April 3, 2020

SENI ANYAMAN

Seni anyam merupakan kerajinan kesukuan yang umumnya dilakukan di antara penduduk pedesaan Indonesia. Kerajinan itu telah menyatu dengan kegiatan keseharian masyarakat tradisional dan menghasilkan barang-barang keperluan sehari-hari. Kegiatan tersebut tidak memerlukan peralatan yang rumit dan bahan dasarnya biasanya ditemukan secara berlimpah di sekitar desa. Keranjang atau tikar berguna untuk upacara dan merupakan bagian dari perlengkapan upacara keagamaan. Beberapa di antaranya, setelah bertahun-tahun, menjadi hiasan dan kemudian karya seni.


Tikar
Tikar upacara dan tikar duduk dibuat dari rotan, sisal, dan padan. Tikar berpola rumit dianyam dari jerami yang dicelupkan dengan warna terang ataupun warna alami oleh Suku Punan, Kalimantan. Pembuatannya memakan waktu kurang lebih 10 sampai 15 hari, mulai dari menebang, merebus, memberi pewarna, menjemur  hingga meraut  dan pengganyaman/fininsing. , itu semua memakan waktu  15 hari. Beragam tikar ditemukan di Jawa, Bali, Lombok, Madura, dan Kalimantan.

Tas
Di seluruh Nusantara ditemukan tas yang dibuat dari berbagai bahan serta dalam berbagai bentuk dan ukuran. Tas anyaman telah menjadi industry rakyat yang besar di berbagai daerah di Jawa dan banyak di cari pariwisata.

Dinding/Langit-Langit
Dinding bambu dianyam dengan pola bangun berulang menarik ditemukan dalam rumah Bugis, Sulawesi, dan rumah Lio, Flores. Kelabang, baik jalinan maupun anyaman, merupakan teknik yang umum digunakan untuk dinding atau langit-langit suatu bangunan upacara berkala atau sebagai pelindung sawah di Bali yang dibuat dari daun palem yang berlimpah.

Kukusan Nasi/Makanan
Keranjang yang biasa dibuat dari anyaman rotan renggang berbentuk kerucuk digunakan sebagai penanak makanan. Keranjang ini juga digunakan untuk menyimpan ikan kering dan buah di Sulawesi Selatan.

Keranjang/Penutup/Wadah
Keranjang untuk menyimpan dan membawa sering dianyam dengan ragam hias bunga dan bangun berulang. Keranjang bermacam bentuk ditemukan sepanjang Nusantara. Daun pandan yang dikeringkan digunakan untuk membuat penutup makanan berhias di Kalimantan dan nampan di Sulawesi Selatan sedangkan penutup piring dan gelas umumnya terbuat dari sisal. Keranjang gulung berukuran kecil dari Sulawesi Selatan digunakan untuk menyimpang perhiasan. Rotan menjadi coklat dan gelap karena ditempatkan pada rak di atas tungku dapur dan terus-menerus terkena asap. Kotak dan wadah berbeda ukuran dan bentuk juga dibuat dari serat sejenis anggrek  daun panjang yang langka dan konon digunakan untuk anyaman yang paling halus. Anggrek tersebut ditemukan di Bone, Sulawesi Selatan.

Topi
Salah satu topi yang sangat luar biasa adalah ti'i langga yang berpinggir lebar karya orang Rote. Beragam bahan dan cara digunakan untuk membuat topi yang paling umum ditemukan di Indonesia, yaitu caping di Jawa ia berbentuk runcing di Kalimantan bulat dan Sulawesi Tengah kerucut.

Keranjang Upacara
Beragam keranjang berpola indah dianyam di Nusantara. Bentuk anyaman dan polanya ditentukan hanya oleh keahlian si penganyam dan harganya. Keranjang tertutup untuk upacara, berwarnah merah muda dan ungu menarik ini, misalnya, dapat digunakan untuk membawa kue-kue manis atau hadiah perhiasan dan wastra bagi pengantin wanita dari Timor. Keranjang ini terbuat dari serat daun tal. Keranjang upacara dari Palembang, Sumatera Selatan, dibuat berpernis merah atau hitam, yang menunjukkan pengaruh Cina, digunakan sebagai wadah hadiah perkawinan atau keranjang makanan berhias.


Puan
Mengunyah sirih merupakan bagian kehidupan sehari-hari di seluruh kepulauan Indonesia. Sugi secara upacara ditawarkan kepada tamu sebagai tanda keramahtamahan pada awal perjanjian resmi, sebagai lambang ada ketimuran dan niat jujur, dan sebagai materai persetujuan saling menguntungkan pada akhir perjanjian. Wadah untuk ramuan  dibuat dalam berbagai bentuk dan dihiasi dengan ragam hias bangun berulang yang biasa sangat rumit. Keranjang berwarna terang, bertutup, berbentuk rumah dari Timor ini merupakan contoh. Puan dari Kalimantan Tengah dan Timur biasanya mempunyai anyaman bangun berulang merah dan hitam pada latar berwarna coklat terang. Puan dari Aceh, Sumatera, dapat dibuat dari kulit bambu yang paling halus.

Sajen
Dewi padi di Bali dibuat dari daun kelapa muda dengan menggunakan bermacam-macam teknik dan hiasan. Di Jawa Tengah, tempat duduk pengantin diapit oleh sepasang kembar mayang yang dipasang dalam tempolong kuningan. Kembar mayang konon dikirim oleh Dewi Sri, dewi kesuburan. Untuk membuatnya, janur “daun muda kelapa” dijalin dan dilipat menjadi bulat dan puncaknya dihias dengan beragam hiasan perlambang dan selanjutnya dihias dengan bunga dan buah. Daun muda melambangkan kesuburan dan kedewasaan yang sedang menanjak. Di Bali, lamak “lidah” terbuat dari janur, biasanya ditusuk dengan potongan bambu kecil, digantung di tiang atau pura kecil untuk menghormati dewi padi.

Tempat Air
Wadah air dibuat dari daun tal yang direntangkan dengan lidi mengarah ke satu titik dan mengikat ujung-ujungnya secara kokoh pada kedua ujung sepotong kayu. Tempat air semacam itu ditemukan di Pulau Rote, Nusa Tenggara, ujung barat Timor, dan di Bali, digunakan untuk membawa getah yang disadap dari pohon tal dan sebagai tempat air.


Alat Musik
Sasando, terbuat dari bambu dengan kotak resonan daun tal, adalah alat musik seperti harpa dari Pulau Rote dan Timor, Nusa Tenggara Timur.


Keranjang Ayam
Gawungan, anyaman rotan rengang berbentuk lonceng, digunaka untuk wadah ayam jago selama latihan, dan kisa yang lebih kuat digunakan untuk membawa seekor ayam. Keduanya ditemukan di Bali.


INDONESIA HERITAGE: SENI RUPA
Penyusun: Hilda Soemantri, Jim Supangkat, Jean Couteau
Penerbit: Buku Antar Bangsa untuk Grolier Internasional, Inc.
Tahun Terbit: 2002

ISBN: 979-8926-20-x

No comments:

Post a Comment