Pelaminan dalam bahasa Bugis disebut Lamming dan dalam bahasa Makassar disebut Paklammingang atau biasa disebut Lamming sama dengan penamaan dalam bahasa Bugis.
Pada umumnya pelaminan hanya digunakan oleh raja-raja dan keturunannya sebagai singgasana, tempat tidur, tempat upacara-upacara tertentu, upacara life cycle (lingkaran hidup). Akan tetapi dewasa ini, bukan saja digunakan oleh kalangan bangsawan saja, tetapi juga golongan orang-orang yang bukan bangsawan tetapi mereka mampu memilikinya. Jadi disinilah terlihat adanya perubahan sosial pada masyarakat Bugis-Makassar.
Pembuat lamming lambat-laun mengalami perubahan, baik dari segi bentuknya maupun perhiasannya. Sebagaimana halnya dengan pelaminan yang terbuat dari bambu yang dibagian depannya dibuatkan walasuji (=Bugis) atau lawasugi (=Makassar), yaitu bambu yang dipotong-potong dan dibelah-belah sesuai dengan kebutuhan, kemudian dianyam bersilang.
Perubahan yang terjadi pada perkembangan selanjutnya, bukan lagi kasur yang diletakkan dalam lamming, tetapi tempat tidur yang dibagian depan dan sampingnya dibuatkan walasuji atau lawasugi. Hiasan yang tadinya dari daun lontar diganti dengan kertas yang berwarna-warni.
Demikian juga pelaminan yang terbuat dari kayu yang dihiasi ukiran atau pahatan, dibuat seperti tempat tidur yang agak ditinggikan kemudian diatasnya ditaruh kasur. Tinggi rendahnya ukuran pelaminan ini disesuaikan dengan status sosial pemakainya yang berdasarkan keturunan. Berikut jenis-jenis pelaminan (lamming):
- Lamming dewasa atau lamming rewata (pelaminan dewa)
- Lamming tudangeng atau lamming pammempowang (pelaminan tempat duduk)
- Lamming attinrong atau lamming katinrowang (pelaminan tempat tidur)
- Lamming ananak atau lamming anak-anak (pelaminan untuk upacara 40 hari bayi)
- Beras sigantang atau empat takar
- Pessepelleng atau kanjoli
- Rekko ota massulekka
- Alosi atau rappo
- Ittellok manuk atau bayao jangang
- Golla callak atau golla eja
- Kaluku atau kelapa
