October 8, 2021

ALAT ALAT PENANGKAP IKAN TRADISIONAL SULAWESI SELATAN

 

Alat-alat penangkapan ikan tradisional Sulawesi Selatan, baik bentuknya maupun bahannya sangat dipengaruhi oleh keadaan alam setempat. Hal ini dapat dilihat pada peralatan yang digunakan dilaut dan di danau, walaupun namanya sama namun bentuk dan bahannya sering berbeda. Berikut berbagai jenis alat penangkap ikan di Sulawesi Selatan.

  • Memakai alat pengait: pangawang (Bugis), pakadok (Bugis) = pancing tancap, campak = bibbi (Bugis), meng (Bugis) = pancing,
  • Memakai jaring: juluk (Bugis) = jaring kantong, lanrak (Bugis), jala buang, dakkang (Bugis) = jaring kepiting, bunre salo (Bugis) = jaring kecil, bunre loppo (Bugis) = jaring kantong yang lebih besar.
  • Memakai klep: bubu, lawak (Bugis), salakka/salekko (Bugis), bellek
  • Memakai alat tusuk: pamulu (Bugis), kanjai (Bugis), seppu (Bugis) = sumpitan
  • Memakai Racun: Tua (Bugis) = racun ikan

Menangkap ikan sebagai salah satu bagian mata pencarian hidup di Sulawesi Selatan erat hubungannya dengan sistim kepercayaan masyarakat. Hal ini dapat dilihat pada rentetan upacara yang harus dilakukan pada waktu-waktu tertentu oleh seorang nelayan. Berikut sistim upacara sebelum, sesudah selesai musim penangkapan dan pemmali (pantangan).

Sebelum penangkapan dimulai (sebelum turun ke danau)

Maccera Tappareng

Maccera tappareng ialah suatu upacara makan bersama yang diadakan pada bulan januari setiap tahun oleh para nelayan danau si Salo Wette Kampung WeteE Kecamatan Panca Lautan Kabupaten Sidenreng Rappang. Tujuannya ialah memohon doa restu kepada Tuhan (dewata) agar selama masa penangkapan ikan diberi rezeki dan keselamatan.

Attoana Turungan (Makassar) = Maccera Tasik (Bugis)

Attoana Tutungan yaitu upacara makan bersama di perahu dipinggir pelabuhan tempat berlabuhnya perahu-perahu nelayan. Maksud dan tujuan upacara ini ialah sebagai doa bersama agar selama musim penangkapan ikan yang akan berlangsung diberi reski berupa ikan yang banyak dan keselamatan di laut.

Mappanre Lopi/Biseang

Mappanre lopi adalah makan bersama di perahu yang akan digunakan pada musim penangkapan ikan yang akan berlangsung. Ini merupakan upacara mohon restu dari Tuhan agar diberi reski dan keselamatan selama melaksanakan penangkapan ikan.

Sesudah selesai musim penangkapan

Setelah selesai musim penangkapan ikan baik di laut maupun di danau, maka diadakan upacara syukuran yaitu memanjatkan puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas segala reski yang telah diberikan selama turun ke danau.

Pemmali (pantangan)

Pemmali bagi seorang nelayan, yang akan berangkat kelaut/kedanau: Makan sokko pulu bolong (ketan hitam) dan mendengar kata-kata yang mengandung pengertian hampa atau kosong atau habis, seperti: degaga (tidak ada), leppe (lepas), cappu (habis), dsb.

Pammali bagi seorang istri nelayan pada saat suaminya berangkat menangkap ikan (maddilau) tidak boleh putuskan hubungan batinnya, tetapi sebaliknya dia harus jalin terus hubungan itu seerat mungkin, karena sesungguhnya mereka itu adalah satu.

Oleh karena itu bila suami sedang bertugas, maka istri berkewajiban pula menjaga pantangan menurut adat pakkaja/pajukua yaitu:

  • Si istri tidak boleh membuka rambutnya didekat pintu rumah
  • Tidak boleh membakar tempurung kelapa
  • Tidak boleh membelah atau memotong kayu atau tali
  • Saji nasi tidak boleh jatuh ke lantai
  • Tidak boleh memasak pada waktu sore hari
  • Tidak boleh mengosongkan rumah
Buku ALAT ALAT PENANGKAP IKAN TRADISIONAL SULAWESI SELATAN membahas berbagai jenis alat penangkap ikan di Sulawesi Selawesi dan sistem upacara. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala'salapang-Makassar, dalam penggunaan alat-alat tersebut diatas sangat membutuhkan ketekunan dan ketangkasan dari nelayan. Orang Sulawesi Selatan juga sejak dahulu kala telah menganut sistem pasangan berlawanan, hal ini dapat dilihat seperti adanya hari baik dan hari buruk, hari berisi, hari kosong dan sebagainya.  


ALAT ALAT PENANGKAP IKAN TRADISIONAL SULAWESI SELATAN
Penulis: Muh. Yamin Data, Muh. Arfah
Penerbit: Direktorat Pemuseuman Museum La Galigo
Tahun Terbit: 1980 

October 4, 2021

BENTENG UJUNG PANDANG

 

Benten Ujung Pandang adalah sebuah benteng kecil Kerajaan Gowa yang tembok lingkarnya masih utuh. Bentuk ini dibangun pada kira-kira tahun 1545 pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke X yang bergelar Karaeng Tunipallangga Ulaweng. Kalaupun ada unsur-unsur atau pengaruh gaya bangunan Portugis pada Benteng Ujung Pandang maka hal itu bukan mustahil, karena pada masa itu bangsa Portugis telah hadir di tanah air kita dan orang-orang Portugis memang berhubungan baik, bahkan bersahabat dengan Raja Gowa. Pada masa itu orang-orang Makassar (Gowa) memang banyak berhubungan dengan orang-orang Portugis. Jadi kalau ada unsur atau pengaruh Portugis pada bangunan-bangunan benteng atau alat persenjataan Kerajaan Gowa, maka hal itu bukanlah hal mustahil. Namun Benteng Ujung Pandang adalah benteng asli Kerajaan Gowa, bukan benteng rampasan atau benteng yang direbut dan kemudian diduduki oleh Kerajaan Gowa.

Benteng Ujung Pandang mempunyai bentuk yang khas, yakni menyerupai seekor penyu yang sedang merayap seolah-olah hendak terjun ke laut. Itu pulalah sebabnya mengapa Benteng Ujung Pandang oleh orang Makassar sering juga disebut “Benteng Panywa” artinya “Benteng Sang Penyu” (panyyu=penyu). Dinding Benteng Ujung Pandang mula-mula memang terbuat dari tanah liat. Akan tetapi kemudian, yakni kira-kira pada tahun 1634 pada jaman pemerintahan Raja Gowa yang ke XIV yang bergelar Sultan Alauddin Tumengnga ri Gaukanna, dinding Benteng Ujung Pandang diberi batu.

Setelah perjanjian Bungaya ditanda-tangani pada tanggal 18 Nopember 1667, Benteng Ujung Pandang diserahkan kepada Belanda (VOC). Kemudian Belanda (VOC) merombak bangunan-bangunan yang ada di dalam Benteng Ujung Pandang. Bangunan-bangunan itu aslinya adalah rumah-rumah khas Makassar dengan tiang-tiang yang tinggi dan terbuat dari kayu, bambu dan atap sirap atau daun nipa. Belanda (VOC) mengganti rumah-rumah Makassar itu dengan bangunan-bangunan yang bahan-bahannya lebih kokoh dan lebih tanah lama. Bangunan-bangunan yang didirikan oleh Belanda (VOC) itu merupakan gedung-gedung yang bergaya Eropa (Belanda) pada jaman abad ketujuh belas seperti yang dapat kita lihat sekarang setelah Benteng Ujung Pandang oleh Pemerintah Republik Indonesia. Kemudian Belanda mempergunakan Benteng Ujung Pandang yang semenjak itu diganti namanya menjadi Fort Rotterdam, sebagai benteng pertahanan dan pusat kekuatan serta pusat kegiatan pemerintah untuk Sulawesi Selatan, bahkan untuk Indonesia bagian timur. Perubahan nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Roterdam diambil dari nama kota kelahiran Cornelis Janszoon Speelman yang memimpin serangan Belanda (VOC) terhadap Kerajaan Gowa.

Buku BENTENG UJUNG PANDANG membahas tentang Benteng yang menjadi bukti sejarah dan sejarah perlawanan menentang penjajah bangsa asing, serta menjadi bukti bahwa pahlawan-pahlawan Indonesia di Gowa (Sulawesi Selatan) pada abad ke tujuh belas rela mengorbankan jiwa raganya dengan membelah dan mempertahankan setiap jengkal bumi tanah airnya. Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

BENTENG UJUNG PANDANG
Penuslis: Sagimun M.D.
Penerbit: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Tempat Terbit: Jakarta
Tahun Terbit: 1992


 

October 1, 2021

GLOSARIUM SULAWESI SELATAN: Daftar Istilah Budaya

 


Salah satu kesulitan yang dialami oleh para peneliti, baik mereka yang berasal dari Sulawesi Selatan maupun yang dari luar Sulawesi Selatan adalah bahasa. Di Sulawesi Selatan dihuni oleh empat suku-bangsa ini memiliki bahasa dan aksara yang dikenal dengan nama lontarak. Warisan sejarah dan budaya masa lalu mereka diwariskan dalam lontarak.

Dalam lontarak ditemukan berbagai macam istilah yang memiliki arti dan makna yang tersendiri, yang dapat menyesatkan jika pengetahuan tentang budaya daerah ini tidak dimengerti. Buku GLOSARIUM SULAWESI SELATAN: Daftar Istilah Budaya memuat bermacam-macam istilah arti dan makna tersendiri, yang tersusun sesuai abjad (A-W) seperti:

Abanrongang. Cikal bakal bagang. Alat ini digunakan untuk menangkap ikan dengan menyusun bambu.

Abale-baleng; kampo. Wadah bundar terbut dari kuningan yang berisi beraneka macam lauk-pauk.

Abboya Juku. Mencari ikan dengan kata lain nelayan; secara konsepsional abboya juku menunjukkan tentang lapangan kerja yang bergerak di bidang perikanan, antara lain seperti: pabbagang (nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan bagang), pajjala (nelayan yang menggunakan jala), ppekang (pengail).

Worong-worong. Nama gugus bintang yang berkelompok tujuh (Pleiades).

Wuna bawang. Membunuh sewenang-wenang (tanpa alasan).

Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit yang berlokasi jalan Sultan Alauddin, Km. 7 Tala’salapang-Makassar, sebagai upaya untuk memberi kemudahan bagi siapa saja yang ingin meneliti atau memahami budaya Sulawesi Selatan khususnya budaya Bugis, Makassar dan Toraja.

 

 GLOSARIUM SULAWESI SELATAN: Daftar Istilah Budaya

Penyusun: Suriadi Mappangara
Penerbit: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2007
ISBN: 979-8980-43-3

September 30, 2021

SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2

 

Sejarah Sulawesi Selatan menempatkan batasan temporal dari periode sejak Pemerintahan Hindia Belanda melancarkan ekspedisi militer 1905 (Zuid Celebes Expeditie 1905) hingga pembentukan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 1960 itu meliputi wilayah yang pada periode kolonial Belanda disebut Provinsi Sulawesi dan Daerah Bawahannya (Gouvernement van Celebes en Onderhoorigheden). Dalam pengembangan selanjutnya wilayah provinsi ini dimekarkan menjadi dua provinsi, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ekspedisi militer itu dicanangkan untuk menduduki dan menguasai secara keseluruhan wilayah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan yang disebut Pemerintahan Sulawesi Selatan dan Daerah Bawahannya (Gouvernement van Celebes en Onderhoorigheden). Periode kolonial Belanda ini ditandai dengan gerakan-gerakan perlawanan rakyat yang terus menerus. Perlawanan yang terus berlangsung itu menyebabkan daerah ini dijuluki “pulau keonaran” (de onrust eiland). Dalam kondisi yang demikian, pemerintah mencoba bergiat meredakan dengan kebijaksanaan dengan otonomi daerah, memulihkan kembali kedudukan beberapa kerajaan. Status “swapraja” (zelfbestuur landschap) yang pertama diberikan pada Kerajaan Bone pada tahun 1931 dan berikutnya adalah Kerajaan Gowa pada tahun 1938. Sementara kerajaan-kerajaan lain tetap dalam pemerintahan langsung pejabat Hindia Belanda.

Tokoh-tokoh politik Sulawesi turut mendukung proklamasi dan ikut dalam rapat pertama Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) pada tanggal 18 Agustus hingga 22 Agustus 1945. Dalam rapat tanggal 19 Agustus dicapai kesepakatan Sulawesi menjadi satu provinsi dan Dr. Ratulangi dilantik menjadi gubernur. Proklamasi dan pembentukan negara dan pemerintahannya itu tidak segera mendapat pengakuan Sekutu mengingat tokoh-tokoh nasional yang tampil memproklamasikan kemerdekaan itu, Soekarno dan Moh. Hatta adalah pihak yang berkolaborasi dengan Jepang. Akibatnya Sekutu menerima Netherlands Indie Civil Administration (NICA) menjadi bagian yang integral dari pasukan Sekutu dalam menyelesaikan tahanan perang di Indonesia.

Berdasarkan pada pengakuan kedaulatan itu, tokoh-tokoh politik dan pemuda pejuang di Sulawesi Selatan mengorganisasikan demonstrasi massal untuk menuntut dibubarkan NIT dan RIS dan kembali ke negara kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan mereka berhasil direalisasikan. Dalam pidato kenegaraan Presiden Soekarno pada tanggal 16 Agustus 1950, ia menyatakan pembubaran RIS dan kembali ke negara kesatuan RI.

Di Sulawesi Selatan berkobar peristiwa KNIL pada tahun 1950 kemudian diikuti dengan gerakan DI/TII pimpinan Abdul Qahar Muzakkar dan gerakan Permesta. Pergolakan yang terus terjadi itu mendorong pemerintah memikirkan cara untuk mengefektifkan pelayanan dan pembangunan. Untuk itu ditetapkan strategi memilah wilayah Sulawesi yang dipandang sangat luas atas dua wilayah provinsi yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 1964.

Berdasarkan penelusuran dan pengungkapan kesejarahan itu jelas tampak bahwa rakyat Sulawesi Selatan adalah rakyat yang sangat menentang pemerintahan kolonial. Penjajahan dipandang sebagai upaya mengeksploitasi dan memudarkan hak kemerdekaan dan kedaulatan setiap orang dan bangsa. Oleh karena itu, mereka terus berjuang menghapuskan penjajahan karena bertentangan dengan peri kemanusiaan. Selain itu juga menunjukkan bahwa penduduk Sulawesi Selatan mendambakan persatuan dan kesatuan dalam kehidupan kenegaraan Indonesia.

Buku SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2 membahas masa lalu Sulawesi Selatan, khususnya periode kolonial sampai kemerdekaan (1905-1960), yang masih berisi sejarah Provinsi Sulawesi Barat. Meskipun pada akhir tahun 2004 Provinsi Sulawesi Barat sudah berdiri. Buku ini merupakan koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km. 7 Tala’salapang-Makassar.

 

SEJARAH SULAWESI SELATAN JILID 2
Tim Peneliti: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara, Anwar Thosibo et.al
Editor: Edward L. Poelinggomang, Suriadi Mappangara
Penerbit: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda)
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2005
ISBN: 979-3633-09-3

September 29, 2021

SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA


Tokoh yang populer dalam sure' Galigo, adalah PatotoE, Batara Guru, Batara Luwu', Sawerigading We Nyili Timo dan We Datu Senggeng, namun yang paling populer adalah Sawerigading ia generasi ketiga dalam "Penciptaan" manusia dan alam.

Naskah La Galigo dan lebih khusus naskah episode Sawerigading, ditinjau dari segi pencerminan masyarakat dan budaya masyarakat Bugis, skenario cerita memang tergambar sifat-sifat asli orang Bugis, sistem kekerabatan, sistem perkawinan, lapisan sosial dan pandangan kosmogonynya. Sistem kepercayaan yang terlukis dalam cerita, berada pada Stadia berpikir kedewaan, tanpa adanya tanda-tanda pengaruh agama-agama prophetis.

Peranan skenario cerita dari keseluruhan tokoh-tokoh naskah La Galigo, Sawerigading diangkat sebagai pusat tempat berbesarnya sebuah cerita yang menampilkan wujud kebudayaan dan isi (struktur) kebudayaan masyarakat Bugis. Karakter dan watak seorang pri, terutama di kalangan elit sosial, tergambar pada perilaku dan kepribadian Sawerigading, sebagai seorang raja muda dan duta keliling serta seorang pengembara di lautan. Ia berupaya bermitra dengan kerajaan tetangganya sebagai usaha konsolidasi yang bertujuan membesarkan kerajaan LUWU. 

Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat, dengan terbitan khusus SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA berisi kumpulan tujuh artikel, kesemuanya merupakan makalah yang dibawakan pada Seminar Internasional La Galigo di Masamba. Ketujuh artikel tersebut adalah:

  1. Sebuah Tinjaun Reflektif terhadap Epos Lagaligo dan Tantangan Nilai Budaya Masa Depan, oleh: Ishak Ngeljaratan
  2. Sawerigading dan La Galigo dalam Perspektif Kontemporer, oleh: Nurdin Yatim
  3. Kedatuan Cina Menurut I Lagaligo, Lontarak dan Hasil Penelitian Oxia, oleh Prof. Andi Zainal Abidin
  4. Sawerigading sebagai Pahlawan Budaya: Simbol Maritim di Sulawesi Selatan, oleh Abu Hamid
  5. Refleksi Wanita dalam Sastra Bugis (Mitos Galigo dan Lagenda Pau-pau), oleh Muhammad Rapi Tang
  6. Sawerigading dan Masyarakat Cina - Makassar, oleh Shaifuddin Bahrum
  7. La Galigo: Milik Siapa? (Analisis atas Keterkaitannya dengan Saujana Budaya), oleh: Widya Nayati.
Buku ini merupakan salah satu koleksi Layanan Deposit, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang berlokasi jalan Sultan Alauddin Km.7 Tala'salapang-Makassar untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dalam bentuk karya ilmiah.


SAWERIGADING SEBAGAI PAHLAWAN BUDAYA
Walasuji, Jurnal Kebudayaan Sulselra dan Barat
Penerbit: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar
Tempat Terbit: Makassar
Tahun Terbit: 2008
ISSN: 1907-3038