August 2, 2022

LATOA: Satu Lukisan Analisis terhadap Antropologi-Politik Orang Bugis


Latoa adalah sejenis lontara' dalam kepustakaan berbahasa Bugis dari Tana-Bone. Penulisan Latoa, diduga pada zaman Raja Bone ke-7 yang bernama La Tenrirawa Bongkannge (1560-1578). Baginda mempunyai seorang penasihat, orang bijaksana bernama La Mellong. La Mellong adalah seorang anak Kepala Desa, di sebuah desa yang bernama Laliddong dalam wanua (=negeri) Cina, Tana-Bone. La Mellong inilah pada masa tuanya terkenal dengan sebutan Kajao Laliddo, yang berarti orang pandai (bijaksana) dari Laliddo, atau orang-tua (berasal) dari Laliddo.

Lontara' Latoa memiliki ciri khas yaitu digunakan sebagai rapang (petunjuk) dalam kehidupan orang Bugis, berisi kumpulan ucapan-ucapan, petuah-petuah dari raja-raja dan orang-orang bijaksana orang Bugis-Makassar, dari zaman dahulu mengenai berbagai masalah, khususnya kewajiban-kewajiban raja dan abdi raja terhadap negara dan rakyatnya, disampingi hak-hak dan kewajiban rakyat terhadap raja dan negaranya.

Adapun raja-raja dan orang-orang bijaksana yang terdapat buah pikiran, petuah-petuah petunjuk-petunjuknya dalam Latoa, ialah:

  1. Kajao Laliddo
  2. Tau-riolo
  3. MatinroE ri Tanana
  4. Petta Maddanrennge
  5. Aru Bila
  6. Nabi Muhammad (Rasul Allah)
  7. Lukmanual Hakim
  8. KaraEtta ri Cenrana
  9. Petta MatinroE ri Lariang-banngi
  10. Puang ri Maggalatung
  11. KaraEng MatoaE
  12. Arumpone MatinroE ri-Addenenna
Sebagai rapang, Latoa berisi kata-kata bijak, gagasan dan informasi yang disampaikan oleh raja-raja dan beberapa intelektual Bugis dan Makassar terkemuka di masa lalu (sekitar abad ke-14 hingga ke-17).

Melalui Latoa kehidupan Kerajaan Bugis dan Makassar seperti Bone, Gowa, dan Wajo yang menganut prinsip panngaderreng direkonstruksi. Rekonstruksi tersebut mencakup berbagai lembaga dan lembaga otoritas yang masih memegang peranan penting di kalangan orang Bugis dan Makassar hingga saat ini. Di dalamnya termasuk (1) sikap spontan mereka, (2) struktur dan stratifikasi sosial mereka, (3) perilaku dan adat istiadat mereka yang sering dianggap sebagai sesuatu yang unik, (4) cara mereka melestarikan peradaban yang ditunjukkan oleh kehidupan mereka. siklus.

Sejarah Sulawesi Selatan yang bersumber dari dokumen tertulis hanya sedikit yang dapat mengungkap masa lalu , sekitar abad ke-14 dan seterusnya. Perjalanan sejarah Sulawesi Selatan yang sumbernya dari dokumen tertulis disebut periode lontara' dan periode galigo.

Selama periode galigo, para dewa dan putra dewa yang diutus dari surgalah yang menjadi sumber kekuatan dan kebajikan. Manusia hanya menundukkan diri dan dengan patuh menerima otoritas dan keinginan mereka yang berkuasa.

Selama periode lontara, orang-orang biasa secara bertahap mengambil sendiri aturan-aturan untuk menjaga diri mereka sendiri dan komunitas mereka. Peran manusia sudah mulai menjadi pusat kegiatan dan sumber segala urusan negara dan masyarakat.

Kerajaan Bugis dan Makassar masa lontara yang mulai terbentuk pada awal abad ke-15 harus melalui banyak rintangan, seperti perang antara kerajaan Bugis dan Makassar sendiri dan perang melawan orang Eropa (Belanda, Inggris dan Portugis). Hampir pada saat yang bersamaan Islam datang dan diterima oleh masyarakat Sulawesi Selatan, raja-raja dan para pemimpinnya telah terlebih dahulu memeluk agama baru. Akibatnya banyak terjadi perubahan dan perubahan tersebut tidak mendukung keberlangsungan pencerahan yang dimulai pada masa lontara.

Buku LATOA: Satu Lukisan Analisis terhadap Antropologi-Politik Orang Bugis merupakan pedoman dalam mendekati dan memimpin orang Bugis dan Makassar menuju kemajuan dan pembangunan di segala bidang. Buku ini merupakan disertasi untuk memperoleh gelar doktor dalam ilmu Antropologi pada Universitas Indonesia, dan menjadi salah satu literatur milik layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.



LATOA: Satu Lukisan Analisis terhadap Antropologi-Politik Orang Bugis
(A Descriptive Analysis of the Political Antrhopogy of the Buginese)
Penyusun: Mattulada
Penerbit: Universitas Indonesia
Tahun Terbit: 1975





August 1, 2022

Basri Masse: MENJELANG DAN SESUDAH DIGANTUNG

Basri Masse (37 tahun) asal Pare-Pare, Sulawesi Selatan, dihukum mati berdasarkan keputusan Hakim Dato Abu Mansor bin Ali "terdakwa pada 16 Pebruari 1983, pukul 7.30 malam, di jalan Terawi, kilometer 10, Putatan, di dalam distrik Kota Kinabalu, di negara bagian Sabah, berdagang obat terlarang 935 gram.

Sebelum di gantung Basrri Masse di periksa oleh dokter dan Shalat subuh, dan pada pukul 06.00 sudah berada di ting gantungan, di kawal dua algojo yang memakai penutup kepala, mereka bertugas memborgol kaki dan tangan. Kaki yang di borgol diberi karung berisi pasir sebagai pemberat. Sementara di tiang gantungan, tali gantungan yang terbuat dari serat seperti sutra dan terbungkus kulit hewan, dimasukkan ke leher Basri oleh algojo. 

Pukul enam tepat eksekusi berlangsung. Basri yang berdiri di kursi dihentakkan hingga terlepasnya kursi dan membuat badannya terjatuh. 

Peristiwa bersejarah Basri Masse mengingatkan pada monumen lain dalam khazanah sejarah di Mandar. Kisah seorang Ratu Mandar berdaulat yang mengeksekusi anak kandungnya tercinta di atas pangkuan dan dengan tangannya sendiri. Air mata Sang Ratu yang ibu itu mengalir mengiring darah segar yang mengucur deras dari leher putih merekah Sang Pangeran. 

Kisah kearifan Mandar tersebut, antara lain mengisyaratkan betapa komitmen pada keselarasan sebagai asas yang menjamin lestari dan dinamisnya ekosistem, pantang dikorbankan lantaran cinta.

Kisah ini di kutip dari klipping berita Harian Fajar 1989-1990, Basri Masse: MENJELANG DAN SESUDAH DIGANTUNG, yang khusus membuat pemberitaan mengenai Basri Masse sejak mulai di vonis hukum mati hingga sesudah digantung. Kisah ini berdasarkan kumpulan wartawan Fajar Shaifuddin Kadir mengumpulkan kembali hasil semua tulisan hasil liputannya. Klipping Berita ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.




KARAENG PATTINGALLOANG

Karaeng Pattingalloang adalah sosok negarawan dan cendekiawan di abad 16 silam. Dia adalah Raja Tallo dan Mangkubumi Kerajaan Gowa berpasangan dengan Raja Gowa XV Sultan, Malikussaid (1639-1656). Menguasai beberapa bahasa asing, seperti bahasa Portugis, Spanyol, Prancis, Inggeris, Belanda, Arab, latin serta beberapa bahas di negara Asia. Piawai dalam berbagai disiplin ilmu utamanya ilmu pengetahuan dari barat. Tak heran bila Alexander Rhides, salah seorang Portugis berkata, bahwa "Karaeng Pattingalloang adalah orang yang menguasai rahasia ilmu barat. Ia adalah orang pertama di Asia Tenggara yang menyadari pentingnya matematika guna ilmu-ilmu terapan (aplied science), la juga adalah orang yang pertama menggunakan teleskop "Galilean Prospective Glass" yang membuktikan bahwa Gowa pada tahun 1652 telah ikut berkecimpung dalam semangat renaisance ilmu pengetahuan barat. Di zamannya belia telah mampu membawa Gowa sampai pada puncak keemasan (golden age). 

Karaeng Pattingalloang berpesan, kalau seseorang yang telah menduduki suatu jabatan sebagai pemimpin, maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan: Sitaua Tumapparentata Punna Ilalangna Apparenta Nanaballaki Tallua Rupanna Panggaukang Maka Langngerang Kamunapekang. Iami antu, Uru-uruna; Nirannuangi Tamalaku-laku, Makaruannya, Ajjanji Tanaruppai, Maka Talluna Nitanra Lambusu Najekkong. Artinya, Seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinannya, terdapat tiga hal yang membawa kemunafikan, yakni: Pertama, diberi amanah tapi khianat, kedua, berjanji tapi ingkar dan ketiga, dianggap jujur tapi curang.

Tallu Tongi Rupanna Panggaukang Ri se'rea Tumapparentata Angngerang Kapangrakang: Ada tiga perbuatan yang akan membawa kerusakan, yakni :

  1. Punna Addanggangmo Tumapparentaya. ( Pemimpin mulai berdagang) artinya, setiap aktivitas yang dilaku. kan sudah ada perhitungan untung, sudah meninggalkan rasa pengabdian.
  2. Punna Annarimamo Passoso' Tumapparentaya, Artinya, kalau pemimpin menerima sogok setiap melakukan kebijakan.
  3. Punna Teyamo Annarima Pappasaile Tumapparentaya. Artinya, pemimpin tidak mau lagi menerima nasehat, maka tunggulah kerusakannya negeri dan keterpurukan kehidupan masyarakat.

Buku KARAENG PATTINGALLOANG membahas tentang sosok cendekiawan dan negarawan Gowa yang telah berhasil mencapai puncak kejayaan dengan menguasai beberapa daerah kerajaan di wilayah timur nusantara ini. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang-Makassar.


KARAENG PATTINGALLOANG
Penulis: Zainuddin Tika, Muh. Ridwan Syam
Editor: H. Syamsuddin Dg. Ngalli
Penerbit: Perusahaan Daerah "Karya"
Tempat Terbit: Sungguminasa




July 29, 2022

PERTEMPURAN PANDANG-PANDANG

Pertempuran Pandang-pandang adalah barometer keberhasilan para pejuang kelaskaran dan Tentara Pelajar di Sulawesi Selatan dalam menumpas berdirinya Negara Indonesia Timur. Pertempuran tersebut meletus pada hari Rabu sekitar jam 06.00 tanggal 5 April 1950, setelah sebelumnya ada tanda-tanda diserang oleh musuh KNIIL, seperti adanya laporan seorang anak kecil yang memberitahu bahwa sejumlah pejuang sudah ditawan tentara KNIL di Makassar. Ditambah lagi adanya sepucuk surat dari Panglima KMTIT yang dibawa oleh Kapten CPM Hertasning kepada Letnan Muda Andi Hasanuddin Oddang. Isi surat itu antara lain menginformasikan bahwa gerakan pemberontakan akan terus terjadi di Sulawesi, menyusul adanya pejuang-pejuang asal Sulawesi banyak gugur pada peristiwa APRA di Bandung.

Untuk menumpas dan membubarkan NIT, pemerintah Indonesia mendirikan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia) pada tahun 1949, atas persetujuan pemerintah Hindia Belanda--Indonesia pada Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Nederland. Ketika itu, APRIS secara hierarki berada di bawah KMTIT (Komisi Militer Teritorial Indonesia Timur) dengan Panglimanya adalah Letkol A.J. Mokoginta.

Sebagai tempat latihan prajurit APRIS dan anggota recruitment yang berasal dari berbagai daerah di Sulawesi, maka Asrama Pandang-pandang merupakan lokasi yang amat strategis. Bekas Asrama Pandang-pandang tersebut, kini masih menjadi Kantor Kodim Kabupaten Gowa, yang terletak di Sungguminasa.

Asrama atau Kampement Pandang-pandang mempunyai sejarah tersendiri yang harus kita ukir dengan tinta emas, karena disanalah para pejuang dilatih untuk menguasai medan pertempuran, dalam rangka mempertahankan Negara Kesatuan RI, sekaligus berhasil membubarkan NIT. Adapun yang mengendalikan Asrama Pandang-pandang adalah Letda Surya Sudjono (asal Jawa), Lettu Andi Sapada (asal Sulsel). Sebelumnya yang menjadi Komandan Kampement Pandangpandang adalah Andi Sapada, kemudian dilanjutkan oleh Letda Surya Sudjono dengan wakil Komandannya adalah Letnan Muda Andi Hasanuddin Oddang (asal Wajo).

Asrama Pandang-pandang Sungguminasa, Gowa, diresmikan tanggal 29 Januari 1950, yang dijadikan tempat pendidikan dan latihan militer bagi anggota-anggota geriliya di Sulawesi. Asrama Pandang-pandang biasa juga disebut Kampement Pandang-pandang.

Buku PERTEMPURAN PANDANG-PANDANG menggambarkan tentang peristiwa pertempuran Pandang-Pandang yang merupakan salah satu sejarah perjuangan di Sulawesi Selatan sebelum proklamasi kemerdekaan RI dan setelah proklamasi RI hingga 1947. Terutama ketika NICA-Belanda hendak melakukan agresi militer ketiga kalinya di tahun 1950. Oleh karena itu, Pertempuran Pandang Pandang (Gowa: Sungguminasa) merupakan momentum sejarah perjuangan yang sesungguhnya menjadi barometer penghapusan terbentuknya Negara Indonesia Timur (NIT). Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERTEMPURAN PANDANG-PANDANG 
Penulis: Syahruddin Yasen
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 979-3570-87-3

KARAENG GALESONG MELAWAN VOC DI JAWA TIMUR

Karaeng Galesong adalah salah satu anak dari Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa dari istri keempat, yaitu I Loqmoq Toboq. Nama asli Karaeng Galesong adalah 1 Maninrorie dan memiliki nama istana I Kare Tojeng. Nama Karaeng Galesong adalah sebuah gelar yang berarti raja di negeri atau di daerah Galesong yang telah diberikan kepada I Maninrorie setelah terpilih menjadi Karaeng oleh rakyat Galesong.

Buku KARAENG GALESONG MELAWAN VOC DI JAWA TIMUR membahas tentang latar belakang dan perjuangan serta akhir perjuangan Karaeng Galesong di Jawa Timur untuk melawan VOC. Buku ini merupakan salah satu koleksi layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.

Latar Belakang Karaeng Galesong Berjuang Melawan VOC di Jawa Timur:

  • Pada tanggal 18 November 1667, Kerajaan Gowa secara resmi ditaklukkan oleh VOC dan Arung Palakka dengan ditandatanganinya Perjanjian Bungaya. Karaeng Galesong dan tokoh-tokoh Makassar lainnya yang tidak menyetujui perjanjian tersebut pergi dari Makassar untuk tetap melawan VOC dan Arung Palakka, dengan melakukan peperangan dan perompakan di lautan.
  • Pada tahun 1673, Karaeng Galesong dan pasukannya menyerang Sumbawa yang merupakan wilayah 'milik' VOC berdasarkan Perjanjian Bungaya, dan mereka tinggal di sana sampai tahun 1674.
  • Pada tahun 1674, orang-orang Makassar mendapatkan Demung, sebagai wilayah basisnya.
  • Tahun 1674, orang-orang Makassar yang ada di Demung melakukan aksi penyerangan pertama di Gresik, namun dapat dipukul mundur oleh VOC.
  • Pada akhir 1674, Karaeng Galesong dan beserta pasukannya pindah ke Bali setelah kematian teman seperjuangannya, Karaeng Tallo.
  • Tahun 1675, Karaeng Galesong dan pasukannya tiba di Jawa Timur dan bergabung dengan orang-orang Makassar di Demung untuk merencanakan aksi penyerangan kedua.
Perjuangan Karaeng Galesong Melawan VOC di Jawa Timur

  • Pada awal 1675, Karaeng Galesong dan pasukannya ke Jawa Timur dan bergabung dengan orang-orang Makassar yang menuju ke Jawa Timur sebelumnya, dan menetap di Demung, Besuki.
  • Pada tahun 1675, Karaeng Galesong memutuskan untuk karena bekerja sama dengan Trunojoyo, mereka memiliki musuh yang sama yaitu VOC dan Mataram. Setelah itu, aliansi ini berhasil menguasai wilayah-wilayah penting, seperti Surabaya, Gresik, Pajarakan, Gerongan, Pasuruan dan lainnya.
  • Tahun 1676, VOC bekerja sama dengan Mataram berhasil menghancurkan kapal-kapal Makassar dan membuat Karaeng Galesong dan pasukannya keluar dari Demung dan menuju ke Madura untuk membentuk kekuatan bersama Trunojoyo.
  • Akhir tahun 1676, aliansi Karaeng Galesong dan Trunojoyo banyak mendapatkan kemenangan. Bisa dikatakan seluruh Jawa Timur, Semarang, Demak sampai Cirebon dapat dikuasai aliansi ini, kecuali Jepara. 5. Desember 1676, Karaeng Galesong dan Trunojoyo mulai muncul perselisihan karena mereka telah berbeda tujuan.
  • Pertengahan Januari 1677, perselisihan antara Karaeng Galesong dan Trunojoyo tetap berlanjut, meskipun begitu Karaeng Galesong tetap netral dan tidak mau memihak VOC.
Akhir dari Perjuangan Karaeng Galesong Melawan VOC di Jawa Timur
  • Pertengahan Januari 1677, perselisihan antara Karaeng Galesong dan Trunojoyo terus berlanjut.
  • Perselisihan tersebut dimanfaatkan oleh Laksamana Speelman merebut Surabaya dari Trunojoyo pada Mei 1677.
  • Pada peristiwa jatuhnya Surabaya, Karaeng Galesong dan pasukannya sudah pindah ke Pasuruan karena Demung tidak aman lagi.
  • Agustus 1677, Karaeng Galesong dan pasukannya menemukan tempat pertahanan yang kuat dan bagus, yaitu di Kakaper atau Keper.
  • VOC dan Arung Palakka bekerjasama untuk mengalahkan pertahanan orang-orang Makassar di Kakaper. Mereka berhasil menjatuhkan benteng Kakaper pada tahun 1679. Karaeng Galesong dan pasukannya melarikan diri di Ngantang. 
  • Di Ngantang, Karaeng Galesong wafat pada tanggal 21 November 1679.


SEJARAH PERJUANGAN
KARAENG GALESONG MELAWAN VOC DI JAWA TIMUR ABAD 17
Penyusun: Melda Amelia Rohana
Penerbit: Universitas Negeri Malang'
Tempat Terbit: Malang
Tahun Terbit: 2017