April 25, 2024

SOEKARNO - PEREMPUAN & PERGERAKAN NASIONAL, Colin Brown

Oleh : Gian Valeri Katadallola

SINOPSIS BUKU SOEKARNO - PEREMPUAN & PERGERAKAN NASIONAL, Colin Brown


 






 

 



 

Judul: Soekarno – Perempuan dan Pergerakan Nasional

Penulis: Colin Brown

Penerbit: Ombak

Tahun terbit: 2004

Jumlah Halaman : 76 Halaman

ISBN : 979-3472-17-0

Penerjemah : Tubagus Arie Rukmantara

 

“Soekarno" sebagai tokoh fenomenal yang diakui oleh dunia internasional sebagai salah great man dari negara dunia ketiga menganggap bahwa kaum Perempuan dapat mengambil bagian dalam pergerakan nasional “. Kurang lebih seperti inilah gambaran besar dari penjelasan buku yang berjudul “Soekarno Perempuan dan Pergerakan Nasional” yang tulis oleh Colin Brown.

Buku ini disarikan dari buku Soekarno yang berjudul Sarinah. Judul asli buku ini adalah "Soekarno on The Role Of Women in The Nationalist Movement" yang kemudian diterjemahkan oleh Tubagus Arie Rukmantara. Secara umum dalam buku dijelaskan bagaimana jejak perjuangan kaum Perempuan, proses terjadi, dan bagaimana kaum Perempuan pada masa itu mampu melewati tarikan-tarikan nilai-nilai kepantasan yang telah menjadi pakem dalam masyarakat dan berbagai macam tabu yang mendominasi pada masa itu. Dalam buku ini juga kita dapat melihat bahwa pada masa itu kaum Perempuan sudah memiliki "bargaining position" dalam perjuangan nasional, mereka bersatu dalam perkumpulam-perkumpulan yang menghasilkan pemikiran-pemikiran yang cerdas yang sangat membantu dalam usaha pencapaian kemerdekaan.

Buku ini terdiri dari 76 halaman tanpa Bab, yang semua argument didalamnya disajikan dengan redaksi kata yang mudah di pahami bagi pembacanya. Buku ini sangat cocok di baca bagi kaum muda khususnya Perempuan mudah yang ada dindonesia.

Buku ini adalah salah-satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin KM. 7 Kota Makassar.

TERJEMAHAN MEMORY VAN OVERGAVE CONTROLIER TANAH TORAJA 1946-1947

 Oleh Shirce Upe Tandi




Judul: Terjemahan Memory Van Overgave Controlier Tanah Toraja 1946-1947

Editor :Drs. H. A. Ahmad Saransi, M.Si

Nama Penerbit : Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tahun terbit : 2015

Jumlah halaman : xxi + 208

                                                                                                            

Memori Van Overgave adalah memori serah terima jabatan pada masa pemerintahan kolonial Belanda.Setiap controleur(Kontrolir) atau semacam kepala daerah pada masa pemerintahannya membuat catatan berbagai kegiatan pemerintahan.Ada catatan tentang batas wilayah, luas, jumlah penduduk, iklim, Sungai dan danau, etnografi, mata pencarian penduduk, strata sosisal, Tingkat Pendidikan, kondisi Kesehatan, masalah hukum, Sejarah dan lain-lain.

Buku ini adalah terjemahan memori serah terima jabatan oleh J.M. Van lijk, Controleur Tana Toraja pada periode pemerintahan 23 Juli 1946-23 Juni 1947.Memori Serah Serah terima Jabatan dalam bentuk aslinya yaitu Khazanah Arsip Negara Indonesia Timur (NIT) dengan nomor register 59.

Sesuai dengan Edaran Residen Sulawesi Selatan tanggal 13 mei 1947 No.8/28/30 laporan serah terima dapat bersifat ringkas.Namun penyusunan laporan ini tidak mempunyai alasan untuk melakukan hal tersebut.Laporan serah terima terakhir dari onderafdeling Tana Toraja ialah laporan kontrolir G.R.Seinstra tertanggal 31 Desember 1939 yang berisi banyak data berharga.Hingga tahun 1927 onderafdeling Makale dan Rantepao berada di bawah pemerintahan pegawai pemerintah secara terpisah.Setelah itu kedua wilayah ini disatukan,sedemikian rupa,sehingga kontrolir Rantepao sekaligus merupakan pejabat kontrolir Makale.

Tentang kepercayaan orang tae’ Toraja, baru sedikit sekali dipublikasikan.Pasti utusan dari badan Alkitab Belanda, Dr.H. Van der Veen akan menyatakan sesuatu yang mendunia pada waktu yang akan datang berkaitan dengan pengetahuannya yang dalam dan puas tentang ethnologi suku bangsa ini.Bagi orang selain Dr. Van der Veen, tentunya sangat sulit dan berat untuk dapat menulis sesuatu dengan nilai ilmiah yang hakiki mengenai hal ini.Agama Tae’ Toraja menurut pendapat mereka harus dimasukkan kedalam kelompok aliran pan-kosmos.Bagi mereka, kosmos adalah satu-satunya kenyataan.

Orang dapat membedakan antara budaya tinggi dan budaya rendah.Menurut Dr.Van der Veen ada beberapa petunjuk bahwa yang disebut terakhirlah yang tertua.Namun mite mengenai air bah Ruru mengemukakan seolah Puang Matua mengirim Burake pertama dan To Minaa di mana,Burake adalah Ulama yang memelihara hubungan dengan dewa-dewa.

Tradisi perkawinan di toraja (Sibobaine atau siala) tidak memiliki banyak ikatan dan upacara juga tidak terlalu diekspos tidak ada pertunangannya sebelumnya sekali pun hubungan ini biasanya atas kemauan keduanya.Untuk suatu perkawinan diperlukan persetujuan orang tua.Jika ketentuan ini dilanggar maka dapat timbul gangguan ,namun biasanya tak lama,kemudian terjadi perdamaian.

Kemudian Pesta kematian adalah pesta yang paling utama yang sudah dipersiapkan sejak seorang manusia masih hidup,agar ia mendapatkan pesta yang sesuai dengan harga dirinya.Mereka yang tidak punya anak segera mengadopsi sesuai yang telah dibicarakan, di mana mereka mendapatkan seseorang yang mereka anggap bahwa ia pada akhirnya tidak akan mengecewakan.

Suku bangsa dan asal usul

Orang-orang Toraja Bersama dengan orang batak dan Dayak digolongkan ke suku bangsa Melayu-tua.Tulisan karya Prof. Dr. J. Th.Duijvendak:In leiding tot de ethnoloqie vanden Indisichen Archiepel = Pengantar etnologi Kepuluan Nusantara.Profesor Krom menyebut suku bangsa Melayu-Muda (Bugis, Makassar dan sebagainya).Bersama dengan suku melayu tua.Genealogi keturunan yang dikaitkan dengan kisah turun temurun berlatar belakang Sejarah dapat memberikan gambaran yang jelas dalam hal ini.Di mamasa hal ini dapat di telusuri dengan baik, karena di sana di sebutkan nama-nama dari para Datu dari Luwu yang memiliki kontrak dengan mereka .Periode pemerintahan para raja tersebut diketahui dengan cukup cermat walaupun kisah  rakyat lama pada umumnya sangat bercampur dengan tradisi Puang ,dan perkembangan Sejarah setelah munculnya tradisi puang namun di sini masih bisa dilakukan pemisahan yang cukup memuaskan.Untuk mendengarkan kisah rakyat kuno yang turun temurun ini,orang harus pergi kepada para To Minaa dan bukan kepada kepala-kepala keluarga besar.

Buku ini adalah salah satu koleksi Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin KM. 7 Kota Makassar.

 

 


3 Perempuan Patriot Kalimantan

 Oleh shirce Upe tandi

Dari kampus Stmik Profesional makassar

 



Penulis : Kartika Rini

Penyunting : Ari wulandari

Penerbit : Adicita Karya Nusa

Pengelolah sampul : Eri Andwiatwoni

Ilustrasi sampul : Wid NS

Ilustrasi dalam : Wid NS

Penata letak : Much. Zakaria

Pencetak : Mitra Gama Widya

 

Buku Tiga Perempuan Patriot Kalimantan ini mengisahkan perjuangan dan kepahlawanan tiga orang Perempuan di Kalimantan.Mereka tidak terlepas dari adat yang mengungkungnya sebagai Perempuan bangsawan, misalnya dipingit dan dijodohkan oleh orang tuanya.Namun hal itu tidaklah menyurutkan tekad mereka untuk memberikan pengabdian kepada bangsa dan negerinya.

Tiga orang Perempuan patriot Kalimantan itu adalah Nyai Undang,Moret,dan  Nyai Balau.Nyai Udang yang cantik jelita itu memiliki kesaktian dari ayahnya yang di manfaatkan untuk menjaga keamanan negerinya dari serangan musuh dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.Moret,gadis cantik yang memanfaatkan kelebihannya untuk mencari jodoh yang akan memakmurkan negerinya.Nyai balau yang kehilangan Putranya kemudian bertapa dan berhasil memperoleh kesaktian.Dengan kesaktiannya tersebut,ia berhasil mengalahkan Antang yang mengayau putranya dan memimpin negerinya dengan adil dan bijaksana.

Dengan kisah-kisah kepahlawanan dan keteladanan yang di ungkapkan dalam buku ini,diharapkan anak-anak dapat mencontoh jiwa keteladanan.Diharapkan anak-anak dapat mencontoh jiwa keteladanan dan kepahlawanan mereka.Selain itu,juga memupuk sikapmenghargai dan bangga terhadap kepahlawanan nenek moyangnya.

Pada zaman dahulu,ada seorang pemuda sakti Bernama Sempung yang senang berkelana.Ia memiliki tujuh istri yang tinggal di daerah yang berlainan.Di pulau kupang,Sempung memiliki istri Bernama Nuyang. Pasangan Nuyang dan sempung memiliki anak Perempuan Bernama Nyai Udang.Ilmu Sempung yang tinggi diwariskan kepada Nyai Udang.Nyai Udang menjadi sakti,memiliki pengetahuan luas, berwibawah, dan bijaksana.Meskipun masih remaja,Nyai Undang sangat disegani.Di usianya yang belia, Ia telah menjadi ratu di pulau kupang tidak heran kalua nama Nyai Undang Kembali menjadi termasyur hingga ke negeri lain.Selain karena kepandaiannya,semua orang juga membicarakan kecantikannya yang bagaikan bidadari turun dari khayangan.

Oleh ayahnya,Nyai Undang telah dijodohkan dengan seorang pemuda Bernama Sangalang. Kelak pada waktu yang tepat keduanya akan dinikahkan. Sangalang dan Nyai undang menuruti perjodohan itu karena keduanya saling mencintai.Pada saat itu semakin hari berita tentang ratu pulau Kupang cantik rupawan semakin menyebar.Tidak hanya di negeri-negeri di Pulau Kalimantan,Tetapi kemasyuran Nyai Undang Terdengar hingga jauh ke negeri Seberang lautan.

Buku ini adalah salah satu koleksi Layanan Iptek Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin KM. 7 Kota Makassar.

 

 

 

 

 

 



LELEHE PETUALANGAN ANAK-ANAK BALAI HUNJUR MERATUS KALIMANTAN SELATAN

Oleh shirce upe tandi

 





Hak cipta : Djarani E.M.

Hak penerbit : Adicita Karya Nusa

Dicetak oleh : Mitra Gama Widya

Penyunting : Puji Werdianto

Penata letak : Lina Irdanti

Ilustrasi dalam : Mulyantara

Pengelolah kulit dan ilustrasi : Wahyu Wibowo

Nomor kode penerbit : 235.507 AKN98

 

Cerita ini berawal dari rencana pemerintah untuk membangun bendungan di loksado, di Hunjur Meratus,Kalimantan Selatan, suatu Kawasan yang leluhur.Rencana itu ternyata menimbulkan perbedaan pendapat di antara warga setempat.Warga yang mendukung, berharap agar Pembangunan bendungan tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan Masyarakat suku bukit dan Masyarakat sekitarnya.

Sebagian menantang rencana tersebut karena mereka berkeinginan mempertahankan tanah leluhur dan tradisi suci yang telah menjadi bagian hidup mereka turun temurun dari generasi ke generasi.Mereka tidak rela jika perubahan yang disebut kemajuan itu,harus dibayar dengan meninggalkan tanah leluhur yang berarti pendurhakaan terhadap wasiat suci yang diyakini dapat menimbulkan tulah atau bencana.

Konflik budaya tersebut diacu menjadi tema cerita.Alur cerita fiksi yang berlatar budaya daerah Kalimantan Selatan ini sengaja ditampilkan dengan tujuan untuk memperkenalkan salah satu budaya yang terdapat di Indonesia.

“Dangsaknak baratan,” ujar Damang Undas membuka persidangan.Dengan Panjang lebar , ia mengutarakan maksud dan tujuan diadakannya pertemuan.Penyampaian lamban,jelas dan tenang sehingga setiap kata yang diucapkannya dapat di Simak dengan baik. Kharismanya tampak menonjol dalam melantunkan sikap ramah dan kebapakan.

Dalam suasana yang paling demokratis,ia menerima setiap pendapat dari warganya sebagai tanggapan atas masalah yang disampaikannya.Dengan sabar,ia menghadapkan mukanya kepada setiap pembiacara orang itu tidak jarang membuat perutnya menjadi masam.Tahapan dengar pendapat pun sudah berlalu kini persidangan ia arahkan ke tahap selanjutnya.

“Dangsanak barataan.Mungkin sudah waktunya kita menyisihkan antah dengan beras.Maksudku, kini menjaring kesamaan dalam kebersamaan pendapat,utnuk selanjutnya kita menarik kesimpulan akhir berupa kebulatan tekad.Kebulatan tekad itulah yang kelak akan kita sampaikan kepada camat selaku kepala pemerintahan wilaya,” ujar Damang Undas setelah beberapa saat ia biarkan waktu berlalu dalam keheningan.

Buku ini adalah salah satu koleksi Layanan Iptek Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin KM. 7 Kota Makassar.

 







April 24, 2024

Kamus Bugis - Inggris - Indonesia

 


Judul:                         Kamus Bugis Inggris Indonesia

Penulis:                      Douglas Lakoswske, MA

Penerbit:                    Ininawa

Tahun Terbit:              2023

Jumlah Halaman:        ix + 251

ISBN:                        978-623-99673-1-4

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Isi Resensi:

Satu lagi buku Kamus Bugis terbaru yang terbit tahun 2023 lalu. Kamus Bugis yang satu ini berbeda dengan kamus kamus Bugis yang terbit sebelumnya. Kamus Bugis yang telah terbit sebelumnya hanya kamus dwi-bahasa (Bilingual Dictionary) yaitu Kamus Bugis – Indonesia atau Kamus Indonesia – Bugis. Buku kamus yang ini adalah kamus 3 bahasa atau Multilingual Dictionary yaitu Bugis – Indonesia – Inggris. Kamus ini disusun oleh Douglas Laskowske, seorang peneliti tata bahasa Bugis dari University of North Dacota, Amerika Serikat yang fasih berbahasa Bugis. Beliau pernah tinggal dan meneliti bahasa Bugis di Kabupaten Soppeng.

Melihat sampul buku kamus ini, mengingatkan kita pada Kamus Inggris – Indonesia, Indonesia – Inggris yang disusun oleh John M. Echols dan Hasan Shadily yang sangat populer di kalangan mahasiswa dan pelajar beberapa tahun lalu. Sampulnya terdiri dari warna latar belakang biru tua, dengan garis garis besar warna kuning, hijau, merah dan putih. Pada sampul depan juga terdapat tulisan dengan aksara lontara “Kamusu Ugi Inggerise Indonesia” dan tulisan dalam bahasa Inggris “A Bugis-English-Indonesia Dictionary”.

Kamus ini diawali dengan Prakata yaitu ulasan bagaimana proses penelitian dan sampai penyusunan buku kamus ini, Ucapan Terimakasih kepada orang orang yang telah membantu dalam penyusunan buku ini, Daftar Singkatan yang digunakan, Sistem Ejaan bahasa Bugis dan Cara Penggunaan Kamus ini.

Kamus Bugis yang terbit sebelumnya, entri kosa kata disusun berdasarkan urutan aksara Lontara (ka, ga, nga, Ngka...dst) maka kamus ini disusun berdasarkan susunan aksara Latin (A, B, C, D....dst), Cara ini akan memudahkan pengguna, terutama generasi muda yang sudah terbiasa dengan sistem urutan aksara Latin. Ada 22 poin entri kata Bugis yang ada yaitu : A, B, C, D, É, E, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, R, S, T, U, W, dan Y. Dalam bahasa Bugis, tidak ada Q, V, Y dan X, namun ada 2 entri yaitu aksara E =  ea   dan É = aE . Contoh penggunaannya ‘e’ yang pertama sama dengan bunyi ‘e’ pada kata ‘enak’ dan ‘e’ yang kedua sama bunyi dengan ‘e’ pada kata ‘emas’.

Kosa kata Bugis dalam kamus ini juga dijelaskan tentang variasi penyebutannya. Contoh kata entri ‘Abio’  abiao  (Indonesia : kiri) di daerah Bone disebut ‘Abéo’  aebao . . Susunan entri kata, pertama kosa kata Bugis dasar, kemudian tulisan aksara Lontaranya, golongan kata (kata benda, kata sifat, kata kerja dan lain lain), kemudian bahasa Inggris-nya, disusul bahasa Indonesia-nya, arti kedua dari kata dasar tersebut kalau ada, contoh penggunaan kata dalam kalimat, dalam 3 bahasa, semua dalam aksara latin, dan terakhir adalah kata kata turunan dari kata dasar Bugis yang menjadi entri.

Kamus ini juga ada versi digitalnya, yaitu suatu aplikasi yang dapat diunduh (download) dari Play Store. Pada versi digitalnya, ada 3 tab yaitu Tab Bugis, Indonesia dan Inggris. Jika kita memilih tab Bugis, maka akan muncul kata kata entri Bugis dengan artinya dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Tapi jika kita memilih Tab Indonesia, maka yang ada adalah entri bahasa Indonesia dengan artinya dalam bahasa Bugis, tanpa bahasa Inggris. Begitu pula jika kita memilih tab Inggris, maka yang ada adalah entri dalam bahasa Inggris dengan arti kata bahasa Bugis, tanpa bahasa Indonesia.  Untuk versi digital ini, tidak digunakan aksara Lontara. Semua menggunakan aksara Latin. Versi digital kamus ini juga ternyata tidak sebanyak entri pada buku cetaknya.

Kamus Bugis Inggris dan Indonesia ini istimewa karena mungkin satu satunya kamus 3 bahasa yang pernah terbit. Kamus sebelumnya hanya kamus 2 bahasa (bilingual dictionary) misalnya Kamus Bugis – Belanda, Kamus Bugis – Indonesia dan lain lain.

Masih cukup banyak aspek dialek dan perbedaan kosa kata dan logat bahasa Bugis yang ada di berbagai kabupaten di Sulawesi Selatan yang tidak dibahas dalam kamus ini. Mungkin karena masih edisi pertama, yang kemungkinan besar akan terbit edisi edisi barunya, yaitu edisi ke-2, ke-3 dan seterusnya,  kelak dikemudian hari, yang jauh lebih lengkap. Semoga segera terwujud.

Bagian akhir buku adalah Empat Diatesis Bahasa Bugis, Appendiks A. Cuppang-cuppang Kapuru’ dan Referensi. 

Buku:  koleksi pribadi.