March 26, 2024

Kitab Masakan, Kumpulan Resep Sepanjang Masa

 


Judul:                         Kitab Masakan, Kumpulan Resep Sepanjang Masa

Penulis:                      Tim Dapur Demedia

Editor:                        Ayu Kharie

Penerbit:                    Demedia Pustaka

Tahun Terbit:              2017

Jumlah Halaman:        1104

ISBN:                         978-979-082-292-4

Penulis Resensi:          Suharman, S.S., MIM.

Isi Resensi:

Buku resep sangat bermanfaat terutama bagi yang suka memasak, orang orang yang baru membangun rumahtangga, anak anak mahasiswa yang kost, dan siapapun yang ingin mencoba memasak berbagai hidangan. Kehadiran buku resep yang sangat lengkap ini tentu akan sangat memudahkan menyusun menu menu masakan, baik itu menu sehari hari, menu akhir pekan, menu pesta, kudapan dan makanan ringan lainnya. Buku ini memuat 1377 resep dari berbagai daerah di Nusantara dan bahkan juga resep resep dari luar negeri.

Buku setebal 1104 halaman ini, oleh tim penulis dibagi menjadi 19 bagian. Bagian bagian sesuai dengan jenis resep, misalnya pada bahian pertama adalah resep Salad, dimana terdapat 50 jenis resep Salad. Ada salad buah manis, salad alpukat, salad pepaya, salad buncis, chicken salad, pasta salad saus yougnes dan lain lain. Pada bagian kedua, adalah resep resep berbahan Ayam misalnya Ayam Goreng Kalasan, Ayam Bumbu Hijau, Ayam Panggang Gorontalo, Ayam Penyet, Ayam Taliwang (Lombok), Ayam Rica Rica, Ayam Isi Dibulu (Manado), Ayam Budu Budu (Makassar) dan lain lainnya.

Adapun pembagian jenis jenis resep dalam buku ini adalah sebagai berikut :

Bagian I  sampai bagian X terdiri dari Resep Salad (50 resep), Resep berbahan daging Ayam (80 resep), Resep berbahan daging Bebek (70 resep), Resep berbahan daging Sapi (80 resep), Resep berbahan daging Kambing (65 resep), Resep berbahan Ikan (99 resep), Resep berbahan Seafood (75 resep), Resep berbahan Telur (65 resep), Resep berbahan Tahu dan Tempe (80 resep), dan Resep berbahan Sayur-sayuran (50 resep).

Bagian XI sampai bagian XIX dengan urutan resep masakan sebagai berikut : Resep Sambal (50 resep), Resep berbahan Nasi (50 resep), Resep berbahan Mi (50 resep), Resep Hidangan Asia (106 resep), Resep Kue Tradisional (78 resep), Resep Cake (47 resep), Resep Kue Kering (50 resep), Resep Puding (48 resep) dan Resep Aneka Minuman Segar (50 resep)

Selain itu ada 3 bagian Bonus tambahan yaitu :  Resep Lauk Lezat Tanpa Penyedap (22 resep), Resep Masakan Padang Populer (22 resep) dan Resep Paket Sayur dan Lauk Sehari hari (90 resep).

Pada bagian akhir buku dibahas  tentang Tips Tips Memasak yaitu : Istilah istilah Memasak,      Tips memanggang dan mengukus, Tips memilih, menyimpan dan memasak bahan olahan,       Tips membuat Kue Kering, Tips membuat Cake, Tips membuat Kaldu yang sehat, harum dan lezat, Tips membuat Puding, Tips memilih dan menyimpan Bumbu, Tips membuat Bandeng Duri Lunak/Ayam Tulang Lunak, Waktu memasak dengan Panci Tekan/Presto, Tips membersihkan Jerohan Sapi, Tips memilih, menyimpan dan memasak Daging, Tips memasak Steak yang benar, Tingkat Kematangan Daging Steak, Tips membuat Sayur Lodeh yang enak, dan  Tips memilih Ikan.

Kelebihan  buku ini adalah sangat lengkap, dengan lebih dari 1000 resep dari berbagai daerah dan berbagai negara. Diuraikan pula berbagai resep masakan dari berbagai bahan pangan, dan dengan metode pengolahan yang bervariasi. Ada resep masakan yang simple dan mudah dibikin, namun ada juga yang rumit karena membutuhkan begitu banyak bahan pangan untuk memasaknya.

Kelebihan lainnya yaitu resep dikelompokkan sesuai bahan makanan sehingga memudahkan pembaca jika mencari resep sesuai bahan makanan yang tersedia dirumah. Buku ini juga dilengkapi dengan berbagai tips tips yang memudahkan pembaca dalam mengelola dan memasak bahan bahan pangan dirumah.

Kekurangan buku ini adalah kurang  illustrasi, gambar, foto hasil masakan atau foto resep resep. Ada beberapa foto illustrasi tapi disatukan pada bagian bagian tertentu tanpa resepnya. Hanya sedikit resep yang ada fotonya, dan foto yang ada tidak disatukan dengan resepnya. Illustrasi foto dan gambar yang menyertai sebuah resep makanan akan sangat menarik, dan pembaca dapat membandingkannya dengan hasil prakteknya dirumah dengan gambar yang ada di buku.  

Kekurangan lainnya, yaitu, buku ini tanpa “indeks” padahal jumlah halamannya lebih dari 1000 halaman. Buku setebal itu sebaiknya dibuatkan indeks yang dapat memudahkan pembaca menemukan topik tertentu dalam buku. Buku ini juga tidak memiliki ‘Daftar Pustaka’.

Adapula resep resep tradisional dari daerah tertentu namun tidak disebutkan daerah asal resep tersebut. Contohnya, ada resep ‘Sup Konro’ namun tidak disebutkan kalau resep tersebut berasal dari Makassar. Kalau daerah asal suatu resep dituliskan, tentu akan menambah pengetahuan pembaca.

Buku ini adalah koleksi Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan, Jalan Lanto Dg. Pasewang, Makassar.





 




March 20, 2024

GUIDE 100 BUKU KONTEN LOKAL SULAWESI SELATAN


Guide 100 Buku Konten Lokal Sulawesi Selatan koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan Jilid 3. Buku ini membahas mengenai kearifan lokal, budaya lokal, sejarah lokal, kebiasaan dan adat istiadat tertentu, tokoh masyarakat, ritual etnis dan kepercayaan tertentu yang ada di Sulawesi Selatan dan lain-lain. 

Buku setebal 283 halaman ini, sebagai salah satu akses (jalan masuk) untuk mengenalkan sebagian dari koleksi buku konten lokal Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan. Buku ini diterbitkan atas kerjasama Dinas Perpustakaan dan kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan dengan PT. BANK SULSELBAR. Buku ini dapat diperoleh melalui https://bit.ly/3x8pZuO.

Untuk melengkapi local wisdom (kearifan lokal) lainnya sama seperti peneritan buku sebelumnya  yang juga berkaitan dengan sejarah, budaya, maupun biografi  tokoh tokoh lokal Sulawesi Selatan melalui ebook https://bit.ly/37n6ZwN dan ebook https://bit.ly/3ALBXe6


GUIDE 100 BUKU KONTEN LOKAL SULAWESI SELATAN 
JILID 3
Penyusun: Desy Selviana
Penerbit: DPK Prov. SulSel bekerjasama dengan PT. BANK SULSELBAR
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2022

* Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


March 19, 2024

PAKKCAPING TOMMUANE


Kecapi merupakan alat musik berdawai ganda dan di percayaai oleh masyarakat suku Mandar bahwa kecapi harus diperlakukan layaknya manusia yang harus di rawat, dijaga dan dilindungi. Alat musik ini dimainkan dengan cara di petik menggunakan pa' kobi' atau alat petiknya.

Di Mandar dikenal dua pakkcaping, yakni Pakkacaping Tommuane yang dimainkan oleh laki-laki dan Pakkacaping Towaine atau pemain kecapi perempuan. Keduanya hampir memiliki kesamaan dalam proses pertunjukannya. Pertunjukan pakkacaping merupakan seni pertunjukan yang berakar dan bersumber dari tata kehidupan masyarakat Mandar.

Pakkacaping Tommuane dianggap sakral bagi masyarakat suku Mandar, ini dibuktikan dengan senantiasa dihadirkannya kesenian ini dalam ritual-ritual masyarakat suku Mandar terkhusus dalam upacara Mappadottong Tinjaq. 

Mappadottong Tinjaq merupakan bentuk pelaksanaan tinjaq atau nazar, yaitu menepati janji yang telah diungkapkan setelah keinginan tercapai seperti upacara khitan, khatam, perkawinan dan lain-lain. Dan jika keinginannya telah tercapai, maka wajiblah melakukan Mappadottong Tinjaq atau memenuhi nazarnya dalam bentuk pertunjukan kecapi sebagai hiburan dan ungkapan rasa syukur. Tradisi ini merupakan cerminan dari sikap hidup pantang menyerah serta selalu berusaha menepati janji.

Buku Pakkacaping Tommuane, Kesenian Tradisional Mandar membahas alat musik berdawai ganda yang  dimainkan oleh laki-laki, biasanya dimainkan oleh dua orang atau sendiri. Dalam permainan pakkacaping ini, terdapat dioro (perempuan) dengan memakai pakaian adat serta aksesoris lengkap. Dioro menjadi objek pakkacaping (inspirasi) untuk menuturkan sair-sair secara spontan. Para penonton (pappamacco) bisa membawakan uang atau benda-benda berharga dihadapan perempuan (dioro). 

Kesenian ini dipelihara secara turun temurun masyarakat suku Mandar. Pelestari pakkacaping sisa lima orang, empat orang berada di Polewali Mandar salah satunya I Puang Ka'da Tira (Maestro Musik Kecapi) dan satu lagi tinggal di Majene.

Buku ini menampilkan tradisi orang Bugis dan yang di kemas dalam bentuk cerita bergambar. Untuk melengkapi buku ini dalam pertunjukan pakkacaping nilai-nilai adat ditampilkan dalam paket toloq yang memberikan ajaran konsep-konsep sosok manusia Mandar. Nilai-nilai agama terjabarkan dalam paket masaqala yang mengingatkan anggota masyarakat agar selalu menjalankan perintah agama Islam.


Pakkacaping Tommuane
Kesenian Tradisional Mandar
Penulis: Muh. Aulia Rakhmat, Rosdiana Hafid, Muh. Akhsan S, Murham
Penerbit: Balai Pelestarian Nilai Budaya Provinsi Sulawesi Selatan
Tahun Terbit: 2022

* Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar

February 15, 2024

Taktik Perang Damai SULTAN HASANUDDIN

"Jika kalian menyerang kami akan mempertahankan diri dan akan menyerang balik dengan segenap tenaga dan kemampuan. Kami berada di pihak yang benar. Kami akan mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan kami". (Sultan Hasanuddin)

Silsilah darah Sultan Hasanuddin tersambung hingga ke Tomanurung. Dengan 'nasab' itu Sultan Hasanuddin mewarisi 'gen' moral para leluhur Tu'Manurungnya. Sultan Hasanuddin yang tumbuh dan besar dalam istana yang telah diislamkan oleh kakek dan dikokohkan para leluhurnya, namun juga dalam nuansa Islam yang kental. Pendidikan keras dalam istana dan nilai-nilai keislaman, membuat membuat jiwanya mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi, yang dengan itu ia menjalankan amanah sebagai raja Gowa XIV untuk mengabdikan dirinya pada rakyat dan negerinya.

Dalam mencapai tujuannya dia memilih jalan-jalan damai, namun bila hal itu belum menemukan jalan terbaik menuju kemenangan, maka perang pun dikobarkan. Lantaran itu Sultan Hasanuddin dikenal sebagai sosok yang selalu mengedepankan taktik perang damai. "Jika kalian menyerang, kami akan mempertahankan diri dan akan menyerang balik dengan segenap tenaga dan kemampuan. Kami berada di pihak yang benar. Kami akan mempertahankan kebenaran dan kemerdekaan kami". Begitulah prinsip Sultan Hasanuddin yang tak pernah gentar.

Buku Taktik Perang Damai SULTAN HASANUDDIN menghadirkan sosok legendaris dari sejarah Kerajaan Gowa abad 17. Sultan Hasanuddin berjuang membentuk diri kepribadiannya dalam beragam pendidikan dan pelatihan. Dari pengetahuan etika, akhlak hingga tata pemerintahan, juga tentu saja pendidikan keterampilan ke kesatriaan untuk bela negara. Juga pendidikan spiritualnya sebagai seorang muslim, telah menyempurnakan kepribadian dan karakternya, sehingga dalam banyak keputusan-keputusan yang diambilnya berkenaan hal pokok dan strategis, sehingga banyak disandarkannya pada kebenaran religius.

Sultan Hasanuddin menjadikan takhta ditangannya bagi manusia dan kemanusiaan, terutama ketika menghadapi agresi Belanda yang dalam banyak hal telah menimbulkan kesengsaraan bagi kehidupan rakyat kerajaannya. Sepanjang usia pemerintahannya Sultan Hasanuddin berjuang tanpa henti dan lelah dalam perang yang panjang dengan Belanda yang penuh angkara murka dalam menguasai sumber-sumber kehidupan rakyat nusantara. Sultan Hasanuddin tidak pernah mau menyerah, tunduk dan maupun sekadar berkompromi dengan bangsa penjajah.

Hingga nafas sampai di ujung ubun-ubunnya Sultan Hasanuddin, telah menjadikan dirinya sebagai suri teladan penegakan siri'na pacce dalam perjuangannya menentang penjajahan bangsa asing terhadap tanah kelahirannya. Penderitaan rakyat dan negeri yang demikian memilukan di akhir kekuasaannya, dia bayar dengan keruntuhan benteng Sombaopu dan kehancuran istananya dalam ledakan meriam dan kobaran api.

Buku ini tentang perjuangan Sultan Hasanuddin dengan gelar anumerta tumenanga ri balla' pangkana, yang meninggal di istannya. Untuk lebih melengkapi Sultan Hasanuddin memiliki berpendirian 'satu kata dengan perbuatan'.


Taktik Perang Damai SULTAN HASANUDDIN
Penulis: Syafruddin Muhtamar
Penyunting: Andi Wanua Tangke
Penerbit: Arus Timur
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2015
ISBN: 978-602-9057-89-8 

* Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar

February 2, 2024

I Makdi Daeng ri Makka

Peristiwa kisah I Makdi Daeng ri Makka diperkirakan terjadi pada akhir abad ke XVII dan tertuang dalam lontara Makassar dan agama Islam telah menjadi keyakinan dan kepercayaan masyarakat pada masa itu. Kisah ini merupakan salah satu dari sekian banyak karya sastra klasik yang dimiliki Sulawesi Selatan yang mengandung nilai-nilai konsistensi, nilai-nilai tanggung jawa, siri' dan esensi fitrawi.

Struktur cerita I Makdi Daeng Ri Makka berjalan alot dan menjadi sebuah sistem yang konsisten. Berawal dari perbuatan Karaeng Bodo-Bodowa yang memegang kendali di pemerintahan Binamu waktu itu. Atas anjuran Balacok Bontotangnga kerja sama dengan I Pada di Arungkeke, I Ranggo dari Tanatowa, I Cangkiyok dari Manyumbeng, I Rambu Daeng Rimoncong dan I Manja Daeng Manyarrang. Mereka mengambil kerbau dan kuda milik karaengta Bontotangnga di siang hari bolong, lalu dituduhkan I Makdi Daeng Rİ Makka telah melakukannya, dan ini terpaksa diterima saja oleh I Makdi Daeng Rİ Makka. Dari simplifikasi di atas, maka dari sinilah awal mula terjadinya konflik keluarga yang berkepanjangan dengan pertarungan siri', yaitu sebuah perlawanan yang mempertaruhkan martabat dan harga diri. 

Raja Turatea, dan Raja di Binamu menjadi soal pertama, sedang Karaeng Bontotangnga yang menjadi sasarannya. Jelas disini adu domba antar keluarga menjadi tema utama dalam peperangan ini. Dan peperangan pun terjadilah, dan I Makdi terdesak ke Timur kerajaan Bontotangnga, dan dipukul mundur sebelum I Makdi terjatuh dari kudanya, hasil amukannya sebanyak 150 orang dan ketika berbaring amukannya 59 orang. Tudung bendro-bendronya di tendang bagaikan bola raga. Tali pengingat kerisnya di sentakkan dengan paksa. Cincinnya yang mengandung kekuatan keberanian sudah jadi rebutan dan dia mati di gua ditutup daun. I Mulik Daeng Massayang pun terus menangis. Menghempaskan dirinya. berbaring sambil berputar-putar bagaikan seekor kuda sambil berkata? "Bangun dan bangkitlah engkau Makdi. Tidur siangmu bersambung dengan tidur malammu. Tidur malammu bersambung dengan tidur siangmu". Dalam ratapannya Mulik Daeng Massayang berkata, "Kematian memang sudah takdir. Kebiasaan-kebiasaanmulah yang banyak menyimpan kenangan dan membuat orang tak dapat melupakannya". 

Akhirnya l Mulik Daeng Massayang di bantu oleh Jakkolok Daeng Manrangka untuk membalaskan kematian I Makdi Daeng Ri Makka. Di medan perang leher I Cangkiok dari Manyumbeng terpotong, I Mulik Daeng Massayang menjinjing kepalanya dan membawa berkeliling lapangan. "Mulikpun berkata? "Tak apalah kau mati Makdi! Aku telah mendapatkan tebusannya". Sedangkan Jakkolo Daeng Manrangka memberi komando kepada prajuritnya dan menggerakkan massanya. la bagaikan seekor kerbau menyerang di atas sepetak sawah. Dan tidak memberi kesempatan kepada lawannya dan menyerang tak henti hentinya. Karaeng Bodo-Bodowa pengendali pemerintahan di Binamu tewas terkena tombak, sedangkan Karaeng Bontotangnga melarikan diri. Mereka dikejar masuk ke negeri Bontotangnga. Negeri Bontotangng dihancurkan. Karaengta Bontotangnga lari bersama istri dan anaknya keluar meninggalkan negerinya. Semua rumah yang ada di negeri Bontotangnga di bakar, tak satu pun rumah penduduk yang berdiri tegak. Semua kerbaunya diperebutkan. Begitu pula kuda, kambing dan ayamnya di ambil semua. Musnahlah negeri Bontotangnga dengan meninggalkan wasiat dan kisah tentang falsafah kematian dalam cerita I Makdi Daeng Ri Makka. 

Buku Sejarah Perjalanan I Makdi Daeng ri Makka terkait dengan dua kerajaan utama yang pernah menguasai Jeneponto yaitu Kerajaan Bangkala di Barat dan Kerajaan Binamu di Timur. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.


Sejarah Perjalanan 
I Makdi Daeng ri Makka
Penyusun: Muh. Faisal
Penerbit: Bidang Sejarah dan Purbakala 
Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2021