Situasi dan kondisi mengharuskan wanita Sulawesi Selatan keluar dari lingkungannya dan turut terlibat dalam perjuangan yang pada umumnya dilakukan oleh kaum pria, salah satunya Andi Ninnong, Opu Daeng Risaju, Ibu Andi Depu menghiasi sejarah dalam menentang penjajah asing.
Ibu Andi Depu berjuang atas kesadarannya sendiri bahwa penjajahan mendatangkan penderitaan bagi bangsanya. Beliau berjuang tanpa mengenal kompromi, bahkan rumah tangganya sekalipun rela ia korbankan demi perjuangan kemerdekaan yang dicita-citakannya. Ibu Andi Depu berasal dari kalangan bangsawan Mandar, yaitu putri dari raja Balanipa Mandar. Namun dalam kehidupannya sehari-hari senantiasa merakyat, olehnya itu beliau sangat dicintai oleh rakyatnya, karena tidak membeda-bedakan orang.
Di dalam perjuangannya menentang keras penjajahan bangsa Belanda utamanya atas daerah Mandar, karena beliau berprinsip bahwa bangsa Belanda tidak berhak lagi atas daerah itu, sesuai dengan penandatanganan perjanjian pada tahun 1906.
Taktik perjuangan beliau adalah dengan mengadakan penyergapan secara tiba-tiba terhadap pasukan Belanda yang sedang mengadakan ekspedisi. Dalam perjuangannya ini beliau berhasil mengumpulkan pemuda pemudi didaerah Majene dan membentuk pasukan wanita yang diberi nama Devisi Melati yang akhirnya bergabung dengan KRIS MUDA Mandar. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai pejuang ini Ibu Depu tidak bergerak seorang diri melainkan beliau selalu mengadakan hubungan dengan pemimpin-pemimpin kelaskaran didaerah lain, bahkan beliau pernah mengutus saudaranya yaitu A. Malik untuk ke Kalimantan dan Jawa guna meminta bantuan persenjataan.
Buku HAJJAH ANDI DEPU MARADDIA BALANIPA merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang terdiri dalam enam pokok bahasan yaitu :
- Bab I. Diutarakan secara umum dari penulisan biografi ini tentang perjuangan wanita di Sulawesi Selatan pada umumnya dan riwayat perjuangan Ibu Andi Depu pada khususnya.
- Bab II. Dijelaskan tentang gambaran umum daerah Mandar yang merupakan pusat daerah perjuangan dari Ibu Andi Depu. Diberikan gambaran bagaimana keadaan lokasi, penduduk, bahasa, kesenian, sistim kekerabatan dan latar belakang dari daerah tersebut.
- Bab III. Diungkapkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan peranan wanita di Sulawesi Selatan dalam menentang penjajahan asing, tentang bagaimana peran dan keikutsertaan wanita di Sulawesi Selatan mulai dari masa Hindia Belanda, masa Jepang hingga masuk ke masa kemerdekaan.
- Bab IV. Diuraikan secara rinci tentang keberadaan Ibu Andi Depu, mulai pada masa kanak-kanaknya, pendidikan serta kehidupan rumah tangga serta hal-hal yang melatar belakangi mengapa sehingga beliau begitu antusias untuk terjun ke dalam kancah perjuangan di waktu itu.
- Bab V. Diuraikan tentang perjuangan Ibu Andi Depu pada masa menjelang dan sesudah kemerdekaan, di mana beliau dikenal sebagai pemimpin dari kelaskaran Kris Muda yang tak pernah gentar menghadapi tantangan apa pun, sehingga beliau akhirnya menjadi buronan tentara Belanda dan bergerilya masuk hutan demi untuk mempertahankan kemerdekaan tanah airnya.
- Bab VI. Diuraikan secara singkat dan jelas mengenai penulisan buku ini serta pesan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

