Peristiwa sejarah yang maha besar atas perjuangan bangsa Indonesia menentang imperialis-kolonialis Belanda, khususnya melenyapkan penjajahan di Irian Barat. Perjuangan tersebut dengan berbagai usaha-usaha dibidang diplomasi (diplomacy) yang mengalami kegagalan, menyebabkan perjuangan itu mulai dititik beratkan dengan konfrontasi disegala bidang, terutama di bidang militer (force, physical phase of confrontation). Sementara konfrontasi militer berjalan terus maka tidaklah mengurangi prakarsa Indonesia menyelesaikan masalah Irian Barat melalui usaha di bidang diplomasi (diplomacy) sesuai dengan tujuan revolusi Indonesia, mewujudkan perdamaian dan memajukan persahabatan antar bangsa.
Berikut gelombang perjuangan pembebasan Irian Barat, dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Pada masa antara tahun 1950 - 1961 yang dianggap sebagai taraf perjuangan babakan pertama, Indonesia sepanjang masa itu lebih berjuang di bidang diplomasi yaitu mengusahakan penyelesaian Irian Barat secara damai, tidak dengan mempergunakan kekerasan. Bahkan sejak 17 Agustus 1945, sampai berdirinya NIT, seterusnya memasuki perundingan dalam Konferensi Meja Bundar, pada tahun 1949 dan terakhir menjelang Trikora Tahun 1961. Pada babakan pertama ini dapatlah dilihat telah dilaluinya perundingan-perundingan dengan pihak Belanda terutama setelah adanya perjanjian K.M.B antara lain dilangsungkan pada tahun 1950 dan 1955, melalui P.B.B, antara lain pada tahun 1954, 1955 dan terakhir tahun 1961.
- Karena kegagalan jalan diplomasi itu menyebabkan Indonesia menempuh jalan lain sebagai perjuangan babakan kedua, yaitu Indonesia terpaksa dengan tekat bulat meneruskan perjuangan Irian Barat secara lebih nyata dengan mempersiapkan kekuatan Angkatan perangnya yang dimulai pada saat segera setelah selesai perdebatan mengenai masalah itu di P.B.B. pada tahun 1961. Babakan ini terkenal dengan nama konfrontasi di segala bidang termasuk militer.
Sampai pada babakan kedua ini Indonesia masih bersedia terus membuka pintu perundingan (diplomacy) asalkan Belanda mengakui bahwa yang dirundingkan ialah penyerahan administrasi (administration) atas Irian Barat itu kepada Indonesia.
Bahasa konfrontasi inilah yang diwujudkan oleh TRIKORA sebagaimana telah dikomandokan oleh Presiden Sukarno, Pemimpin Besar Revolusi dan Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat pada tanggal 19 Desember 1961 di kota keramat Djokjakarta. Mulailah diperhebat konfrontasi militer itu serentak diikuti pendaratan (infiltration) sukarelawan-sukarelawan pembebasan Irian Barat di daratan Irian Barat, sehingga terjadilah pertempuran dengan pihak Belanda. Hasilnya, dalam waktu beberapa bulan saja beberapa kota-kota dan daerah-daerah di Irian Barat praktis dikuasai penuh oleh para sukarelawan dengan bantuan sepenuhnya dari penduduk asli Irian Barat.
Pukulan dan gerakan sukarelawan-sukarelawan ini menyebabkan pemerintah Kolonial Belanda dengan segenap aparaturnya ditimpa kekhawatiran dan ketakutan dan mulailah mereka mempersiapkan bahkan melaksanakan pengungsian secara besar-besaran. Akibatnya mulailah pula Belanda menyadari bahwa dalam abad ke XX ini tiada satu pun kekuatan yang akan mampu menentang jalannya sejarah kejayaan nasionalisme dan kehancuran imperialisme-kolonialisme.
Karena, Belanda sudah tidak menemukan alternatif lain, selain daripada menyerahkan administrasi Irian Barat kepada Indonesia. Kesadaran Belanda itu telah diwujudkan secara formal dalam suatu perjanjian Internasional yaitu dengan ditanda tanganinya persetujuan New York yang antara lain menetapkan berakhirnya kekuasaan imperialis-kolonialis Belanda di Irian Barat mulai 1 Oktober 1962 dan akan dikibarkannya sang merah putih di seluruh daratan Irian Barat pada tanggal 31 Desember 1962.
Buku Djalannya Revolusi Indonesia Membebaskan Irian Barat merupakan hasil wawancara dengan Arnold Mononutu Presiden Universitas Negeri Hasanuddin, Mayor Jendral Soeharto (Panglima Mandala), Brigjen Sajuti Widjaja (Kep. Penerangan Mandala). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang Makassar.
Djalannya Revolusi Indonesia Membebaskan Irian Barat
Penulis: Baharuddin Lopa
Penerbit: P.N. Percetakan dan Periklanan "Daja Upaya"
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1962
No comments:
Post a Comment