November 13, 2025

Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin, Untold Stories

 


Judul:                           Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin, UNTOLD STORIES

Penulis:                        M. Dahlan Abubakar dkk.

Editor:                          M. Dahlan Abubakar

Penerbit:                     Identitas, Universitas Hasanuddin, Makassar

Tahun Terbit:             2014

Jumlah Halaman:    x + 380

ISBN:                            9786028405553

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku ini adalah kumpulan tulisan testimoni dan juga wawancara dengan Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin, Rektor Universitas Hasanuddin Makassar (1973-1982), Gubernur Sulawesi Selatan (1983-1993) dan Ketua MPR RI (1992-1997). Beliau juga tokoh penerima penghargaan Bintang Maha Putra Utama (1996). Tokoh yang sederhana ini berpulang ke rahmatullah pada 22 Maret 2014, di RSUP Dr. Wahidin Sudiro Husodo Makassar.

Pengumpulan tulisan testimoni ini dilaksanakan dalam rangka peringatan 40 hari berpulangnya Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin. Selain testimoni dari para tokoh akademisi, birokrat, politisi, dan anggota keluarga beliau, ada juga tulisan dari wawancara editor.  Pada bagian Prolog, dikisahkan mulai dari kehidupan keluarga Achmad Amiruddin di kampung, masa pendidikan di Makassar dan kemudian masa kuliah di ITB Bandung, lanjut kuliah di University of Kentucky, Lexington, Amerika Serikat (AS) dan terakhir masa masa karir beliau di ITB, BPPT, menjadi Rektor Universitas Hasanuddin dan kemudian Gubernur Sulawesi Selatan.

Nama para tokoh yang memberikan testimoninya dalam buku ini antara lain: A.M. Sallatu, Abdul Razak Taha, Abu Bakar Paka, Amelia Tristiana (putri beliau), Alfian Nur, Aminuddin Ram, Andi Mappadjantji Amin, Amran Razak, Andi Tjonneng Mallombassang, Anwar Arifin, Aswar Hasan, Basri Hasanuddin, Ellong Chandra, Halide, Hamid Awaluddin, Idrus A. Paturusi, Ishak Ngeljaratan, M. Dahlan Abubakar, Wim Polii dan masih banyak lagi tokoh lainnya.

Semua tokoh yang memberikan testimoni kepada Prof. Dr. H. Achmad Amiruddin memberikan kesan yang baik tentang sosok dan pribadi beliau. Kebaikan, kecerdasan dan kebijaksaan beliau ketika berinteraksi dengan para tokoh tersebut diuraikan secara ringkas dalam buku ini. Ada banyak hal yang menyenangkan namun ada pula hal hal yang menjengkelkan, mengharukan dan hal lucu saat interaksi terjadi.

Pada bagian akhir ada Epilog yang berisi pembahasan hasil wawancara Prof. Achmad Amiruddin oleh tim penulis. Dikisahkan disini tentang, awal mula beliau menjadi Rektor Universitas Hasanuddin, atas permintaan Jendral Muhammad Yusuf supaya beliau kembali ke Makassar untuk membangun kampung halaman. Padahal waktu itu sebenarnya Prof. Achmad Amiruddin juga menjadi calon Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB).

Buku ini cukup lengkap menguraikan kehidupan karir dan interaksinya dengan para tokoh. Ada 40 orang tokoh masyarakat plus anggota keluarga beliau yang memberikan testimoni. Buku ini juga dilengkapi dengan foto foto dokumentasi beliau selama menjabat jadi Rektor dan Gubernur Sulawesi Selatan, dan foto dokumentasi keluarga. Foto yang menghiasi halaman buku ini masih hitam putih. Ada pula riwayat singkat Prof. Achmad Amiruddin pada bagian akhir buku ini.

Sumber utama pemberian testimoni dalam buku ini adalah tokoh masyarakat Sulawesi Selatan yang juga merupakan murid, rekan kerja yang mengagumi dan menghormati Prof. Achmad Amiruddin, sehingga buku ini kurang membahas tentang kritik atas segala kebijakan yang pernah dilaksanakan oleh beliau. Buku ini juga kurang dalam hal analisis sistematis dan metodologis, sehingga bagi pembaca yang membutuhkan penelitian akademis yang mendalam, mungkin kurang memuaskan.

Buku ini koleksi Referensi, Layanan Perpustakaan Umum, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.





November 7, 2025

Jelajah Kopi Nusantara - Wangi Kopi dari Petani Sulawesi Selatan

 

Kopi Toraja bukan sekadar minuman khas pegunungan Sulawesi Selatan, melainkan bagian penting dari perjalanan sejarah dan identitas masyarakat Toraja dan Enrekang. Sejak pertama kali ditanam di lereng Gunung Latimojong pada abad ke-18, kopi telah mengubah wajah sosial, ekonomi, hingga budaya masyarakat setempat.

Naskah ini menelusuri perjalanan panjang kopi Toraja dari masa perang dagang antarkerajaan pada 1887, berkembangnya pasar Kalosi di Enrekang sebagai pusat ekspor kolonial, hingga dinamika ekonomi modern yang diwarnai perjuangan petani melawan tengkulak, kebangkitan koperasi, dan geliat wisata kopi di “Negeri di Atas Awan” Lolai.

Di tengah perubahan zaman, kopi Toraja tetap bertahan sebagai simbol kebanggaan lokal. Dari petani kecil seperti Suleman dan Patola yang berjuang menaikkan harga kopi, hingga pengusaha perempuan seperti Silvana Batoarung yang menghadapi kerasnya dunia usaha, kisah-kisah ini menegaskan bahwa aroma kopi Toraja menyimpan cerita tentang ketekunan, warisan, dan jati diri masyarakatnya. Berikut isi yang terkait dengan buku ini, yang terdiri atas sembilan bagian utama yang menggambarkan perjalanan sejarah, sosial, dan budaya kopi Toraja.

1. Dari Perang Kopi hingga Pasar Kalosi

Menjelaskan awal mula penanaman kopi di lereng Gunung Latimojong sekitar tahun 1750, perdebatan asal-usulnya (pedagang Arab atau kolonial Belanda), hingga perang kopi tahun 1887–1890 yang melibatkan kerajaan Toraja, Luwu, Enrekang, Bone, dan Sidenreng. Bagian ini juga membahas berdirinya pasar Kalosi di Enrekang sebagai pusat perdagangan kopi Sulawesi Selatan pada masa kolonial Belanda.

2. Kopi dan “Negeri di Atas Awan”

Menggambarkan hubungan antara kopi dan sektor pariwisata di Toraja Utara, khususnya di Lolai — destinasi wisata “Negeri di Atas Awan”. Di sini, wisatawan menikmati panorama kabut pagi sambil menyeruput kopi arabika Toraja. Kopi menjadi bagian dari promosi wisata alam dan budaya Toraja.

3. Melawan Tengkulak dengan Koperasi Kopi

Menceritakan perjuangan Patola, tokoh petani Enrekang yang membentuk koperasi untuk memotong rantai tengkulak yang selama ini menekan harga kopi. Meski menghadapi ancaman dan boikot dari pengepul besar, koperasi berhasil menaikkan harga jual dan memperbaiki posisi tawar petani.
Puncaknya pada tahun 2017, kopi Memba dari Enrekang meraih peringkat kedua di ajang kompetisi kopi nasional.

4. Menikmati Kopi dari Petani

Bagian ini berfokus pada kisah Suleman Miting, warga Toraja yang mendirikan warung kopi untuk menampung hasil panen petani dengan harga lebih layak.
Langkah Suleman mendorong harga pasar naik dan menggerakkan ekonomi lokal. Upayanya juga membuka peluang ekspor meski terbatas oleh alat produksi sederhana.

5. Petani Kopi Ingin Dibina

Menyoroti keluhan petani dan pelaku usaha kopi di Toraja tentang perlunya pembinaan, standardisasi produksi, dan dukungan pemerintah. Kurangnya peralatan, perbedaan mutu antarwilayah, serta anomali cuaca menyebabkan produksi kopi Toraja sempat turun. Bagian ini juga mengutip data produksi dan seruan agar kopi tetap menjadi komoditas unggulan Sulawesi Selatan.

6. Menikmati Racikan Kopi Lokal

Menggambarkan dinamika kafe dan kedai kopi di Toraja yang memadukan gaya modern dan tradisional. Salah satu tokohnya, Hendra Leo (Afu), masih mempertahankan cara meracik kopi warisan keluarganya sejak puluhan tahun lalu, menggunakan bahan tambahan seperti jahe, madu, dan ginseng.
Kedai seperti ini menjadi bukti bahwa kopi lokal tetap digemari di tengah tren globalisasi kopi modern.

7. Menyesap “Kaa” di Toraja

Menjelaskan asal istilah “Kaa” atau “Kahwa” untuk kopi arabika, serta kebiasaan masyarakat lokal menikmati kopi dengan makanan tradisional seperti deppa tori’. Disinggung pula karakter rasa kopi Awan dan Sapan yang tumbuh di ketinggian 1.300–2.000 meter di Pegunungan Sesean, Toraja Utara.

8. Kopi Toraja Jadi Magnet Turisme

Mengulas bagaimana kopi menjadi bagian penting dalam strategi promosi pariwisata daerah. Sejak 2016, Festival Kopi Toraja masuk dalam agenda tahunan “Lovely Toraja” yang diadakan setiap bulan Desember. Acara ini menampilkan pameran kopi lokal, lomba seduh, dan pelatihan bagi petani. Festival ini diharapkan memperkuat hubungan antara sektor pariwisata dan petani kopi sekaligus memperluas pasar kopi Toraja ke tingkat internasional.

9. Silvana, Manis-Pahit Kopi Toraja

Bagian penutup ini menghadirkan kisah Silvana Batoarung, perempuan pengusaha kopi asal Toraja yang mengelola usaha keluarga secara turun-temurun. Silvana pernah menikmati keberhasilan saat produknya dipasarkan ke beberapa kafe di Jakarta, namun juga mengalami kerugian akibat tertipu mitra bisnis. Kisahnya menggambarkan tantangan nyata yang dihadapi pelaku usaha kecil dalam menjaga kualitas, kepercayaan, dan kesinambungan produksi kopi Toraja.

Kopi Toraja tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perdagangan Sulawesi Selatan, tetapi juga telah membentuk jati diri masyarakatnya. Dari kisah perang kopi di masa lalu hingga geliat koperasi dan pariwisata masa kini, kopi tetap menjadi simbol kerja keras, persaudaraan, dan warisan budaya yang terus hidup di Tanah Toraja.

"Jelajah Kopi Nusantara - Wangi Kopi dari Petani Sulawesi Selatan" 
Penulis : Litbang Kompas
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit : 2020
ISBN 978-623-241-261-3 (PDF)

October 29, 2025

Kalong Watansoppeng: Identitas Kota, Identitas Warga

 

Watansoppeng, sebuah daerah di Sulawesi Selatan, dikenal luas sebagai Kota Kalong. Julukan itu bukan sekadar sebutan, tetapi mencerminkan kehidupan nyata masyarakat yang berdampingan dengan ribuan kalong yang menggantung di pepohonan di sekitar pusat kota. Bagi warga Soppeng, kalong bukan sekadar hewan nokturnal, melainkan bagian dari identitas dan simbol keseimbangan antara manusia dan alam. Keberadaannya diyakini membawa perlindungan, keberkahan, dan kesejukan bagi kota yang berhawa tenang itu.

Di kompleks bekas Istana Kerajaan Soppeng berdiri bola ridie—rumah berwarna kuning yang kini menjadi tempat penyimpanan benda-benda pusaka kerajaan. Di rumah bersejarah inilah seorang bissu, penjaga tradisi dan spiritual kerajaan, menceritakan kembali kisah-kisah lama yang masih hidup di ingatan masyarakat. Dalam sebuah wawancara, sang bissu menuturkan bagaimana tradisi memanggil kalong dilakukan ketika hewan itu tiba-tiba menghilang dari langit Soppeng beberapa hari lamanya.

Menurutnya, pernah terjadi peristiwa ketika ribuan kalong pergi meninggalkan kota karena marah. Saat itu, pemerintah berencana menebang pohon asam tua di sekitar Gedung Pertemuan (Lapangan Gasis), tempat favorit kalong bergelantungan. Kejadian itu membuat warga gelisah. Kota seolah kehilangan ruhnya, karena tanpa kalong, Watansoppeng tidak lagi seperti Watansoppeng.

Kabar menghilangnya kalong sampai ke telinga bupati yang menjabat saat itu. Menurut penuturan sang bissu, sang bupati memutuskan pergi “menjemput” atau memanggil pulang kalong di perbatasan antara Bone dan Soppeng. Sementara di istana, para bissu memanjatkan doa agar usaha memanggil kalong itu berhasil. Dalam keyakinan masyarakat, doa bissu memiliki kekuatan spiritual yang mampu menenangkan amarah makhluk-makhluk alam. Benar saja, tak lama kemudian, langit Soppeng kembali dipenuhi kalong yang pulang bergelantungan di pohon-pohon tua di pusat kota.

Kisah itu menjadi legenda yang diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hingga kini, kalong tetap setia menghuni langit Soppeng, terutama di sekitar taman kota yang dikenal dengan nama Taman Kalong. Saat senja tiba, ribuan kalong terbang serentak dari pepohonan, membentuk gugus hitam di langit jingga—pemandangan yang sudah menjadi bagian dari ritme harian kota.

Namun bukan hanya kehadiran ribuan kalong yang menarik. Di bola ridie tersimpan sebuah foto tua yang menjadi misteri bagi banyak orang. Foto itu, seperti yang ditunjukkan oleh sang bissu, bukan lukisan, melainkan potret asli seekor kalong putih. Warga meyakini kalong putih itu adalah raja kalong, makhluk langit yang hanya menampakkan diri pada peristiwa-peristiwa penting di Soppeng.

Sang bissu berkisah, kalong putih itu terakhir kali terlihat ketika penyanyi Selfi, putri daerah Soppeng, pulang ke kampung halaman setelah menjuarai ajang Liga Dangdut Indonesia. Saat ribuan warga memadati lapangan untuk menyambutnya, seekor kalong putih terlihat melintas di langit sore. “Bersamaan adanya Selfi di lapangan, muncul juga raja kalong putih. Ada fotonya,” ujar sang bissu. Sebagian warga menganggap kemunculan itu sebagai pertanda gembira—seolah para kalong turut merayakan kebahagiaan warga Soppeng.

Misteri kalong putih masih menjadi cerita yang mengundang rasa ingin tahu. Apakah benar ia raja kalong yang menandai momen penting bagi kota ini? Atau hanya fenomena alam yang kebetulan muncul pada waktu yang tepat? Tidak ada jawaban pasti. Seperti halnya banyak tradisi lisan, kisah ini berada di persimpangan antara mitos, keyakinan, dan kenyataan. Namun justru di situlah keindahan Soppeng: masyarakatnya hidup dalam keseimbangan antara rasionalitas dan spiritualitas, antara alam dan manusia.

Watansoppeng bukan hanya kota kecil yang tenang, tetapi juga ruang hidup yang menampung warisan budaya Bugis yang kaya. Selain daya magis kalong, kota ini memiliki peninggalan sejarah berupa istana kerajaan, pemandian air panas Lejja, perbukitan hijau yang indah, dan kuliner tradisional yang menggoda selera. Semua itu menjadikan Soppeng bukan sekadar destinasi wisata, tetapi tempat untuk memahami bagaimana manusia Bugis menjaga harmoni dengan alam dan leluhurnya.

Kisah-kisah tentang kalong, bissu, dan keseharian masyarakat Soppeng terangkum dalam buku Kalong Watansoppeng: Identitas Kota, Identitas Warga yang dapat diakses melalui Bintang Pusnas. Buku ini menelusuri bagaimana hubungan manusia dengan alam membentuk identitas kolektif warga Soppeng, serta bagaimana simbol kalong menjadi cermin dari nilai-nilai kearifan lokal. Melalui pendekatan budaya, penulis menghadirkan perpaduan antara catatan sejarah, wawancara dengan tokoh adat, dan refleksi sosial yang menggugah kesadaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan dan tradisi.


KALONG WATANSOPPENG
Identitas Kota, Identitas Warga

Penulis: Fitrawan Umar
Editor: Abdullah, Kaesthi Wiraningtyas
Penerbit: Perpusnas Press
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 2023
ISBN PDF: 978-623-117-052-1

October 28, 2025

Fort Rotterdam, Benteng di Simpang Masa


Judul:                           Fort Rotterdam, Benteng di Simpang Masa

Penulis:                         Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan

Editor:                           Iwan Sumantri

Penerbit:                      Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun Terbit:              2021

Jumlah Halaman:     xvii + 312

ISBN:                            9786239909208

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Benteng Fort Rotterdam atau biasa juga disebut Benteng Ujungpandang adalah salah satu cagar budaya di kota Makassar yang berperingkat Nasional. Fort Rotterdam adalah benteng di simpang masa, antara masa lalu dan masa kini, simpang antara arsitektur Nusantara dan Eropa, simpang politik kolonial dan Indonesia, dan simpang fungsi pertahanan, politik, ekonomi dan budaya.

Buku ini merupakan kumpulan tulisan atau bunga rampai yang membahas tentang benteng Fort Rotterdam dari berbagai aspeknya, mulai dari sejarah, fungsi, cagar budaya, arsitektur, tata ruang sampai pengelolaannya.

Ada sebelas judul tulisan dalam buku ini diawali dengan tulisan Iwan Sumantri yang berjudul ‘Fort Rotterdam Undercover’ yang berkisah tentang bagaimana masa kecil penulis yang sering berkunjung dan bermain main di Fort Rotterdam, dan juga kutipan sejarah Fort Rotterdam. Misalnya, Arung Palakka pernah dilantik sebagai Raja di Fort Rotterdam, namun tidak memilihnya sebagai istananya. Speelman juga pernah berkantor di benteng ini. Ada juga kisah horor yang diungkap dalam tulisannya.

Prof. Muhlis Hadrawi menulis tentang serba serbi Benteng Ujungpandang dalam Narasi Lontara. Pembahasannya antara lain, istilah ‘benteng’ dalam bahasa Makassar dan Bugis, benteng dalam sumber sumber lokal dan gagasan pendirian benteng benteng di Makassar dan lain lain. Yang menarik, banyak foto lama benteng Fort Rotterdam dalam tulisan ini.

Tulisan lainnya adalah ‘Kawasan Benteng Rotterdam sebagai “Urban Heritage’’‘ oleh La Ode Muhammad Aksa, ‘Peranan dan Penamaan benteng Ujungpandang dari masa ke masa’ oleh Muhammad Ramli, ‘Bermula dari Benteng Ujungpandang: Telisik Nilai Penting dibalik Fort Rotterdam’ oleh Yadi Mulyadi, ‘Fort Rotterdam: Pelabuhan Terakhir Sang Pangeran Diponegoro’ oleh Nusriat, ‘Sistem Penataan Ruang Situs Cagar Budaya benteng Rotterdam Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan’ oleh Iswadi, ‘Arsitektur Fort Rotterdam’ oleh Adang Sujana dan Nafsiah Aswawi, ‘Vandalisme di benteng Rotterdam: Eksistensi Keliru Generasi Muda’ oleh Yusriana, ‘Pengelolaan Benteng Ujungpandang dimasa Mendatang’ oleh Andini Perdana, dan terakhir tulisan berjudul ‘Benteng Rotterdam sebagai Public Space’ oleh Anggi Purnamasari.

Buku ini membahas benteng Fort Rotterdam dari berbagai aspek dan persfektif, sehingga pembaca dapat memahami seluk beluk benteng secara menyeluruh. Buku ini juga dilengkapi dengan dokumentasi foto, baik foto lama maupun yang baru, ada foto hitam-putih dan adapula yang berwarna.

Karena buku ini diterbitkan oleh lembaga pemerintah yaitu Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan, maka kemungkinan besar pembaca diluar Sulawesi Selatan akan kesulitan dalam mengakses buku ini. Buku ini juga tercetak dengan jumlah terbatas, sehingga hanya di Perpustakaan tertentu yang memiliki koleksi buku ini.

Pada Festival Literasi yang dilaksanakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, 21-22 Oktober 2025, pada Stand Pameran Balai Pelestarian Cagar Budaya, buku juga di pajang, namun informasi yang didapatkan bahwa buku ini belum diterbitkan ulang atau dicetak ulang.  

Buku ini koleksi Deposit, Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.





Mr. Crack dari Parepare

 


Judul:                           Mr. Crack Dari Parepare, Dari Ilmuwan ke Negarawan sampai Minandito

Penulis:                        A. Makmur Makka

Editor:                          Muh. Iqbal Santosa

Penerbit:                     Republika Penerbit, Jakarta

Tahun Terbit:             2018

Jumlah Halaman:    xxii + 493

ISBN:                            9786020822914

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku ini adalah biografi Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab disebut BJ Habibie. Beliau adalah mantan Presiden ke-3 Republik Indonesia. Seorang ilmuwan, dan negarawan yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936. Kedua orangtuanya bernama Alwi Abdul Djalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo. Oleh penulisnya (A. Makmur Makka) buku ini diberi judul “Mr. Crack” karena beliaulah orang pertama di dunia yang memperlihatkan kepada dunia ilmu pengetahuan bagaimana menghitung crack propagation on random sampai ke atom-atomnya.

Diakui sendiri oleh BJ Habibie bahwa buku ini adalah yang biografi terlengkap tentang BJ Habibie, dimana penulisannya semua berdasarkan fakta dan sumber sumber rujukan yang jelas dan terpercaya, bukan hasil rekayasa.

Terbagi menjadi 5 bagian utama, buku ini diawali dengan Prolog, Hanya Memberi Getaran antara Parepare dan Aachen (Jerman), Kembali untuk Kembangkan Teknologi, Ujian Kenegaraan, Kodrat Sang Kapiten Laut, dan Eyang yang Tak Pernah Berhenti Mengabdi. Setiap bagian ini terbagi lagi menjadi beberapa sub bagian.

Bagian pertama lebih fokus pada kehidupan pribadi BJ Habibie. Mulai dari orangtuanya yang berasal dari daerah yang berbeda. Ayahnya dari Gorontalo dan ibunya berasal dari Yogyakarta. Nama ayahnya Alwi Abdul Djalil Habibie diabadikan namanya sebagai nama Jalan di kota Parepare, kesukaannya belajar ilmu fisika, sampai pada pengalaman pribadinya selama studi di Jerman.

Bagian lainnya membahas tentang pengembangan teknologi termasuk diantaranya industri pesawat terbang yang merupakan industri strategis pasca reformasi. Dibahas pula sekilas tentang lahirnya organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), termasuk juga pelarangan terbit majalah Tempo, dan keterlibatan BJ Habibie dalam politik di Indonesia.

Karir politiknya sebagai Wakil Presiden ke-7 dan kemudian menjadi Presiden ke-3 Republik Indonesia diuraikan pada bagian lain. Krisis ekonomi dan masalah Timor Timur diawal peerintahannya sebagai Presiden, juga disebutkan dalam bagian ini. Masa masa akhir pengabdiannya termasuk hubungannya dengan Suharto, dan kematian istri tercinta (Ainun Habibie) dibahas pada bagian akhir buku ini.

Buku ini sangat informatif dan perlu dibaca bagi siapa saja karena membahas seorang tokoh  besar yang dikenal sebagai ilmuwan  dan sekaligus negarawan. Buku ini dapat menjadi sumber motivasi khususnya bagi pembaca yang tertarik pada bidang teknologi dan kepemimpinan, serta kebangsaan.

Buku ini sangat memiliki kelebihan yaitu biografi BJ Habibie yang paling lengkap, sumber rujukan jelas dan tidak ada rekayasa sehingga sangat kredibel dan terpercaya. Cakupan penulisan juga sangat lengkap, karena mulai dari masa kelahiran dan masa kecil BJ Habibie sampai beliau ke Jerman untuk belajar dan kembali ke Indonesia menjadi ilmuwan dan negarawan pemimpin bangsa.

Sebagaimana buku biografi pada umumnya, ada kecenderungan subyektivitas, yaitu kecenderungan memuji tokoh secara berlebihan oleh penulisnya. Hal ini kemungkinan akan mengakibatkan pembaca kurang puas karena tidak ada sudut pandang yang mengkritik. Buku ini juga cukup tebal karena lebih dari 500 halaman, sehingga pembaca generasi muda mungkin merasa berat membacanya. Dari segi teknis, buku ini tanpa ‘indeks’ meskipun jumlah halamannya lebih dari 500. Hal ini akan menyulitkan pembaca yang ingin mencari topik tertentu

Buku ini koleksi Deposit, Bidang Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.