Cerita dimulai dengan tekad I Manakkuk untuk mempersunting I Marabintang Kamase di negeri Labbakkang. Untuk mewujudkan niatnya, ia membangun sebuah perahu besar dari kayu kuno bernama Lanra Lekleng, yang diambil dari hutan Luk di Luwu—kayu yang menurut legenda seusia dengan dunia itu. Meski orang tua, terutama ibunya, menasihati agar ia menunda perjalanan, I Manakkuk tetap berangkat, didampingi pengasuhnya, meninggalkan kampung halamannya di Bone.
Perjalanan I Manakkuk penuh rintangan. Dalam perjalanannya, ia singgah di perairan Bantaeng, meskipun pengasuhnya memperingatkan banyak bahaya gaib, termasuk ilmu hitam seperti Jalarambakna Bantaeng Tappukserokna Bantaeng dan Laklakanna Lembang Cina. Keteguhan I Manakkuk membawanya bertemu dengan raja dan permaisuri Bantaeng. Awalnya, kemarahannya menyulut konflik karena ia membunyikan meriam dari perahunya, namun keturunan bangsawan Bone yang ia wakili menjadikan raja dan permaisuri terkejut, hingga akhirnya menyambutnya dengan hormat. Di istana, I Manakkuk menunjukkan keahliannya dalam permainan raga, khususnya dengan menggunakan raga emas yang membuat lawan-lawannya kalah.
Namun, perjalanan mereka tidak berhenti di situ. Perahu I Manakkuk sempat tertahan di Bantaeng, bahkan anak-anak buahnya terkena penyakit gatal akibat ilmu gaib Laklakanna Lembang Cina. Meski begitu, dengan keberanian dan bimbingan pengasuhnya, perahu mereka akhirnya melanjutkan perjalanan melewati Barombong dan Ujung Pandang hingga tiba di Labbakkang. Sekali lagi, kedatangan I Manakkuk menimbulkan ketegangan dengan otoritas setempat karena bunyi meriamnya, tetapi statusnya sebagai bangsawan Bone membuat raja dan permaisuri Labbakkang menerima kehadirannya.
Di Labbakkang, I Marabintang Kamase enggan turun ke perahu, sehingga permaisuri sendiri yang menemui I Manakkuk. Dengan syarat dibuatkan istana lengkap dengan pasar dan tempat permainan di Tana Teko, I Manakkuk berhasil mewujudkan kediaman megahnya. Namun, kedamaian mereka terusik oleh kabar datangnya I Nojeng dari Pulau Jawa, yang ingin merebut I Marabintang Kamase. Konflik ini sempat diselesaikan melalui pertarungan ayam aduan, namun kemudian berubah menjadi konfrontasi militer. Dalam pertempuran itu, I Manakkuk dan istrinya meninggal.
Keajaiban terjadi ketika jenazah I Manakkuk dan I Marabintang Kamase dibaringkan bersama di atas selembar sarung mukjizat dari Jawa, disirami air, dan keduanya hidup kembali. Kisah ini menegaskan tema utama: cinta sejati yang mampu mengatasi segala rintangan, baik yang bersifat fisik maupun mistik.
Sinrilik ini juga sarat dengan unsur mistik dan adat, misalnya penggunaan raga emas, sirih sakral, dan ilmu gaib yang membahayakan pelayaran. Keseluruhan cerita tidak hanya menekankan keberanian dan kesetiaan, tetapi juga menunjukkan bagaimana cinta murni dapat bertahan melalui cobaan, pertempuran, dan kematian, hingga akhirnya berujung pada kebahagiaan abadi.
Secara keseluruhan, Sinrilikna I Manakkuk (Lontarak Makassar) adalah karya sastra yang memadukan romansa, epik kepahlawanan, dan kepercayaan mistik, menjadikannya naskah penting yang mencerminkan budaya dan nilai-nilai masyarakat Makassar pada masa lampau, sekaligus menjadi salah satu harta karun budaya yang tersimpan dalam koleksi Layana Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan.
Tim Peneliti/Pengkaji: ambo Gani, Husnah Gani, Baco Dg. Basse, Nurbiyah Saini
Penerbit: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1990





