November 14, 2024

Sejarah Peradaban Islam di Indonesia

 


Judul:                        Sejarah Peradaban Islam di Indonesia

Penulis:                      Prof. Dr. H. J. Suyuthi Pulungan, M.A.

Editor:                       Muhammad Tuwah, Nur Laily Nusroh & Budiyadi

Penerbit:                    Amzah

Tahun Terbit:              2019

Jumlah Halaman:        x + 362

ISBN:                        9786020875484

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Buku ini merupakan  perwujudan dari silabus pengajaran mata kuliah “Sejarah Peradaban Islam” yang ada pada kurikulum pada semua Fakultas dan Jurusan  atau Program Studi di lingkungan STAIN, IAIN, dan UIN serta Perguruan Islam Swasta lainnya. Mata kuliah “Sejarah Peradaban Islam” merupakan mata kuliah pokok  yang masuk dalam kelompok Mata Kuliah Dasar Keahlian (MKDK). Penulis buku ini adalah Rektor IAIN Raden Fatah Palembang pada periode 2003 – 2007.

Terbagi menjadi 5 bagian, diawali dengan Pendahuluan yang mengupas tentang Bangsa Arab pra-Islam dimana masyarakat tidak terikat pada aturan standar etika dan moral, sampai kemudian diutuslah hamba pilihan-Nya yaitu Muhammad bin Abdullah sebagai Rasul yang membawa Islam, ajaran yang sebenarnya dibawa oleh para rasul sebelumnya.

Pembahasan selanjutnya adalah pengenalan sejarah peradaban Islam, mulai dari pengertian sejarah, peradaban, kebudayaan dan Islam, ruang lingkup kajian sejarah peradaban Islam, dan periodisasi sejarah pedaban Islam. Menyusul pembahasan masuknya Islam di Indonesia dan kerajaan kerajaan Islam yang ada di Indonesia serta bagaimana penyebarannya.

Bagian berikutnya adalah uraian tentang peradaban Islam di Indonesia. Dalam bagian ini, dibahas tentang perlawanan kerajaan kerajaan Islam terhadap imprialisme. Ada pula penjelasan tentang peradaban Islam dan Peran Organisasi Islam yang ada di Indonesia.

Buku ini diakhiri dengan bagian Penutup, Daftar Pustaka dan biografi Penulis buku.

Sangat menarik membaca buku ini. Prof. Suyuthi Pulungan menyajikan sejarah dengan pendekatan kronologis yang rinci, mencakup aspek sosial, politik, dan budaya dalam proses masuknya Islam. Ini memberikan perspektif yang komprehensif tentang peran Islam di Indonesia. Buku ini juga ditulis dengan analisis yang mendalam. Tidak hanya menceritakan peristiwa sejarah, tetapi juga membahas secara kritis faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan dan penyebaran Islam di berbagai wilayah. Analisis mendalam ini membantu pembaca memahami dinamika yang ada di balik penyebaran Islam di Indonesia.

Karya ilmiah ini didukung oleh referensi dari sumber-sumber primer dan sekunder, baik dari literatur lokal maupun asing. Referensi ini memperkuat keabsahan informasi yang disajikan, membuat buku ini bermanfaat untuk akademisi maupun penggemar sejarah Islam. Bahasa yang digunakan dalam buku ini juga mudah dipahami, dan alur pembahasannya sistematis, sehingga memudahkan pembaca untuk mengikuti perkembangan setiap periode sejarah yang disajikan.

Meskipun demikian, pembahasan tentang penyebaran Islam di Nusantara dalam buku ini kurang mengangkat perspektif dari masyarakat lokal atau peran tokoh-tokoh adat yang terlibat dalam proses islamisasi. Beberapa bagian dari buku ini lebih banyak berfokus pada penyajian data deskriptif ketimbang analisis kritis. Bagi sebagian pembaca, hal ini bisa terasa kurang menantang atau tidak terlalu menggugah pemahaman yang lebih mendalam.

Buku ini akan lebih kaya jika disertai dengan peta penyebaran Islam, ilustrasi atau foto dari peninggalan sejarah yang relevan. Visualisasi semacam ini akan membantu pembaca lebih memahami perkembangan Islam dari waktu ke waktu.

Buku ini tetap menjadi referensi yang berharga bagi pembaca yang tertarik mendalami sejarah peradaban Islam di Indonesia, meskipun dapat diperbaiki dalam beberapa aspek.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.




November 13, 2024

Tulisan Tanganmu Menunjukkan Kepribadianmu

 


Judul:                        Blue Print of My Life, Bahagia dengan Profesiku

Penulis:                     Bunda Erina & Sri hastuti

Editor:                       Atiatul Mu’min

Penerbit:                    Penebar Plus

Tahun Terbit:              2016

Jumlah Halaman:        170

ISBN:                        9786021279465

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Adakah hubungan antara tulisan tangan dengan kepribadian ? Buku ini berusaha menjelaskan tentang grafologi (ilmu tentang tulisan tangan) dengan kepribadian manusia. Dalam buku ini berbagai analisis kepribadian berdasarkan tulisan tangan, yang dikatakan oleh penulis buku bahwa dengan mengetahui kepribadian berdasarkan tulisan tangan, akan membantu menentukan profesi atau pekerjaan apa yang sesuai dengan kepribadian kita. Dari tulisan tangan, seseorang dapat diketahui kepribadiannya dan ditentukan profesi yang cocok dan sesuai dengan dirinya.

Buku ini terbagi menjadi 5 bagian diawali dengan pembahasan tentang hubungan antara pekerjaan atau profesi dengan kepribadian manusia. Dijelaskan bahwa ada dua unsur yang membentuk kepribadan manusia yaitu genetik dan lingkungan.

Selanjutnya uraikan secara rinci tentang grafologi sebagai personality check up. Pada bagian ini ditampilkan berbagai analisis tentang tulisan tangan, misalnya tulisan tangan bersambung, dan tulisan tangan cetak.

Ada juga sejumlah faktor psikologi yang dibahas dalam buku ini misalnya respon emosional, pola berpikir, rasa percaya diri, pencapaian dan tujuan hidup, profesi apa yang membuat sesorang bisa maksimal produktivitasnya, kemampuan komunikasi, cara berinteraksi dengan orang lain, rasa takut, dan pertahanan diri.

Berbagai bidang pekerjaan yang berhubungan dengan kepribadian seseorang dideskripsikan dalam bagian keempat. Contoh bidang pekerjaan misalnya, bidang keuangan, bidang penelitian sosial, bidang kerja yang berhungan dengan ketelitian, bidang jasa kesehatan, bidang kerja instruktur, bidang kerja konsultan, bidang perawatan kesehatan  dan bidang bidang lainnya.

Motivasi diri dengan cara memahami kepribadian diuraikan pada bagian akhir buku. Ada pula penjelasan tentang hipnosis, grafoterapi, teknik melakukan self-hipnosis adalah pembahasan yang ada pada bagian akhir buku.

Buku ini sangat menarik dibaca, karena topiknya unik. Buku ini menawarkan pendekatan yang unik dengan menggabungkan studi grafologi (tulisan tangan) dan pengembangan karier, memberikan perspektif baru bagi pembaca yang tertarik pada self-development. Bahasa yang digunakan juga sederhana dan mudah dipahami sehingga konsep-konsep kompleks tentang grafologi dan psikologi kepribadian dapat diakses oleh berbagai kalangan pembaca.

Penyertaan contoh nyata atau studi kasus membantu pembaca memahami bagaimana teori grafologi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dalam memilih profesi yang sesuai. Membaca buku ini juga dapat memotivasi untuk pengembangan diri. Buku ini mendorong pembaca untuk lebih mengenali diri sendiri melalui tulisan tangan mereka, yang pada gilirannya membantu dalam memilih karier yang lebih sesuai dan meningkatkan kebahagiaan dalam bekerja.

Buku ini membahas pentingnya kesesuaian antara profesi dengan kepribadian yang sangat relevan di era di mana banyak orang mencari pekerjaan yang tidak hanya menguntungkan secara finansial tetapi juga memuaskan secara emosional.

Namun ada pula hal yang masih perlu dipahami secara mendalam. Grafologi sering kali dianggap sebagai pseudoscience oleh komunitas ilmiah karena kurangnya bukti empiris yang kuat. Hal ini dapat menimbulkan keraguan bagi pembaca yang mengutamakan pendekatan berbasis sains. Demikian pula dengan mengaitkan kepribadian secara mendalam hanya melalui tulisan tangan dapat dianggap terlalu menyederhanakan kompleksitas kepribadian manusia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.

Metode yang dibahas dalam buku ini mungkin tidak dapat diterapkan secara universal pada semua individu atau konteks pekerjaan, mengingat variasi kepribadian dan dinamika pekerjaan yang sangat beragam. Buku ini juga mungkin terlalu fokus pada grafologi tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain yang juga penting dalam menentukan kesesuaian karier, seperti minat, nilai, dan keterampilan.

Kesimpulan

"Blue Print of My Life, Bahagia dengan Profesiku" menawarkan pendekatan yang menarik dengan menggabungkan grafologi dan pengembangan karier, yang dapat memberikan wawasan baru bagi pembaca yang tertarik pada self-development dan pencarian karier yang sesuai. Namun, penting bagi pembaca untuk menyadari keterbatasan grafologi sebagai alat penilaian kepribadian dan mempertimbangkan pendekatan ini sebagai salah satu dari banyak metode dalam memahami diri dan memilih karier yang tepat.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan. 




November 12, 2024

Melindungi dan Mendidik Anak dengan Cinta

 


Judul:                         Melindungi dan Mendidik Anak dengan Cinta

Penulis:                      Erlinda & Seto Mulyadi

Editor:                        Noorayni Rahmawati, Hijarah Ahmad, Adhika Prasetya

Penerbit:                    Erlangga Group

Tahun Terbit:              2023

Jumlah Halaman:        xviii + 205

ISBN:                        9786024346362

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Di zaman modern sekarang ini, mendidik dan mengasuh anak tidak seperti dulu lagi. Banyak orangtua dan pendidik yang telah meninggalkan pola pendidikan anak yang tradisional dan konvensional. Namun banyak pula orangtua yang tidak siap dengan pendidikan anak yang serba digital. Orangtua dan pendidik perlu mendidik anak anak sesuai zamannya. Buku ini berusaha memberikan solusi dalam permasalahan pendidikan dan pengasuhan anak diera moderen seperti saat ini. Ditulis oleh dua orang pakar dibidangnya, yaitu Erlinda dan Seto Mulyadi yang dikenal dengan nama “Kak Seto”.

Buku ini terbagi menjadi 11 bagian, diawali dengan penjelasan tentang berbagai macam jenis kecerdasan (atau Spektrum kecerdasan). Orangtua dan pendidik perlu mengenali jenis kecerdasan anak anaknya sejak dini, sehingga orangtua dan pendidik dapat mengembangkan potensi anak anak seoptimal mungkin.

Selanjutnya diuraikan tentang hak anak untuk belajar dan mengembangkan potensi mereka. Anak anak juga perlu bermain karena bermain juga banyak manfaatnya. Akan lebih baik kalau belajar sambil bermain. Orangtua dan pendidik perlu memahami gaya belajar anak anak mereka.

Penulis buku juga membahas tentang kekerasan dan perundungan (bullying) yang sering terjadi disekolah, termasuk dampaknya pada anak anak. Ada pula kekerasan seksual yang terkadang dialami anak anak. Rumah dan sekolah perlu menciptakan suasana pendidikan ramah anak.

Kekerasan dalam rumahtangga dan keluarga sebagai pranata sosial dijelaskan pada bagian selanjutnya. Orangtua perlu mendidika anak dengan cinta, perlu mencegah pernikahan dini, tidak mempekerjakan anak anak dan perlu melindungi anak dari pengaruh buruk internet. Keluarga sebagai sebuah lembaga, perlu membangun kebersamaan dan keharmonisan dalam keluarga.

Pendidikan anak diusahakan sedini mungkin, karena usia dini adalah golden age atau masa keemasan dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Anak anak perlu diberi kebebasan dalam berkreasi dan juga perlu diberi stimulan.

Pada bagian akhir buku, diuraikan tentang prinsip prinsip dasar dalam mendidik anak. Orangtua dan tenaga pendidik perlu menciptakan suasana yang menyenangkan, perlu memahami makna pendidikan, mengenali sifat sifat dasar anak, dan mengenali fase perkembangan anak. Orangtua dan pendidik juga perlu kreatif dan memahami unsur unsur penting dalam mendidik anak, bagaimana metode klasik mendidik anak, dan bagaimana memanfaatkan teknologi masa kini.

Kelebihan buku ini adalah adanya pendekatan kasih sayang dalam Pendidikan dan menekankan pentingnya mendidik anak dengan pendekatan tersebut, yang merupakan landasan kuat dalam membangun karakter anak. Hal ini memberikan panduan bagi orang tua untuk menjadi figur yang lebih mendukung dan memahami emosi anak. Sebagai psikolog anak, Seto Mulyadi menyumbangkan wawasan mendalam tentang perkembangan psikologis anak. Buku ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga saran praktis yang aplikatif dan mudah diikuti oleh para orang tua.

Fokus utama buku ini adalah melindungi anak dari kekerasan dan pengabaian, baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Dengan pengalaman Erlinda dalam advokasi hak anak, buku ini menyajikan panduan penting tentang hak-hak anak dan bagaimana orang tua bisa melindungi anak dari ancaman eksternal.

Buku ini juga menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, sehingga tidak terbatas hanya untuk praktisi atau akademisi, tetapi juga bisa diikuti oleh masyarakat umum.

Namun demikian, ada kemungkinan pendekatan cinta kasih bisa jadi terlalu ideal. Beberapa pembaca mungkin merasa bahwa metode yang disarankan sulit diaplikasikan pada situasi keluarga yang berbeda, terutama di keluarga yang mengalami tekanan ekonomi atau waktu. Hal lain yang mungkin menjadi kekurangan buku ini adalah kurangnya studi kasus yang variatif. Buku ini bisa memperkaya panduan praktisnya dengan lebih banyak studi kasus dan contoh nyata dari keluarga yang menghadapi tantangan beragam. Ini bisa membantu pembaca lebih mudah memahami dan mengaitkan situasi mereka dengan saran yang diberikan.

Secara keseluruhan, "Melindungi & Mendidik Anak dengan Cinta" adalah buku yang bermanfaat untuk memberikan arahan kepada orang tua dalam membentuk karakter anak dengan penuh kasih sayang dan perlindungan. Buku ini mampu memberi inspirasi sekaligus panduan praktis, meski terdapat beberapa hal yang bisa dikembangkan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga modern.

Buku ini koleksi Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, UPT Layanan Perpustakaan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.




November 7, 2024

Pappaseng (Wasiat Orang Dahulu)

Pappaseng yang terdiri dari kata dasar "paseng" yang berarti "pesan" yang harus dipegang teguh sebagai amanah, bahkan ia merupakan "wasiat" yang perlu dipatuhi dan diindahkan senantiasa, kapan dan di manapun berada.

Setelah mendapat imbuhan "pa" (pap) berupa awalan, maka ia menjadi lebih konkrit lagi sebagai "peringatan yang harus ditaati", agar yang menerima wasiat itu, benar-benar memperlakukan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Apabila ia, ingkar, maka ia akan mendapatkan peringatan dari yang Maha Kuasa (dalam bahasa kuno disebut "dewata") berupa kesulitan hidup, bahkan sering berwujud malapetaka yang sulit dielakkan.

Jadi tegasnya "pappaseng" itu adalah wasiat orang tua kepada anak cucunya (orang banyak) yang harus selalu diingat sebagai amanah yang perlu dipatuhi dan dilaksanakan atas dasar percaya pada diri sendiri disertai rasa tanggung jawab.

Begitu yakinnya orang dahulu akan hikmah dari "pappaseng" itu, sehingga mereka dapat memelihara dan membudayakan dalam segala sendi kehidupan mereka. Itulah sebabnya orang-orang tua di tanah Bugis, apabila menasihati kepada anak cucunya ia selalu berkata :

"Engngerangngi pappaseng to-riolo-e" (= ingatlah akan wasiat orang dahulu kala).

Buku "Pappaseng" (Wasiat Orang Dahulu) berasal dari "Arung Bila" salah seorang bangsawan terkemuka dari Soppeng, bahkan beliau adalah seorang pemikir yang tajam selidiknya dan jauh tinjauannya. Beliau dapat disejajarkan dengan Kajao Laliddong dari Bone pada zamannya yang menjadi pendamping Raja Bone dalam mengendalikan pemerintahan. Nama "Arung Bila" adalah merupakan gelar bagi seorang pendamping dan penasihat Raja (Datu) Soppeng bukan nama diri. Jadi ada beberapa orang yang bergelar "Arung Bila" sejak dahulu kala. Arung Bila yang dimaksud ini ialah yang bernama LA WADENG, juga LAWANIYAGA TO TONGENGNGE yang sezaman Kajao Lalidlong di Bone (sekitar akhir abad XVI dan awal abad XVII).

Buku "Pappaseng" (Wasiat Orang Dahulu) memuat berbagai pappaseng dari Arung Bila terkait:

  • Seseorang itu (Raja) dapat bertindak pantang mundur apabila ia merasa tersinggung oleh suatu tindakan/perbuatan orang lain yang ditujukan kepadanya atau golongannya (lingkungannya).
  • Suatu lingkungan hidup bersama baru dapat dikatakan atau di sebut NEGERI apabila memiliki Undang - Undang Dasar yang dipegang teguh oleh pemimpin pemerintahannya.
  • Suatu negeri baru dapat dikatakan baik apabila memiliki perangkat pemerintahan yang bertanggung jawab dalam segala sektor kehidupan.
  • Kelima jenis adat utama tersebut merupakan ketentuan pokok yang harus ditaati dan menjadi dasar untuk menegakkan hukum dalam mengatur tata tertib masyarakat.
  • Dalam melaksanakan peradilan, hendaknya teliti dan seksama dalam mengusut semua pihak yang bersangkutan (terlibat). 
  • Dalam menilai tingkah laku itu, tidak saja yang berhubungan ucapan dan ujud perbuatan, namun perlu memperhatikan apa yang terkandung dalam hati seseorang.
  • Agar seseorang senantiasa menjaga lidahnya, bersih dari kata/ucapan yang tidak benar, bukan pada tempatnya.
  • Dalam berusaha, seseorang itu mengutamakan keluarganya, masyarakat dan pemerintahannya.
  • Seseorang itu dapat jatuh martabatnya di mata umum (masyarakat) bila menyimpang di mata umum (masyarakat) bila menyimpang dari adat yang berlaku segala perbuatannya, serta tak ada lagi dasar hukum baginya sebagaimana tempat bersandar/berpijak.
  • Janganlah sembarang orang dijadikan pejabat negeri, hendaknya yang dapat diangkat itu ialah yang tahu akan adat (ketentuan hidup) yang berlaku, dapat membedakan yang boleh dan yang tidak boleh (pantas dilakukan), teguh pendirian/tidak mudah terpengaruh, senantiasa ingat dan berserah diri kepada Yang Maha Kuasa, mengerti akan tatanan hidup, tahu betul akan hukum yang berlaku serta memahami sungguh-sungguh akan arti peradilan yang memperlakukan setiap orang yang dituduh berbuat salah. 
  • Janganlah hendaknya seseorang itu sama sekali tidak memiliki kemampuan yang dapat diketengkan dalam suatu majelis persidangan yang dihadiri beberapa orang terkenal, cerdik pandai. Kalaulah tidak menguasai seluruhnya, cukuplah satu atau dua saja, agar ia dapat pula termasuk dalam hitungan/bilangan orang-orang yang disegani, dapat dipandang sebagai manusia sumber.
  • Seseorang itu janganlah mengandalkan semata-mata akan keturunannya, kepintarannya, kekayaannya dan keberaniannya, tetapi berusahalah dengan jujur penuh ketekunan berdasarkan akal-budi nan luhur di sertai pasrah kepada kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa menentukan segala sesuatunya.
  • Apabila seseorang itu akan selamat hidup di dunia ini, hendaklah ia pandai-pandai menjaga keseimbangan, berlaku sewajarnya dan tidak suka mengada-ada tanpa dasar. Karena kewajaran itu dirahmati dan diterima baik oleh masyarakat ramai, bersifat manusiawi.
  • Setiap orang hendaknya memperhatikan (mengindahkan) senantiasa keempat "mutiara" (lembu sibaa tau (k), ada tongeng sibawa tike, siri sibawa getteng, akkaleng sibawa nyamengkininnawa) itu yang menyinari hidup ini, agar terhindar dari kesulitan.
  • Agar orang itu tidak memperoleh kemujuran dalam mengarungi hidup di dunia ini, dianjurkan agar mereka senantiasa berlaku baik budi pekertinya, dapat mengendalikan diri. Sehingga mereka dapat dipercaya oleh masyarakatnya, oleh pemerintahnya untuk menjadi pengayom masyarakat dan negerinya.
  • Agar setiap orang itu dalam berkata (ikut dalam pembicaraan/perdebatan), hendaknya berusaha menggunakan kata dan istilah yang tepat mengenai sasarannya guna meyakinkan orang lain (yang mendengarnya) akan kebenarannya.
  • Seseorang yang disebut berani itu, selalu tenang dan waspada serta menjaga keseimbangan dalam melangkah, tidak mau mendahului orang sebagaimana dia sendiri tidak senang di dahului.
  • Agar setiap orang itu hendaknya menyingkiri sifat-sifat jelek yang ada pada orang pengecut itu, jangan sekali-kali menirunya.
  • Agar setiap Raja (pemimpin) dalam mengadili (membicarakan) suatu perkara, hendaklah dapat menahan diri, mengendalikan perasaan penuh keseimbangan. Pilihlah bentuk peradilan yang paling tepat penuh kejujuran tanpa pilih bulu, bercerminlah pada tanah yang memperlambang sifat jujur dan kepintaran tidak memihak kepada siapa-siapa. Adapun sifat air, sifat angin dan sifat air itu pada dasarnya sama, ketiganya pada bertumpu dan bersumber dari tanah. Jadi sifat tanahlah (falsafat tanah) yang pantas dicerminkan oleh para penegak hukum dalam membicarakan peradilan, agar segala keputusan yang diambilnya mencerminkan keadilan dan perikemanusiaan.
  • Bahwa seseorang itu hendaknya mematuhi adat itu, karena sesungguhnya orang yang tidak menghiraukan adat ia kan menemukan kesulitan dalam hidupnya. Dengan berpegang pada adat itu diharapkan seseorang itu segera dapat mengetahui akan dirinya, apa yang pantas dan apa yang tidak pantas dilakukan. Dalam kehidupan bersama, adat itu diumpamakan sebagai tanah tempat tumbuhnya segala tanaman (manusia), apabila tanah itu kurang subur, apalagi tanah itu kurang subur, apalagi berkembang dengan mendatangkan hasil yang diharapkan. Supaya tanah itu subur dan dapat ditanami, maka pemimpin dan segenap anggota perangkat pemerintahan itu bertugas dan bertanggungjawab sepenuhnya untuk menjaga, memelihara dan membina tanah dan tanaman itu dalam hal ini masyarakat orang banyak beserta seluruh negeri.
  • Janganlah ada orang suka (membiasakan) diri menggantungkan nasib pada orang lain, biasakan percaya pada diri dan mengharapkan dari kejujuranmu, meminjam dari jerih payahmu, tegaklah di atas kaki sendiri.
  • Agar setiap orang senantiasa memelihara kata dan perbuatannya, oleh karena kata-kata itu dimiliki bila belum diucapkan, bila sudah keluar dari mulut, ia sudah menjadi milik orang lain dan dapat menimbulkan berbagai persoalan menyulitkan yang bersangkutan, demikian pula perbuatan itu sama halnya dengan kata bagi seseorang. Oleh karena itu, waspadalah dalam berkata dan berhati-hati dalam perbuatan, harus penuh perhitungan sebelum berbuat.
  • Agar setiap orang yang akan mengeluarkan kata atau mau berbuat, hendaknya mempertimbangkan betul akan kondisi dan situasi pada saat akan berkata atau berbuat. Gunakan ter atau ungkapan kata dan perbuatan yang tepat pada waktu dan sasarannya, agar tidak menimbulkan kesulitan, baik bagi diri sendiri, maupun terhadap orang lain (orang banyak).
  • Diingatkan kepada orang banyak (rakyat) agar jangan ada yang memperkirakan (untuk merebut atau ikut memiliki) akan kebesaran (kekuatan) sang Datu (Pemimpin Pemerintah), karena Datupun tidak akan mengganggu posisi dan harta milik rakyatnya. Hal serupa itu bila terjadi, akan mendapatkan kutukan dan menimbulkan kebinasaan sampai ke anak cucunya.
  • Diingatkan kepada mereka (orang baik-baik) agar jangan ada yang berbuat terliwat-liwat, tanpa mengenal waktu dan tempat, karena keterliwatan (keterlaluan) itu dapat menyebabkan kebinasaan (kehancuran).
  • Diingatkan kepada semua orang, agar mereka tidak terliwat-liwat (melampaui batas), segala kejadian itu hendaknya diterima (dipandang) sebagai sesuatu yang wajar, terjadi karena kehendak Yang Maha Kuasa semata
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. Buku ini ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

Pappaseng (Wasiat Orang Dahulu)
Penulis: A. A. Punagi
Penerbit: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit 1983

November 5, 2024

Djalannya Revolusi Indonesia Membebaskan Irian Barat

Peristiwa sejarah yang maha besar  atas perjuangan bangsa Indonesia menentang imperialis-kolonialis Belanda, khususnya melenyapkan penjajahan di Irian Barat. Perjuangan tersebut dengan berbagai usaha-usaha dibidang diplomasi (diplomacy)  yang mengalami kegagalan, menyebabkan perjuangan itu mulai dititik beratkan dengan konfrontasi disegala bidang, terutama di bidang militer (force, physical phase of confrontation). Sementara konfrontasi militer berjalan terus maka tidaklah mengurangi prakarsa Indonesia menyelesaikan masalah Irian Barat melalui usaha di bidang diplomasi (diplomacy) sesuai dengan tujuan revolusi Indonesia, mewujudkan perdamaian dan memajukan persahabatan antar bangsa.

Berikut gelombang perjuangan pembebasan Irian Barat, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Pada masa antara tahun 1950 - 1961 yang dianggap sebagai taraf perjuangan babakan pertama, Indonesia sepanjang masa itu lebih berjuang di bidang diplomasi yaitu mengusahakan penyelesaian Irian Barat secara damai, tidak dengan mempergunakan kekerasan. Bahkan sejak 17 Agustus 1945, sampai berdirinya NIT, seterusnya memasuki perundingan dalam Konferensi Meja Bundar, pada tahun 1949 dan terakhir menjelang Trikora Tahun 1961. Pada babakan pertama ini dapatlah dilihat telah dilaluinya perundingan-perundingan dengan pihak Belanda terutama setelah adanya perjanjian K.M.B antara lain dilangsungkan pada tahun 1950 dan 1955, melalui P.B.B, antara lain pada tahun 1954, 1955 dan terakhir tahun 1961.
  2. Karena kegagalan jalan diplomasi itu menyebabkan Indonesia menempuh jalan lain sebagai perjuangan babakan kedua, yaitu Indonesia terpaksa dengan tekat bulat meneruskan perjuangan Irian Barat secara lebih nyata dengan mempersiapkan kekuatan Angkatan perangnya yang dimulai pada saat segera setelah selesai perdebatan mengenai masalah itu di P.B.B. pada tahun 1961. Babakan ini terkenal dengan nama konfrontasi di segala bidang termasuk militer.
Sampai pada babakan kedua ini Indonesia masih bersedia terus membuka pintu perundingan (diplomacy) asalkan Belanda mengakui bahwa yang dirundingkan ialah penyerahan administrasi (administration) atas Irian Barat itu kepada Indonesia.

Bahasa konfrontasi inilah yang diwujudkan oleh TRIKORA sebagaimana telah dikomandokan oleh Presiden Sukarno, Pemimpin Besar Revolusi dan Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat pada tanggal 19 Desember 1961 di kota keramat Djokjakarta. Mulailah diperhebat konfrontasi militer itu serentak diikuti pendaratan (infiltration) sukarelawan-sukarelawan pembebasan Irian Barat di daratan Irian Barat, sehingga terjadilah pertempuran dengan pihak Belanda. Hasilnya, dalam waktu beberapa bulan saja beberapa kota-kota dan daerah-daerah di Irian Barat praktis dikuasai penuh oleh para sukarelawan dengan bantuan sepenuhnya dari penduduk asli Irian Barat.


Pukulan dan gerakan sukarelawan-sukarelawan ini menyebabkan pemerintah Kolonial Belanda dengan segenap aparaturnya ditimpa kekhawatiran dan ketakutan dan mulailah mereka mempersiapkan bahkan melaksanakan pengungsian secara besar-besaran. Akibatnya mulailah pula Belanda menyadari bahwa dalam abad ke XX ini tiada satu pun kekuatan yang akan mampu menentang jalannya sejarah kejayaan nasionalisme dan kehancuran imperialisme-kolonialisme.

Karena, Belanda sudah tidak menemukan alternatif lain, selain daripada menyerahkan administrasi Irian Barat kepada Indonesia. Kesadaran Belanda itu telah diwujudkan secara formal dalam suatu perjanjian Internasional yaitu dengan ditanda tanganinya persetujuan New York yang antara lain menetapkan berakhirnya kekuasaan imperialis-kolonialis Belanda di Irian Barat mulai 1 Oktober 1962 dan akan dikibarkannya sang merah putih di seluruh daratan Irian Barat pada tanggal 31 Desember 1962.

Buku Djalannya Revolusi Indonesia Membebaskan Irian Barat merupakan hasil wawancara dengan Arnold Mononutu Presiden Universitas Negeri Hasanuddin, Mayor Jendral Soeharto (Panglima Mandala), Brigjen Sajuti Widjaja (Kep. Penerangan Mandala). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang Makassar.


Djalannya Revolusi Indonesia Membebaskan Irian Barat
Penulis: Baharuddin Lopa
Penerbit: P.N. Percetakan dan Periklanan "Daja Upaya"
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1962