Buku ini merupakan salah satu koleksi iPusnas tentang kedatangan pedagang-pedagang Tionghoa di pelabuhan Makassar pada abad ke-17 hingga masa transisi pasca Orde Baru, berdasarkan sumber-sumber sejarah resmi, arsip kolonial, hingga catatan lokal untuk menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat Tionghoa yang begitu kompleks namun menarik.
Di bawah kendali VOC, peran orang Tionghoa dalam perdagangan sangat menonjol, meski dibatasi oleh kebijakan kolonial. Mereka menguasai sektor perdagangan beras, arak, hingga teripang, dan menunjukkan daya tahan ekonomi yang kuat bahkan dalam kondisi penuh tekanan. Tak hanya itu, perempuan Tionghoa juga turut mengambil peran, baik dalam pendidikan anak di rumah maupun aktivitas keagamaan dan sosial di klenteng-klenteng.
Buku ini juga mencatat bagaimana masyarakat Tionghoa Makassar mengalami perubahan besar seiring dibukanya pelabuhan untuk perdagangan bagi orang asing tahun 1847. Yang menandai awal transformasi penting dalam bidang ekonomi dan sosial. Pedagang- pedagang serta pakter Tionghoa setempat didorong untuk bekerjasama dengan pedagang-pedagang lain di Singapura dan secara perlahan menerima bentuk hukum perusahaan-perusahaan gaya Barat, sehingga mereka mengambil bagian dalam perkembangan kapitalisme tipe baru. Para pedagang yang sama, kebanyakan adalah orang Peranakan, mendapatkan keuntungan dengan peraturan-peraturan baru ini dengan membeli tanah-tanah partikelir yang mereka gunakan untuk pertanian dan perkebunan kelapa di sekitar wilayah Makassar. Mereka juga menyewakan lahan perkebunan di daerah pedalaman, bahkan hingga pulau-pulau sekitar, seperti yang dilakukan masyarakat Tionghoa di Jawa, tapi dalam tingkatan yang lebih kecil. Selain itu diterbitkannya koran pertama berbahasa Melayu yang menghubungkan berbagai etnis masyarakat di kota tersebut paling sedikit di antara yang pandai membaca bahasa Melayu. Kontak dengan Singapura dan dunia luar membawa angin kapitalisme baru, memperkaya jenis usaha mereka hingga ke bidang percetakan, bioskop, dan perkebunan. Kemunculan koran berbahasa Melayu dan Tionghoa menjadi jembatan budaya antaretnis, memperkuat posisi mereka dalam struktur sosial kota.
Namun dinamika tersebut tidak selalu mulus. Pergolakan politik, kebijakan asimilasi paksa, hingga perubahan kewarganegaraan setelah 1965 membuat identitas masyarakat ini kian kabur. Penulis secara jujur mengakui bahwa sejak saat itu, sejarah masyarakat Tionghoa Makassar makin sulit ditelusuri sebagai satu entitas sosial yang utuh.
Uniknya, masyarakat Tionghoa di Makassar tetap menyebut diri mereka sebagai “orang Makassar”—sebuah pernyataan identitas yang kuat, menunjukkan keberhasilan integrasi tanpa kehilangan akar budaya. Buku ini memberi pelajaran berharga tentang toleransi, adaptasi, dan semangat kebersamaan lintas etnis di Indonesia.
Penulis : Yerry Wirawan
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit : 2013
ISBN: 978-602-424-606-8 (DIGITAL)
No comments:
Post a Comment