February 28, 2020

UPACARA TUDANG SIPULUNG MENGHADAPI MUSIM TANAM PADI



Tudang sipulung adalah dua patah kata bahasa Bugis yang membentuk satu kalimat majemuk. Tudang mempunyai arti “duduk”, sedangkan sipulung berarti “berkumpul”. Secara bahasa tudang sipulung berarti “duduk berkumpul”. Upacara ini dilakukan oleh masyarakat setiap tahun, apabila akan menghadapi musim penanaman padi, dan keputusan hasil musyawarah harus ditaati oleh semua petani penggarap dan petani pemilik.

Upacara Tudang Sipulung telah dikenal oleh masyarakat petani, sekitar abad XV masehi, dicetuskan oleh seorang warga petani yang terkenal kepintarannya, yaitu Nenek Mallomo, yang dikenal dengan nama La Pagala. Beliau termasuk ahli fikir suku bangsa Bugis pada zamanya. Maksud penyelenggaraan upacara tersebut pada waktu itu adalah untuk menyeragamkan pembibitan; menyeragamkan waktu penanaman; dan menyeragamkan waktu untuk meningkatkan produksi padi para petani.

Tudang sipulung yang sekarang bukan hanya untuk ingin menyeragamkan seperti hal tersebut di atas, melainkan juga mengatur waktu pemupukan, menyeragamkan bibit yang di tanam bahkan mengatur waktu penyemprotan hama, sehingga hama yang biasanya menyerang tanaman padi dapat dihindari. Selain itu juga membahas masalah air atau hujan serta sawah yang tidak sama susunannya.

Upacara tudang sipulung yang dilakukan sama dengan upacara mappalili. Bedanya terletak pada upacaranya. Tudang Sipulung merupakan suatu musyawarah menghadapi musim tanam, sedangkan upacara mappalili adalah upacara yang dilakukan, setelah warga masyarakat akan mulai membajak sawahnya. Jadi bila dihubungkan, maka tudang sipulung merupakan langkah pertama dan mappalili merupakan langkah kedua. Kedua upacara tersebut bertujuan untuk meningkatkan hasil panen pada musim tanam.

Buku UPACARA TUDANG SIPULUNG, penulis Tim Aksara. Buku ini dapat dibaca ataupun dipinjam di Layanan Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang jalan Kenanga No. 7A, Sungguminasa Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.  Buku Upacara Tudang Sipulung terdiri dari dua bab yang membahas tentang  Tudang Sipulung Menghadapi Musim Tanam Padi dan Ketentuan-ketentuan Penyelenggaraan Upacara. Bab pertama, berkaitan dengan Nama Upacara; Tahap-tahap Penyelenggaraan Upacara. Sedangkan bab kedua berkaitan dengan waktu Penyelenggaraan Upacara, Tempat Penyelenggaraan Upacara; Penyelenggaraan Teknis Upacara; Peserta Upacara; Persiapan dan Perlengkapan Upacara; Jalannya Upacara; Pantangan-pantangan; dan Makna Upacara.

UPACARA TUDANG SIPULUNG MENGHADAPI MUSIM TANAMAN PADI
Iv, 46 halaman; 23 cm
Penulis: Tim Aksara
Editor: H. Nonci
Penerbit: CV. Aksara


No comments:

Post a Comment