Pers sebagai lembaga yang menyelenggarakan kegiatan komunikasi memiliki ketergantungan pada masyarakat dan pemerintah. Perkembangan institusi pers selama 21 tahun (1945-1966) di Makassar, telah diwarnai oleh dinamika politik. Selama dua dasawarsa, citra pers berubah. Demikian pula pola hubungan antara pers dengan dan pemerintah, pers dengan masyarakat (organisasi politik) mengalami perubahan dan perkembangan.
Bentuk dan arah perkembangan institusi pers selama masa 21 tahun (1945-1966) di Makassar itu adalah berikut :
- Perubahan Citra Pers
Citra sebagai Pers Perjuangan yang memiliki orientasi politik berubah ke arah Pers Informasi, yang memiliki orientasi bisnis.
Citra komunikator dalam pers berubah. Politisi Wartawan dan Wartawan Politisi berubah ke arah berkembangnya Wartawan Profesional.
Citra sebagai Pers Politik dan Pers Partai berubah ke arah berkembangnya Pers Independen (mandiri)
Aliran politik atau ideologi sebagai kerangka acuan acuan bagi pers mengalami perubahan dari berma- cam-macam aliran ke arah satu ideologi saja (Pancasila).
- Perubahan Hubungan Pers, Pemerintah dan Masyarakat Hubungan
Hubungan pemerintah dengan pers, berubah dari Hubungan Bebas ke arah Hubungan Pengawasan dan Hubungan Pembinaan.
Hubungan pers dengan pemerintah dan partai politik berubah dari Hubungan Koalisi-Oposisi ke arah Hubungan Mitra.
- Perkembangan Pedoman Rakyat dan Marhaen
Pedoman Rakyat sebagai Pers Jaya dapat lolos dari semua krisis politik dan mengalami perkembangan, karena mengikuti pola yang dirumuskan pada butir satu dan dua di atas. Pedoman lahir sebagai Pers Perjuangan yang dikontrol oleh Politisi Wartawan, sejak awal mengemban ideologi Pancasila, berusaha menjadi Pers Independen dan menjalin hubungan yang harmonis dengan pemerintah dan masyarakat. Kemudian surat kabar ini, berkembang ke arah pers informasi yang dikontrol oleh Wartawan Profesional dengan memperhatikan kepentingan komersial.
Marhaen sebagai Pers Takjaya tidak dapat melanjutkan eksistensinya karena menyimpang dari pola perkembangan yang dirumuskan pada butir satu dua di atas. Marhaen "lahir" sampai "mati" sebagai Pers Partai, dikontrol oleh Politisi Wartawan dan mengemban aliran politik nasionalisme radikal. Hubungannya dengan pemerintah dan masyarakat, berjalan harmonis selama 13 tahun, namun kemudian berubah menjadi tidak tahun 1965.
Tulisan di atas bersumber pada disertasi berjudul Pers dan Dinamika Politik di Makassar (1945-1966) untuk memperoleh gelar doktor pada fakultas pascasarjana Universitas Hasanuddin.
Butir-butir di atas telah menujukan perkembangan institusi pers selama masa 21 tahun di Makassar lebih banyak tergantung pada politik daripada tergantung pada uang atau bisnis.
Secara umum, pers dan politik di Makassar dipadukan oleh nasionalisme dan revolusi menjadi Pers Perjuangan yang dibina Politisi Wartawan atau Wartawan Politisi dan kemudian keduanya (pers dan politik) dipisahkan oleh dinamika politik setelah berlangsung selama 21 tahun. Disertasi ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar.
Press and Political Dynamic in Makassar (1945-1966)
Penulis: Anwar Arifin
Penerbit: Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia
Tempat : Ujung Pandang
Tahun Terbit: 1990

No comments:
Post a Comment