Fenomena kelahiran naskah-naskah drama dengan warna lokal sering kali dikaitkan dengan kondisi sosio-budaya masyarakat Indonesia yang tengah dilanda krisis jati diri. Akibat modernisasi dan globalisasi, nilai-nilai lama warisan leluhur cenderung ditinggalkan, sedangkan nilai-nilai baru belum pula terpegang dengan mantap. Timbul perasaan gamang dan bahkan teralienasi yang kemudian melahirkan kerinduan akan nilai-nilai lama yang sebelumnya terbukti ampuh membingkai kehidupan masyarakat Indonesia.
Buku LIMA NASKAH DRAMA PILIHAN yang termuat dalam buku ini adalah sebagian dari naskah-naskah drama dengan warna lokal yang ditulis oleh sejumlah penulis di Makassar selama kurun waktu 1970-an hingga 1990-an. Kelima naskah drama tersebut adalah
- "I Tolok" karya Rahman Arge,
- “Samindara" karya Aspar Paturusi,
- "Para Karaeng" karya Fahmi Syariff
- “La Domai dan I Tenriawani" karya A.M. Mochtar, dan
- “To'do'puli” karya Yudhistira SKT
- "I Tolok" karya Rahman Arge
I Tolok Daeng Magassing adalah satu nama yang telah jadi
legenda di kalangan masyarakat Bugis-Makassar. ia berasal dari negeri Goa dan
tumbuh menjadi seorang lelaki yang hidupnya mirip-mirip Robin Hood.
Pada sekitar tahun-tahun awal masuknya belanda di Sulawesi Selatan, ia mulai. Dilawannya Belanda dan kaki tangannya. digarongnya mereka,
dan dibagikannya hasilnya kepada orang-orang miskin.
Ia sukar ditangkap, tapi tertipu dalam suatu kenduri, di
rumah Baco Pa'tene tetangganya. Pasukan Belanda mengepung kenduri itu dan membunuhnya.
Kini ia disebut pahlawan, tapi juga ada yang menudingnya sekadar penyamun.
- "Samindara" karya Aspar Paturusi
Konon, kata si empunya cerita, dua orang bersaudara turunan
datu Luwu terpaksa diasingkan ke negeri selatan. Hal ini dilakukan agar mereka
tidak terkena penyakit kulit. Ini adalah Nujuman Boto Kerajaan. Menghindarkan
turunan Datu Luwu dari wabah penyakit demi keselamatannya, juga untuk
keselamatan, negara dan rakyat.
Tentu saja negara dan rakyat tak boleh diperintah oleh raja yang mengidap penyakit. Bukankah raja adalah wakil dewata di bumi? Raja sehat, rakyat sehat, negara sehat; alam pun sehat; tentu itulah kehendak sang dewata Seuwae Epawinru Silili’na, dewa yang esa pencipta seluruh alam,
- "Para Karaeng" karya Fahmi Syariff
- “La Domai dan I Tenriawani" karya A.M. Mochtar
Gerhana Bulan
- “To'do'puli” karya Yudhistira SKT
No comments:
Post a Comment