Tikar
Tikar
upacara dan tikar duduk dibuat dari rotan, sisal, dan padan. Tikar berpola
rumit dianyam dari jerami yang dicelupkan dengan warna terang ataupun warna
alami oleh Suku Punan, Kalimantan. Pembuatannya memakan waktu kurang lebih 10
sampai 15 hari, mulai dari menebang, merebus, memberi pewarna, menjemur hingga meraut
dan pengganyaman/fininsing. , itu semua memakan waktu 15 hari. Beragam tikar ditemukan di Jawa,
Bali, Lombok, Madura, dan Kalimantan.
Tas
Di
seluruh Nusantara ditemukan tas yang dibuat dari berbagai bahan serta dalam
berbagai bentuk dan ukuran. Tas anyaman telah menjadi industry rakyat yang
besar di berbagai daerah di Jawa dan banyak di cari pariwisata.
Dinding/Langit-Langit
Dinding
bambu dianyam dengan pola bangun berulang menarik ditemukan dalam rumah Bugis,
Sulawesi, dan rumah Lio, Flores. Kelabang, baik jalinan maupun anyaman,
merupakan teknik yang umum digunakan untuk dinding atau langit-langit suatu
bangunan upacara berkala atau sebagai pelindung sawah di Bali yang dibuat dari
daun palem yang berlimpah.
Kukusan
Nasi/Makanan
Keranjang
yang biasa dibuat dari anyaman rotan renggang berbentuk kerucuk digunakan
sebagai penanak makanan. Keranjang ini juga digunakan untuk menyimpan ikan
kering dan buah di Sulawesi Selatan.
Keranjang/Penutup/Wadah
Keranjang
untuk menyimpan dan membawa sering dianyam dengan ragam hias bunga dan bangun
berulang. Keranjang bermacam bentuk ditemukan sepanjang Nusantara. Daun pandan
yang dikeringkan digunakan untuk membuat penutup makanan berhias di Kalimantan
dan nampan di Sulawesi Selatan sedangkan penutup piring dan gelas umumnya
terbuat dari sisal. Keranjang gulung berukuran kecil dari Sulawesi Selatan digunakan
untuk menyimpang perhiasan. Rotan menjadi coklat dan gelap karena ditempatkan
pada rak di atas tungku dapur dan terus-menerus terkena asap. Kotak dan wadah
berbeda ukuran dan bentuk juga dibuat dari serat sejenis anggrek daun panjang yang langka dan konon digunakan
untuk anyaman yang paling halus. Anggrek tersebut ditemukan di Bone, Sulawesi
Selatan.
Topi
Salah
satu topi yang sangat luar biasa adalah ti'i langga yang berpinggir lebar karya
orang Rote. Beragam bahan dan cara digunakan untuk membuat topi yang paling
umum ditemukan di Indonesia, yaitu caping di Jawa ia berbentuk runcing di
Kalimantan bulat dan Sulawesi Tengah kerucut.
Keranjang Upacara
Beragam
keranjang berpola indah dianyam di Nusantara. Bentuk anyaman dan polanya
ditentukan hanya oleh keahlian si penganyam dan harganya. Keranjang tertutup untuk
upacara, berwarnah merah muda dan ungu menarik ini, misalnya, dapat digunakan
untuk membawa kue-kue manis atau hadiah perhiasan dan wastra bagi pengantin wanita dari
Timor. Keranjang ini terbuat dari serat daun tal. Keranjang upacara dari
Palembang, Sumatera Selatan, dibuat berpernis merah atau hitam, yang
menunjukkan pengaruh Cina, digunakan sebagai wadah hadiah perkawinan atau
keranjang makanan berhias.
Puan
Mengunyah
sirih merupakan bagian kehidupan sehari-hari di seluruh kepulauan Indonesia.
Sugi secara upacara ditawarkan kepada tamu sebagai tanda keramahtamahan pada
awal perjanjian resmi, sebagai lambang ada ketimuran dan niat jujur, dan
sebagai materai persetujuan saling menguntungkan pada akhir perjanjian. Wadah
untuk ramuan dibuat dalam berbagai
bentuk dan dihiasi dengan ragam hias bangun berulang yang biasa sangat rumit.
Keranjang berwarna terang, bertutup, berbentuk rumah dari Timor ini merupakan
contoh. Puan dari Kalimantan Tengah dan Timur biasanya mempunyai anyaman bangun
berulang merah dan hitam pada latar berwarna coklat terang. Puan dari Aceh,
Sumatera, dapat dibuat dari kulit bambu yang paling halus.
Sajen
Dewi
padi di Bali dibuat dari daun kelapa muda dengan menggunakan bermacam-macam
teknik dan hiasan. Di Jawa Tengah, tempat duduk pengantin diapit oleh sepasang
kembar mayang yang dipasang dalam tempolong kuningan. Kembar mayang konon
dikirim oleh Dewi Sri, dewi kesuburan. Untuk membuatnya, janur “daun muda
kelapa” dijalin dan dilipat menjadi bulat dan puncaknya dihias dengan beragam
hiasan perlambang dan selanjutnya dihias dengan bunga dan buah. Daun muda melambangkan
kesuburan dan kedewasaan yang sedang menanjak. Di Bali, lamak “lidah” terbuat
dari janur, biasanya ditusuk dengan potongan bambu kecil, digantung di tiang atau
pura kecil untuk menghormati dewi padi.
Tempat
Air
Wadah
air dibuat dari daun tal yang direntangkan dengan lidi mengarah ke satu titik
dan mengikat ujung-ujungnya secara kokoh pada kedua ujung sepotong kayu. Tempat
air semacam itu ditemukan di Pulau Rote, Nusa Tenggara, ujung barat Timor, dan
di Bali, digunakan untuk membawa getah yang disadap dari pohon tal dan sebagai
tempat air.
Alat
Musik
Sasando,
terbuat dari bambu dengan kotak resonan daun tal, adalah alat musik seperti
harpa dari Pulau Rote dan Timor, Nusa Tenggara Timur.
Keranjang
Ayam
Gawungan,
anyaman rotan rengang berbentuk lonceng, digunaka untuk wadah ayam jago selama
latihan, dan kisa yang lebih kuat digunakan untuk membawa seekor ayam. Keduanya
ditemukan di Bali.
INDONESIA
HERITAGE: SENI RUPA
Penyusun:
Hilda Soemantri, Jim Supangkat, Jean Couteau
Penerbit:
Buku Antar Bangsa untuk Grolier Internasional, Inc.
Tahun
Terbit: 2002
ISBN:
979-8926-20-x





No comments:
Post a Comment