Suharman, S.S., MIM.
Pendahuluan
Literasi keuangan adalah kemampuan untuk memahami
dan mengelola keuangan secara bijak sehingga seseorang dapat mengambil
keputusan yang tepat terkait penggunaan uang. Di tengah kehidupan modern yang
semakin dinamis dan penuh tantangan ekonomi, kemampuan ini menjadi kebutuhan
penting bagi setiap individu maupun keluarga. Literasi keuangan tidak hanya
berkaitan dengan pengetahuan dasar seperti menabung, berinvestasi, atau
menggunakan pinjaman, tetapi juga mencakup kemampuan merencanakan keuangan,
mengelola risiko, serta memanfaatkan berbagai produk dan layanan keuangan
secara cerdas. Dengan pemahaman yang baik mengenai aspek-aspek tersebut,
masyarakat dapat lebih siap menghadapi berbagai situasi keuangan, menghindari
kesalahan dalam pengelolaan uang, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup
serta kesejahteraan mereka.
Di Indonesia, peningkatan literasi keuangan masih
menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius. Meskipun tingkat
literasi keuangan masyarakat terus mengalami peningkatan, masih terdapat
kesenjangan antara pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan dan
pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil Survei Nasional Literasi dan
Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa indeks literasi
keuangan nasional mencapai 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan
mencapai 80,51 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat sebagian
masyarakat yang menggunakan layanan keuangan tanpa memahami secara memadai
manfaat, risiko, serta konsekuensi dari penggunaannya.
Isi
Literasi keuangan memiliki peran yang sangat penting
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena membantu individu mengelola
pendapatan secara efektif. Seseorang yang memiliki pemahaman keuangan yang baik
akan mampu menyusun anggaran, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta
mengendalikan pengeluaran agar tidak melebihi pendapatan yang diperoleh. Dengan
demikian, masyarakat dapat menghindari perilaku konsumtif yang berlebihan dan
memiliki kemampuan untuk menyisihkan sebagian pendapatannya sebagai tabungan
atau dana darurat. Kebiasaan mengelola keuangan secara disiplin akan
menciptakan stabilitas ekonomi dalam rumah tangga dan mengurangi risiko
terjadinya masalah keuangan di masa depan.
Selain membantu pengelolaan keuangan pribadi,
literasi keuangan juga berperan dalam meningkatkan kemampuan masyarakat untuk
membuat keputusan investasi yang tepat. Saat ini tersedia berbagai instrumen
investasi, seperti deposito, obligasi, reksa dana, saham, maupun emas. Namun,
tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat rentan menjadi korban investasi ilegal
atau investasi bodong yang menjanjikan keuntungan tinggi dalam waktu singkat.
Individu yang memiliki literasi keuangan yang baik akan memahami hubungan antara
risiko dan keuntungan sehingga dapat memilih instrumen investasi yang sesuai
dengan tujuan keuangan serta profil risikonya. Dengan investasi yang tepat,
masyarakat dapat meningkatkan nilai aset yang dimiliki dan memperoleh sumber
pendapatan tambahan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.
Literasi keuangan juga berkontribusi dalam
meningkatkan kemampuan masyarakat mengelola utang secara sehat. Dalam kehidupan
sehari-hari, penggunaan kredit atau pinjaman sering kali tidak dapat dihindari,
baik untuk kebutuhan pendidikan, usaha, maupun pembelian aset produktif. Namun,
kurangnya pemahaman mengenai bunga, biaya administrasi, denda, dan kemampuan
membayar sering menyebabkan masyarakat terjebak dalam masalah utang yang
berkepanjangan. Melalui literasi keuangan, masyarakat dapat memahami pentingnya
menghitung kemampuan pembayaran sebelum mengambil pinjaman, membandingkan
berbagai produk kredit, serta menghindari praktik pinjaman ilegal yang
merugikan. Dengan demikian, utang dapat dimanfaatkan sebagai sarana produktif,
bukan sebagai sumber kesulitan ekonomi.
Dalam konteks pembangunan ekonomi nasional, literasi
keuangan berperan dalam mendorong inklusi keuangan yang lebih luas. Masyarakat
yang memahami manfaat layanan keuangan formal akan lebih terdorong untuk
menggunakan rekening bank, asuransi, produk investasi, maupun layanan keuangan
digital. Penggunaan layanan keuangan formal memungkinkan masyarakat mengakses
berbagai fasilitas yang dapat mendukung kegiatan ekonomi, seperti kredit usaha
mikro, perlindungan asuransi, dan instrumen investasi. Semakin banyak masyarakat
yang terhubung dengan sistem keuangan formal, semakin besar pula peluang untuk
meningkatkan produktivitas ekonomi dan mengurangi kesenjangan sosial.
Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan literasi keuangan memiliki pengaruh
positif terhadap tingkat inklusi keuangan masyarakat.
Perkembangan teknologi digital saat ini semakin
memperkuat urgensi literasi keuangan. Kemunculan berbagai aplikasi pembayaran
digital, dompet elektronik, layanan pinjaman daring, serta platform investasi
berbasis teknologi memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi keuangan.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan berbagai risiko, seperti penipuan
digital, penyalahgunaan data pribadi, dan keputusan keuangan yang impulsif.
Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk memahami cara kerja
layanan keuangan digital, mengenali risiko yang mungkin timbul, serta menjaga
keamanan data dan transaksi keuangan. Literasi keuangan digital menjadi salah
satu kompetensi penting yang harus dimiliki masyarakat agar mampu memanfaatkan
teknologi secara aman dan produktif.
Peningkatan literasi keuangan tidak hanya menjadi
tanggung jawab individu, tetapi juga memerlukan dukungan dari berbagai pihak,
termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga keuangan, dan keluarga.
Pemerintah melalui OJK telah melaksanakan berbagai program edukasi keuangan
yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan keuangan
dan penggunaan produk jasa keuangan. Di lingkungan pendidikan, materi literasi
keuangan perlu diperkenalkan sejak usia dini agar generasi muda terbiasa membuat
keputusan keuangan yang bertanggung jawab. Sementara itu, keluarga memiliki
peran penting dalam menanamkan kebiasaan menabung, menyusun anggaran, dan
menggunakan uang secara bijak kepada anak-anak sejak kecil. Sinergi berbagai
pihak tersebut akan mempercepat terciptanya masyarakat yang lebih melek
keuangan.
Lebih jauh lagi, literasi keuangan dapat menjadi
instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pelaku usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM) yang memiliki pengetahuan keuangan yang baik akan lebih mampu
mengelola arus kas, menyusun laporan keuangan, mengakses pembiayaan formal, dan
mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Kemampuan tersebut akan
meningkatkan daya saing usaha serta membuka peluang penciptaan lapangan kerja
baru. Dengan demikian, literasi keuangan tidak hanya berdampak pada
kesejahteraan individu, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan
ekonomi daerah maupun nasional.
Penutup
Literasi keuangan merupakan fondasi penting dalam
mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. Kemampuan memahami dan
mengelola keuangan secara efektif memungkinkan individu membuat keputusan yang
lebih bijaksana dalam mengatur pendapatan, pengeluaran, investasi, dan
penggunaan kredit. Selain meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, literasi
keuangan juga mendukung peningkatan inklusi keuangan, pengembangan usaha
produktif, serta pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, upaya
peningkatan literasi keuangan harus terus dilakukan secara sistematis dan
berkelanjutan melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, sektor
keuangan, dan masyarakat. Dengan tingkat literasi keuangan yang semakin baik,
masyarakat Indonesia akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan ekonomi
serta mampu mencapai kehidupan yang lebih sejahtera dan mandiri.
Daftar Pustaka
Arikunto, S. (2021). Manajemen Keuangan Pribadi
dan Keluarga. Jakarta: Bumi Aksara.
Otoritas Jasa Keuangan. (2025). Survei Nasional
Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025. Jakarta: Otoritas Jasa
Keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan. (2024). Strategi Nasional
Literasi Keuangan Indonesia. Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan.
Sina, P. G. (2016). Financial Contemplation:
Sebuah Gagasan dalam Mendidik Keuangan Keluarga. Yogyakarta: Andi.
Thomas, G. N., Nur, S. M. R., & Indriaty, L.
(2024). The Impact of Financial Literacy, Social Capital, and Financial
Technology on Financial Inclusion of Indonesian Students. ArXiv.
Widoatmodjo, S. (2018). Pengetahuan Pasar Modal
untuk Konteks Indonesia. Jakarta: Elex Media Komputindo.

