February 28, 2026

Makanan Khas Makassar


Makassar merupakan kota metropolitan terbesar di kawasan Indonesia Timur yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang panjang. Dahulu dikenal dengan nama Ujung Pandang, kota ini berkembang sejak abad ke-16 sebagai pusat perdagangan penting di Indonesia Timur hingga menjadi salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Perjalanan sejarah tersebut melahirkan perpaduan budaya yang beragam, termasuk dalam tradisi kulinernya.

Melalui buku Makanan Khas Makassar, pembaca diajak menyelami kekayaan cita rasa yang menjadi identitas masyarakat Makassar. Perpaduan budaya lokal dan pengaruh luar yang terjadi selama berabad-abad menghasilkan ragam masakan dengan karakter rasa yang kuat, gurih, kaya rempah, dan khas, namun tetap dapat diterima oleh berbagai kalangan dan lidah wisatawan.

Buku ini menyajikan daftar lengkap makanan khas Makassar, mulai dari hidangan utama seperti Coto Makassar, Konro, Pallubasa, Kapurung, hingga hidangan laut seperti Ikan Bakar Parape dan Juku Pallu Ce’la. Setiap makanan dijelaskan sebagai bagian dari tradisi kuliner yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik dalam keseharian maupun dalam momen-momen tertentu.

Selain makanan berat, pembaca juga diperkenalkan dengan berbagai camilan tradisional seperti Pisang Epe, Barongko, Songkolo Bagadang, Jalangkote, hingga Roti Maros yang telah menjadi ikon jajanan khas daerah. Ragam camilan ini menunjukkan kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan-bahan lokal menjadi sajian yang sederhana namun sarat cita rasa.

Tidak ketinggalan, aneka minuman khas seperti Es Pisang Ijo, Pallu Butung, Sarabba, Sirup Markisa, Ballo, hingga Es Poteng turut melengkapi kekayaan kuliner kota ini. Minuman-minuman tersebut tidak hanya menyegarkan, tetapi juga mencerminkan tradisi serta kebiasaan sosial masyarakat Makassar dalam menjamu tamu dan berkumpul bersama keluarga.

Buku ini disusun secara informatif dan sistematis sehingga mudah dipahami oleh pelajar, mahasiswa, pecinta kuliner, maupun wisatawan. Setiap sajian tidak hanya dipandang sebagai makanan semata, melainkan sebagai warisan budaya yang mengandung nilai sejarah, identitas, dan kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan.

Sebagai salah satu koleksi Bintang Pusnas Edu, buku ini diharapkan menjadi bagian dari literasi nasional yang memperkaya wawasan pembaca tentang kekayaan kuliner Nusantara. Kehadirannya tidak hanya berfungsi sebagai panduan wisata kuliner, tetapi juga sebagai dokumentasi penting dalam upaya pelestarian gastronomi tradisional Indonesia.

Melalui buku ini, pembaca diajak memahami bahwa mengenal kuliner daerah berarti mengenal sejarah dan budaya masyarakatnya. Dengan demikian, Makanan Khas Makassar bukan sekadar buku daftar makanan, melainkan jendela untuk melihat kekayaan budaya Indonesia yang begitu beragam dan membanggakan.

Makanan Khas Makassar
Penulis: Nandia Kirana
Editor: Tim Elementa
Penerbit: Elementa Media
Terbit Digital: 2021
ISBN: 978-623-5384-82-5 (PDF)

February 27, 2026

Perpustakaan Sebagai Pusat Pelayanan Budaya Lokal

 



Pendahuluan

Perpustakaan merupakan institusi penting dalam menjaga, melestarikan, dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta kebudayaan suatu masyarakat. Di era modern ini, kebutuhan akan pusat informasi yang tidak hanya berfokus pada literatur umum tetapi juga pada kekayaan budaya lokal semakin meningkat. Perpustakaan yang berperan sebagai pusat pelayanan budaya lokal menjadi tonggak penting dalam pengembangan identitas dan jati diri masyarakat setempat. Melalui perpustakaan, masyarakat dapat mengakses berbagai informasi dan sumber daya yang berkaitan dengan tradisi, seni, bahasa, dan sejarah budaya lokal yang sering kali terancam oleh globalisasi dan modernisasi.

Perpustakaan sebagai pusat pelayanan budaya lokal tidak hanya sekadar tempat penyimpanan buku, tetapi juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial, edukasi, dan pelestarian budaya. Keberadaan perpustakaan ini dapat memperkuat rasa kebanggaan masyarakat terhadap warisan budayanya serta mendukung pengembangan kreativitas dan inovasi berbasis budaya. Oleh karena itu, penting untuk memahami peran, fungsi, dan strategi pengelolaan perpustakaan yang mengedepankan pelayanan budaya lokal agar bisa memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat luas.

 Isi

Perpustakaan sebagai pusat pelayanan budaya lokal memiliki peran strategis dalam mempertahankan kekayaan budaya yang ada di suatu daerah. Salah satu fungsi utama perpustakaan ini adalah sebagai wadah pengumpulan dan pendokumentasian berbagai karya budaya, seperti naskah kuno, cerita rakyat, musik tradisional, tarian, dan kerajinan tangan. Koleksi ini tidak hanya berupa bahan cetak, tetapi juga bisa berbentuk digital, audio, dan video yang mendukung pelestarian budaya secara menyeluruh. Dengan adanya dokumentasi yang baik, generasi muda dapat belajar dan mengenal budaya lokal secara autentik tanpa harus bergantung pada cerita lisan yang rentan mengalami perubahan.

Selain itu, perpustakaan sebagai pusat pelayanan budaya lokal juga berperan sebagai pusat edukasi dan pengembangan sumber daya manusia di bidang kebudayaan. Melalui berbagai program seperti lokakarya, pelatihan seni tradisional, pameran budaya, dan diskusi komunitas, perpustakaan dapat membantu meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap budaya mereka sendiri. Hal ini sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif agar budaya lokal tetap hidup dan berkembang, bukan hanya menjadi barang museum yang terlupakan.

Keberhasilan perpustakaan dalam menjalankan perannya sangat bergantung pada pengelolaan yang profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi. Transformasi digital menjadi salah satu kunci utama agar perpustakaan dapat menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk generasi milenial dan generasi Z yang sangat akrab dengan teknologi. Digitalisasi koleksi budaya lokal memungkinkan akses yang lebih mudah dan cepat, serta membuka peluang kolaborasi dengan institusi lain baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun, proses digitalisasi juga harus memperhatikan aspek keaslian dan hak cipta agar tidak merugikan pemilik budaya asli.

Perpustakaan sebagai pusat pelayanan budaya lokal juga harus mampu menjadi jembatan penghubung antara pemerintah, masyarakat adat, seniman, dan akademisi. Kerjasama lintas sektor ini krusial untuk menciptakan program-program yang relevan dan berkelanjutan dalam pelestarian budaya. Misalnya, pemerintah dapat memberikan dukungan kebijakan dan pendanaan, masyarakat adat berperan sebagai pemilik budaya, seniman menghidupkan budaya melalui karya, dan akademisi melakukan penelitian serta dokumentasi. Sinergi ini memperkuat posisi perpustakaan sebagai pusat komunitas yang tidak hanya menyimpan, tetapi juga mengembangkan budaya lokal.

Tantangan yang dihadapi perpustakaan pusat pelayanan budaya lokal tidak sedikit. Salah satunya adalah keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia yang memahami spesifikasi layanan budaya. Selain itu, tantangan dalam mengadaptasi teknologi dan menjaga keberlanjutan program juga menjadi perhatian utama. Oleh karena itu, diperlukan komitmen dari berbagai pihak untuk mendukung pengembangan perpustakaan ini melalui pelatihan, peningkatan fasilitas, serta peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian budaya.

 Penutup

Perpustakaan sebagai pusat pelayanan budaya lokal merupakan institusi yang sangat penting dalam menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya suatu daerah. Melalui fungsi pengumpulan, pendokumentasian, edukasi, dan fasilitasi interaksi sosial, perpustakaan berperan sebagai penjaga warisan budaya sekaligus agen perubahan yang mampu menghadirkan inovasi berbasis budaya. Keberhasilan perpustakaan ini sangat bergantung pada pengelolaan yang profesional, adaptasi teknologi, dan sinergi antar pemangku kepentingan.

Dengan dukungan yang memadai, perpustakaan sebagai pusat pelayanan budaya lokal tidak hanya menjadi tempat penyimpanan informasi, tetapi juga pusat kreativitas dan pembelajaran yang mampu memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat terhadap budayanya sendiri. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian serius dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan perpustakaan sebagai pusat pelayanan budaya lokal dan sebagai pilar utama pelestarian budaya di tengah arus globalisasi.

  

Sumber Rujukan:

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2021). Strategi Pelestarian Budaya Nasional. Jakarta: Kemendikbud.

Nasution, Z. (2018). Manajemen Perpustakaan Modern. Jakarta: Rajawali Pers.

Prasetyo, A. (2020). "Transformasi Digital dalam Perpustakaan Budaya Lokal," Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 12(3), 45-60.

Sari, D. P. (2019). Perpustakaan dan Pelestarian Budaya Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

UNESCO. (2017). Safeguarding Intangible Cultural Heritage. Paris: UNESCO Publishing.




Mengembangkan Koleksi Buku Elektronik di Perpustakaan

 Mengembangkan Koleksi Buku Elektronik di Perpustakaan



Pendahuluan

Perpustakaan selama ini dikenal sebagai pusat informasi dan pengetahuan yang menyediakan berbagai sumber daya dalam bentuk fisik, seperti buku cetak, majalah, dan dokumen lainnya. Namun, perkembangan teknologi digital telah menggeser paradigma tersebut dengan munculnya buku elektronik atau e-book. Buku elektronik menawarkan kemudahan akses, efisiensi ruang, serta fleksibilitas dalam penggunaan yang sebelumnya sulit dicapai oleh koleksi fisik. Di era digital saat ini, banyak perpustakaan di seluruh dunia mulai mengembangkan koleksi buku elektronik sebagai bagian integral dari layanan mereka. Tidak hanya untuk menjawab kebutuhan pengguna yang semakin dinamis dan mobile, tetapi juga sebagai upaya untuk mengoptimalkan pengelolaan sumber daya informasi. Oleh karena itu, pengembangan koleksi buku elektronik di perpustakaan menjadi sebuah agenda penting yang harus dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan strategis.

 


Isi

Pengembangan koleksi buku elektronik di perpustakaan memerlukan pemahaman komprehensif mengenai berbagai aspek, mulai dari kebutuhan pengguna, pemilihan koleksi, pengelolaan lisensi, hingga sosialisasi dan edukasi pengguna.

Pertama, memahami kebutuhan pengguna adalah langkah awal yang fundamental. Perpustakaan perlu melakukan analisis mendalam dengan metode survei, wawancara, serta pengumpulan data peminjaman untuk mengetahui jenis buku elektronik yang paling dibutuhkan oleh pengguna. Misalnya, perpustakaan akademik kemungkinan besar akan membutuhkan koleksi buku elektronik yang berkaitan dengan bidang studi tertentu, sedangkan perpustakaan umum mungkin lebih fokus pada koleksi populer dan literatur umum. Dengan memahami preferensi dan kebutuhan pengguna, perpustakaan dapat mengalokasikan anggaran untuk koleksi yang tepat sasaran, sehingga sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.

Kedua, pemilihan platform penyedia buku elektronik merupakan faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Saat ini, banyak penyedia layanan e-book yang menawarkan berbagai macam fitur. Perpustakaan harus memilih platform yang tidak hanya menyediakan konten yang sesuai, tetapi juga mudah diakses oleh berbagai perangkat seperti komputer, tablet, dan smartphone. Fitur seperti pencarian teks penuh, bookmark, anotasi, dan integrasi dengan sistem manajemen perpustakaan (Integrated Library System) akan sangat membantu pengguna dalam mengoptimalkan pemanfaatan koleksi. Selain itu, perpustakaan harus mempertimbangkan aspek keamanan digital dan perlindungan data pengguna dalam memilih penyedia layanan.

Ketiga, pengelolaan hak cipta dan lisensi dalam koleksi buku elektronik adalah aspek yang memiliki tantangan tersendiri dibandingkan buku fisik. Buku elektronik biasanya dilengkapi dengan Digital Rights Management (DRM), yang mengatur bagaimana buku tersebut bisa diakses, dipinjam, atau disebarluaskan. Perpustakaan harus memahami dan mematuhi ketentuan lisensi agar tidak melanggar hak kekayaan intelektual. Ada berbagai model lisensi yang digunakan, seperti lisensi berbasis pengguna, lisensi koleksi, atau lisensi akses terbuka. Memilih model lisensi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran perpustakaan menjadi kunci dalam menjamin layanan yang berkelanjutan dan legal.

Keempat, promosi dan edukasi kepada pengguna menjadi langkah penting agar koleksi buku elektronik dapat dimanfaatkan secara maksimal. Banyak pengguna yang belum familiar dengan layanan digital perpustakaan atau merasa kurang percaya diri dalam mengakses buku elektronik. Oleh karena itu, perpustakaan perlu menyelenggarakan pelatihan, workshop, atau sosialisasi secara berkala untuk mengenalkan cara mengakses, mencari, dan menggunakan buku elektronik. Selain itu, penyediaan panduan penggunaan dan layanan bantuan secara online dan offline akan sangat membantu dalam Meningkatkan keterjangkauan dan kenyamanan pengguna.

Kelima, pengembangan koleksi buku elektronik juga harus mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan inovasi. Perpustakaan perlu terus mengikuti perkembangan teknologi dan tren literasi digital agar dapat memperbarui koleksi dan layanan sesuai kebutuhan. Misalnya, integrasi buku elektronik dengan multimedia atau aplikasi pembelajaran interaktif dapat menjadi nilai tambah untuk menarik minat pengguna. Selain itu, perpustakaan juga dapat mengembangkan kerja sama dengan penerbit, institusi pendidikan, dan komunitas untuk memperluas akses dan koleksi digital.

Terakhir, evaluasi berkala terhadap koleksi dan layanan buku elektronik perlu dilakukan untuk mengukur efektivitas dan kepuasan pengguna. Data statistik peminjaman, feedback pengguna, serta analisis tren penggunaan akan menjadi bahan evaluasi yang berharga. Dengan evaluasi yang berkelanjutan, perpustakaan dapat melakukan perbaikan dan penyesuaian strategi pengembangan koleksi buku elektronik agar tetap relevan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

 

Penutup

Mengembangkan koleksi buku elektronik di perpustakaan merupakan sebuah proses yang kompleks dan membutuhkan perencanaan matang serta pelaksanaan yang konsisten. Koleksi buku elektronik tidak hanya menjawab tantangan keterbatasan ruang dan akses fisik, tetapi juga memperluas jangkauan layanan perpustakaan untuk menjangkau lebih banyak pengguna dengan cara yang lebih efisien dan fleksibel. Dengan pendekatan yang sistematis, mulai dari analisis kebutuhan pengguna, pemilihan platform dan lisensi, hingga edukasi dan evaluasi layanan, perpustakaan dapat memastikan koleksi buku elektroniknya memberikan manfaat maksimal. Keberadaan koleksi digital yang terkelola dengan baik akan memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat literasi dan informasi di era digital, sehingga dapat mendukung perkembangan pengetahuan dan pembelajaran yang inklusif dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.

 

Sumber Rujukan:

Lankes, R. D. (2011). The Atlas of New Librarianship. MIT Press.

Breeding, M. (2017). "E-books and libraries: current trends and future prospects." Library Technology Reports, 53(3), 5-12.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pengembangan Koleksi Digital Perpustakaan.

Tenopir, C., & King, D. W. (2000). Towards Electronic Journals: Realities for Scientists, Librarians, and Publishers. Special Libraries Association.




February 23, 2026

Mengenal dan Merawat Bromelia

 


Judul:                           Mengenal dan Merawat Bromelia                             

Penulis:                        Drs. Agus Andoko & Eddy Pranoto                 

Editor:                          Bagus Harianto

Penerbit:                      PT Agromedia Pustaka Jakarta                      

Tahun Terbit:              2008                           

Jumlah Halaman:     vi + 80 

ISBN:                             9790061471

Penulis Resensi:         Suharman, S.S., MIM.

Tanaman hias Bromelia termasuk tanaman hias yang punya banyak penggemar di Indonesia dan diseluruh dunia. Keindahan warna daun Bromelia yang semarak dan indah menjadi salah satu penyebab seringnya dipilih oleh landscaper atau pembuat taman untuk menhiasi sebuah taman. Kehadiran Bromelia, bukan hanya ditaman taman luar ruangan (outdoor) tetapi juga pada panggung pertemuan atau pesta.

Buku ini mencoba menguraikan berbagai tips dan trik perawatan Bromelia dan pengenalan berbagai macam jenis Bromelia. Terbagi menjadi 5 bagian diawali dengan penjelasan tentang asal usul Bromelia yang merupakan keluarga tanaman Nanas, yang berasal dari Amerika dan menyebar keseluruh dunia. Sifat dan syarat tumbuhnya tanaman hias Bromelia juga dijelaskan disini.

Selanjutnya ada pembahasan tentang jenis jenis Bromelia. Ada Ananas, Aechmea, Billbergia, Bromelia, Cryptanthus, Guzmania, Neoregelia, Nidularium, Tillandsia dan Vriesea. Semuanya memiliki corak dan warna tersendiri.

Pada bagian selanjutnya ada uraian tentang cara perbanyakan Bromelia, perbanyakan secara generatif dan perbanyakan secara vegetatif. Ada pula tata cara penanaman Bromelia.

Agar Bromelia cepat berbunga dan tampil menarik, dijelaskan pada bagian berikutnya. Dilanjutkan dengan teknik pengendalian hama dan pengendalian penyakit yang sering menyerang pada tanaman Bromelia.

Daya tarik utama tanaman hias Bromelia ada pada daunnya. Bentuk daun Bromelia umumnya lansing memanjang dengan warna warni seperti hijau, ungu tua, hingga merah dengan berbagai gradasi warna seperti kuning, jingga, hingga coklat tua. Berbeda dengan Nanas yang daunnya berduri, tanaman hias Bromelia, rata tanpa duri sehingga cukup aman ditanam di pekarangan rumah yang sering dijadikan tempat bermain anak anak.

Dinarasikan pula dalam buku ini bahwa, Bromelia juga memiliki bunga, namun pada umumnya para hobbiis atau penggemar Bromelia lebih memilih Bromelia berdasarkan keindahan warna dan corak daunnya.

Buku terbitan AgroMedia Pustaka ini sangat praktis dijadikan bahan referensi bagi para pencinta tanaman Bromelia. Selain membahas jenis jenis Bromelia juga memberikan tips dan trik perawatannya.  Ada pula tambahan penjelasan tentang teknik memperbanyak tanaman, dan membuat Bromelia cepat berbunga.

Kelebihan lain dari buku ini adalah ilustrasi foto jenis Bromelia cukup lengkap dengan warna warni daun yang indah sehingga menarik untuk dibaca. Struktur buku yang tidak terlalu tebal dan penyajian yang ringkas membuatnya mudah dibaca oleh pemula atau penggemar tanaman yang baru mulai tertarik pada bromelia. Formatnya cocok untuk panduan hobi, bukan teks akademis panjang. Bahasa yang digunakan cukup sederhana dan mudah dipahami oleh pembaca.

Pembahasan yang lebih teknis tentang tanaman hias Bromelia mungkin tidak terlalu mendalam pada buku ini, sehingga mungkin sebagian pembaca merasa kurang puas. Misalnya fisiologi tanaman bromelia, teknik lanjutan budidaya, atau pemecahan masalah yang kompleks mungkin tidak dibahas tuntas. Pencegahan hama tanaman juga kurang lengkap, mungkin perlu ditambah lagi misalnya pengendalian hama/penyakit spesifik, perbanyakan lewat teknik modern, atau variasi perawatan menurut varietas bromelia tertentu.

engenal dan Merawat Bromelia merupakan panduan praktis yang cocok untuk pecinta tanaman hias — khususnya pemula yang ingin mengenal tanaman bromelia dari dasar hingga perawatan dasar. Kelebihan utamanya adalah fokus praktis dan format yang ramah pembaca non-akademik. Kekurangannya terletak pada kedalaman teknis yang terbatas dan sedikitnya ulasan pembaca umum, sehingga hobiis lanjutan mungkin perlu melengkapinya dengan referensi lain jika ingin memperdalam teknik perawatan tertentu.

Buku Koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan



Buku Panduan Menulis

 



Judul:                            Jadi Penulis? Siapa Takut                               

Penulis:                         Alif Danya Munsyi

Editor:                           Indradya SP

Penerbit:                      Kaifa, Bandung

Tahun Terbit:              2012

Jumlah Halaman:     vi + 270

ISBN:                             9786028994781

Penulis Resensi:         Suharman, S.S., MIM.

Buku ini membahas topik tentang kepenulisan, bagaimana menjadi seorang penulis, baik penulis fiksi maupun non-fiksi. Atau bahkan bisa menjadi penulis fiksi sekaligus penulis non-fiksi, karena kedua duanya diuraikan secara gamblang pada buku ini. Penulis buku ini adalah seorang wartawan penerima Tirto Adhi Soerjo Award pada 2008. Penulis selain menulis artikel, essai, kolom, kritik seni di media, ia juga menulis puisi, novel dan drama. Penulis buku ini juga dikenal dengan nama samaran lainnya yaitu Remy Sylado.

Dalam buku yang setebal 270 halaman ini, selain mengupas tentang tips dan trik menulis, juga dibahas tentang pentingnya membaca, bakat, kemauan belajar, proses kreatif, sejarah tulis menulis, sejarah sastra, pengaruh gaya dan visi kepenulisan, dan topik topik lainnya. Semua topik itu sangat menunjang dalam dunia kepenulisan.

Buku ini terbagi menjadi 11 bagian, diawali dengan topik bagaimana membaca dalam proses pembelajaran. Yang menarik karena penulis menyusun tulisannya secara poin poin yang sistematis sehingga praktis dan mudah dipahami. Topik lain pada bagian awal ini ada tentang kebudayaan menulis, pemahaman kata kata, bagaimana membaca terjemahan.

Bagi pembaca yang senang dengan puisi, ada bagian yang membahas tentang teknik menulis puisi. Ada pula teknik penulisan berita, penulisan kritik, penulisan esai, dan teknik penulisan fiksi seperti cerita, novel dan drama. Yang menarik juga adalah pada bagian akhir buku ini, ada Indeks, dimana para pembaca dapat mencari topik yang ingin dibacanya. Indeks biasanya disusun menjadi 3 bagian, ada indeks topik, indeks nama tempat dan indeks nama orang. Dalam buku ini, indeks digabungkan menjadi 1 indeks. Pada bagian akhir ada riwayat hidup singkat penulis buku.

Buku ini cukup lengkap dalam pembahasan setiap bagiannya, misalnya pada bagian “pemahaman kata kata”, diuraikan secara ringkas tentang bagaimana terbentuknya kosa kata tertentu dalam bahasa Indonesia. Sementara pada bagian “penulisan Esai” disebutkan bahwa Esai adalah bentuk langsung dari opini. Dengan kata lain, opini pribadi yang ditulis dengan pertimbangan obyektif, maka akan memberikan pengetahuan tertentu kepada pembacanya.

Ada pembahasan menarik pada bagian “penulisan novel” yaitu tentang sosok sentral dalam novel yang sedang ditulis. Sosok sentral tersebut bisa menjadi ‘aku’ atau bisa juga menjadi ‘dia’ yaitu orang ketiga tunggal. Pada buku ini, penulis memberikan pula contoh penggunaan sosok ‘aku’ dan sosok ‘dia’ dalam sebuah novel sehingga pembaca akan lebih mudah memahami buku ini.

Banyak kelebihan buku ini, diantaranya pembahasannya tentang topik penulisan, sangat lengkap sehingga pembaca dapat memilih jenis tulisan apa yang hendak ditulisnya. Nama besar penulisnya juga menjadi daya tarik tersendiri, karena selain penulis, juga seorang seniman, aktor, dramawan yang telah menerima banyak penghargaan. Gaya bahasa sangat mudah dipahami sehingga pembaca pemula atau penulis pemula pun dengan mudah memahaminya.

Namun demikian, ada beberapa topik yang mungkin terasa tidak tuntas bagi sebagian pembaca, misalnya topik penulisan puisi, tidak dibahas secara mendalam. Bagi sebagian pembaca mungkin kurang suka karena tidak adanya ilustrasi gambar yang menarik pada buku ini. Ulasan buku ini juga belum banyak ditemukan di media cetak maupun media daring.

Buku ini sangat bermanfaat bagi pembaca karena cakupan penulisannya sangat luas, namun ada beberapa topik yang pembahasannya tidak mendalam.

Buku ini koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Provinsi Sulawesi Selatan.