December 12, 2023

LA WELONG LAJU

Cerita rakyat Lawelong Laju merupakan transliterasi dan terjemahan yang terekam dalam naskah lontara dan arsip yang dilaksanakan Bidang Pembinaan dan Pengembangan Kearsipan, Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai upaya membatinkan nilai-nilai utama masyarakat Sulawesi Selatan seperti siri, pesse (toleransi), reso (kerja keras, lempu (kejujuran), getteng (ketegasan) dan masih banyak lagi. Berikut ringkas cerita Lawelong Laju.

Lawelong Laju hidup bersama saudaranya yang perempuan bernama We Busa Ulaweng dan yang laki-laki namanya Bombang Rilau Daeng Silatu. Suatu hari We Busa tersedak sehabis makan jambu, sehingga Lawelong pergi berkelana sampai jauh untuk mencari air untuk adiknya. Akhirnya Lawelong bertemu dengan raja Kepiting dan diberi jimat berupa badik pacciro yang kalau digunakan semua keinginan akan terkabul. Ketika bertemu raja Buaya, Lawelong diberi guriguri tipuseng suatu jimat yang ampuh untuk menguasai binatang dan mengajaknya bicara. 

Suatu hari Lawelong dan Bombang Rilau pergi berkelana dan akhirnya sampai ke kerajaan Latemalala yang merupakan kerajaan ayahnya, juga berkunjung ke kerajaan ibunya yaitu Temalate. Dikedua kerajaan itu Lawelong menggunakan kedua jimatnya untuk mengobati dan mensejahterakan rakyat. Setelah 3 bulan di kerajaan Temalate, dia berkelana ke negeri Oro (mahluk pemakan manusia), Lawelong dan anak buahnya berhasil membunuh semua Oro, kecuali satu Oro yang melaporkan ke ratunya, akhirnya atas permintaan ratunya, Lawelong menghidupkan semua Oro dengan badik paccironya, akhirnya semua Oro tunduk dalam kekuasaan Lawelong. 

Selanjutnya dengan perahunya yang berkepala naga dan berbadan seperti kepiting parawara, Lawelong dan rombongannya berkelana sampai ke Jeddah. Di kerajaan Jeddah, sedang berjangkit penyakit ayam. Dengan jimak badik paccironya, Lawelong berhasil menyembuhkan semua rakyat Jeddah, sehingga dia diberi kekuasaan di Jeddah dan Mesir. Dia kemudian dilantik sebagai raja di Jeddah. 

Karena Lawelong berjiwa petualang dia melanjutkan pelayaran ke tanah Jawa. Di kerajaan Jawa, Lawelong berhasil menyembuhkan penyakit putri raja yang bernama We Buwa Tungke Balalanna Tana Jawa. Setelah tiga bulan di tanah Jawa, kembali Lawelong berlayar dan ditengah perjalan bertemu dengan 7 perahu Belanda dan akhirnya Lawelong dan rombongannya diajak ke Belanda. Di kerajaan Belanda, Lawelong diserang oleh pasukan Belanda namun dengan jimat badik paccironya, Lawelong berhasil membunuh semua pasukan Belanda. Akhirnya ratu Belanda memohon kepada Lawelong agar pasukannya dihidupkan kembali dan kerajaan akan diserahkan kepadanya. 

Dari negeri Belanda, Lawelong dan pasukannya berlayar dan singgah di kerajaan Tana Ita. Di kerajaan ini dia menjalin persahabatan dengan putra raja Tana Ita yang bernama Lawowo Langi dan Taleti Langi. Lawowo Langi akhirnya mengikuti Lawelong berlayar ke negeri Cina. Sesampainya di negeri Cina, Lawelong juga berhasil menyembuhkan putri raja yang bernama We Toing Tungke. Raja Lariulle ingin menikahkan putrinya dengan Lawelong, tapi Lawelong tidak mau, dan menganggap We Toing Tungke sebagai adiknya saja We Toing Tungke akhirnya dinikahkan dengan anak raja Mataram. 

Lawelong dan rombongannya kembali berlayar ke tanah Jawa dan dalam perjalanan, rombongan singgah di tempat Mangga Jekki yang keramat, di mana Lawelong bertemu dengan bidadari bernama I Welong Patara dan Lasene Batara. Para bidadari ini tidak senang dengan kehadiran Lawelong dan pasukannya dan akhirnya menyerang Lawelong. Terjadi perang selama 3 hari 3 malam sampai raja langit Massulekkae Magutu menengahi perselisihan, dan akhirnya Lawelong dan I Welong Patara berdamai dan mengikat persaudaraan. 

Selanjutnya Lawelong dan pasukannya berlayar kembali ke Tana Ita dan di sini Lawowo Langi tinggal dengan orang tuanya, meskipun sangat ingin mengikuti pelayaran Lawelong ke tanah Jawa, tapi tidak diizinkan. Dari Tana lta, Lawelong belayar ke tanah Jawa, namun sebelumnya singgah lagi di kerajaan Belanda. Dari Belanda, Lawelong akhirnya berlabuh     di kerajaan Jawa di mana dia telah ditunggu oleh raja, karena akan dinikahkan dengan We Buwa Tungke. 

Pesta pernikahan selama 7 hari 7 malam dihadiri oleh orang tua angkatnya, raja Jedda dan Mesir. Setelah sekian lama, akhirnya We Buwa Tungke melahirkan bayi perempuan namanya I Welong Tungke Malawa Tana Bugis. Namun bayi ini selalu diganggu dan akan dimangsa oleh Nene Pakande. Akhirnya I Welong Tungke diungsikan ke tengah hutan dengan ibu susuannya, di mana dia bertemu dengan We Busa Ulaweng. Tempat tinggal We Busa mempunyai anak tangga yang sangat tajam, dan ketika Nene Pakande mengejar I Welong masuk rumah, tubuhnya terpotong. Akhirnya I Welong Tungke terbebas dari kejaran Nene Pakande.

Lawowo Langi sangat merindukan We Busa dan pergi berkelana mencari adik perempuan sahabatnya itu, namun di akhir cerita, tidak jelas, apakah keduanya berhasil bertemu atau tidak. Lawelong juga tidak diceritakan apakah bertemu dengan We Busa, bahkan tidak jelas apakah We Busa mengetahui kalau I Welong Tungke adalah keponakannya sendiri yaitu putri dari Lawelong Laju dengan We Buwa Tungke.


Cerita Rakyat
Lawelong Laju

Penerbit: Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2021


No comments:

Post a Comment