July 21, 2026

Belajar Menulis Cerita Anak

 


Judul:                           Belajar Menulis Cerita Anak

Penulis:                        Arleen A.

Editor:                          -

Penerbit:                     Erlangga For Kids

Tahun Terbit:             2018

Jumlah Halaman:    96

ISBN:                            9786022529668

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku Belajar Menulis Cerita Anak karya Arleen A. merupakan salah satu buku panduan yang ditujukan bagi pembaca yang ingin memahami dunia kepenulisan cerita anak secara lebih mendalam. Buku ini membahas berbagai tahapan penting dalam proses kreatif hingga penerbitan sebuah buku cerita anak. Penulis menyajikan materi dengan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami sehingga cocok dibaca oleh pemula maupun penulis yang ingin mengembangkan kemampuannya. Melalui buku ini, pembaca tidak hanya diajak belajar menulis, tetapi juga memahami karakteristik sastra anak serta berbagai aspek yang perlu diperhatikan agar cerita yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan pembaca anak.

Isi buku diawali dengan penjelasan mengenai hakikat cerita anak dan karakteristiknya. Arleen A. menjelaskan bahwa menulis cerita anak bukan sekadar menyederhanakan bahasa, melainkan memahami cara berpikir, emosi, serta dunia imajinasi anak. Penulis menekankan pentingnya memilih tema yang dekat dengan kehidupan anak, menghadirkan tokoh yang menarik, serta menyisipkan nilai-nilai positif tanpa terkesan menggurui. Penjelasan tersebut membantu pembaca memahami bahwa cerita anak memiliki tujuan edukatif sekaligus menghibur, sehingga penulis harus mampu menyeimbangkan kedua aspek tersebut.

Selanjutnya, buku ini mengupas langkah-langkah dalam menyusun cerita anak. Mulai dari menemukan ide, menentukan alur, membangun karakter tokoh, menciptakan konflik yang sesuai dengan usia pembaca, hingga menyusun penyelesaian cerita yang memberikan kesan positif. Setiap tahapan dijelaskan secara sistematis dan dilengkapi dengan contoh-contoh yang relevan sehingga pembaca lebih mudah memahami penerapannya. Penulis juga memberikan berbagai tips untuk melatih kreativitas dan menjaga konsistensi dalam menulis, sehingga proses belajar terasa lebih praktis dan tidak membingungkan.

Salah satu bagian yang menarik dari buku ini adalah pembahasan mengenai proses penyuntingan naskah hingga penerbitan buku cerita anak. Arleen A. menjelaskan bahwa sebuah naskah tidak langsung diterbitkan begitu selesai ditulis, tetapi harus melalui tahap revisi, penyuntingan, penilaian penerbit, hingga proses ilustrasi dan tata letak. Penjelasan mengenai dunia penerbitan ini memberikan wawasan baru bagi pembaca, terutama bagi calon penulis yang belum memahami bagaimana sebuah buku akhirnya dapat hadir di tangan pembaca. Dengan demikian, buku ini tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga memberikan gambaran nyata mengenai industri penerbitan buku anak.

Kelebihan utama buku ini terletak pada penyajian materi yang runtut, sistematis, dan mudah dipahami. Bahasa yang digunakan tidak terlalu akademis sehingga pembaca dari berbagai kalangan dapat mengikuti setiap pembahasan dengan nyaman. Selain itu, contoh-contoh yang diberikan mampu memperjelas konsep yang dijelaskan. Pembahasan yang mencakup seluruh proses, mulai dari menemukan ide hingga buku diterbitkan, menjadikan buku ini sebagai panduan yang cukup lengkap bagi siapa saja yang ingin menekuni dunia penulisan cerita anak. Kehadiran berbagai tips praktis juga menjadi nilai tambah karena dapat langsung diterapkan oleh pembaca dalam proses menulis.

Meskipun demikian, buku ini juga memiliki beberapa kekurangan. Sebagian pembahasan masih bersifat umum sehingga pembaca yang sudah berpengalaman mungkin membutuhkan materi yang lebih mendalam mengenai teknik penulisan, strategi pemasaran buku, atau perkembangan industri penerbitan digital. Selain itu, contoh-contoh cerita yang disajikan tidak terlalu banyak sehingga pembaca perlu mencari referensi tambahan untuk memperkaya pemahaman mengenai berbagai gaya penulisan cerita anak. Buku ini juga belum banyak membahas pemanfaatan media digital dan platform daring yang kini semakin berperan dalam publikasi karya sastra anak.

Secara keseluruhan, Belajar Menulis Cerita Anak berhasil menjadi buku panduan yang informatif sekaligus inspiratif. Penulis mampu menjelaskan bahwa keberhasilan menulis cerita anak tidak hanya bergantung pada kemampuan berimajinasi, tetapi juga pada pemahaman terhadap psikologi anak, teknik bercerita, proses revisi, hingga mekanisme penerbitan. Buku ini memberikan motivasi kepada pembaca untuk terus berlatih dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan dalam proses menulis maupun saat mengirimkan naskah ke penerbit.

Sebagai penutup, buku Belajar Menulis Cerita Anak karya Arleen A. layak direkomendasikan bagi mahasiswa, guru, orang tua, maupun calon penulis yang ingin mendalami penulisan cerita anak. Pembahasan yang sistematis, bahasa yang mudah dipahami, serta penjelasan mengenai proses dari penulisan hingga terbitnya buku menjadi keunggulan utama buku ini. Walaupun masih memiliki beberapa kekurangan dalam kedalaman materi dan pembahasan mengenai perkembangan penerbitan digital, buku ini tetap menjadi referensi yang bermanfaat untuk membangun dasar kemampuan menulis cerita anak. Dengan membaca dan mempraktikkan isi buku ini, pembaca akan memperoleh bekal yang baik untuk menghasilkan karya cerita anak yang menarik, mendidik, dan layak diterbitkan. 






Thesis and Assignment Writing

 


Judul:                           Thesis and Assignment Writing

Penulis:                        Jonathan Anderson, Berry H. Durston & Millicent Poole

Editor:                          -

Penerbit:                     Jacaranda Wiley Ltd. Gladesville NSW Australia

Tahun Terbit:             1970

Jumlah Halaman:    xi + 135

ISBN:                            0471028991

Bahasa:                      Inggris

Penulis Resensi:        Suharman, S.S., MIM.

Buku Thesis and Assignment Writing yang ditulis oleh Anderson, Durston, dan Poole merupakan salah satu buku klasik yang membahas teknik penulisan karya ilmiah, khususnya tugas akademik dan skripsi. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1970 dan menjadi salah satu referensi penting bagi mahasiswa maupun akademisi pada masanya. Meskipun telah berusia lebih dari lima dekade, isi buku ini masih memiliki nilai yang relevan karena memuat prinsip-prinsip dasar penulisan ilmiah yang bersifat universal. Anderson, Durston, dan Poole menyusun buku ini dengan tujuan memberikan panduan sistematis kepada pembaca agar mampu menyusun tugas akademik secara logis, terstruktur, dan sesuai dengan kaidah ilmiah. Kehadiran buku ini menunjukkan bahwa kemampuan menulis ilmiah bukan sekadar bakat, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari melalui latihan dan pemahaman terhadap aturan penulisan.

Secara umum, buku ini membahas berbagai aspek penting dalam penyusunan karya ilmiah. Materi dimulai dari pemilihan topik penelitian, perumusan masalah, penyusunan kerangka tulisan, teknik pengumpulan data, hingga penyusunan daftar pustaka. Selain itu, penulis juga menjelaskan pentingnya berpikir kritis dalam mengembangkan argumen yang didukung oleh bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan mengenai cara menyusun paragraf yang efektif, penggunaan bahasa akademik yang jelas, serta teknik mengutip sumber menjadi bagian yang sangat membantu bagi mahasiswa yang baru mempelajari metode penulisan ilmiah. Setiap pembahasan disusun secara bertahap sehingga pembaca dapat mengikuti alur penulisan karya ilmiah dari awal hingga akhir.

Salah satu keunggulan buku ini terletak pada penyajian materinya yang sistematis dan mudah dipahami. Penulis menggunakan bahasa yang lugas sehingga konsep-konsep yang cukup kompleks dapat dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Buku ini juga menekankan pentingnya perencanaan sebelum menulis, mulai dari menyusun outline hingga melakukan revisi terhadap hasil tulisan. Pendekatan tersebut membuat pembaca tidak hanya memahami teori, tetapi juga memperoleh gambaran praktis mengenai langkah-langkah menyusun sebuah karya ilmiah yang baik. Bagi mahasiswa tingkat awal, buku ini dapat menjadi panduan dasar yang sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan menulis akademik.

Selain itu, buku Thesis and Assignment Writing memberikan perhatian besar terhadap pentingnya objektivitas dan kejujuran akademik. Penulis menjelaskan bahwa setiap argumen harus didukung oleh data yang valid dan sumber yang dapat dipercaya. Meskipun istilah "plagiarisme" belum dibahas secara luas seperti pada masa sekarang, buku ini telah menanamkan prinsip bahwa setiap ide atau informasi yang berasal dari orang lain harus diberikan pengakuan melalui sitasi yang tepat. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa buku ini tidak hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga membentuk etika akademik yang menjadi fondasi penting dalam dunia pendidikan tinggi.

Walaupun demikian, sebagai buku yang diterbitkan pada tahun 1970, terdapat beberapa bagian yang sudah kurang sesuai dengan perkembangan zaman. Sistem penulisan referensi dan format karya ilmiah yang dijelaskan dalam buku ini tidak sepenuhnya mengikuti standar modern seperti APA edisi terbaru, MLA, Harvard, maupun Chicago Style yang kini banyak digunakan di berbagai perguruan tinggi. Selain itu, pembahasan mengenai penggunaan teknologi dalam proses penulisan, seperti perangkat lunak manajemen referensi, pencarian jurnal elektronik, maupun pemanfaatan basis data ilmiah, tentu belum tersedia karena perkembangan teknologi informasi pada masa itu masih sangat terbatas. Oleh karena itu, pembaca masa kini perlu melengkapi isi buku ini dengan referensi yang lebih mutakhir agar sesuai dengan kebutuhan akademik saat ini.

Di balik keterbatasannya, buku ini tetap memiliki nilai historis dan akademis yang tinggi. Banyak prinsip dasar yang disampaikan penulis masih menjadi fondasi dalam penulisan karya ilmiah modern, seperti pentingnya penyusunan argumen yang logis, organisasi tulisan yang sistematis, penggunaan bahasa yang efektif, serta proses revisi sebelum karya dipublikasikan. Hal tersebut membuktikan bahwa meskipun metode dan teknologi terus berkembang, prinsip-prinsip dasar penulisan ilmiah tetap tidak banyak berubah. Oleh sebab itu, buku ini layak dijadikan referensi pelengkap bagi mahasiswa yang ingin memahami perkembangan konsep penulisan akademik dari masa ke masa.

Kelebihan utama buku ini adalah penyajian materi yang runtut, bahasa yang mudah dipahami, pembahasan yang fokus pada aspek-aspek mendasar penulisan ilmiah, serta penekanan terhadap etika akademik dan penyusunan argumen yang logis. Buku ini juga memberikan banyak penjelasan konseptual yang dapat membantu pembaca memahami alasan di balik setiap tahapan penulisan. Namun, buku ini memiliki beberapa kekurangan, antara lain contoh-contoh yang sudah cukup lama sehingga kurang mencerminkan konteks penelitian masa kini, belum membahas penggunaan teknologi digital dalam penulisan akademik, serta format sitasi yang sudah tidak sepenuhnya sesuai dengan standar internasional terbaru. Kekurangan tersebut merupakan konsekuensi yang wajar mengingat usia buku yang sudah cukup tua.

Secara keseluruhan, Thesis and Assignment Writing karya Anderson, Durston, dan Poole merupakan buku klasik yang memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan keterampilan menulis akademik. Walaupun diterbitkan pada tahun 1970 dan memiliki beberapa keterbatasan dalam mengikuti perkembangan metode penulisan modern, buku ini tetap relevan sebagai sumber pembelajaran mengenai prinsip-prinsip dasar penyusunan karya ilmiah. Mahasiswa, dosen, maupun peneliti pemula dapat memanfaatkan buku ini sebagai referensi awal untuk memahami proses penulisan akademik yang sistematis dan bertanggung jawab. Dengan melengkapi pemahaman dari buku-buku metodologi penelitian dan pedoman penulisan terbaru, pembaca akan memperoleh landasan yang kuat dalam menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas.



July 10, 2026

Jejak Tradisi di Tanah Sulawesi Selatan: Rumah Adat dan Nilai Budayanya

Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan arsitektur tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Keberagaman suku bangsa, bahasa, kondisi geografis, serta kearifan lokal telah melahirkan berbagai bentuk hunian tradisional yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi simbol identitas, status sosial, serta pandangan hidup masyarakatnya. Warisan budaya tersebut menjadi bagian penting dari khazanah Nusantara yang patut dikenali, dipahami, dan dilestarikan oleh setiap generasi.

Melalui buku Jejak Tradisi di Tanah Sulawesi Selatan: Rumah Adat dan Nilai Budayanya, pembaca diajak menelusuri perjalanan budaya Sulawesi Selatan secara komprehensif. Buku ini diawali dengan pengenalan profil Provinsi Sulawesi Selatan yang meliputi kondisi geografis dan topografi, sejarah singkat, keberagaman suku bangsa, serta bahasa yang berkembang di wilayah ini. Selanjutnya, pembaca diperkenalkan pada kayu eboni sebagai salah satu kekayaan hayati endemik Pulau Sulawesi yang telah lama dikenal sebagai material berkualitas tinggi. Penjelasan mengenai karakteristik, struktur, serta sifat fisik dan kimia kayu eboni memberikan pemahaman mengenai peran pentingnya dalam mendukung perkembangan seni, kerajinan, dan konstruksi bangunan tradisional di Sulawesi Selatan.

Sebagai pembahasan utama, buku ini mengupas arsitektur tradisional Sulawesi Selatan dari berbagai sudut pandang. Konsep arsitektur Bugis, fungsi ruang tambahan, ragam hias, serta pemanfaatan material bangunan dijelaskan secara sistematis untuk memperlihatkan bahwa rumah adat tidak hanya dibangun berdasarkan kebutuhan fungsional, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap unsur bangunan mengandung makna simbolis yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Pembaca juga diajak mengenal berbagai rumah adat yang menjadi representasi identitas budaya masyarakat Sulawesi Selatan, seperti Balla dari suku Makassar, Saoraja dari suku Bugis, rumah adat masyarakat Luwu, Boyang dari suku Mandar, hingga Tongkonan yang menjadi ikon masyarakat Toraja. Masing-masing rumah adat memiliki karakter arsitektur, fungsi sosial, dan filosofi yang berbeda, namun seluruhnya mencerminkan nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta kearifan lokal yang terus dipelihara dari generasi ke generasi.

Lebih dari sekadar mendokumentasikan bentuk bangunan tradisional, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa rumah adat merupakan cerminan perjalanan peradaban masyarakat Sulawesi Selatan. Pemilihan bahan bangunan, pembagian ruang, orientasi bangunan, hingga ornamen yang menghiasi setiap rumah lahir dari pengetahuan lokal yang berkembang melalui pengalaman panjang masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan. Nilai-nilai tersebut menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional merupakan perpaduan antara ilmu pengetahuan, teknologi lokal, seni, dan budaya yang saling melengkapi.

Buku ini juga membahas transformasi arsitektur sebagai bagian dari dinamika perkembangan zaman. Perubahan dalam bidang teknologi, psikologi lingkungan, hingga lahirnya konsep arsitektur kontemporer dan arsitektur ikonik menunjukkan bahwa warisan budaya mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya. Pembahasan tersebut memberikan perspektif bahwa pelestarian budaya bukan berarti mempertahankan bentuk lama secara utuh, melainkan menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat modern.

Disusun dengan bahasa yang komunikatif serta didukung pembahasan yang sistematis, buku ini menjadi referensi yang bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa, akademisi, peneliti, pemerhati budaya, praktisi arsitektur, maupun masyarakat umum yang ingin memahami kekayaan arsitektur tradisional Sulawesi Selatan. Kehadirannya diharapkan dapat memperluas wawasan pembaca sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa.

Buku ini merupakan salah satu koleksi BintangPusnas Edu yang diterbitkan sebagai upaya memperkaya literasi masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal Sulawesi Selatan kepada khalayak yang lebih luas. Melalui sajian yang informatif, edukatif, dan mudah dipahami, buku ini diharapkan menjadi jembatan bagi generasi masa kini untuk mengenal, menghargai, serta melestarikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur, sehingga tetap hidup dan memberi inspirasi bagi pembangunan budaya Indonesia di masa depan.


Jejak Tradisi di Tanah Sulawesi Selatan
Rumah Adat dan Nilai Budayanya
Penulis: Rizqi Ardiansyah
editor: Partner Bukumu
Penerbit: Gamagatra
Tempat terbit: Klaten
Tahun Terbit: 2024
ISBN: 978-6323-8212-66-8

July 1, 2026

Workplace Learning: Menjawab Tantangan Pengembangan Kompetensi ASN di Era Digital

 

Transformasi birokrasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital telah mengubah cara organisasi sektor publik mengembangkan kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN). Tantangan pelayanan publik yang semakin kompleks menuntut ASN tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, dan belajar secara berkelanjutan. Dalam situasi seperti ini, pelatihan konvensional yang hanya berlangsung di ruang kelas tidak lagi memadai untuk menjawab kebutuhan organisasi yang dinamis. Buku Workplace Learning: Strategi Cerdas Pengembangan Kompetensi ASN hadir menawarkan paradigma baru bahwa tempat kerja bukan hanya ruang untuk bekerja, tetapi juga ruang untuk belajar.

Berbeda dengan buku-buku pengembangan kompetensi yang umumnya berfokus pada pelatihan formal, buku ini menempatkan workplace learning sebagai strategi utama dalam membangun kompetensi ASN melalui pengalaman kerja, coaching, mentoring, rotasi jabatan, komunitas praktik, kolaborasi antarrekan kerja, serta pemanfaatan teknologi digital. Dengan pendekatan tersebut, proses belajar tidak lagi dipahami sebagai kegiatan sesaat, melainkan sebagai bagian yang melekat dalam aktivitas kerja sehari-hari.

Secara sistematis buku ini menguraikan konsep workplace learning mulai dari landasan teoritis, prinsip-prinsip dasar, hingga praktik implementasinya di berbagai negara. Penulis kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan kebutuhan birokrasi Indonesia melalui pembahasan kebijakan pengembangan kompetensi ASN, khususnya Peraturan Lembaga Administrasi Negara Nomor 8 Tahun 2021, yang menegaskan bahwa workplace learning merupakan salah satu strategi penting dalam pengembangan kompetensi aparatur secara berkelanjutan.

Pembaca juga diajak memahami berbagai bentuk workplace learning yang dapat diterapkan dalam organisasi, seperti pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), coaching, mentoring, job rotation, komunitas praktik (community of practice), serta pemanfaatan platform pembelajaran digital. Tidak hanya menjelaskan manfaatnya bagi individu, penulis juga menunjukkan bagaimana pendekatan tersebut mampu meningkatkan kapasitas organisasi melalui budaya belajar yang berkelanjutan.

Selain menguraikan konsep, buku ini secara jujur membahas berbagai tantangan implementasi workplace learning di lingkungan birokrasi. Struktur organisasi yang masih hierarkis, keterbatasan sumber daya, rendahnya budaya berbagi pengetahuan, hingga kesenjangan kompetensi digital menjadi hambatan yang perlu diatasi. Penulis kemudian menawarkan berbagai strategi, seperti penguatan komitmen pimpinan, pengembangan komunitas pembelajaran, optimalisasi teknologi digital, serta penyusunan sistem evaluasi yang mampu mengukur dampak pembelajaran terhadap peningkatan kinerja organisasi.

Keunggulan utama buku ini terletak pada kemampuannya menghubungkan teori dengan praktik. Penulis tidak berhenti pada penjelasan konseptual, tetapi menunjukkan bagaimana workplace learning dapat menjadi solusi terhadap berbagai persoalan nyata dalam pengembangan kompetensi ASN. Pembahasan yang diperkaya dengan praktik terbaik dari berbagai negara memperlihatkan bahwa workplace learning telah menjadi pendekatan yang berhasil diterapkan dalam berbagai organisasi modern. Hal ini memperkuat keyakinan pembaca bahwa konsep tersebut bukan sekadar gagasan akademik, tetapi telah terbukti mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Penyajian buku juga disusun secara runtut sehingga memudahkan pembaca memahami hubungan antara konsep, kebijakan, implementasi, dan evaluasi. Bahasa yang digunakan komunikatif tanpa mengurangi kedalaman pembahasan. Penulis mampu menjelaskan konsep-konsep yang relatif kompleks menjadi lebih mudah dipahami melalui contoh-contoh yang relevan. Dengan demikian, buku ini tidak hanya bermanfaat bagi akademisi, tetapi juga praktisi yang terlibat dalam pengembangan sumber daya manusia di sektor publik.

Salah satu gagasan penting yang ditawarkan buku ini adalah perubahan paradigma tentang belajar. Selama ini pengembangan kompetensi ASN sering diidentikkan dengan mengikuti pelatihan formal. Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa belajar seharusnya menjadi bagian dari pekerjaan itu sendiri. Ketika seorang pegawai berdiskusi dengan rekan kerja, menerima umpan balik dari atasan, menyelesaikan masalah baru, atau berbagi pengalaman dalam komunitas praktik, sesungguhnya proses pembelajaran sedang berlangsung. Perspektif ini sangat relevan dengan kebutuhan organisasi modern yang membutuhkan pegawai pembelajar (learning agility) dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang cepat.

Pembahasan mengenai pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga menjadi nilai tambah buku ini. Penulis menunjukkan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan pembelajaran yang lebih fleksibel, personal, dan berbasis data. Kehadiran AI memungkinkan organisasi memetakan kebutuhan kompetensi pegawai secara lebih akurat, memberikan rekomendasi pembelajaran yang sesuai, serta mengevaluasi efektivitas program pengembangan kompetensi. Gagasan ini menunjukkan bahwa workplace learning memiliki prospek yang sangat besar dalam mendukung transformasi birokrasi digital.

Meskipun demikian, buku ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Pembahasan implementasi workplace learning di Indonesia belum dilengkapi dengan banyak studi kasus empiris dari kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah. Kehadiran contoh nyata akan membantu pembaca memahami bagaimana strategi tersebut diterapkan dalam berbagai karakteristik organisasi. Selain itu, pembahasan mengenai indikator keberhasilan workplace learning masih dapat diperdalam sehingga pembaca memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai cara mengukur dampaknya terhadap peningkatan kinerja individu maupun organisasi.

Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi nilai penting buku ini. Justru buku ini membuka ruang diskusi mengenai perlunya perubahan budaya organisasi agar pembelajaran tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang terpisah dari pekerjaan. Penulis berhasil menunjukkan bahwa keberhasilan workplace learning sangat ditentukan oleh kepemimpinan yang mendukung budaya belajar, kolaborasi antarsesama pegawai, serta kebijakan organisasi yang memberikan ruang bagi setiap individu untuk terus berkembang.

Di tengah tuntutan reformasi birokrasi, buku ini memiliki relevansi yang sangat tinggi. Pemerintah sedang berupaya membangun birokrasi yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik. Upaya tersebut tidak mungkin terwujud apabila pengembangan kompetensi masih mengandalkan pola-pola lama yang bersifat formal dan sesaat. Workplace learning menawarkan solusi yang lebih berkelanjutan karena pembelajaran berlangsung secara terus-menerus dalam aktivitas kerja. Oleh karena itu, buku ini bukan hanya memberikan wawasan konseptual, tetapi juga mendorong perubahan cara pandang terhadap proses belajar dalam organisasi.

Secara keseluruhan, Workplace Learning: Strategi Cerdas Pengembangan Kompetensi ASN merupakan buku yang sangat relevan dengan tantangan birokrasi abad ke-21. Perpaduan antara teori, kebijakan, praktik terbaik, dan rekomendasi implementasi menjadikan buku ini sebagai referensi yang bernilai bagi ASN, widyaiswara, pengelola SDM aparatur, akademisi, mahasiswa administrasi publik, maupun para pemangku kebijakan. Meskipun masih terdapat ruang untuk memperkaya contoh implementasi di Indonesia, kelebihan buku ini jauh lebih dominan dibandingkan kekurangannya. Oleh karena itu, buku ini layak direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana membangun organisasi pembelajar yang mampu menghasilkan ASN profesional, adaptif, inovatif, dan berorientasi pada pelayanan publik yang berkualitas.


Workplace Learning: Strategi Cerdas Pengembangan Kompetensi ASN 
Penulis: Muhammad Jufri, Andi Adjjah, Erik Rachim, Muhammad Djajadi, H. Amiruddin
Penerbit: PT. Nas Media Indonesia (Anggota IKAPI)
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2026
ISBN: 978-634-205-956-2
E-ISBN: 978-634-205-957-9 (PDF)

June 27, 2026

LA TADAMPAREK PUANG RIMAGGALATUNG


La Tadamparek Puang Rimaggalatung merupakan cerita yang diangkat dari sejarah seorang raja sekaligus filsuf Bugis yang pemikirannya banyak mewarnai kebudayaan suku Bugis-Makassar. Cerita ini diadaptasi dari buku Wajo Abad XV–XVII: Suatu Penggalian Sejarah Terpendam Sulawesi Selatan dari Lontara karya Prof. Andi Zainal Abidin dan dikembangkan kembali oleh Andi Herlina untuk kepentingan pembelajaran siswa sekolah dasar.

Cerita ini mengisahkan perjalanan hidup La Tadamparek, seorang putra bangsawan Kerajaan Palakka yang kelak dikenal sebagai Puang Rimaggalatung, pemimpin besar Kerajaan Wajo. Sejak kecil, La Tadamparek tumbuh sebagai anak yang cerdas, berani, dan memiliki berbagai keterampilan. Namun, karena mendapat kasih sayang yang berlebihan dari keluarga istana, ia berkembang menjadi pribadi yang keras dan sering meresahkan rakyat bersama para pengikutnya.

Perilaku La Tadamparek yang semakin tidak terkendali membuat rakyat mengadukan tindakannya kepada Arung Palakka. Demi menegakkan adat dan menjaga ketenteraman kerajaan, Arung Palakka akhirnya memutuskan untuk mengasingkan cucunya sendiri. Pengasingan tersebut menjadi titik balik dalam kehidupan La Tadamparek.

Bersama para pengikutnya, La Tadamparek memulai kehidupan baru di Solok, wilayah perbatasan Bone dan Wajo. Di tempat itu, ia bertekad meninggalkan sifat-sifat buruknya dan mulai membangun kehidupan melalui kerja keras. Dengan kemampuan dan pengetahuannya, La Tadamparek memimpin masyarakat membuka hutan, membangun permukiman, serta mengembangkan pertanian hingga Solok berubah menjadi daerah yang makmur.

Keberhasilannya dalam memajukan Solok menarik perhatian para pembesar Kerajaan Wajo yang saat itu tengah menghadapi berbagai persoalan, terutama di bidang pertanian. Berkat kebijaksanaan, kepemimpinan, dan pengabdiannya kepada masyarakat, La Tadamparek kemudian dipercaya memimpin Wajo dan memperoleh gelar Puang Rimaggalatung. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Wajo mencapai masa kejayaannya.

Buku LA TADAMPAREK PUANG RIMAGGALATUNG selain menggambarkan perjalanan hidup seorang tokoh, buku ini juga memperlihatkan pentingnya peran seorang pemimpin dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Melalui berbagai kebijakan yang diterapkan, Puang Rimaggalatung mampu mengubah wilayah yang semula kurang berkembang menjadi daerah yang makmur. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa kemajuan suatu negeri dapat dicapai melalui kerja sama, pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, serta komitmen untuk mengutamakan kepentingan rakyat.

Selain menyajikan kisah perjalanan seorang tokoh besar Bugis, buku ini juga mengandung nilai-nilai moral yang dapat membentuk karakter pembaca, seperti kerja keras, tanggung jawab, kejujuran, keberanian untuk berubah, serta kepemimpinan yang santun, bijaksana, dan adil kepada rakyat. Buku La Tadamparek Puang Rimaggalatung dapat dibaca secara daring melalui laman Laboratorium Kebinekaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.


LA TADAMPAREK PUANG RIMAGGALATUNG 
Penulis : Andi Herlina 
Penyunting : Luh Anik Mayani 
Penerbit : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Tempat Terbit : Jakarta Timur
Tahun Terbit : 2016 
ISBN: 978-602-437-082-4