August 25, 2023

CAGAR BUDAYA KABUPATEN PINRANG

Kabupaten Pinrang kaya akan peninggalan purbakala yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi, karena dahulu banyak terdapat kerajaan-kerajaan besar. Yaitu Kerajaan Sawitto, Kerajaan Suppa dan Kerajaan Alitta yang masuk dalam persekutuan LimaE Ajatappareng. Adapun Kerajaan Kassa dan Batulappa yang masuk Persekutuan Masserengpulu. Ada juga Kerajaan Lanrisang (JampuE). Belum lagi kerajaan kecil yang merupakan Kerajaan Lili Passiajingeng kerjaan besar, misalnya Paria, Leppangang, Buah, Talabangi dan lain-lain. Yang merupakan Kerajaan Lili Passiajingeng bagi Sawitto.

Kerajaan tersebut banyak meninggalkan berupa benda/materi yang dapat memberikan informasi tentang kerajaan-kerajaan tersebut di masa lampau. Sehingga perlu dilestarikan dan dilindungi keberadaannya. Peninggalan purbakala tersebut terdapat di tiga lokasi, yakni:

  1. KECAMATAN WATANG SAWITTO, yaitu di Kompleks Makam Raja-Raja Sawitto atau juga dikenal sebagai Jera ri Masigi Toa. Karena dulunya ditempat ini terdapat mesjid. Tetapi kemudian rubuh saat terjadi gempa di tahun 1960-an. 
  2. KECAMATAN TIROANG, ada tiga lokasi yang menjadi obyek penelitia: 1. Kompleks Makam MatinroE ri Masigi'na: 2. Makam Hasan Al Fakhi (FakkiE) 3. Makam La Temmanroli, karena keadaan makam sudah rusak oleh manusia, maka makam La Temmanroli ini tidak didaftarkan sebagai Cagar Budaya. 
  3. KECAMATAN MATTIRO SOMPE, yaitu pada Kompleks Makam La Tola Pallipa Pute'E. Seorang tokoh Agama Islam yang di hormati oleh masyarakat setempat. Di tempat ini selain makam, juga ditemukan benda yaitu Al Qur'an kuno dan peralatan makan. 
Dari ketiga lokasi pengumpulan data di atas, maka pada umumnya yang ditemukan adalah makam. Semuanya makam Islam berdasarkan orientasi makam yang utara-selatan. Pada umumnya makam terdiri dari nisan, kijing/jirat dan gunungan.

Laporan Pengumpulan Data Cagar Budaya Kabupaten Pinrang ini merupakan hasil studi lapang dan studi pustaka yang berpedoman pada Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Berikut hasil pendataan untuk pendaftaran cagar budaya Kabupaten Pinrang, sebagai berikut:

Kompleks Makam Raja-Raja Sawitto 

  • Makam La Tamma 
  • Makam We Baeda 
  • Makam Tenri
  • Makam Makam La Bode
  • Makam La Pajung 
Kompleks Makam Laleng Benteng

  • Makam La MatinroE ri Langkara'na
  • Makam La Kuneng 
  • Pondasi Langkara Sawitto
Makam FakkiE 

Kompleks Makam Pallipa Pute'E Makam Pallipa Pute'E 

  • AL Qur'an Kuno Pallipa Pute'E 
  • Cangkir Pallipa Pute'E 
  • Cerek Pallipa Pute'E 
  • Pakaian Pallipa Pute'E 
  • Badik Pallipa Pute'E 
  • Termpat Serbet Pallipa Pute'E 
  • Tempat air minum
Laporan ini dilengkapai deskripsi, latar sejarah dan foto yang dapat di akses pada Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Laporan Pengumpulan Data Cagar Budaya Kabupaten Pinrang
Tim Pedaftaran: Hamjan, Andi Muliani, Taupan, A. Suswati, Abd. Rahman
Penerbit: Dinas Sosial, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pinrang
Tempat Terbit: Pinrang
Tahun Terbit: 2014


PERMAINAN RAKYAT SUKU BUGIS MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN

 

Secara objektif rasional, permainan-permainan tradisional rakyat mengandung 2 segi yaitu, segi positif - bermanfaat bagi kesinambungan kehidupan bangsa dan juga segi negatif - tidak selarasnya dengan kehidupan nasional. Namun di sisi lain, terkadang pembaharuan yang berkaitan dengan nilai budaya tradisional dapat memberikan dampak positif, tapi tak dapat dipungkiri bahwa pembaruan/modernisasi juga dapat mengikir dan menjadikan punahnya nilai budaya tradisional. Buku “PERMAINAN RAKYAT SUKU BUGIS MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN" merupakan hasil penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh tim proyek inventarisasi & dokumentasi kebudayaan daerah Sulawesi Selatan dalam rangka mencegah punahnya nilai budaya tradisional melalui permainan rakyat. Melalui buku ini, pemerintah setempat khususnya provinsi Sulawesi Selatan ingin membina generasi muda melalui permainan tradisional. 

Permainan tradisional bermanfaat untuk menyalurkan kreatifitas di waktu senggang. Selain itu permainan tradisional juga memiliki nilai rekreatif dan kompetitif sehingga permainan rakyat tidak hanya menjadi gambaran makna nilai kebudayaan sosial yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika, namun permainan ini juga menjadi hiburan dengan ciri khas tersendiri.

Bacaan ini juga merupakan upaya inventarisasi permainan rakyat yang ada di daerah, bagaimana bentuk dan peranannya dalam kehidupan masyarakat karena kenyataanya permainan tradisional khususnya di daerah Bugis-Makassar berada pada tiga kondisi yaitu : (1) permainan yang masih hidup dan digemari oleh masyarakat, (2) permainan yang sudah kurang ditemui dan telah menjelang kepunahan, dan (3) permainan yang sudah punah sehingga hanya dapat diketahui melalui penuturan lisan dan dalam bentuk penulisan yang jumlahnya sangat terbatas.

Anggota tim peneliti, penulis dan penyusun berhasil mengumpulkan 20 jenis permainan rakyat Bugis-Makassar yang ditekankan pada jenis, bentuk hingga tata cara penyelenggaraan permainan tersebut. Data-data mengenai permainan tersebut dikumpulkan melalui observasi pada masyarakat yang mendiami daerah Sulawesi Selatan yaitu suku bugis, suku Makassar, campuran suku Bugis-Makassar, suku Mandar dan Toraja.

Pemainan yang disebutkan di dalam buku ini, diantaranya adalah :

1. Marraga/Akraga

            Orang Bugis menyebut permainan ini sebagai Marraga/Mandaga, sedangkan orang Makassar menyebutnya Akraga. Dalam bahasa Indonesia sendiri telah umum dikenal sebagai bersepak raga. Permainan raga dapat dilakukan kapan saja sebagai pengisi waktu terluang, permainan ini juga biasa digelar pada kegiatan pelantikan seorang raja, meramaikan kegiatan keluarga maupun masyarakat secara umum seperti acara pernikahan, pesta panen hingga atraksi untuk menghibur tamu agung.

2. Maggasing

            Permainan bersifat musiman yaitu sesudah panen atau pada musim kemarau, hal ini disebabkan lokasi permainan yang membutuhkan tanah keras dan datar.

(Sumber Gambar : GASING INDONESIA: GASING MAKASSAR (gasing-indonesia.blogspot.com) )

3. Maggaleceng/Aggalaceng

                Permainan ini biasanya dimainkan dari malam hingga pagi hari sebagai rangkaian dari acara berkabung, penyelenggaraannya dilakukan hingga upacara pemasangan batu bata dan nisan kuburan orang meninggal yang ada di daerah Bugis.


4. Massaung Manuk/ Assaung Jangang

               Di masa silam permainan ini merupakan kegemaran kaum bangsawan pada umumnya dan juga dapat disaksikan oleh masyarakat umum, dikalangan raja-raja terkadang mengadakan pertandingan antar kerajaan yang dihadiri oleh para raja-raja yang ada pada saat itu.


5. Mallogo / Allogo

                 Permainan ini pada umumnya diselenggarakan setelah panen dilakukan dan dimainkan pada waktu-waktu senggang pada pagi atau sore hari. Permainan ini termasuk permainan yang ditujukan untuk semua golongan, hanya saja bagi para kalangan istana dan bangsawan biasanya mempergunakan logo yang disepuh dengan emas pertanduk.

(Sumber Gambar : Mallogo, Permainan Tradisional Masyarakat Bugis-Makassar (1001indonesia.net) )

        Masih terdapat l5 jenis permainan lainnya yang dideskripsikan dalam buku bacaan ini yang dibaca lebih lengkap pada Layanan Deposit Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi di jalan Sultan Alauddin KM. 7 Tala'salapang kota Makassar.


PERMAINAN RAKYAT SUKU BUGIS MAKASSAR DI SULAWESI SELATAN
Penanggung Jawab    :    Departemen Pendidkan dan Kebudayaan Sulawesi Selatan
Penerbit                    :    Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Sulawesi Selatan
Kota Tebit                :    Ujung Pandang
Tahun Terbit            :    1980
ISBN                        :    -

August 24, 2023

Sejarah dan Budaya Pinrang

Menurut sejarah, nama Kabupaten Pinrang berasal dari salah satu peristiwa yang terjadi yakni peperangan antara Kerajaan Sawitto dengan Kerajaan Gowa sekitar tahun 1544. Oleh karena kekuatan yang tidak seimbang maka peperangan berkesudahan dengan kekalahan Sawitto. Dengan kekalahan itu Raja La Paleteang bersama Sang Permaisuri di tawan dan di bawah ke Gowa sebagai bukti kemenangan Gowa atas Sawitto.

Untuk membebaskan raja dan permaisuri, pihak Kerajaan Sawitto menunjuk dua tobarani (orang berani), yaitu To Lengo dan To Kipa, akhirnya raja dan permaisuri berhasil di bebaskan dan disambut gembira. Melihat dan menyaksikan kondisi wajah dan badan sang raja mengalami banyak perubahan, seraya mengatakan: "Teppinra-pinrakana'ni tappana datue pole ri Gowa". Yang artinya: Wajah raja mengalami perubahan setelah kembali dari Gowa. 

Peristiwa lainnya,  adanya perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lainnya. Sumber lain mengatakan bahwa kondisi pemukiman di sekitar Kota Pinrang selalu tergenang air karena rawa-rawa sehingga masyarakat senantiasa berpindah-pindah mencari wilayah pemukiman yang bebas dari genangan air. Dalam bahasa Bugis disebut "Pinra-pinra Onroang". Kedua peristiwa yang berbeda itu melahirkan istilah yang sama yaitu "Pinra" kemudian kata itu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh intonasi dan dialek bahasa Bugis, sehingga menjadi PINRANG.

Buku Sejarah dan Budaya Kabupaten Pinrang memberikan informasi tentang Raja-Raja Sawitto; sejarah perjuangan Lasinrang, perjuangan Andi Noni melawan Belanda, Perjuangan BPRI melawan melawan Nica, A. Bau Massepe diundang Ir. Soekarno, perjuangan pejuang Pinrang (1945-1949) serta mengalirnya Darah Patriot suppa Tanah Dewatae;  sejarah masuknya agama Islam di Pinrang; dan proses perkawinan di Pinrang. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Sejarah dan Budaya Pinrang
Editorial: Bahri Majid, A. Wanua Tangke
Penerbit: Pemerintah Kabupaten Pinrang atas Media Citra Nusantara
Tahun Terbit: 2002


August 10, 2023

MEROBEK DEMOKRASI

 Oleh : Moh. Rizki Mahda Putra



    "Merobek Demokrasi", itulah judul yang sengaja dipilih untuk buku yang merupakan kumpulan tulisan ini. Pilihan tersebut tentu bukan tanpa alasan dan pun tidak bermaksud mengabaikan pentingnya sejumlah judul atau topik menarik yang tersaji pada setiap bagian dan halaman pada isi buku. sebuah asumsi dasar yang melatari pencamtuman judul tersebut yakni berangkat dari pemikiran bahwa istilah "demokrasi' cukup representatif mewakili judul lainnya. mengapa? sifat general demokrasi membuanya ia bisa bersesuaian serta dapat masuk ke ranah disiplin ilmu pengetahuna. dengan demikian, siapapun dan dari profesi apapun dapat mengkaji wacana, proses, maupun problem demokrasi tersebut yang dihubungkan dengan berbagai hal.

    di sisi lain 'demokrasi' selalu menjadi trending topic yang mengundang hasrat banyak orang untuk memperbincangkannya, mulai warung kopi sederhana pinggir jalan hingga cafe mewah di hotel-hotel. hal ini merupakan bukti betapa demokrasi tersebut menjadi hal penting tidak hanya dalam bidang politik, tetapi pada berbagai aspek kehidupan dimana implementasi dekomrasi adalah dambaan semua masyarakat. dalam dunia pendidikan misalnya, proses penyelenggaraannya selalu diharapkan berjalan secara demokratis dimana pendidikan idealnya berpihak kepada kepentingan dan kebutuhan rakyat.

    Dalam bidang budaya demokrasi juga menjadi dambaan setiap masyarakat, dimana proses penentuan kebijakan kebijakan pemerintah di sektor ini senantiasa diharapkan berpihak kepada kepentingan rakyat. pun dalam bidang supremasi hukum menyangkut persoalan sosial kemasyarakatan, rakyat mendambakan demokratisasi di terapkan sebagaimana seharusnya. dengan demikian.


Buku ini koleksi Perpustakaan Khusus, Ruang Baca Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Suawesi Selatan


MEROBEK DEMOKRASI

Penulis: Faisal Syam, Dkk

Penerbit: Pijar Press

Tempat Terbit: Jl. Daeng Ramang, Komp. Permata Sudiang Raya

Tahun Terbit: Juli, 2018

Jumlah halaman: 176 halaman 

AKKADDO BULO (Jejak Sejarah & Eksistensi Budaya Lokal Pada Perayaan Pesta Panen)

 Oleh: Afdal Asykari Hijaz 



Kebudayaan merupakan cerminan kehidupan manusia la menjadi identitas suatu daerah Termasuk aktivitas ritual kebudayaan lokal- Diberbagai daerah ritual-ritual kebudayaan yang menjadi tradisi tahunan masih tetap dipertahankan Selain mengandung unsur kesejarahan, ia juga menjadi ciri dan simbol daerah tersebut

Ada 3 desa yang menggelar tradisi Akkaddo Bulo Desa-desa ini dulunya hanya satu wilayah namun kemudian dimekarkan Ke 3desa tersebut yakni Desa Bontomangape, Desa Kalenna Bontongape, dan Desa Parambambe: Pesta panen Akaddo Bulo (Kuliner/Makanan Dari Beras Ketan Dalam Bambu) tiap tahun digelar setelah panen raya digelar Pesta panen ini digelar sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah diberikan oleh sang pencipta

Lewat tradisi Akkaddo Bulo ini, masyarakat melestarikan nilai-nilai kearifan lokal daerahnya Dimana didalamnya memiliki pesan-pesan moral, salah satunya ialah pesan tentang nilai toleransi, persatuan dan rasa syukur Tamu yang datang saat perayaan pesta panen Kaddo Bulo ini tak pernah dipandang dari suku, agama, rasa dan daerah mana Interaksi sosial terjadi secara alami Masyarakat bersyukur jika banyak sanak keluarga atau tamu dari luar yang mengunjungi daerahnya saat pesta panen ini

Semoga ritual tradisi tahunan ini menjadi agenda tahunan ditengah pesatnya pengaruh globalisasi dan teknologi Peran generasi muda dibutuhkan dalam melestarikan dan mengelaborasi pesta panen agar lebih semarak dan meriah


Buku ini koleksi Perpustakaan Khusus, Ruang Baca Unit Kearsipan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Suawesi Selatan


AKKADDO BULO (Jejak Sejarah & Eksistensi Budaya Lokal Pada Perayaan Pesta Panen)

Penulis: Abdul Jalil

Penerbit: PT. Media Pena Patorani

Tempat Terbit: Jl. Borongtaipaya NO. 18 B

Tahun Terbit: Januari 2020

Jumlah halaman: 212 halaman