April 29, 2021

SASTRA KLASIK BUGIS MAKASSAR

Sastra klasik Bugis-Makassar adalah suatu karya sastra yang ditandai oleh lokalitas pengarangnya. Karya sastra klasik yang di maksud adalah mitos, lagenda, dongeng, mantera, perjanjian adat, undang-undang, surat perjanjian dan naskah-naskah tentang budaya dan agama yang ada dalam komunitas Bugis.

Sebelum Islam masuk di Sulawesi Selatan, karya satra Bugis masih diwarnai oleh pemahaman tentang ilmu-ilmu mistik. Kepercayaan terhadap toriolo (nenek moyang) yang tercermin pada adat kebiasaan sehari-hari seperti kelahiran anak, kematian, pernikahan, pengobatan penyakit, mamasuki hutan, masa panen sawah, turun ke laut, turun ke sungai, masuk rumah baru, pergi merantau dan menuju medan perang. Tari-tarian yang diiringi musik dan mantra yang dilagukan dengan irama yang mengikuti pola kepercayaan lama menunjukkan tentang pemahaman ilmu mistik. Mantra tersebut merupakan hasil perenungan dan imajinasi yang tersusun dari kata dan kalimat yang berbentuk puisi dan dipercaya memiliki kekuatan mistik. Mantra pada era modern digolongkan sebagai bentuk sastra klasik.

Buku SASTRA KLASIK BUGIS MAKASSAR membahas tentang periode sastra Bugis Makassar klasik, Tokoh-tokoh sastra klasik Bugis Makassar, Jenis-jenis Sastra Bugis Klasik, karya sastra Bugis-Makassar klasik dan bicara attoriolong dan pau kotika.

Periode Sastra KLasik Bugis-Makassar

  1. Zaman Lagaligo
  2. Zaman To Manurung
  3. Zaman Kerajaan
  4. Zaman penjajahan
  5. Zaman Pra Kemerdekaan
Tokoh-tokoh Satra Klasik Bugis-Makassar

  1. La Galigo
  2. Raja Ali Haji
  3. Daeng Pamatte
  4. Kajao La Liddong
  5. Puang Ri Maggalatung
  6. Syekh Yusuf Al-Makassary AL-Banteny
  7. La Temmassongek To Appawelling
  8. Al-Barazanji
Jenis-jenis Sastra Bugis Klasik
  1. Sastra Legenda
  2. Sastra Sejarah
  3. Sastra Bugis-Melayu
  4. Sastra Hukum
  5. Sastra Biografi
  6. Pappaseng To Matoa
Karya Sastra Bugis-Makassar klasik
  1. Pau-pau ri Kadong
  2. Sastra Lagenda
  3. Sastra Sejarah
  4. Sastra Islam
Bicara attoriolong dan pau kotika
  1. Bicara attoriolong
  2. Pau kotika
  3. Surek nasihat Nabi Muhammad SAW
  4. Puisi klasik Bugis (meminang)
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar sebagai informasi ilmu pengetahuan karya sastra juga dapat berfungsi pembelajaran dari generasi ke generasi.


SASTRA KLASIK BUGIS MAKASSAR 
Penulis: Kasma F. Amin
Editor:  Muliadi
Penerbit: Garis Khatulistiwa
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978 502 73980 1 6


April 28, 2021

MAESTRO 27 KARAENG BUGIS-MAKASSAR

Keberadaan para karaeng tidak lepas dari pertahanan terhadap eksistensi Sulawesi. Nama Celebes (Sulawesi) berasal dari bahasa Portugis. Dalam tahun 1941, Nicholas Dechiens dalam sebuah map (peta) yang digambarkannya memberikan nama dengan "Pontas dos Celebes" (Antonio Pinto da France, "Portuguese Influence Indonesia"). Celebes terdiri dari 5 provinsi. Salah satunya adalah provinsi Sulawesi Selatan.

Makna karaeng hanyalah simbol kebangsawanan di tanah Makassar-Gowa, sebagai penghargaan terhadap seorang manusia yang telah berjasa memimpin dan berjuang mempertahankan tanah airnya. Buku MAESTRO 27 KARAENG BUGIS-MAKASSAR mengungkap  kisah kepahlawanan dan strategi politik, terutama setelah berakhirnya masa Kerajaan Gowa, sejak 1946-1960 yang dipangku oleh Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng La Lolang Sultan Muhammad Abd. Kadir Aiduddin Tumenanga ri Jongaya, serta rangkaian diskursus peristiwa dan kejadian seputar perjuangan para karaeng melawan VOC-Belanda, 27 karaeng tersebut adalah:

  1. Karaeng Bangkala
  2. Karaeng Bayo
  3. Karaeng Bontomajannang
  4. Karaeng Bontomangape
  5. Karaeng Bontomarannu
  6. Karaeng Bura'ne
  7. Karaeng Galesong
  8. Karaeng Karunrung
  9. Karaeng Lakiung
  10. Karaeng Langello
  11. Karaeng Katangka
  12. Karaeng Lambang Parang
  13. Karaeng Kajenne
  14. Karaeng Layu
  15. Karaeng Moroangin
  16. Karaeng Motowaya
  17. Karaeng Naba
  18. Karaeng Pattingalloang
  19. Karaeng Popo
  20. Karaeng ri Lengkese
  21. Karaeng ri Majennang
  22. Karaeng Siang
  23. Karaeng Suppa
  24. Karaeng Tumapa risi Kallonna
  25. Karaeng Tunatangka Lopi
  26. Karaeng Tunijallo
  27. Karaeng Tunipasulu
Buku ini merupakan koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar untuk menambah khazanah sejarah Makassar-Bugis di tingkat lokal.


MAESTRO 27 KARAENG BUGIS-MAKASSAR
Penulis: Syahruddin Yasen
Penerbit: Pustaka Refleksi
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISBN: 9789-3570-86-5

April 27, 2021

PERISTIWA TAHUN TAHUN BERSEJARAH DAERAH SULAWESI SELATAN DARI ABAD KE XIV s/d XIX

Kerajaan-kerajaan di Sulwesi Selatan terbagi atas kerajaan sebelum masa lontara dan kerajaan-kerajaan sesudah masa lontara. Kerajaan sebelum masa lontara di sebut Kerajaan Bugis Makassar Purba, masing-masing Kerajaan Ussu’ (kemudian dikenal dengan nama kerajaan Luwu) dan Kerajaan Siang (sekarang Pangkajene Kepulauan). Abad berdirinya kerajaan ini tidak dapat diketahui secara pasti. Namun beberapa ahli sejarawan di daerah ini sepakat mengatakan, bahwa Kerajaan Ussu’ atau Luwulah merupakan sebuah kerajaan tua yang yang kekuasaannya sangat besar di Sulawesi Selatan sebelum abad ke-XIV, dan juga merupakan cikal-bakal bagi adanya kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan yang baru berdiri sekitar abad ke-XIV.

Kerajaan Ussu' berpusat disekitar Kota Palopo, meliputi sebahagian tanah Bugis (termasuk Toraja), Luwu-Banggai, Gorontalo, serta sebagian wilayah daerah Sulawesi Tenggara yang kemudian daerah-daerah itu bernama: Tompotikka. Sedangkan Kerajaan Siang berpusat di sekitar Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dengan peta wilayah dari Maros sampai ke Tanete (Barru) termasuk seluruh kepulauan Spormondes.

Ketika Batara Guru, La Toge'tana naik takhta disekitar tahun 800 Masehi, Kerajaan Ussu' dirubah namanya menjadi Kerajaan Luwu. Beliau memperanakkan Batara Lattu yang kemudian melahirkan Sawerigading, tetapi ia tidak pernah menjadi raja dikerajaannya, walaupun Saweringading itu sebenarnya adalah seorang putera mahkota yang amat besar dan lagi terkenal. Hal ini karena beliau mempunyai kegemaran merantau atau berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain di dalam wilayah kepulauan Nusantara., bahkan sampai ke Semenanjung Melayu dan Tiongkok. Dari beliau ini (Saweringading) lahirlah I La Galigo yang kemudian namanya ditabalkan sebagai judul dari buku karya sastra yang terbesar di dunia pada jamannya, "Sure I La Galigo".

Masa I La Galigo kemudian digantikan oleh La Tenri Tatta dan masa terakhir dari zaman kekuasaan raja-raja lagendaris atau periode dewa-dewa. Setelah masa La Tenri berakhir maka Kerajaan Luwu memasuki zaman kegelapan, yaitu di mana tidak adanya pusat kekuasaan yang dapat mempersatukan rakyat Luwu. Masa ini dikenal dengan istilah "Sianre Baleni Tauwe" (maksudnya= siapa yang kuat itulah yang dapat bertahan hidup atau berkuasa). Masa kegelapan di Kerajaan Luwu ini berlangsung selama tujuhbelas generasi dan baru berakhir disekitar abad ke-XIV yakni ketika munculnya seorang tokoh atau penguasa baru yang dikenal "To Manurrung" (orang yang turun dari langit) "Simpuru Siang". Tokoh inilah yang diduga sebagai penyelamat dan pelanjut atau peletak dasar dari pemerintahan Luwu setalah melewati masa kegelapan/kekacauan selama 17 tahun lamanya. Periode To Manurrung Simpuru Siang disebut masa/periode lontara dalam sejarah Kerajaan Luwu.

Dari buku I La Galigo maupun dalam lontara Gowa menyebutkan, bahwa nenek moyang Sawerigading dari Kerajaan Luwu itu bersaudara dengan Sriwijaya. Sedangkan menurut sumber-sumber Portugis, bahwa sekitar tahun 1100 Masehi salah seorang Ratu dalam Kerajaan Siang yang bernama Gadimaro diperistrikan oleh Raja Ussu' Kerajaan Gowa disekitar abad ke-XIV, yakni pada zaman pemerintahan Raja Gowa ke-IX, Daeng Matanre Karaeng Mangutungi dengan gelar anumerta Tumapa'risi Kallonna. Akhirnya penaklukan itu Kerajaan Siang ke,mudian melebur diri secara integratif ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa, seperti malalui kawin-kawin antara kedua keluarga dan bangsawan itu.

Buku PERISTIWA TAHUN TAHUN BERSEJARAH DAERAH SULAWESI SELATAN DARI ABAD KE XIV s/d XIX menyajikan berbagai peristiwa serta tahun-tahun bersejarah yang membuktikan Sulawesi Selatan sejak dari dahulu telah memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai suatu bangsa, karena menentang setiap unsur yang berusaha merebut hak dan kedaulatannya. Buku ini salah satu kolekasi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


PERISTIWA TAHUN TAHUN BERSEJARAH DAERAH SULAWESI SELATAN DARI ABAD KE XIV s/d XIX
Penerbit: Rachmah, L. T. Tangdilintin, Aminah Pabittei, Ridwan Borahima
Penerbit: Kantor Wilayah Depdikbud Prov. Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1985

 

April 26, 2021

LONTARAK MAKASSAR ANPANNASSAI KARAENG UJUNG MONCONG'

Naskah lontarak Makassar berupa catatan hasil tulisan tangan dalam aksara gabungan Makassar dan Arab ditemukan di daerah Bangkala Kabupaten Jeneponto yakni naskah lontarak Anpannassai Karaeng Ujung Moncong'. Naskah ini tertulis pada bulan Muharram tahun 1245 H (1824M), sedangkan kandungan isinya memuat catatan mengenai mitos tu-manurung di Ujung Moncong, peristiwa dan tokoh sejarah di daerah Bangkala, berbagai gagasan vital, hukum, ajaran tentang etik dan moral, tatakrama dan berbagai nilai-nilai sosial budaya yang sampai saat ini tetap hidup dan mendapat dukungan dari warga masyarakat setempat.

Salah satu peristiwa sejarah yang tercatat dalam naskah lontarak Anpannassai Karaeng Ujung Moncong' ialah peperangan antara Kerajaan Kalimporo dan Ujung Moncong. Peperangan tersebut timbul karena adanya suatu perbedaan kepentingan antara Raja Kalimporo dan Karaeng Pauranga yaitu, menyangkut urusan Banrimanurung, istri Karaeng Pauranga.

Banrimanurung adalah seorang tokoh mitologis yang biasa dikenal sebagai tu-manurung, maksudnya orang yang turung dari kahyangan. Keluarbiasaan Banrimanurung sebagai tokoh tu-manurung, antara lain tidak diketahui asal usulnya, mempunyai kemampuan untuk menghilangkan diri dari pandangan manusia, mampu menyembunyikan diri di dalam sebatang bambu, mempunyai kekuatan dahsyat untuk melumpuhkan lawan di dalam pertempuran, mempunyai ilmu untuk mendatangkan laskar yang terdiri dari mahluk halus dari dunia gaib, mempunyai wajah yang sangat cantik dengan rambut halus bergelombang, sehingga mampu memikat hati laki-laki pada umumnya.

Buku LONTARAK MAKASSAR ANPANNASSAI KARAENG UJUNG MONCONG' membahas tentang Ujung Moncong dan peranan Tu-Manurung pada masa Kerajaan Bangkala. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


LONTARAK MAKASSAR ANPANNASSAI KARAENG UJUNG MONCONG'
Penulis: Pananrang Hamid, Tatiek Kartikasari
Penyunting: Zulyani Hidayah
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tahun Terbit: 1992/1993


April 23, 2021

CERITERA I MUTTIA DI PA'SOKKORAN LITAQ MANDAR


Menurut ceritera orang bahwa dahulu kala, ada sebuah kerajaan yang sangat besar kekuasaannya di daerah Mandar bernama "Kerajaan Pasokkoran". Dilereng gunung Pasokkoran itu, di sana terpencil sebuah gubuk yang sudah lapuk.

Pondok itu dihuni oleh sepasang insan manusia yang sudah hampir keriput seluruh kulitnya. Orang tua itu mempunyai anak tujuh orang. Semuanya anak laki-laki dan masih kecil-kecil. Anak yang sulung beru berumur sebelas tahun, karena kecuali yang bungsu, keenam orang kakaknya selalu kembar dua. Yang bungsu sendiri baru menginjak usia enam tahun. Anak yang bungsu inilah yang bernama "I MUTTIA".

Sedikit potongan Buku CERITERA I MUTTIA DI PA'SOKKORAN LITAQ MANDAR yang diangkat dari cerita lama tentang kepahlawanan Kerajaan Pasokkoran Mandar. Dahulu kerajaan ini amat jaya sebelum munculnya kerajaan-kerajaan Pitu Babanna Binanga dan Kerajaan Pitu Ulunna Salu. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


CERITERA I MUTTIA DI PA'SOKKORAN LITAQ MANDAR 
Penyusun: Madjid Tanawali Azis Syah
Penerbit: Balai Penelitian Sejarah dan Budaya Ujung Pandang
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1980