August 31, 2026

GURUTTA: Gerakan Ulama Tradisional di Sulawesi Selatan 1905–1945


Perjalanan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan tidak dapat dilepaskan dari peran para ulama yang menjadi pengajar, pendakwah, sekaligus pembentuk tradisi keilmuan di tengah masyarakat. Melalui pengajian, pendidikan madrasah, karya-karya keagamaan, dan pembinaan generasi muda, para ulama tidak hanya menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga membangun fondasi pendidikan dan kehidupan sosial keagamaan yang terus berkembang dari masa ke masa. Jejak perjuangan dan pemikiran mereka menjadi bagian penting dari sejarah masyarakat Sulawesi Selatan yang patut terus dikaji dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Buku Gurutta: Gerakan Ulama Tradisional di Sulawesi Selatan 1905–1945 mengungkap perjalanan intelektual, pendidikan, dakwah, serta perjuangan para ulama tradisional dalam membangun kehidupan keislaman di Sulawesi Selatan. Buku ini memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan Islam tumbuh melalui hubungan guru dan murid, pengajian, madrasah, karya tulis, hingga keterlibatan ulama dalam dinamika sosial dan politik pada masa kolonial dan sesudahnya.

Salah satu tokoh sentral yang dibahas adalah Gurutta Haji Muhammad As'ad, ulama kelahiran Makkah dari keluarga Bugis asal Wajo. Setelah menempuh pendidikan agama di Tanah Suci dan berguru kepada sejumlah ulama Arab maupun Nusantara, Muhammad As'ad kembali ke Sengkang untuk mengabdikan ilmunya kepada masyarakat. Pengajian yang dirintisnya berkembang menjadi Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan Islam di Sulawesi Selatan. Ia juga meninggalkan sejumlah karya tulis yang membahas berbagai persoalan akidah, fikih, tafsir, sejarah Nabi, dan ibadah.

Dari lingkungan pendidikan Muhammad As'ad lahir sejumlah ulama dan pendidik penting, salah satunya Gurutta Haji Abdurrahman Ambo Dalle. Berawal dari murid yang kemudian dipercaya membantu pengembangan MAI, Ambo Dalle turut mendorong perubahan sistem pembelajaran dari pola mangngaji kitta menuju sistem klasikal. Pengabdiannya berlanjut di Mangkoso setelah mendapat amanah mengembangkan pendidikan Islam di wilayah tersebut. Dari Mangkoso, tradisi pendidikan yang dibangunnya berkembang menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan Islam dan dakwah di Sulawesi Selatan.

Buku ini juga merekam perjalanan Gurutta Haji Muhammad Abduh Pabbaja, ulama yang dikenal karena ketekunan, kedisiplinan, dan keteguhannya dalam memegang prinsip. Setelah berguru kepada Muhammad As'ad selama bertahun-tahun, ia mengabdikan diri melalui madrasah, dakwah, perjuangan pada masa revolusi, hingga dunia pendidikan tinggi. Kiprahnya menunjukkan bahwa peran ulama tidak hanya terbatas pada pengajaran agama, tetapi juga bersentuhan dengan persoalan sosial, pendidikan, pemerintahan, dan kehidupan kebangsaan.

Tokoh lainnya adalah Gurutta Haji Daud Ismail, yang menggambarkan panjangnya perjalanan seorang penuntut ilmu sebelum akhirnya menjadi pendidik dan pemimpin lembaga pendidikan. Berasal dari Soppeng, Daud Ismail menempuh pendidikan dari berbagai guru, termasuk pengalaman belajar di Makkah, sebelum berguru kepada Muhammad As'ad di Sengkang. Ia kemudian menjadi pengajar sekaligus salah satu murid senior dalam sistem pendidikan yang dikembangkan Muhammad As'ad. Setelah wafatnya sang guru, Daud Ismail menerima amanah melanjutkan pembinaan Madrasah Arabiyah Sengkang hingga kemudian kembali mengembangkan pendidikan Islam di Soppeng melalui pesantren.

Secara keseluruhan, buku ini tidak hanya menghadirkan biografi sejumlah ulama, tetapi juga menempatkan mereka dalam konteks gerakan ulama tradisionalis di Sulawesi Selatan. Pembahasannya mencakup latar belakang kultural dan struktural, pembentukan tradisi Islami, pengaruh kolonialisme, perkembangan pendidikan dan dakwah, hingga keterlibatan ulama dalam jihad dan politik.

Melalui kisah para gurutta, buku ini memperlihatkan bahwa pendidikan dan dakwah menjadi instrumen penting dalam membentuk masyarakat Muslim Sulawesi Selatan. Jejak pengabdian Muhammad As'ad, Ambo Dalle, Muhammad Abduh Pabbaja, dan Daud Ismail menunjukkan bagaimana ilmu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sekaligus melahirkan jaringan pendidikan Islam yang pengaruhnya terus terasa dalam perjalanan sejarah Sulawesi Selatan.


GURUTTA: Geraakan Ulama Tradisional DiSulawesi Selatan 1905-1945
Penulis: Mustari Bosra
Penerbit: Samudra Biru (Anggota IKAPI)
Tempat Terbit: Yogyakarta
Tahun Terbit: 2011
ISBN: 978-623-261-250-1

No comments:

Post a Comment