Kerajaan-kerajaan di Sulwesi Selatan terbagi atas kerajaan sebelum masa lontara dan kerajaan-kerajaan sesudah masa lontara. Kerajaan sebelum masa lontara di sebut Kerajaan Bugis Makassar Purba, masing-masing Kerajaan Ussu’ (kemudian dikenal dengan nama kerajaan Luwu) dan Kerajaan Siang (sekarang Pangkajene Kepulauan). Abad berdirinya kerajaan ini tidak dapat diketahui secara pasti. Namun beberapa ahli sejarawan di daerah ini sepakat mengatakan, bahwa Kerajaan Ussu’ atau Luwulah merupakan sebuah kerajaan tua yang yang kekuasaannya sangat besar di Sulawesi Selatan sebelum abad ke-XIV, dan juga merupakan cikal-bakal bagi adanya kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan yang baru berdiri sekitar abad ke-XIV.
Kerajaan Ussu' berpusat disekitar Kota Palopo, meliputi sebahagian tanah Bugis (termasuk Toraja), Luwu-Banggai, Gorontalo, serta sebagian wilayah daerah Sulawesi Tenggara yang kemudian daerah-daerah itu bernama: Tompotikka. Sedangkan Kerajaan Siang berpusat di sekitar Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dengan peta wilayah dari Maros sampai ke Tanete (Barru) termasuk seluruh kepulauan Spormondes.
Ketika Batara Guru, La Toge'tana naik takhta disekitar tahun 800 Masehi, Kerajaan Ussu' dirubah namanya menjadi Kerajaan Luwu. Beliau memperanakkan Batara Lattu yang kemudian melahirkan Sawerigading, tetapi ia tidak pernah menjadi raja dikerajaannya, walaupun Saweringading itu sebenarnya adalah seorang putera mahkota yang amat besar dan lagi terkenal. Hal ini karena beliau mempunyai kegemaran merantau atau berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain di dalam wilayah kepulauan Nusantara., bahkan sampai ke Semenanjung Melayu dan Tiongkok. Dari beliau ini (Saweringading) lahirlah I La Galigo yang kemudian namanya ditabalkan sebagai judul dari buku karya sastra yang terbesar di dunia pada jamannya, "Sure I La Galigo".
Masa I La Galigo kemudian digantikan oleh La Tenri Tatta dan masa terakhir dari zaman kekuasaan raja-raja lagendaris atau periode dewa-dewa. Setelah masa La Tenri berakhir maka Kerajaan Luwu memasuki zaman kegelapan, yaitu di mana tidak adanya pusat kekuasaan yang dapat mempersatukan rakyat Luwu. Masa ini dikenal dengan istilah "Sianre Baleni Tauwe" (maksudnya= siapa yang kuat itulah yang dapat bertahan hidup atau berkuasa). Masa kegelapan di Kerajaan Luwu ini berlangsung selama tujuhbelas generasi dan baru berakhir disekitar abad ke-XIV yakni ketika munculnya seorang tokoh atau penguasa baru yang dikenal "To Manurrung" (orang yang turun dari langit) "Simpuru Siang". Tokoh inilah yang diduga sebagai penyelamat dan pelanjut atau peletak dasar dari pemerintahan Luwu setalah melewati masa kegelapan/kekacauan selama 17 tahun lamanya. Periode To Manurrung Simpuru Siang disebut masa/periode lontara dalam sejarah Kerajaan Luwu.
Dari buku I La Galigo maupun dalam lontara Gowa menyebutkan, bahwa nenek moyang Sawerigading dari Kerajaan Luwu itu bersaudara dengan Sriwijaya. Sedangkan menurut sumber-sumber Portugis, bahwa sekitar tahun 1100 Masehi salah seorang Ratu dalam Kerajaan Siang yang bernama Gadimaro diperistrikan oleh Raja Ussu' Kerajaan Gowa disekitar abad ke-XIV, yakni pada zaman pemerintahan Raja Gowa ke-IX, Daeng Matanre Karaeng Mangutungi dengan gelar anumerta Tumapa'risi Kallonna. Akhirnya penaklukan itu Kerajaan Siang ke,mudian melebur diri secara integratif ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa, seperti malalui kawin-kawin antara kedua keluarga dan bangsawan itu.
Buku PERISTIWA TAHUN TAHUN BERSEJARAH DAERAH SULAWESI SELATAN DARI ABAD KE XIV s/d XIX menyajikan berbagai peristiwa serta tahun-tahun bersejarah yang membuktikan Sulawesi Selatan sejak dari dahulu telah memahami hak dan tanggung jawabnya sebagai suatu bangsa, karena menentang setiap unsur yang berusaha merebut hak dan kedaulatannya. Buku ini salah satu kolekasi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
PERISTIWA TAHUN TAHUN BERSEJARAH DAERAH SULAWESI SELATAN DARI ABAD KE XIV s/d XIX
Penerbit: Rachmah, L. T. Tangdilintin, Aminah Pabittei, Ridwan Borahima
Penerbit: Kantor Wilayah Depdikbud Prov. Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1985