Islam secara resmi diterima dan dianut oleh masyarakat di Kerajaan Soppeng yaitu pada tahun 1609, yakni pada masa Pemerintahan Datu Soppeng XIV yang bernama BeoE. Sejak itu Islam diakui eksistensinya di daerah Soppeng.
Sekitar tahun 1936 timbul perkembangan baru. Para missionaries dan zending agama Kristen memasuki Soppeng. Mereka giat melaksanakan pekabaran Injil. Sasaran utamanya ditujukan kepada masyarakat yang bertempat tinggal di pegunungan dan jauh dari kota.
Islamisasi terjadi sekitar tahun 1605, penganjur Islam ke daerah ini yaitu Khatib Bungsu, yang lebih dikenal dengan gelar Dato'ri Tiro. Ia menyebarkan Islam dengan menitikberatkan pada ajaran sufi (tasauf) sesuai kondisi masyarakat setempat.
Seorang penginjil bernama Maan, yang di utus oleh UZV (Utrechtsche Zendingsverniging) tahun 1897 ke Taneteiya (-Tanetea) dekat Jeneponto melaporkan bahwa usahanya menyebarkan agama Kristen kepada penduduk memperlihatkan tanda-tanda keberhasilan.Islam secara resmi diterima dan dianut oleh masyarakat di Kerajaan Soppeng yaitu pada tahun 1609, yakni pada masa Pemerintahan Datu Soppeng XIV yang bernama BeoE. Sejak itu Islam diakui eksistensinya di daerah Soppeng.
Sekitar tahun 1936 timbul perkembangan baru. Para missionaries dan zending agama Kristen memasuki Soppeng. Mereka giat melaksanakan pekabaran Injil. Sasaran utamanya ditujukan kepada masyarakat yang bertempat tinggal di pegunungan dan jauh dari kota.
Islamisasi terjadi sekitar tahun 1605, penganjur Islam ke daerah ini yaitu Khatib Bungsu, yang lebih dikenal dengan gelar Dato'ri Tiro. Ia menyebarkan Islam dengan menitikberatkan pada ajaran sufi (tasauf) sesuai kondisi masyarakat setempat.
Seorang penginjil bernama Maan, yang di utus oleh UZV (Utrechtsche Zendingsverniging) tahun 1897 ke Taneteiya (-Tanetea) dekat Jeneponto melaporkan bahwa usahanya menyebarkan agama Kristen kepada penduduk memperlihatkan tanda-tanda keberhasilan.
Buku Peta Islamisasi dan Kristenisasi di Sulawesi Selatan, merupakan salah satu koleksi Layanan deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar. Buku ini merupakan hasil penelitian yang titik fokus pembahasannya dipusatkan pada dua kabupaten, yakni Kabupaten Soppeng dan Kabupaten Jeneponto, dengan kesimpulan sebagai berikut:
- Tata nilai-budaya masyarakat Soppeng dan Jeneponto yang bertitik tumpu pada Dewa Tunggal yakni Dewata Seuwae dan Karaeng Kaminang Kammaya pengaruhnya cukup besar dalam kehidupan masyarakat tersebut dan merupakan pula penunjang utama tersiarnya agama Islam dengan cepat serta dianut oleh mayoritas penduduk.
- Berkembang pesatnya penyiaran agama Islam dua daerah Sulawesi Selatan pada umumnya di daerah Soppeng dan Jeneponto khususnya, karena pendekatan juru da'wah dan para miballigh kepada masyarakat sangat menarik dan simpatik.
- Berhasilnya para missionaris dan zending Kristen memasuki daerah Soppeng, karena para penguasa (raja) dan tokoh-tokoh masyarakat dan para ulama berkurang ketika tampuk kekuasaan di pegang oleh penjajah Belanda yang beragama Kristen.
- Penghayatan keagamaan suatu kelompok masyarakat terhadap sesuatu agama yang dianut misalnya agama Islam, jauh lebih mantap dan lebih matang bilamana penyebaran agama ke daerah tersebut berlangsung dalam suasana damai. dibandingkan yang disiarkan dengan kekerasan (perang).
- Kegagalan para missionaries dan zending Kristen untuk mengambangkan agamanya di daerah Jeneponto dilatar belakangi oleh rasa antipati yang berasal dari peninggalan masa lalu, yakni kebencian kepada penjajah Belanda yang telah membuat noda terhadap warisan leluhur mereka, yaitu dibakarnya bendera Kerajaan Binamu yang berasal dari to manurung.
- Disebutkan Soppeng oleh penulis Sejarah Gereja di Indonesia yaitu Dr. Th. Muller Kruger, merupakan isyarat bahwa daerah Soppeng yang terletak di bagian tengah jazirah Sulawesi Selatan, merupakan daerah konstalasi penyebaran agama Kristen yang penting di Sulawesi Selatan.

No comments:
Post a Comment