October 31, 2023

Sistem Pengetahuan Lokal, Bugis Makassar Konjo Mengenai Kebaharian (Pa'Lopian)

Perkembangan budaya kebaharian Bugis Makassar Konjo telah memperlihatkan loncatan peristiwa, di antaranya perkembangan perahu dari perahu berlayar tanja (berlayar satu) ke perahu berlayar pinisi (berlayar tujuh), dan dari perahu yang berlayar pinisi ke perahu model kombinasi lambo-pinisi yang mencatat rekor tercepat (20 mil/jam) dalam perkembangan kebaharian di Indonesia.

Pengetahuan kebaharian Konjo percaya bahwa ada hubungan komplementer antara alam (makrokosmos) dengan pelaut-pelaut (mikrokosmos) dan keduanya tak dapat dipisahkan satu sama lain. Dengan kepercayaan itu maka sistem pengetahuan lokal kebaharian direkonstruksi atas dasar suatu asumsi bahwa "setiap kegiatan kebaharian (pelayaran) secara alami dipersepsikan selalu berada dalam lingkaran penjuru mata angin".

Buku Sistem Pengetahuan Lokal, Bugis Makassar Konjo Mengenai Kebaharian (Pa'Lopian) merupakan studi kasus pelaut Ulung Perahu Pinisi Tanjung Bira Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan 1993-1994 bercirikan pengetahuan praktis/terapan, dan karena diperoleh melalui tahapan belajar eksperiensial; mengalami - berkomunikasi dengan alam secara simbolik - beresonansi secara indrawi - menyatakan sebagai pelajaran atau acuan berlayar - dan menerapkan pada pengalaman berikutnya. 

Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, yang juga membahasa  sistem pengetahuan lokal yang diperoleh melalui proses pemaknaan, kekuatan dan ketajaman indrawi, seperti ilustrasi peristiwa perdebatan antara William Michael Carr (perwira kapal modern) dengan Muh. Yunus (nakhoda kawakan perahu pinisi) pada pelayaran di atas perahu pinisi amanna Gappa dari Sulawesi Selatan ke Madagaskar.

"Saya tidak mengerti : (1) mengapa pada perahu tradisional (pinisi) ini hanya memakai boom atau pelokang pada layar belakang (sombala riboko); (2) mengapa badan perahu harus diisi dengan batu balas (tula' bara'); (3) mengapa seluruh layar dibiarkan menggelembung atau membentang dan menyandar lebih dari 90 derajat pada saat angin tepat bertiup dari samping ; (4) mengapa pada saat angin tepat bertiup dari belakang, layar depan (cocoro) dibiarkan berkibar-kibar seakan tak berfungsi; dan (5) mengapa kemudi samping (guling) dibiarkan terpasang pada hal sudah ada kemudi tengah " tanya Michael Carr. 

Kelima butir pertanyaan yang amat mengusik benak mantan pelaut ulung Inggris ini dijawab dengan tenang; begitulah kebiasaan di perahu tradisional ini " jawab Muh. Yunus, tanpa ada komentar lain berupa penjelasan singkat".

Bullshit, omong kosong, tak masuk akal " jawab balik Michael Carr. Ia tetap penasaran dan ingin sekali membuktikan ide- ide, teori dan pengalamannya sebagai pelaut modern. 

Ketika cuaca diperkirakan telah mengizinkan, Muh. Yunus memberi kesempatan kepada Michael Carr untuk membuktikan tiga butir pertanyaan dari kelima pertanyaan yang membuatnya amat penasaran itu. Pertama, pada saat angin tepat bertiup dari samping, layar dicoba ditarik dengan alasan bahwa sesuai dengan teori; bila titik jatuh angin diperkecil maka perahu akan melaju dengan cepat. Ternyata setelah dicoba kecepatan perahu drastis menurun dari 5 knot menjadi 2 knot. Kedua, pada saat angin tepat bertiup dari belakang, layar depan (cocoro) diturunkan dengan alasan tidak berfungsi dan mengganggu jalannya perahu. Ternyata setelah dibuktikan menimbulkan kesulitan dalam mengarahkan perahu khususnya dalam menghadapi gelombang laut. Ketiga, kemudi samping keduanya diangkat (tidak difungsikan). Sebagai akibatnya perahu bergerak seperti bebek atau ular "kenapa begitu" kata Michael Carr, sambil menggarut -garut kepala seraya terpaksa harus mengakui kearifan tradisional yang baru dipahami dan dialaminya itu. (Norman Edwin; KOMPAS, 26 Desember 1991).


Sistem Pengetahuan Lokal, Bugis Makassar Konjo Mengenai Kebaharian (Pa'Lopian)
Studi kasus pelaut Ulung Perahu Pinisi Tanjung Bira Kecamatan Bontobahari 
Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan 1993-1994 
Peyusun: Eymal B. Demmalino
Penerbit: Lembaga Penelitian UNHAS kerjasama The Toyota Foundation Japan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1994


October 9, 2023

FORT ROTTERDAM: Benteng Di Simpang Masa

Fort Rotterdam merupakan sebuah benteng "simpang antara masa lalu dan masa kini; simpang arsitektur Nusantara dan Eropa; simpang politik Kolonial dan Indonesia; simpang fungsi, pertahanan, politik ekonomi, dan budaya". Benteng ini terletaknya di Jalan Ujung Pandang Nomor 1 Makassar, menjadi land mark yang menandai kebesaran Kerajaan Gowa, keberadaan Kolonial di Makassar, serta cikal bakal terbentuknya Kota Makassar.

Benteng Pannyuwa, Benteng Jumpandang (Ujung Pandang), ataupun Kotayya beberapa nama yang sering dipertukarkan untuk menyebut benteng ini. Di usia lima abad, benteng ini adalah satu-satunya benteng yang berdiri megah dan terawat hingga abad XXI. Dari beberapa sumber meyakinkan untuk disimpulkan bahwa, Raja Gowa IX bernama Daeng Matanre Karaeng Tumaparrisi' Kallonna sebagai tokoh penting yang telah menggagas pembangunan benteng-benteng Makassar. 

Peranan Benteng Ujung Pandang dari Masa Kemasa seperti yang di tulis oleh Muhammad Ramli mulai Masa Pemerintahan Kerajaan Gowa hingga Saat ini.

Masa Pemerintahan Kerajaan Gowa

  • Benteng Ujung Pandang dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng
  • Benteng pengawal Kerajaan Gowa untuk melindungi Benteng Sompa Opu sebagai pusat kerajaan
  • Pada tanggal9 Agustus 1634, Sultan Gowa XIV (I Mangerangi Daeng Manrabbia atau Sultan Alauddin) membuat dinding tembok dengan batu padas hitam, batu karang, dan batu bata serta menggunakan kapur dan pasir sebagai perekatnya.
  • Pada tanggal 23 Juni 1635, dibangun lagi dinding tembok kedua di dekat pintu gerbang.
Masa Pemerintahan Belanda
  • Pada Tahun 1667, Benteng Ujung Pandang diserahkan kepada VOC dan diubah namanya menjadi Benteng Rotterdam. VOC mulai melakukan penataan di dalam benteng dan membangun gedung-gedung. 
  • Pada masa Kolonial Belanda (1667-1942) benteng ini berfungsi sebagai markas komando pertahanan, kantor pusat perdagangan dan pemukiman bagi para pejabat tinggi Belanda. 
  • Pangeran Diponegoro ditawan di benteng ini sejak tahun 1833 sampai dengan wafatnya pada 8 Januari 1855.
  • Pada tahun 1937, Benteng Ujung Pandang diserahkan Pemerintah Belanda kepada Yayasan Fort Rotterdam. 
  • Pada tahun 1938, pemerintah Hindia Belanda mendirikan museum di bekas kediaman Cornelis Speelman yang diberi nama Celebes Museum.
  •  Pada tanggal 23 Mei 1940 bangunan ini didaftar sebagai monumen bersejarah dengan Nomor Registrasi 1010 sesuai Monumenter Staatsblad Tahun 1931. 
Masa Pemerintahan Jepang
  • Benteng Ujung Pandang (1942-1945) dijadikan sebagai kantor dan pusat penelitian ilmiah khususnya pada ilmu pertanian dan Bahasa.
  • Jepang membangun satu gedung berarsitektur Eropa, sama dengan bangunan lainnya di dalam benteng.
Pasca Indonesia Merdeka
  • Pada tahun 1945-1949, Benteng Ujung Pandang dimanfaatkan sebagai pusat kegiatan pertahanan Belanda dalam menumpas pejuang-pejuang Republik Indonesia.
  • Pada tahun 1950, Benteng Ujung Pandang menjadi tempat tinggal anggota TNI dan warga sipil.
  • Pada tahun 1950, Benteng Ujung Pandang dikuasai Belanda dan dijadikan Pusat Pertahanan Tentara Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL) dalam melawan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada tahun yang sama KNIL dibubarkan dan Benteng dikuasai TNI.
  • Berdasarkan Surat Kepala. Dinas Purbakala No. 504/0.4 tanggal 4 April 1953 bahwa ruangan-ruangan di dalam benteng Ujung Pandang yang bisa menempati usaha yang bersifat kebudayaan saja.
  • Pada tahun 1970, Benteng Ujung Pandang dikosongkan dan kemudian dipugar. 
  • Pada tanggal 21 April 1977, Benteng Ujung Pandang secara resmi dijadikan Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan. 
  • Pada tahun 1970, Salah satu gedung di dalam kompleks Benteng ini difungsikan menjadi Museum Provinsi Sulawesi Selatan atau dikenal dengan nama Museum La Galigo.
Saat ini
  • Pada tanggal 22 Juni 2010 Benteng Ujung Pandang ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya.
  • Pada tanggal 27 April 1977, Benteng Ujung Pandang diresmikan sebagai Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar. Saat ini berganti nama menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan.
  • Pada tahun 2018, Benteng Ujung Pandang ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Kota sesuai melalui Surat Keputusan Walikota Makassar Nomor: 574/432.2/tahun 2018 tanggal 11 Januari 2018 tentang Penetapan Benteng Fort Rotterdam sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Kabupaten/Kota.

Buku FORT ROTTERDAM: Benteng Di Simpang Masa berisikan kumpulan tulisan atau bunga rampai dari berbagai latar dan profesi yang berbeda yang membahas Benteng Rotterdam dari sisi cagar budaya, sejarah, fungsi, arsitektur, tata ruang, hingga pengelolaannya. Berikut judul tulisan dan penulis yang termuat dalam buku ini:

  • Fort Rotterdam Undercover (lwan Sumantri) 
  • Kawasan Benteng Rotterdam sebagai " Urban Heritage" (Laode Muhammad Aksa) 
  • Serba-Serbi Benteng Ujungpandang dalam Narasi Lontara (Muhlis Hadrawi) 
  • Peranan dan Penamaan Benteng Ujungpandang dari Masa ke Masa (Muhammad Ramli) 
  • Bermula dari Benteng Ujung Pandang: Telisik Nilai Penting Dibalik Fort Rotterdam (Yadi Mulyadi) 
  • Fort Rotterdam: Pelabuhan Terakhir Sang Pangeran Diponegoro (Nusriat) 
  • Sistem Penataan Ruang Situs Cagar Budaya Benteng Rotterdam Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan (Iswadi) 
  • Arsitektur Fort Rotterdam (Adang Sujana dan Nafsiah Aswawi) 
  • Vandalisme di Benteng Rotterdam: Eksistensi Keliru Generasi Muda (Yusriana)
  • Pengelolaan Benteng Ujungpandang di Masa Mendatang (Andini Perdana) 
  • Benteng Rotterdam Sebagai Public Space (Anggi Purnamasari) 

Buku ini salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, mengajak pembaca berselancar dalam peristiwa sejarah dan budaya.


FORT ROTTERDAM: Benteng Di Simpang Masa
Penanggung Jawab: Laode Muhammad Aksa
Editor: Iwan Sumantri
Penerbit: Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2021
ISBN: 978-623-99092-0-8

#BRIEF! KUNCI SUKSES MENGELOLA BISNIS

 


Situasi perekonomian dunia saat ini sangatlah dinamis, memungkinkan beberapa negara untuk berkembang pesat, atau justru berhenti tumbuh. Bercermin dari sumber daya manusia dan lapangan pekerjaan yang dimiiliki masing-masing negara, secara optimal perekonomian dapat didongkrak melalui aktivitas ekonomi yang stabil. Namun, ada masalah lain, Meledaknya jumlah penduduk cenderung memicu ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dengan stagnansi jumlah lapangan kerja hingga tercipta oversupply tenaga kerja. Semakin banyak pengangguran, semakin banyak pula tanggungan sebuah negara.


Bisnis yang sedang naik daun akan menarik banyak orang untuk terjun dan berinvestasi karena prospeknya dirasa menjanjikan. Namun, banyak orang salah mengerti dalam menerjemahkan bisnis. Bisnis dianggap mudah dibangun asalkan memiliki modal. Banyak bisnis akhirnya, mengalami kegagalan karena kesalahpahaman dalam pengelolaan suatu bisnis.


Membuka bisnis tidak sekedar persoalan modal. Artinya mengelola sebuah bisnis bukan semata memiliki modal, merekrut karyawan yang hebat, maka bisnis akan berjalan sendirinya. Mengelola bisnis memerlukan kepiawaian dan jurus khusus, salah satunya dengan A SMILE yakni: 

·         A : Art (Jiwa Seni)

·         S : Science (Ilmu Pengetahuan)

·         M : Management (Tata Kelola)

·         I : Intuition (Intuisi)

·         L : Luck (Keberuntungan)

·         E : Experience (Pengalaman)

 

💹Ikhtiar untuk mendirikan usaha dapat diwujudkan melalui hal berikut ini:

  • Bersemangat untuk mewujudkan janji terhadap diri sendiri;
  • Berpikir rasional dalam mempersiapkan dan memproyeksikan sebuah usaha;
  • Tetap antusias dalam menghadapi segala rintangan;
  • Bila perlu, berani mengambil keputusan yang berisiko; dan
  • Menggunakan dan mengasah intuisi dalam memperbaiki posisi bisnis baru agar selalu pada kondisi yang sesuai dengan pasar dan dapat diterima masyarakat dengan baik.

 

Entrepreneurship dan manajemen adalah hal penting dalam mendirikan dan mengelola sebuah usaha. Namun, bagi sebagian orang, topik tersebut terasa begitu menjemukan untuk dipelajari. 


Maka dibuatlah buku ini, sebuah kumpulan kontemplasi bisnis yang memaparkan kajian topik-topik entrepreneurship dan manajemen secara substansial, ringan, berorientasi pada keseharian, namun tetap menjaga konteks kedalam materi yang dibahas.

Pembahasan dalam buku ini meliputi:

  • Bisnis
  • Entrepreneurship
  • Filosofi
  • Intangible Assets
  • Soul
  • Lifestyle
  • Marketing
  • Kompetisi
  • Sustainbility

September 7, 2023

Catatan Harian: LA PATAU MATNANNA TIKKA

Kerajaan Bone dikenal sebagai kerajaan utama di Sulawesi Selatan, telah merangkai cerita sejarahnya yang panjang termasuk pada jaman Raja Bone XVI dan Datu Soppeng XVIII, La Patau Matanna Tikka yang memerintah pada tahun 1696-1714. La Patau Matanna Tikka adalah tokoh pemersatu di Sulawesi Selatan, yang dari beberapa perkawinannya melahirkan anak dan cucu yang kemudian hari menjadi Raja di Kerajaan Bone, Gowa, Luwu dan Soppeng.

Menurut Andaya (1991) diawali naiknya raja baru (La Patau) istana Bone senantiasa berada dalam keadaan yang luar biasa damai dan memperlihatkan dirinya sebagai seorang sopan dan baik hati. Yang oleh La Tenri Tatta Arung Palakka menciptakan sebuah keluarga kerajaan tunggal yang berhubungan darah lewat penggatinya La Patau. Peristiwa demi peristiwa penting hampir semua terekam dan tertulis dengan apik di dalam bentuk catatan harian yang sering disebut sebagai lontara Vilang atau Sure'Bilang.

Buku Catatan Harian La Patau Matanna Tikka merupakan hasil penelusuran naskah-naskah yang berkaitan dengan agenda penyusunan Lontara Bilang Bone difokuskan pada naskah-naskah Sulawesi Selatan dalam negeri seperti naskah koleksi Arsip Nasional Provinsi Sulawesi Selatan, naskah koleksi Perpustakaan Nasional RI di Jakarta. Khusus koleksi di luar negeri, penelusuran naskah dilakukan di Perpustakaan Nasional Inggris yang dikenal sebagai Bristih Library yang berhasil ditemukan naskah lontara Bilang dari jaman Raja Bone ke -15 La Tenri Tatta (1672-1696) sampai Raja Bone ke-23 La  Tenri Tappu (1775-1812).

Buku Catatan Harian: LA PATAU MATNANNA TIKKA merupakan alih bahasa dan terjemahan dari naskah lontara Bilang Raja Bone ke-16 La Patau Matanna Tikka Arung Palakka. Berisi berbagai peristiwa penting dalam kurun waktu dari bulan Januari 1692 hingga September 1714.

Buku ini merupakan salah satu koleki Layanan Deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin km. 7 Tala'salapang-Makassar yang disertai lampiran Raja Bone (Arumpone)  

  1. Mata Silompoe [Manurungnge-ri Matajang] (1392-1424). 
  2. La Ummasa Petta Panre BessiE [Tomulaie Panreng] (1424-1441). 
  3. La Saliyu Kerrampelua' Arung Palakka (1441-1470). 
  4. We Banri Gau Daeng Marowa Arung Majang Makalappi'e Bissu ri Lalengpili Patta-ri Lawelareng (Malajangnge-ri Cina] (1470-1490).
  5. La Tenri Sukki MappajungngE (1490-1517). 
  6. La Ulio Bote'E [MatinroE-ri Itterung] (1517-1542). 
  7. La Tenri Rawe Bongkangnge [MatinroE-ri Gucina] (1542-1584). 
  8. La Inca' [MatinroE-ri Addenenna] (1584-1595). 
  9. La Pattawe Daeng Soreang[MatinroE-ri Bettung] (15xx - 1590). 
  10. We Ténri Patuppu [Matinroe ri Sidenrengl (1590-1607).
  11. La Ténri Rua' Sultan Adam [Matinroe ri Bantaeng] (1607-1608)
  12. La Ténri Pale' Sultan Abdullah [Matinroe ri Tallo] (1608-1626)
  13. La Ma'darémméng Sultan Saleh Matinroe ri Bukaka (1626-1672) 
  14. La Tenri Aji To Senrima Matinroe ri Siang (1643) a. Toballa', Arung Tanete Riawang, dijadikan Jennang oleh Gowa (1643 1660). b. La Sekkati Arung Amali, dijadikan Jennang oleh Gowa (1660-1667). 
  15. La Ténri Tatta Sultan Saaduddin Matinroe ri Bontoala' (Arung Palakka) (1672-1696). 
  16. La Patau Matanna Tikka Sultan ldris Azimuddin Matinroe ri Nagauléng (1696-1714). 
  17. Batari Toja Daeng Talaga Arung Timurung Datu ri Citta Sultana Zainab Zakiyatuddin [MatinroE-ri Tipuluna] (1714-1715) (masa jabatan pertama)
  18. La Padang Sajati To Appaware' Arung Palakka Sultan Sulaiman [MatinroE ri Beula] (1715-1720) dan Datu Soppeng. 
  19. Bata-ri Toja Daeng Talaga Arung Timurung Datu-ri Citta Sultana Zainab Zakiatuddin [MatinroE-ri Tipuluna] (1715) (masa jabatan kedua)
  20. La Parappa To Sappewali Karaeng Ana' moncong Sultan Shahabuddin Matinroe ri Sombaopu (1720-1721). la menjadi penguasa Gowa [Tumennanga-ri Sombaopu], Arumpone Bone dan Datu Soppeng 
  21. La Panaongi To' Pawawoi Arung Mampu Karaeng Bisei Sultan Abdullan Mansur [Matinroe ri Bisei] (1724). 
  22. Bata-ri Toja Daeng Talaga Arung Timurung Datu-ri Citta Sultana Zaine Zakiatuddin [MatinroE-ri Tipuluna) (1741-1749) dan Datu jabatan ketiga). dan Datu Luwu (masa jabtan ke tiga)
  23.  La Temmassonge' To appaweling Sultan Abdul Razzaq Jalaluddin [MatinroE ri-Malimongeng] (1749-1775)

Lontara Bilang
Catatan Harian: LA PATAU MATNANNA TIKKA
Raja Bone XVI & Datu Soppeng XVIII
Ranreng Tua Wajo XVIII 

Januari 1962 - September 1714
Alih Aksara & Terjemahan: Andi Sofyan Hady
Editor: Muhammad Sapri Andi Pamulu, Muhlis Hadrawi
Penerbit: Yayasan Turikalengna
Tempat Terbit: Makassar
 Tahun Terbit: 2022
ISBN: 978-623-95721-50



September 6, 2023

CITA-CITA POLITIK ISLAM PASCA REFORMASI

Oleh: Fitriani

Bagaikan suatu perjalanan sentimental, membicarakan Islam dan politik di Indonesia melibatkan kekhawatiran dan harapan lama yang mencekam. Daerah itu penuh dengan ranjau kepekaan dan kerawanan, serta harapan-harapan Indonesia, harus dilakukan dengan penuh hati-hatian. Inilah yang bisa kita liat dan rasakan dalam wacana maupun aksi politik Islam dewasa ini.

Di masa reformasi ini, Islam di Indonesia memang dituntut untuk dapat mewujudkan nilai-nilai peradabannya, sebagaimana pernah terwujud dalam masa kesalehan Islam di zaman Rasul dan empat khalifah pertama. Umat Islam ditantang merealisasi Hadits Nabi, "Kamu adalah sebaik-baik umat yang diketengkan untuk manusia, karena kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah kejahatan, lagi pula kamu percaya kepada Tuhan." Islam menuntut ditegakkannya nilai-nilai hubungan sosial yang luhur, seperti keadilan, demokrasi, keterbukaan, toleransi, dan pluralisme yang semua itu adalah kelanjutan dari tegaknya nilai-nilai yang berasal dari ikatan keadaban (bond of civility).

Buku CITA-CITA POLITIK ISLAM PASCA REFORMASI yang sangat tepat kehadirannya ini, menunjukkan bahwa pada dasarnya masyarakat Indonesia memiliki semua perlengkapan yang diperlukan untuk menegakkan apa yang disampaikan "masyarakat madani" ini atau dalam istilah moderen civil society, yang tidak lain adalah nilai-nilai Islam tetapi mampukah umat Islam mewujudkan panggilan politik, yang sebenarnya adalah juga panggilan keagamaan? Inilah tantangan terbesar cita-cita politik Islam di Era Reformasi Sekarang ini.

Buku ini koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


CITA-CITA POLITIK ISLAM PASCA REFORMASI

Penulis : Dr.Nurcholish Madjid
Penerbitan : Jakarta Pramadina 1999
Tempat Terbit : Jl. Metro Pondok Indah, Jakarta Selatan
Tahun Terbit : Maret 1999
Jumlah Halaman : 265 halaman