tidak mengakui perjanjian persahabatan yang dibuatnya, sehingga Bone ditaklukkan oleh Belanda

Persekutuan antara orang Bone dan VOC dimulai ketika seorang bangsawan Bone bernama La Tenriatta to Unru’ yang lebih dikenal dengan nama Arung Pallaka (1624-1696), memberontak terhadap Kerajaan Gowa pada tahun 1660. Ketika pemberontakan ini gagal, Arung Palakka meminta bantuan VOC yang sedang bertikai dengan penguasa Gowa, Sultan Hasanuddin. Setelah berhasil mengalahkan Gowa, Arung Pallaka diangkat menjadi penguasa Bone. Kerajaan yang dipimpinnya tumbuh menjadi kerajaan terkuat di Sulawesi selatan. Sebagai ungkapan rasa terima kasih, Arung Palakka dan penggantinya membantu VOC dalam berbagai peperangan melawan kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya.

PERSELISIHAN
Hubungan baik antara orang Belanda dan Bone terputus ketika VOC dibubarkan dan wilayah kekuasaannya diambil alih oleh Inggris. Setelah Belanda dikalahkan Inggris, banyak tokoh Bone menilai Perjanjian Bungaya (1667) tidak lagi memiliki kekuatan. Karena itu, mereka menganggap ikatan Bone dengan Belanda telah berakhir.

Pada Tahun 1824, Gubernur Jenderal Van der Capellen mengunjungi Sulawesi Selatan dan membujuk kerajaan-kerajaan setempat untuk mempengaruhi Perjanjian Bungaya. Bone menolaknya. Perang antara Bone dan Belanda pun pecah.

EKSPEDISI PERTAHANAN BELANDA
Pada tahun 1824, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Ridder de Stuers bergerak menyerbu Bone. Dalam serangan ini, mereka dibantu oleh Ratu Tanette yang juga kekasih de Stuers, Aru Datu. Upaya mereka untuk mengalahkan Bone mengalami kegagalan. Pasukan Belanda terpaksa mundur ke pangkalan mereka di Makassar.

Pasukan Bone tidak tinggal diam. Mereka menyerang wilayah Makassar dan menduduki benteng Belanda di Pangkajene, Labakkang, dan Tanette. Untuk menghadapi serangan ini,  Belanda bergabung dengan musuh Bone, Gowa-Makassar.

Pada Tahun 1825, pasukan gabungan Belanda dan Makassar berhasil mengalahkan Bone. Ketika pecah Perang Diponegoro, pasukan Belanda terpaksa ditarik ke Jawa. Bone pun kembali merasa merdeka dan bebas.

RATU BASSE KAJUARE
Ratu Basse Kajuare adalah janda Raja Bone Aru Pugi. Ketika naik takhta pada tahun 1859, ia melanjutkan sikap Bone yang menentang upaya pemerintah Hindia Belanda agar kerajaan tunduk kepada Batavia. Akhirnya, kembali mengirim pasukan untuk menaklukkan Bone.

Upaya menguasai Bone, pasukan Belanda terus diganggu oleh serangan pasukan berkuda Bone yang tangguh. Hanya dengan bantuan Raja Gowa, pasukan Belanda dapat meneruskan serangannya.

JATUHNYA BONE
Di tengah perlawanan rakyat Bone, timbul perselisihan di dalam istana kerajaan. Seorang bangsawan Bone bernama Aru Palaka berambisi menduduki takhta. Keinginan ini tidak disukai oleh rakyat Bone sehingga Arun Palaka melarikan diri dan bergabung dengan Belanda.
Sementara itu, pasukan Belanda mendapatkan seorang panglima baru, Jenderal Van Swieten. Ia dikenal memiliki catatan perang gemilang di berbagai pertempuran di Nusantara. Di bawah kepemimpinan jenderal bermata satu ini, Belanda dan para pengikut Aru Palaka menduduki satu demi satu daerah Bone. Akhirnya mereka berhasil merebut Bone.

Perang Bone berakhir pada tahun 1860 ketika Ratu Besse Kajuare turun takhta. Belanda mengizinkannya tetap tinggal di Bone  dan menanggung biaya hidupnya. Rakyat Bone akhirnya bersedia mengakui Aru Palaka sebagai raja mereka. Meski demikian, perlawanan di Bone baru berakhir sepenuhnya pada tahun 1905-1906.
(Ensiklopedia SEJARAH DAN BUDAYA: Di Bawah Kolonialisme Barat, 2009: 140-141).

Perang Bone merupakan salah satu isi  dari buku Ensiklopedia SEJARAH DAN BUDAYA, koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Buku ini  memberikan gambaran mengenai kehidupan Bangsa Indonesia di bawah cengkeraman penjajahan bangsa-bangsa Barat serta upaya awal leluhur untuk membebaskan diri.

Ensiklopedia SEJARAH DAN BUDAYA: Di Bawah Kolonialisme Barat
Pembaca Ahli: Mohammad Iskandar dan Anhar Gonggong
Penerbit: PT. LENTERA ABADI
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2009
ISBN: 978-3535-49-4