Latoa adalah sejenis lontara' dalam kepustakaan berbahasa Bugis dari Tana-Bone. Penulisan Latoa, diduga pada zaman Raja Bone ke-7 yang bernama La Tenrirawa Bongkannge (1560-1578). Baginda mempunyai seorang penasihat, orang bijaksana bernama La Mellong. La Mellong adalah seorang anak Kepala Desa, di sebuah desa yang bernama Laliddong dalam wanua (=negeri) Cina, Tana-Bone. La Mellong inilah pada masa tuanya terkenal dengan sebutan Kajao Laliddo, yang berarti orang pandai (bijaksana) dari Laliddo, atau orang-tua (berasal) dari Laliddo.
Lontara' Latoa memiliki ciri khas yaitu digunakan sebagai rapang (petunjuk) dalam kehidupan orang Bugis, berisi kumpulan ucapan-ucapan, petuah-petuah dari raja-raja dan orang-orang bijaksana orang Bugis-Makassar, dari zaman dahulu mengenai berbagai masalah, khususnya kewajiban-kewajiban raja dan abdi raja terhadap negara dan rakyatnya, disampingi hak-hak dan kewajiban rakyat terhadap raja dan negaranya.
Adapun raja-raja dan orang-orang bijaksana yang terdapat buah pikiran, petuah-petuah petunjuk-petunjuknya dalam Latoa, ialah:
- Kajao Laliddo
- Tau-riolo
- MatinroE ri Tanana
- Petta Maddanrennge
- Aru Bila
- Nabi Muhammad (Rasul Allah)
- Lukmanual Hakim
- KaraEtta ri Cenrana
- Petta MatinroE ri Lariang-banngi
- Puang ri Maggalatung
- KaraEng MatoaE
- Arumpone MatinroE ri-Addenenna
Sebagai rapang, Latoa berisi kata-kata bijak, gagasan dan informasi yang disampaikan oleh raja-raja dan beberapa intelektual Bugis dan Makassar terkemuka di masa lalu (sekitar abad ke-14 hingga ke-17).
Melalui Latoa kehidupan Kerajaan Bugis dan Makassar seperti Bone, Gowa, dan Wajo yang menganut prinsip panngaderreng direkonstruksi. Rekonstruksi tersebut mencakup berbagai lembaga dan lembaga otoritas yang masih memegang peranan penting di kalangan orang Bugis dan Makassar hingga saat ini. Di dalamnya termasuk (1) sikap spontan mereka, (2) struktur dan stratifikasi sosial mereka, (3) perilaku dan adat istiadat mereka yang sering dianggap sebagai sesuatu yang unik, (4) cara mereka melestarikan peradaban yang ditunjukkan oleh kehidupan mereka. siklus.
Sejarah Sulawesi Selatan yang bersumber dari dokumen tertulis hanya sedikit yang dapat mengungkap masa lalu , sekitar abad ke-14 dan seterusnya. Perjalanan sejarah Sulawesi Selatan yang sumbernya dari dokumen tertulis disebut periode lontara' dan periode galigo.
Selama periode galigo, para dewa dan putra dewa yang diutus dari surgalah yang menjadi sumber kekuatan dan kebajikan. Manusia hanya menundukkan diri dan dengan patuh menerima otoritas dan keinginan mereka yang berkuasa.
Selama periode lontara, orang-orang biasa secara bertahap mengambil sendiri aturan-aturan untuk menjaga diri mereka sendiri dan komunitas mereka. Peran manusia sudah mulai menjadi pusat kegiatan dan sumber segala urusan negara dan masyarakat.
Kerajaan Bugis dan Makassar masa lontara yang mulai terbentuk pada awal abad ke-15 harus melalui banyak rintangan, seperti perang antara kerajaan Bugis dan Makassar sendiri dan perang melawan orang Eropa (Belanda, Inggris dan Portugis). Hampir pada saat yang bersamaan Islam datang dan diterima oleh masyarakat Sulawesi Selatan, raja-raja dan para pemimpinnya telah terlebih dahulu memeluk agama baru. Akibatnya banyak terjadi perubahan dan perubahan tersebut tidak mendukung keberlangsungan pencerahan yang dimulai pada masa lontara.
Buku LATOA: Satu Lukisan Analisis terhadap Antropologi-Politik Orang Bugis merupakan pedoman dalam mendekati dan memimpin orang Bugis dan Makassar menuju kemajuan dan pembangunan di segala bidang. Buku ini merupakan disertasi untuk memperoleh gelar doktor dalam ilmu Antropologi pada Universitas Indonesia, dan menjadi salah satu literatur milik layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
LATOA: Satu Lukisan Analisis terhadap Antropologi-Politik Orang Bugis
(A Descriptive Analysis of the Political Antrhopogy of the Buginese)
Penyusun: Mattulada
Penerbit: Universitas Indonesia
Tahun Terbit: 1975