Showing posts with label Kabupaten Bone. Show all posts
Showing posts with label Kabupaten Bone. Show all posts

November 24, 2025

Terjemahan Memory Van Overgave Controlier Bone Riattang 1912 - 1915

 


Judul:                          Terjemahan Memory Van Overgave Controlier Bone Riattang 1912-1915

Penulis:                       -

Editor:                         Andi Ahmad Saransi

Penerbit:                    Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun Terbit:             2015

Jumlah Halaman:    xii + 155

ISBN:                            -

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Memory Van Overgave (bahasa Belanda) adalah memori serah terima jabatan dari seorang pejabat lama kepada pejabat baru pada era kolonial. Pejabat yang menyerahkan memori serah terima jabatan pada buku ini adalah Controleur yang mungkin setingkat camat pada masa sekarang ini. Controleur yang pernah menjabat di daerah Bone bagian selatan atau dalam bahasa Bugis, Bone Riattang.

Buku ini merupakan hasil terjemahan dari arsip khazanah pemerintah kabupaten Bone yang ada di unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Aslinya yang tertulis di Arsip masih menggunakan bahasa Belanda. Oleh karena dianggap penting informasinya, maka arsip arsip Memory Van Overgave ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tujuan penerjemahan ini, agar semakin banyak pihak, baik dari kalangan mahasiswa, pelajar, peneliti maupun masyarakat umum yang dapat membacanya dan mengambil manfaat dari arsip arsip ini.

Bagi masyarakat yang ingin mengakses langsung arsip aslinya yang berbahasa Belanda tetap memungkinkan dengan beberapa persyaratan tertentu. Sumber arsip yang digunakan dalam buku ini adalah arsip Memorie Betreffende de Onderafdeeling Boni Bijlagen Opgemakt Ingevalge Schriven van het Department van Oorlag VII Afdeeling dd 12 Agustus 1912 Nomor 765, khazanah Arsip Pemerintah Daerah Tingkat II Bone, register 304. Sumber kedua adalah Arsip Memorie Van Overgave van den Controleur H.R. Rookmaker, Betreffende de onderafdeeling Boni Riattang, Afdeeling Boni, Gouvernement Celebes en Onderhoorigheden, khazanah arsip Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Bone, register 305.

Terdiri dari dua bagian, dimana bagian pertama merupakan Catatan mengenai Onderafdeeling Bone dengan berbagai lampiran informasi tentang Bone yaitu: situasi geografis, penduduk, hasil bumi, sarana transportasi, pemerintahan, kondisi politik dan hubungan dengan Gubernemen Hindia-Belanda.

Bagian kedua adalah Laporan Serah Terima Jabatan dari Kontrolir H.R. Rookmaker yang membahas tentang Onderafdeeling Boni Ri Attang, Afdeeling Boni, Gubernemen Celebes dan daerah bawahannya. Pada bagian ini juga dibahas tentang keadaan Bone bagian selatan mengenai gambaran geografis, penduduk, sumber pendapatan daerah, sarana transportasi darat dan air, pemerintahan dan hubungan dengan pemerintahan Gubernemen Hindia Belanda.

Beberapa informasi dari buku ini antara lain pada halaman 91, “dari PalattaE ada jalan selebar 4 meter menuju Patimping (Patimpeng) namun belum dipekeras. Di musim kering jalan dapat digunakan untuk kendaraan ringan.”

“Di PalattaE, Bontorihu dan Camming terdapat Baruga yang luas dari kayu yang kuat (kesemuanya dibangun tahun 1914) sedangkan di Gareccing orang juga telah membangun Baruga, sementara di Cani kayu yang dibutuhkan untuk itu telah dikumpulkan.”

Bahkan informasi tentang berapa jumlah dukun (sanro) yang ada di distrik Mare, Tonra, Salomekko, Kajuara, Kahu, Libureng dan Cani juga tercatat dalam laporan ini.  Yang menarik, ternyata pada masa itu (1912-1915) di Bone selatan, begitu banyak jenis padi. Tercatat ada 13 jenis padi dalam laporan ini yaitu : Ase Banda sama Tepe, Ase Banda Jamala, Ase Panasa, Ase Beka, Ase Unji, Ase Ulo, Ase Pance, Ase Tobe, Ase Tallan, Ase Cella, Ase Tabangka, Ase Lappang dan Ase Kasa. Jenis beras ketan juga ada 10 jenis, jenis jagung ada 5. Di Kahu pada masa itu banyak tanaman Kopi.

Buku ini sangat menarik dibaca, memberikan gambaran situasi masa awal abad ke-20 dimana situasi daerah Bone Selatan dicatat masih menggunakan bahasa Belanda. Buku ini dapat dijadikan sumber rujukan untuk penulisan sejarah Bone khususnya Bone bagian selatan.

Buku ini tidak dilengkapi dengan Indeks, yang dapat memudahkan pembaca mencari topik tertentu yang ingin dibacanya. Dokumentasi foto atau illustrasi lainnya juga tidak ditemukan dalam buku ini.

Buku koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan di Unit Kearsipan.  



June 3, 2024

Sirawu Sulo, Tradisi Perang Api di Bone

 


Judul:                           Mengenal Budaya Sirawu Sulo, Tradisi Perang Api di Pongka, Bone

Penulis:                        Marhaya

Editor:                         -

Penerbit:                     La Galigo Multi Media

Tahun Terbit:               2010

Jumlah Halaman:        vi + 62

ISBN:                            978-602-98273-1-6

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Tradisi perang api tidak hanya ditemukan di pulau Lombok yang biasanya dilakukan oleh umat Hindu, tapi juga oleh suku Bugis yang ada di Bone, khususnya warga desa Pongka di Kecamatan Tellu Siattingnge. Tradisi perang api yang biasa dilaksanakan di desa Pongka tersebut sudah berlangsung puluhan tahun bahkan mungkin ratusan tahun. Atraksi perang api ini oleh masyarakat setempat disebut “Sirawu Sulo”.

Buku ini menguraikan tentang perang api atau tradisi Sirawu Sulo tersebut dengan berbagai aspek pembahasannya. Terdiri dari 5 bab, diawali dengan ‘Kata Pengantar’ dari penulis, kemudian bab pertama sebagaimana biasanya adalah Pendahuluan dimana diuraikan tentang apa sebenarnya Sirawu Sulo tersebut. Asal muasal tradisi Sirawu Sulo dan kehidupan masyarakat Pongka diuraikan dalam bab kedua. Sedangkan bab ketiga dijelaskan tentang Sirawu Sulo sebagai bagian dari tradisi masyarakat Pongka. Selanjutnya proses pelaksanaan atraksi Sirawu Sulo dinarasikan pada bagian keempat. Bagian terakhir Bab kelima membahas tentang makna tradisi perang api Sirawu Sulo bagi masyarakat Pongka.

Meskipun namanya perang api, tapi pada tradisi ini, sama sekali tidak rasa benci, balas dendam atau keinginan untuk melukai dan membakar antara kedua pihak peserta. Yang ada hanya rasa gembira, saling mengejar, saling lempar obor yang menyala. Bukan hanya pemain atau peserta Sirawu Sulo yang gembira, tapi juga masyarakat yang menonton atraksi tersebut.  Disebutkan bahwa, meskipun namanya perang api, namun belum pernah ada yang jadi korban atau terbakar tubuhnya. Sebelum atraksi perang api (Sirawu Sulo) dilaksanakan, para peserta telah mengolesi badan mereka dengan minyak tertentu, yang telah dibacakan mantra oleh Sanro atau dukun.  

Pelaksanaan tradisi ini hanya sekali dalam 3 tahun. Dilaksanakan dimalam hari selama 3 malam berturut turut, namun rangkaian acaranya sendiri bisa sampai satu atau dua pekan. Pada masa lalu, sebagai rangkaian pelaksanaan kegiatan Sirawu Sulo, dilaksanakan pula tradisi Mattojang atau Mappere (semacam ayunan untuk orang dewasa yang tinggi menjulang), Mappassempe, dan Mappadendang. Namun seiring pekembangan zaman, rangkaian acara tersebut sudah dihilangkan dan diganti dengan pertandingan Sepak Bola, pertunjukan musik Elekton, lomba nyanyi Karaoke dan lain lain yang lebih modern.

Meskipun tradisi ini sekilas nampak berbahaya dan berisiko, namun masyarakat desa Pongka merasa tetap perlu melestarikannya, karena merupakan warisan tradisi leluhur. Selain itu, atraksi Sirawu Sulo ini juga dapat mempererat hubungan silaturahmi dan tali kekeluargaan antar warga Desa Pongka. Tradisi ini juga dapat membangkitkan semangat para pemuda desa untuk tetap membangun desa mereka sampai menjadi desa yang maju. Makna lainnya adalah sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat dan juga sebagai sarana hiburan bagi masyarakat desa Pongka.

Saat ini, sebagian alim ulama dan kaum terpelajar di Desa Pongka menganggap tradisi ini mengandung unsur unsur kemusyrikan yang bertentangan dengan agama Islam. Anggapan ini menyebabkan beberapa pihak yang biasa terlibat, merasa tidak perlu lagi dilaksanakan.

Buku ini tidak dilengkapi dengan illustrasi yang menarik. Illustrasi atau selipan gambar dan foto foto dalam sebuah buku dapat menarik minat pembacanya. Buku ini juga tidak dilengkapi dengan indeks yang dapat memudahkan pembaca mencari topik tertentu yang ingin dibacanya.

Buku ini koleksi layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.



April 21, 2024

Budaya Sirawu Sulo, di Desa Pongka Kabupaten Bone


Judul:                           Mengenal Budaya
Sirawu Sulo Tradisi Perang Api di  Pongka, Bone

Penulis:                        Marhaya

Penerbit:                      La Galigo Multimedia

Tahun Terbit:                2010

Jumlah Halaman:         vi + 62

ISBN:                         978-602-98273-1-6

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Isi Resensi:


Tradisi perang api tidak hanya ditemukan di pulau Lombok yang biasanya dilakukan oleh umat Hindu, tapi juga oleh suku Bugis yang ada di Bone, khususnya warga desa Pongka di Kecamatan Tellu Siattingnge. Tradisi perang api yang biasa dilaksanakan di desa Pongka tersebut sudah berlangsung puluhan tahun bahkan mungkin ratusan tahun. Atraksi perang api ini oleh masyarakat setempat disebut “Sirawu Sulo”.

Buku ini menguraikan tentang perang api atau tradisi Sirawu Sulo tersebut dengan berbagai aspek pembahasannya. Terdiri dari 5 bab, diawali dengan ‘Kata Pengantar’ dari penulis, kemudian bab pertama sebagaimana biasanya adalah Pendahuluan dimana diuraikan tentang apa sebenarnya Sirawu Sulo tersebut. Asal muasal tradisi Sirawu Sulo dan kehidupan masyarakat Pongka diuraikan dalam bab kedua. Sedangkan bab ketiga dijelaskan tentang Sirawu Sulo sebagai bagian dari tradisi masyarakat Pongka. Selanjutnya proses pelaksanaan atraksi Sirawu Sulo dinarasikan pada bagian keempat. Bagian terakhir Bab kelima membahas tentang makna tradisi perang api Sirawu Sulo bagi masyarakat Pongka.

Meskipun namanya perang api, tapi pada tradisi ini, sama sekali tidak rasa benci, balas dendam atau keinginan untuk melukai dan membakar antara kedua pihak peserta. Yang ada hanya rasa gembira, saling mengejar, saling lempar obor yang menyala. Bukan hanya pemain atau peserta Sirawu Sulo yang gembira, tapi juga masyarakat yang menonton atraksi tersebut.  Disebutkan bahwa, meskipun namanya perang api, namun belum pernah ada yang jadi korban atau terbakar tubuhnya. Sebelum atraksi perang api (Sirawu Sulo) dilaksanakan, para peserta telah mengolesi badan mereka dengan minyak tertentu, yang telah dibacakan mantra oleh Sanro atau dukun. 

Pelaksanaan tradisi ini hanya sekali dalam 3 tahun. Dilaksanakan dimalam hari selama 3 malam berturut turut, namun rangkaian acaranya sendiri bisa sampai satu atau dua pekan. Pada masa lalu, sebagai rangkaian pelaksanaan kegiatan Sirawu Sulo, dilaksanakan pula tradisi Mattojang atau Mappere (semacam ayunan untuk orang dewasa yang tinggi menjulang), Mappassempe, dan Mappadendang. Namun seiring pekembangan zaman, rangkaian acara tersebut sudah dihilangkan dan diganti dengan pertandingan Sepak Bola, pertunjukan musik Elekton, lomba nyanyi Karaoke dan lain lain yang lebih modern.

Meskipun tradisi ini sekilas nampak berbahaya dan berisiko, namun masyarakat desa Pongka merasa tetap perlu melestarikannya, karena merupakan warisan tradisi leluhur. Selain itu, atraksi Sirawu Sulo ini juga dapat mempererat hubungan silaturahmi dan tali kekeluargaan antar warga Desa Pongka. Tradisi ini juga dapat membangkitkan semangat para pemuda desa untuk tetap membangun desa mereka sampai menjadi desa yang maju. Makna lainnya adalah sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat dan juga sebagai sarana hiburan bagi masyarakat desa Pongka.

Saat ini, sebagian alim ulama dan kaum terpelajar di Desa Pongka menganggap tradisi ini mengandung unsur unsur kemusyrikan yang bertentangan dengan agama Islam. Anggapan ini menyebabkan beberapa pihak yang biasa terlibat, merasa tidak perlu lagi dilaksanakan.

Buku yang perlu dibaca oleh para pemerhati budaya lokal Bone, dan Sulawesi Selatan pada umumnya, untuk menambah dan memperkaya pengetahuan budaya lokal yang pernah ada.

Buku ini sangat kurang dokumentasi gambar dan foto fotonya, sehingga kurang menarik bagi anak anak generasi muda yang biasanya menyukai buku dengan illustrasi yang menarik.

Buku ini koleksi layanan Perpustakaan Abdurrasyid Dg. Lurang, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.




July 14, 2020

MENGENAL BUDAYA SIRAWU SULO TRADISI PERANG API DI PONGKA KABUPATEN BONE


Sirawu sulo merupakan tradisi budaya masyarakat Bugis dan kini mendiami Desa Pongka, Kecamatan Tellu Siattingnge, Kabupaten Bone. Tradisi budaya yang dilaksanakan dalam bentuk pesta rakyat ini, merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang leluhur mereka, yang hanya dapat ditemui di Desa Pongka, tradisi semacam ini tidak ada atau tidak ditemukan tempat lain.

Bentuk kegiatan dari sirawu sulo adalah saling menyerang dan melempar dengan menggunakan obor yang menyala atau perang api antara dua kelompok masyarakat di dua dusun di Desa Pongka, yang acara puncaknya dilaksanakan pada malam hari selama tiga malam berturut-turut. Sedangkan rangkaian kegiatannya bisa mencapai satu atau dua minggu lamanya.

Uniknya, meskipun para peserta saling menyerang dan melempar dengan menggunakan obor yang menyala-nyala, tapi biasanya tak satu pun peserta terluka, hal ini disebabkan karena sebelum berperang mereka sudah diolesi minyak khusus yang telah dibacakan oleh matra oleh sanro.

Meskipun kegiatan ini adalah sebuah perang, namun atraksi saling menyerang dan melempar obor kearah lawan dilakukan dengan hati yang senang dan riang, tidak dengan perasaan emosi, dendam dan hasrat ingin menjatuhkan ataupun mencelakai lawan. Sehingga bukan ketegangan yang muncul ketika acara Sirawu sulo ini digelar, tapi perasaaan riang yang penuh dengan semangat dan suka cita dirasakan, baik oleh warga yang ikut dalam kegiatan Sirawu sulo, maupun para penonton yang menyaksikan atraksi budaya ini.

Buku MENGENAL BUDAYA SIRAWU SULO TRADISI PERANG API DI PONGKA KABUPATEN BONE menguraikan salah satu tradisi budaya leluhur masyarakat Bugis, khusunya di Kabupaten Bone. Hingga kini tradisi budaya Sirawu Sulo tersebut masih tetap dipertahankan keberadaannya. Meskipun di suatu sisi, tradisi budaya leluhur ini sudah mulai pudar dan terancam punah bila tidak dilestarikan.

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang yang berlokasi di jalan Kenanga No. 7A Sungguminasa, Kabupaten Gowa, untuk memberikan informasi dan memperkenalkan tradisi budaya Sirawu Sulo kepada masyarakat luas, juga sekaligus  sebagai salah satu upaya untuk mendokumentasikan tradisi ini dalam bentuk buku.

MENGENAL BUDAYA SIRAWU SULO TRADISI PERANG API DI PONGKA KABUPATEN BONE
Penulis: Marhaya
Penerbit: La Galigo Multi Media
Tempat Terbit: Sungguminasa
ISBN: 978-602-98273-1-6


June 1, 2020

Sejarah Bone


Buku : Sejarah Bone

Penulis : Abdurrazak Daeng Patunru, dkk.

Penerbit : Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Makassar 1995

Jumlah Halaman : vii + 276

ISBN : -

Satu lagi buku sejarah yang ditulis oleh Abdurrazak Daeng Patunru dan kawan kawan, yaitu buku “Sejarah Bone”. Buku ini ditulis oleh tim yang diketuai oleh Abdurrazak Daeng Patunru dengan anggota masing masing adalah : La Side, Andi Makkarausu Amansjah Daeng Ngilau, dan Andi Abu Bakar Punagi. Pertama kali terbit tahun 1968, oleh Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, yang waktu itu ketua Dewan Quratornya adalah Andi Pangerang Daeng Rani, mantan Gubernur Sulawesi.

Kerajaan Bone, termasuk daerah yang banyak ditulis dalam penelitian sejarah. Saya telah membahas dua buku tentang Bone sebelumnya yaitu “Arung Palakka Datu Tungke’na Tana Ugi’E (Mengenal Sejarah Bone dan Pahlawannya), 2010, yang ditulis oleh H. Abdul Qahhar, dan satu lagi buku “Sejarah Kerajaan Tanah Bone” yang ditulis oleh Andi Palloge, 1990. Ini adalah buku ketiga tentang Sejarah Bone. Meskipun sama sama membahas tentang Sejarah Bone, namun ada perbedaan antara ketiga buku ini. Buku yang ditulis oleh Andi Palloge, membahas Bone berdasarkan urutan pemerintahan raja dan ratu Bone yang bertahta, sedangkan pada buku ini, lebih menekankan pada sejarah sebelum Tomanurung, masa La Galigo, masa pergolakan, masa sebelum dan sesudah masuknya Islam, dan masa masa Bone masih dalam taklukan Gowa. Ada juga nama nama raja dan ratu yang  berkuasa tapi tidak sedetail yang ada pada buku karangan Andi Palloge.  Sementara itu yang ditulis oleh H. Abdul Qahhar, lebih fokus ke sosok Arung Palakka, mulai dari masa kecilnya, masa ketika Bone dibawa kekuasaan Gowa, saat menjadi tawanan perang, saat berada di negeri Buton sampai keadaan Bone  saat perang melawan kerajaan Gowa. Ketiga buku sejarah Bone ini semuanya menarik dibaca.

Buku setebal 275 halaman ini diawali dengan Kata Pengantar dari Penerbit, kemudian Kata Pendahuluan dari tim penyusun. Terdiri dari 8 bab, dimana bab pertama yaitu keadaan Bone sebelum Tomanurung. Ada dua sub bagian yaitu Bone pada masa  La Galigo dan Bone pada masa Peralihan. Masa peralihan yang dimaksud  oleh penulis adalah masa sebelum Tomanurung dan raja raja dan ratu selanjutnya berkuasa di tanah Bone.

Bab kedua, tentang masa sejak Tomanurung Ri Matajang sampai dengan masa pemerintahan Ratu We Benrigau Makkalempie.  Ada dua sub bagian yang dibahas disini, yaitu masa Tomanurung sebagai masa pembaharuan dan masa masa perluasan wilayah. Perluasan wilayah terjadi pada masa La Saliu, dan beliau memperluas wilayahnya dengan jalan persahabatan dan juga peperangan. Kerajaan kecil yang ditaklukkan dan diajak bergabung dengan kerajaan Bone antara lain: Pallengoreng, Sinri, Anrobiring, Lembae Ri Melle, Sancore, Apala, Bakke, Tanete, Attang Salo’, Parippung, Lompu dan lain lain.

Pada bab ketiga, dibahas tentang masa masa bergolak sebelum datangnya Islam. Mulai dari masa pemerintahan Raja Bone ke-5 La Tenri Sukki Mappajungnge. Pada masa beliau memerintah, kerajaan Bone berperang melawan kerajaan Luwu yang melahirkan suatu perjanjian bernama Mula Ulu-Ada dengan nama Malela’E Ri Unynyi.  Isi perjanjian antara lain, bahwa Kerajaan Bone selanjutnya akan bersahabat dengan Kerajaan Luwu. Ada 6 pasal dalam perjanjian ini. Pada masa pemerintahan Raja Bone ke-6 La Uliyo Bote’e, beliau juga membuat suatu perjanjian (Mula-Ulu Ada) atau dalam bahasa Makassar disebut (Ulu Kanaya) dengan Raja Gowa ke-9 Daeng Matanre To Maparrisi Kallonna. Perjanjian itu namannya Mula Ulu-Ada Ri Tamalate. Ada 4 pasal dalam perjanjian ini.

Bab keempat tentang Tanah Bugis menerima Islam, diawali dengan pembahasan tentang suku Bugis dan Makassar menerima Islam. Dijelaskan pula masa masa ketika Gowa dan Tallo menerima Islam dan disusul oleh raja raja Bugis yang juga pada akhirnya memeluk Islam.Pada bab ini dibahas pula sejarah perdagangan antar negara, antara pedagang Arab, India, Cina dan kepulauan Nusantara. Pada bagian lain, kedatangan bangsa Portugis yang justru semakin memperkuat penerimaan dan pemahaman tentang Islam dikalangan raja raja Bugis dan rakyatnya. Kerajaan Gowa sebagai pelopor penyebaran Islam  dan perkembangan Islam di Kerajaan Bone juga dibahas pada bagian ini. La Tenri Ruwa Sultan Adam, raja Bone pertama yang memeluk Islam.

Pada bab kelima, masa masa pemerintahan Raja Bone ke-13 La Maddaremmeng Arung Timurung.  La Maddaremmeng beristrikan Da Senrima, putri Arung Matowa Wajo, To WaliE. Putra La Madderemmeng yang bernama La Pakokoe yang akhirnya memangku jabatan Ranreng Tua di kerajaan Wajo. Pada masa pemerintahan La Maddaremmeng inilah, para budak budak di merdekakan karena banyak menimbulak masalah dalam kerajaan. Kisah  sang raja ini sangat menarik karena memicu perang dan konflik dengan kerajaan Gowa.

Bab  keenam tentang Arung Palakka MalampeE Gemme’na. Bagian ini yang paling panjang pembahasannya dalam buku ini. Mulai dari masa kecil La Tenritatta (Arung Palakka), saat beliau dibawa ke Gowa sebagai tawanan perang, namun tetap diperlakukan dengan baik dan diberi nama Daeng Serang. Di Gowa, Daeng Serang belajar ilmu bela diri, cara menggunakan tombak dan pedang, dan beliaulah yang paling mahir bermain sepak raga. Selama di Gowa, La Tenritatta bekerja pada Karaeng Pattingalloang dan Karaeng Pattingalloang membebaskannya bergaul dengan para pemuda bangsawan kerajaan Gowa. Bagian ini secara panjang lebar membahas tentang kerajaan Bone dibawa kekuasaan Kerajaan Gowa, dan bagaimana perang besar terjadi antara kedua kerajaan.

Bab ketujuh dibahas tentang Kerajaan Bone setelah wafatnya “MalampeE Gemme’na”, mulai dari raja Bone La Patau MatinroE ri Nagauleng, kemudian ada Ratu Bataritoja MatinroE Ri Tippulunna, ada La Padassajati, La Pareppa, La Panaongi dan ada pembahasan tentang La Temmassonge Arung Baringeng Sultan Abdul Razak Jalaluddin. La Temmassonge ini selain pernah berkuasa di kerajaan Bone, juga pernah menjadi Raja (Datu) Soppeng. Beliau memiliki banyak istri dan anak anaknya berjumlah kuranglebih 80 orang. Diantara sekian banyak istrinya, yang diakui sebagai permaisuri adalah Sitti Habibah dan Sitti Aisyah, keduanya adalah cucu Syech Yusuf Tuanta SalamaE Ri Gowa.

Bab terakhir (bab kedelapan) adalah masa masa pemerintahan Raja Bone La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh Syamsuddin MatinroE Ri Rompegading. Selanjutnya masa pemerintahan Raja Bone To Appatunru, Ratu I Benni (I Manneng) Arung Data, Arumpunna La Mappasiling Arung Panyili, La Parenrengi Arungpugi, Arungpone I Tenriawaru Besse Kajuara Sultana Ummulhadi, Arungpone Singkerrurukka Arung Palakka, Arumpone I Benrigau Daeng Marowa Arung Timurung,  Arungpone La Pawawoi Karaeng Segeri dan terakhir kedahsyatan peperangan antara pasukan kerajaan Bone melawan pasukan Belanda.

Bagian akhir dari buku ini membahas tentang keadaan Bone setelah kemerdekaan dan pembagian wilayahnya.

Buku ini cukup lengkap membahas kerajaan Bone. Koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

 

  


May 6, 2020

La Pawawoi Karaeng Segeri, Biografi Pahlawan


Buku : La Pawawoi Karaeng Segeri, Raja Bone XXXI

Penulis : Dra. Aminah Hamzah dkk.

Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Makassar 1993

Jumlah Halaman : xix + 99

ISBN : -

Salah satu tujuan penulisan buku buku sejarah perjuangan bangsa adalah untuk inventarisasi data perjuangan yang ada di Sualwesi Selatan yang pada akhirnya akan menjadi rujukan untuk penulisan sejarah perjuangan bangsa Indonesia dimasa depan. Selain itu untuk lebih memperkenalkan para pahlawan, baik pahlawan lokal maupun pahlawan nasional kepada para generasi muda, penerus perjuangan bangsa diera kemerdekaan. Di era digital sekarang ini dimana serbuan budaya asing sangat massif, ada kecenderungan para generasi muda tidak kenal lagi para pahlawan perjuangan kemerdekaan bangsa.

Salah seorang pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan yaitu dari Kabupaten (kerajaan) Bone adalah La Pawawoi Karaeng Segeri, Raja Bone ke XXXI, memerintah dari tahun 1895 sampai 1911. Sejak masih remaja sudah menjadi Perwira Remaja kerajaan, dan kemudian menjadi panglima pertahanan dan Ketua Dewan Kerajaan Bone. Ketika menjabat jadi Raja Bone, beliau bersama pasukannya sangat gigih menentang keberadaan kaum penjajah Belanda di tanah Bone. Saat memimpin pasukannya melawan serangan kompeni Belanda, pada perang Bone IV, akhirnya pasukan Belanda berhasil menahan beliau  dan selanjutnya diasingkan ke Bandung pada tanggal 14 Desember 1905. Kemudian karena alasan  kesehatan beliau yang sudah mulai menurun karena pengaruh usia, pihak kompeni berencana memindahkannya ke Semarang, namun beliau meminta agar dipindahkan saja ke Batavia (Jakarta), dan permintaan itu dikabulkan. Setelah 3 bulan di Batavia, beliau wafat tanggal 17 Januari 1911 dan dimakamkan di Pekuburan Mangga Dua. Pada tanggal 10 Juli 1974  setelah beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional, kerangka jenazahnya digali untuk dimakamkan kembali sebagai Pahlawan perjuangan bangsa di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta.

Buku ini terdiri dari 5 Bab, diawali dengan sambutan dari Gubernur Sulawesi Selatan, Kepala kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan, kemudian Daftar Isi, Daftar Foto Foto (foto perjuangan beliau dan foto saat dalam pengasingan di Bandung dan Batavia, tapi sayang fotonya banyak yang kabur), peta Sulawesi Selatan dan Peta Kabupaten Bone.

Bab pertama Pendahuluan, membahas tentang latar belakang penulisan sejarah perjuangan bangsa.

Pada bagian kedua, dibahas Gambaran Umum Daerah Kabupaten Bone, mulai dari lingkungan alamnya, keadaan penduduknya, struktur sosialnya, agama dan kepercayaannya, dan latar belakang sejarahnya.

Bab ketiga tentang Latar Belakang Kehidupan La Pawawoi Karaeng Segeri, kelahirannya, orangtua dan saudara saudaranya, dan masa masa awal perjuangannya.

Bagian keempat membahas tentang Perjuangan La Pawawoi Karaeng Segeri, baik latar belakang perjuangannya maupun perjuangannya melawan penjajah Belanda.

Bagian kelima Penutup, dan daftar pustaka serta dokumentasi foto foto.

Buku ini koleksi Perpustakaan Khusus Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.